5 Hal yang Saya Pelajari Setelah Setahun Bekerja di Organisasi Non-Profit

Tiada perjalanan tanpa sebuah kesan.

Sebelum tahun 2017 ditutup dan menjadi kenangan, izinkanlah saya membagikan sedikit cerita tentang kesan dari perjalanan yang saya lalui sepanjang tahun ini: tentang suka dan duka, juga tentang pengalaman mendedikasikan diri bekerja sekaligus melayani di sebuah organisasi non-profit.

Di awal Januari 2017, saat banyak orang mengawali tahun dengan pikiran optimis, saya malah sebaliknya. Saya begitu pesimis dengan 2017 karena merasa salah langkah dengan memilih bekerja di sebuah organisasi non-profit dan mengemban tanggung jawab sebagai seorang content-developer. Pesimisme ini tak hanya muncul di otak, melainkan menjalar hingga ke tangan. Sebagai seorang content-developer yang kesehariannya tak lepas dari tulisan, jari-jari saya menjadi kaku. Seberapapun ide cemerlang muncul di otak, ketika jari-jari mulai menyentuh papan ketik, ide itu seketika lenyap.

Sebagai seorang lulusan Jurnalistik, kadang saya merasa minder dengan teman-teman yang bekerja di perusahaan-perusahaan besar. Rasanya mereka begitu keren, hidupnya berguna, dan tentunya membanggakan keluarga. Tanpa saya sadari, rasa minder ini membuat situasi semakin keruh. Saya makin tidak puas dengan pekerjaan saya dan setiap bulannya pun target tak pernah tercapai, padahal selama masa percobaan kerja yang berlangsung satu semester, jika tidak ada kinerja positif yang saya lakukan, maka kantor tidak akan mengangkat saya menjadi pegawai tetap.

Selama lebih dari lima bulan saya berjuang untuk dua hal: menjadi betah dan menikmati pekerjaan. Dan, singkat cerita, masa-masa kelam tersebut pun usai. Setelah waktu berlalu dan berbagai pengalaman terjadi, akhirnya saya bisa menikmati, bahkan sangat menikmati pekerjaan saya sekarang tanpa merasa lagi minder dengan pilihan karier yang diambil oleh orang lain. Oleh karena itu, inilah sekelumit hal-hal yang ingin saya bagikan kepadamu tentang suka duka dan tantangan dari bekerja di sebuah organisasi non-profit.

 

  1. Bekerja di organisasi non-profit mungkin tidak sekeren bekerja di perusahaan ternama. Tapi, ada pengalaman yang bisa digali di sini

 

Sewaktu masih minder dahulu, saya selalu beranggapan bahwa bekerja di perusahaan besar lebih menjanjikan tantangan, apalagi bagi fresh graduate yang sedang haus-hausnya akan tantangan. Tapi, mindset tersebut tidak sepenuhnya benar. Tantangan itu ada dan bisa dicari di mana-mana. Masalahnya adalah perkara hati. Selama bulan-bulan awal bekerja, saya terlanjur menutup hati dan menganggap pekerjaan saya saat itu adalah salah langkah. Ketika hati ini tertutup, maka mata saya pun menjadi buta, tak mampu lagi melihat hal-hal positif yang sejatinya bisa saya temukan di sekeliling.

Biasanya di organisasi non-profit karyawannya tidak terlalu banyak, karena secara budget memang organisasi ini terbatas. Akibatnya, satu jabatan kerja biasanya tidak melulu berkutat di satu hal saja, ada hal-hal lain yang juga harus dikuasai.

Sebagai seorang content-developer yang mengelola sebuah situs pelayanan global, pekerjaan ini sesungguhnya sangat menantang. Di media mainstream, terdapat jabatan kerja berupa wartawan atau reporter yang bertugas sebagai pencari berita. Ada editor yang bertugas untuk mengedit setiap tulisan reporter. Ada marcomm yang bertugas memasarkan media dan mencari pengiklan. Juga ada humas yang bertugas menjalin relasi antara media dengan khalayak. Di tempat saya bekerja, semua jabatan tersebut dilebur menjadi satu dalam fungsi content-developer. Saya harus menulis artikel, mengedit artikel yang dikirimkan oleh banyak kontributor, membina relasi dan mengenalkan media kepada publik, juga melakukan penerjemahan dari bahasa Inggris ke Indonesia juga sebaliknya.

