Menjajal Terminal 4, Terminal Paling Anyar di Bandara Changi

Tepat 31 Oktober 2017 lalu, Bandara Changi Singapura mengenalkan Terminal 4, terminal paling anyarnya kepada dunia. Hadirnya terminal baru seluas 225 ribu meter persegi, atau seluas 27 kali lapangan bola ini menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi Singapura, sebuah negara mungil yang bandaranya sibuk menjadi tempat persinggahan jutaan manusia.

Hari Minggu yang lalu (19/11) seusai pekerjaan dinas selama seminggu di Singapura usai, saya pulang ke Indonesia menggunakan maskapai Air Asia yang operasionalnya sekarang menggunakan terminal 4. Sejak Minggu pagi saya sudah tidak sabar ingin menjajal bagaimana rasanya menginjakkan kaki di bangunan terminal yang bangunannya belum berusia sebulan ini. Pasti keren, pikir saya.

Pesawat yang saya tumpangi akan lepas landas pukul 19:30 waktu Singapura, jadi sejak jam setengah lima sore saya sudah bertolak menuju Bandara supaya punya waktu cukup untuk berfoto-foto. Tak sulit untuk menemukan lokasi terminal 4 karena supir Grabcar yang saya tumpangi sudah paham betul jalan menuju pintu keberangkatan di terminal. Setibanya di area keberangkatan, saya disambut oleh sebuah tembok besar yang ditutupi aneka tanaman. Di depan tembok inilah terpampang tulisan “Terminal 4”, si terminal baru yang katanya memiliki daya tampung 16 juta penumpang per tahunnya.

Kesan pertama yang saya dapatkan ketika turun dari mobil dan melihat bangunan terminal adalah megah. Lobbynya luas, pintu-pintu kacanya tampak elegan, lantainya mengkilap, dan atapnya dinamis. Tak seperti di bandara-bandara Indonesia yang banyak terdapat petugas keamanan, di terminal 4 saya hanya melihat segelintir petugas keamanan. Iseng-iseng saya bertanya kepada teman, “Kok di sini polisinya dikit ya? Gak takut kalau ada serangan teroris gitu ya?” Usut demi usut, walaupun kehadiran petugas keamanan di bandara kelihatannya minim, tapi jaminan keamanannya sangat maksimal. Kamera pengintai ada di mana-mana. Tong sampah pun tidak diletakkan di sembarang tempat untuk mencegah orang tak dikenal meletakkan benda-benda berbahaya. Juga, toilet tidak diletakkan dekat dengan pintu masuk sehingga orang-orang yang berniat jahat tidak memiliki ruang untuk bersembunyi atau menyiapkan niat jahatnya.

Setelah melewati pintu masuk, penumpang dipersilakan untuk langsung menuju mesin-mesin komputer dan melakukan check-in secara mandiri. Berhubung hari itu adalah Minggu sore, suasana di dalam terminal sangat padat karena ada banyak penumpang yang hendak kembali ke negara asalnya. Namun, walaupun padat, suasana tetap amat kondusif. Para calon penumpang tidak perlu antre hingga mengular karena di dalam terminal terdapat 42 loket check-in manual dan 65 kios check-in otomatis. Kebanyakan penumpang, termasuk saya diminta untuk menggunakan kios otomatis oleh petugas.

Terminal 4 Bandara Changi didesain menjadi terminal yang canggih, namun bagi yang belum familiar dengan teknologi, kecanggihan ini bisa jadi menyulitkan. Saat hendak memproses bagasi, saya cukup kesulitan karena tidak tahu ke arah mana saya harus pergi. Lalu, setibanya di kios penurunan bagasi pun ternyata barcode di boarding pass saya tidak bisa dipindai. Tidak banyak petugas bandara yang kelihatan membuat saya makin bingung untuk mencari tahu ke mana. Akhirnya setelah mondar-mandir mencari petugas AirAsia, ternyata boarding passnya bermasalah dan proses check-in bagasi dilakukan secara manual.

Fasilitas lengkap dan canggih

Berada di terminal 4 seperti berada di mal yang segalanya tersedia. Di seluruh bangunan terminal tersedia 80 gerai dan aneka restoran yang bisa dinikmati oleh para calon penumpang. Selain gerai, terminal 4 juga dilengkapi dengan berbagai spot yang bisa digunakan oleh para calon penumpang untuk mengabadikan momen. Ada patung-patung dan ornamen yang ciamik untuk dijadikan latar swafoto. Selain itu, jika haus, para penumpang bisa langsung minum secara gratis melalui spot air minum yang lokasinya berdekatan dengan toilet.

