1 November 2016: Babak Baru Perjalanan di Jakarta

Tepat hari ini, setahun lalu adalah hari yang tidak akan saya lupakan. Usaha seorang sarjana yang belum diwisuda dalam mencari-cari pekerjaan akhirnya membuahkan hasil. Saya dipanggil ke Jakarta untuk sebuah wawancara kerja.

Sehari sebelumnya, saya kaget ketika mendapatkan telepon dari Jakarta. “Besok jam 10 kamu harus wawancara ya ke kantor di Jakarta,” begitulah kata HRD dari seberang telepon.

Saat itu waktu sudah menunjukkan jam 3 sore dan saya sendiri masih di Jogja. Dari kantor tempat kerja saya bekerja paruh waktu, saya bergegas pulang ke kos dan berkemas barang supaya bisa mengejar kereta api Bogowonto yang berangkat jam 6 sore.

Tapi, belum sempat saya beranjak ke stasiun, ponsel saya kembali berdering. HRD kantor  menelepon. Kali ini dia bertanya perihal transportasi keberangkatan saya ke Jakarta.

“Kamu mau berangkat ke sini naik apa? Kantor kami di Jakarta Barat, lebih dekat kalau kamu naik pesawat dan turun di bandara Cengkareng.”

Tapi, pesawat tidak masuk dalam kamus hidup saya waktu itu. Dengan jujur saya menjawab kalau saya akan mengejar kereta api ekonomi dan tiba di Jakarta besok subuh. Ide tersebut ditolak dengan alasan risiko terlambat dan jarak dari stasiun ke kantor jauh.

“Kamu naik pesawat saja, pilih yang paling pagi, nanti uangnya diganti,” katanya.

Saya masih keukeuh ingin naik kereta karena alasan uang yang terbatas. Saat itu uang di rekening hanya 700an ribu. Tapi, kembali, HRD itu meyakinkan bahwa uang tiket akan diganti sepenuhnya.

Seharusnya saya senang karena diminta naik pesawat dan dibayarin, lebih cepat dan tentu tidak capek. Tapi, saya malah berprasangka buruk: penipuan bukan ya? Beberapa teman saya yang juga pencari kerja pernah ditipu oleh panggilan kerja bodong. Sebelum wawancara kerja, katanya disuruh beli tiket pesawat pakai travel agent, eh malah tipu-tipu. Uang raib, pekerjaan pun tak jadi didapat.

Singkat cerita, keesokan harinya di 1 November saya terbang ke Jakarta menggunakan pesawat Batik Air jam enam pagi dari Jogja. Di Jakarta, saya buta arah. Walaupun ada Google Maps, tetap saja Jakarta terlalu rumit buat saya. Salah jalan tidak bisa langsung memutar. Naik busway pun jika tak tahu rute, bisa salah masuk bis dan kacau. Namun, di tengah rasa was-was akan ke Jakarta itu, kantor tempat saya melamar kembali menelpon. Katanya, setibanya di bandara saya akan dijemput.

Sebentar.

Saya jadi bingung. Ini kan saya yang mencari kerja? Kok malah dijemput ya?

Aneh ini, pikir saya. Setibanya di Soekoarno-Hatta, sesuai dengan janji yang diberikan oleh HRD, saya memang benar-benar dijemput oleh seseorang yang nantinya akan menjadi atasan saya.

Sampai di titik ini, saya termangu. Kok luar biasa, ya?

Semua proses sejak kemarin yang saya pikir adalah keajaiban itu sebenarnya tidak benar-benar mengentaskan rasa ragu dalam diri saya. Sejujurnya, saya masih takut; apakah saya diterima atau tidak? Jika tidak diterima, saya siap ikhlas, tapi mungkin akan kecewa selama beberapa hari. Selama satu jam pertama setelah tiba di kantor, saya melakukan interview tatap muka dengan manajer. Kemudian, barulah di interview tahap dua saya bertatap muka dengan direktur.