Beberapa tanggung jawab yang saya emban inilah yang merupakan tantangan sekaligus latihan untuk memperbesar kapasitas diri.

  1. Bekerja di organisasi non-profit memberikan saya kesempatan untuk bermitra dengan orang-orang dari berbeda negara

Sebagai sebuah organisasi non-profit religius yang telah berdiri sejak tahun 1938, organisasi tempat saya bekerja memiliki kantor cabang di lebih dari 35 negara di seluruh dunia. Karena sifat globalnya inilah pekerjaan yang dilakukan sehari-hari, walau hanya duduk di depan laptop, tapi selalu terkoneksi dengan orang-orang di luar negeri.

Sebagai content-developer untuk situs berbahasa Indonesia, saya bermitra bersama rekan-rekan content-developer lainnya yang mengelola situs berbahasa Inggris, Mandarin Sederhana, Mandarin Tradisional, dan bahasa Thailand. Masing-masing kami tinggal di negara yang berbeda. Jadi, setiap dua minggu sekali kami mengadakan rapat online menggunakan Google Hangout.

Selain itu, karena atasan dan bos saya adalah orang Singapura yang tak bisa berbahasa Melayu, maka otomatis semua komunikasi, baik oral maupun verbal dilakukan dalam bahasa Inggris. Bekerja dengan orang dari negara yang berbeda itu menyajikan tantangan tersendiri. Dari orang-orang Singapura yang terkenal ketat dengan waktu, saya belajar tentang bagaimana memaksimalkan setiap detik yang ada. Saat mengadakan rapat tahunan di Singapura pada Oktober lalu, kami membahas program kerja dan tema setahun penuh dalam waktu 8 jam, di mana hampir 90% waktu tersebut adalah diskusi serius.

  1. Bekerja di organisasi non-profit, memberikan saya kesempatan untuk mengasah passion dan mengembangkan kapasitas diri

Sebagai orang yang suka keluyuran dan pernah bekerja selama dua tahun menjadi staff promosi universitas, pekerjaan duduk serius di depan laptop terasa sangat membosankan, dan sepertinya sama sekali bukan passion saya. Namun, di tengah rasa jenuh tersebut, mbakyu saya dari Jogja memberi nasihat: “Petualangan itu gak harus di jalan. Di depan laptop, di dalam kata-kata yang kamu edit dan tulis pun pasti ada petualangannya, tapi itu kalau kamu mau cari.”

Nasihat sederhana itu membuat saya berpikir keras. Betul juga. Selama ini, saya selalu mengartikan petualangan hanya dengan jalan-jalan. Padahal, petualangan adalah sebuah perjalanan menjelajah kehidupan, tak melulu soal jalanan dan jalan-jalan.

Selama setahun ini, saya diajar untuk menjadi seorang editor yang peka dan berwawasan luas. Jika dulu di awal kerja saya selalu kelabakan setiap kali ada tulisan masuk, sekarang saya bisa menyikapinya dengan lebih tenang. Mengedit tulisan pun menjadi sebuah kenikmatan tesendiri. Ada sukacita yang meluap ketika si penulis merasa puas dengan hasil editan yang saya lakukan. Dan, ada sukacita tak terkatakan ketika tulisan yang telah ditayangkan ternyata direspons dengan sangat baik oleh para pembaca.

Selain itu, karena hari Sabtu dan Minggu kantor libur, saya bisa gunakan dua hari ini untuk menjelalah dan mengobarkan passion. Dengan kereta api ekonomi subsidi, saya pergi ke kota-kota di Jawa, menelusuri tempat baru, berjejaring dengan blogger, dan menuliskan tulisan-tulisan dari perjalanan tersebut di buku harian juga di blog ini.

  1. Bekerja di organisasi non-profit mengajari saya untuk bijak mengelola uang

Sebagai karyawan baru, gaji yang didapatkan setiap bulan dari bekerja di organisasi non-profit mungkin tidaklah spektakuler, tapi tetap cukup untuk memenuhi kebutuhan harian, plus juga untuk menabung. Namun, alih-alih mengeluh dan merasa silau dengan gaji orang lain yang lebih besar, saya justru bersyukur dengan hal ini. Dengan jumlah pemasukan yang tak spektakuler inilah saya jadi belajar untuk mengelola keuangan dengan bijak dan memanfaatkannya semaksimal mungkin.