Fasilitas lengkap tersebut memang memukau mata, tapi apa daya jika kantong kering, jadi saya memutuskan untuk segera masuk ke ruang tunggu saja daripada nanti jadi lapar mata. Sebelum masuk ke ruangan tunggu, saya harus melalui proses imigrasi. Terdapat dua jalur untuk proses imigrasi ini, otomatis dan manual. Karena saya bukan warga negara Singapura, saya pikir saya akan menggunakan jalur manual, tapi seorang petugas menghentikan langkah saya dan mempersilakan untuk menggunakan jalur otomatis.

Di depan pintunya, saya diminta untuk memindai paspor. Setelah sekitar lima detik, lampu hijau menyala dan pintu dibuka. Kali ini saya diminta meletakkan jempol di bingkai kaca untuk dipindai sidik jarinya. Lalu, mata harus menghadap layar monitor kecil, dan cekrek, muka saya difoto. Setelah proses ini selesai, lampu hijau akan menyala dan saya masuk ke proses pengecekan barang bawaan.

Semua tas, termasuk paspor dan boarding pass harus diletakkan di dalam box yang akan dipindai. Sementara itu, saya berjalan masuk ke dalam sebuah tabung, mengangkat tangan ke atas selama tiga detik untuk dipindai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Setelah keluar dari tabung itu, seorang petugas imigrasi kembali memeriksa. Setiap kantong dicek, hingga sepatu pun turut dicek walaupun tidak sampai harus dibuka. Setelah proses ketat ini usai dan saya dinyatakan lolos, dengan bebas saya bisa melenggang ke arah ruang tunggu.

Pesawat Air Asia yang akan saya tumpangi nanti posisinya berada di gerbang G1. Secara kesuluruhan, terminal 4 memiliki 21 gerbang sehingga penumpang tidak perlu berdesak-desakan. Dan, seluruh sistem di masing-masing gerbang ini juga sudah otomatis. Saat panggilan boarding dilakukan, penumpang wajib scan barcode di boarding pass masing-masing tanpa bantuan petugas.

Menunggu pesawat selama satu jam setengah tidak jadi aktivitas yang membosankan karena di setiap sudut ruang tunggu, terdapat aneka jenis kursi yang empuk dan nyaman. Beberapa bule malah dengan santainya tidur selonjoran seperti di atas kasur sendiri.

Di mata saya, Bandara Changi di Singapura adalah bandara yang unik. Pada tahun 2015 lalu, statistik mencatat Bandara ini telah menampung 55,45 juta penumpang. Di tahun yang sama, Bandara Soetta di Jakarta telah menampung 52,3 juta penumpang dengan 77% merupakan penumpang domestik. Bagi saya, angka ini menarik. Singapura, negeri yang penduduknya hanya sekitar 5 juta bisa memiliki Bandara yang jumlah pergerakan penumpangnya melebihi bandara Soetta. Angka yang tinggi tersebut disumbang dari jutaan penumpang yang menjadikan Singapura sebagai tempat transit dari Australia menuju Asia Timur, Eropa, bahkan Amerika.

Aktivasi Wi-fi gratis

Terminal 4 juga menyediakan layanan Wi-fi gratis kepada para calon penumpang. Untuk mengakses Wi-fi ini, kita perlu connect ke Wi-fi@Changi, kemudian log-in. Berhubung nomor ponsel saya tidak bisa menerima SMS, jadi saya menggunakan cara yang kedua. Saya harus mencari kios komputer yang bertuliskan WiFi Password, kemudian di sana saya harus men-scan paspor. Setelah paspor selesai dipindai, di layar komputer akan muncul password yang bisa digunakan saat log-in melalui ponsel. Setiap calon penumpang berhak mendapatkan akses Wi-fi gratis selama 3 jam.

Maskapai yang beroperasi di terminal 4

Saat ini ada 6 maskapai yang beroperasi di terminal 4, yaitu: Cathay Pacific, Korean Air, Vietnam Airlines, Air Asia, Cebu Pacific, dan Spring Airlines. Jadi, jika ingin menjajal Terminal 4 Changi Airport, silakan menaiki maskapai-maskapai yang tertera di atas. 

Iklan

12 thoughts on “Menjajal Terminal 4, Terminal Paling Anyar di Bandara Changi

    1. – Nontonin ornamen petal besi yang digantung di langit-langit
      – Nyoba Wi-Fi gratis hahaha

      Sebenernya ada beberapa hiburan lain sih, cuma krna waktu cuma 2 jam dan badan lumayan cape, jdi aku banyakin jalan-jalan santai lalu istirahat di bangku-bangkunya yang super nyaman 😀

  1. Gak sengaja nemu artikel ini saat lagi baca-baca tulisan blogger lain. Senangnya bisa menemukan blog baru buat di-follow dengan interest yang sama. Salam kenal, mas! 😀

    Aku juga pengen nih mampir ke Singapura lagi cuma buat cobain terminal baru ini. Fyi, buat calon penumpang yang naik MRT, bisa naik shuttle bus dari T2 buat mencapai T4. Itu paspor biasa apa e-paspor, mas?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s