Setelah wawancara usai, saya siap dengan segala hasilnya. Jika diterima, saya amat bersyukur. Tapi, jikalau pun gagal, saya siap segera kembali lagi ke Jogja. Namun, Tuhan menjawab keraguan saya dengan sebuah kepastian. Setelah makan siang, saya kembali ke ruangan direktur. Dengan senyum hangat dan jabatan tangan, beliau berkata: “Selamat, kamu diterima di sini!” Saya lupa apa ekspresi waktu itu, namun yang jelas rasanya hati ini terharu. Saya pernah berdoa kepada Tuhan supaya bisa mendapatkan pekerjaan sebelum diwisuda, tidak menjadi pengangguran, dan hari itu Tuhan menjawab doa saya.

Sekarang, sudah satu tahun berlalu sejak peristiwa itu terjadi. Tuhan rupanya membelokkan jalan cerita saya. Dia menyadarkan saya bahwa rencana yang menurut saya paling baik belum tentu yang terbaik menurut-Nya. Tuhan tidak memberikan saya pekerjaan yang senada dengan ambisi utama saya: pergi bertualang menjelajahi tempat-tempat baru. Alih-alih mengabulkan ambisi yang mungkin bisa membuat saya lupa diri, Tuhan malah mengizinkan saya menjelajah sebuah ladang pekerjaan baru, sesuatu yang dulu saya sangat anti: kerja kantoran dan di Jakarta.

Di awal-awal bekerja, sesekali saya merasa kecewa dan bertanya-tanya apakah pekerjaan ini memang adalah yang terbaik? Tapi, seiring waktu, ketika saya mengingat kembali bagaimana proses panjang yang mengantarkan saya ke Jakarta, saya paham bahwa segala sesuatunya terangkai sempurna. Betah atau tidak betah seringkali bukan karena perkara lingkungan, tetapi tentang pilihan hati. Ketika hati ini dongkol, sulit bagi saya untuk bisa mengecap hal-hal baik yang terjadi di sekeliling saya. Tapi, ketika saya membuka hati dan diri saya untuk sebuah pengalaman baru, sebuah kesempatan yang sejatinya dulu saya enggan, di sinilah saya belajar banyak hal-hal baru.

Pekerjaan sebagai editor yang duduk di kantor mungkin terkesan monoton. Hanya menatap layar komputer berjam-jam dengan bokong menempel di kursi. Tapi, di balik layar komputer dan barisan kata-kata, sesungguhnya ada manusia yang membacanya. Bukan tidak mungkin jika ada satu atau dua tulisan yang pada akhirnya menyentuh hati si pembaca. Sampai di hari ini, tinggal dan menetap selama nyaris setahun di Jakarta telah mengajari saya tentang arti bertahan dan setia. Di balik kota yang penduduknya cuek bebek ini, saya belajar untuk tetap ramah dan bertegur sapa. Di balik kamar kos tanpa ac yang panas, saya belajar untuk bersyukur. Dan di balik pekerjaan yang saya dapatkan, saya belajar untuk mengembangkan kapasitas diri.

Hidup ini masih panjang, dan tugas saat ini adalah menikmaktinya. 

14 respons untuk ‘1 November 2016: Babak Baru Perjalanan di Jakarta

  1. kadang memang jenuh banget, dari pagi hingga sore duduk di depan komputer terus, misal pulang dan jadwalnya apdet tulisan di blog jadi males, lha mosok seharian sudah di depan komputer, pulang ngadep leptop lagi…tapi sekali lagi, syukur atas segala hal itu lah kuncinya menurutku…

    1. Betul mas.

      6 bulan pertama bener-bener masa buat menyesuaikan diri. Yaa, stlh hampir setahun lumayan bs beradaptasi. Senen sampe jumat kerja, sabtu minggu cari ide dengan keluyuran haha

    1. Halo mbak Jasmine,

      Terima kasih sudah mampir di Jalancerita. Salam kenal juga mbak :))

      Setelah setahun, lumayan bikin stres juga sih Jakarta hehehe. Tp lama-kelamaan jadi lumayan terbiasa, walau tetap tidak berharap untuk menetap hingga tua di sini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s