Contoh, saya tidak mungkin bepergian menggunakan pesawat ataupun kereta api kelas eksekutif. Jika dicoba, maka bisa tekor uang untuk satu bulan. Jadi, jika bepergian, saya memilih naik kereta ekonomi subsidi yang secara harga sangat murah. Jika kenyamanan tak mampu di raih, maka saya memilih untuk menggali pengalaman. Dari kereta ekonomi inilah akhirnya saya mendapatkan pengalaman hidup. Ketika penumpang yang duduk di depan atau sebelah saya mengajak ngobrol, di situlah sharing pengalaman hidup terjadi, dan secara tidak langsung cerita-cerita mereka menjadi amunisi penyemangat untuk saya. Saya percaya bahwa dalam hidup ini ada hal-hal yang nilainya tak terukur dengan uang yang dapat kita gali.

Selain itu, dari sini jugalah saya jadi belajar untuk lebih berkarya. Dan, puji syukur karena di akhir tahun ini ada salah satu karya saya yang dihargai dengan nominal rupiah.

  1. Bekerja tidak melulu bicara tempat. Di manapun kita bekerja, hendaklah kita setia

Poin terakhir, menutup tulisan ini, saya ingin mengatakan bahwa jika saat ini kita memiliki pekerjaan, tentu ini adalah hal yang patut kita syukuri. Tak peduli di manapun kita bekerja, pekerjaan itu harus kita lakukan dengan cerdas, tekun, dan setia. Jika tiga hal ini tidak ada dalam diri kita, maka sulit bagi kita untuk mengembangkan kapasitas diri. Bagaimanakah kita dapat menuntut pihak luar untuk memberi lebih pada kita jika dalam diri sendiri masih ogah untuk berbenah?

Akhir kata. Selamat bekerja, kawan.
Setiap orang memiliki jalan ceritanya masing-masing dan semoga kita menikmatinya.

 

“Mari kita fokus bekerja keras, cerdas, tuntas, dan ikhlas. Ada-tidak ada penghargaan tidak harus selalu jadi tujuan.”

@ridwankamil

 

22 respons untuk ‘5 Hal yang Saya Pelajari Setelah Setahun Bekerja di Organisasi Non-Profit

  1. because, sejatine, urip kui mung sawang sinawang, selamat menyongsong tahun baru 2018, eh nanti kalau diberi kesempatan, nonton opening ceremony asian games 2018 di jkt yuk…(salah satu impian tahun depan)

  2. bekerja selama kita senang, bahagia, mendapatkan pengalaman2 yang berharga membuat bekerja lebih menyenangkan dan bisa menghasilkan kinerja yang baik … dan yang penting hidup lebih sehat.
    daripada ngejar kerja di tempat keren .. gaji oke .. tapi tekanan stress tinggi .. lihat kantor aja sudah bikin mules .. haha .. curcol pengalaman pribadi .. ujung2nya pindah2 kerja terus

  3. Quote Ridwa kamil perlu saya terapkn nih. Jujur kadang saya juga ngeluh jika tak dihargai, juga sering iri dengan profesi lain. Tapi saya sdar diri passion saya disini dan menikmati, toh jdi mereka saya juga blm tentu bisa..

    Bnyak pelajaran yg saya ambil dri tulisan mas, terima kasih 😊🙏

  4. tulisan yg bagus, sy jadi merasa terbawa dalam kisah aslinya. Menurut sy pekerjaan sbg content developer yg ditekuni skrng sangat keren, mengapa? karena bisa terkoneksi dgn bnyk org dr latar dan bahasa berbeda. jadi kt bsa tahu watak mereka bagaimana. ditambah lagi bisa belajar banyak bahasa merupakan hal yang hebat menurut sy

    1. Wah, terima kasih atas apresiasinya mas :))

      Betul. Pada akhirnya, setelah saya mengubah mindset, pekerjaan ini ternyata menyenangkan. Hanya, ketika saya masih silau dengan pencapaian orang lain, saya jadi sulit untuk menikmati dan menekuni pekerjaan sendiri :))

      1. Hahahaha.
        Gak juga kok mas. Masih cukup gagap dan lemot untuk memahami bahasa Inggris hehehe. Apalagi kalau lawan bicaranya ngomong tanpa jeda seperti kereta api, bisa pusing tujuh keliling nih aku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s