Keluarga Subur dan Penginapan Sederhananya

Setahun yang lalu, saya bersama dua orang teman kos dari Jogja pergi mengunjungi Banyuwangi selama lima hari. Berbekal rasa penasaran dan lima lembar uang berwarna pink, kami menempuh perjalanan selama 14 jam menaiki kereta api Sri Tanjung dari Stasiun Lempuyangan.

Satu minggu sebelum keberangkatan, kami sempat bingung akan menginap di mana, mengingat tidak ada satupun dari kami yang sebelumnya sudah pernah ke Banyuwangi. Saya coba googling, mencari-cari catatan perjalanan para traveler yang dituangkan dalam blog. Hasilnya beragam, namun ada satu ulasan yang menurut saya menarik dan patut dicoba. Di ulasan itu tertulis tentang penginapan “Toko Subur”. Sebentar, penginapan atau toko? Penginapan tersebut letaknya satu lokasi dengan toko, sehingga disebut sebagai “Penginapan Toko Subur”.

Dalam blognya, si traveler menceritakan tentang kesan yang dia dapatkan selama 3 malam menginap di sana. Kamarnya nyaman, fasilitas mck-nya juga bersih, dan yang paling penting adalah harganya cuma 20 ribu per orang. Singkat cerita, setelah berdikusi dengan kedua teman, kami sepakat untuk memilih Toko Subur sebagai tempat menginap kami selama singgah di Banyuwangi.

Tiba di Toko Subur

Jam sembilan malam, kereta api yang kami tumpangi akhirnya tiba di Stasiun Karangasem, satu stasiun terakhir sebelum Banyuwangi Baru. Sehari sebelum berangkat, saya sempat mengirim sms kepada Ibu Subur untuk konfirmasi.

“Malam Bu Subur, ini saya Ary. Besok jam 9 malam kami tiba di Banyuwangi.”

Berselang 5 menit, Ibu Subur membalas sms saya.

“Ya mas, kamarnya sudah disiapkan. Nanti turun di Stasiun Karangasem ya, nanti suami saya yang jemput. Masnya nanti kabari pakai baju apa.”

Saya sedikit terperangah, tapi agak bingung juga. Luar biasa sekali penginapan ini, sudah murah, dapat penjemputan pula.

Stasiun Karangasem bukanlah stasiun yang besar. Hanya ada tiga peron dan satu pintu keluar. Penumpang yang turun pun cukup banyak karena akses menuju pusat kota memang paling dekat dari stasiun ini.

Saat kami berjalan menuju pintu keluar, seorang bapak berkumis, berambut agak putih dan bercelana pendek mendekati kami.

“Mas Ary dari Jogja ya?” tanyanya.

“Iya pak, saya Ary” sahut saya.

Rupanya lokasi penginapan Toko Subur terletak satu area dengan stasiun, hanya selemparan batu dari pintu masuk. Sambil berjalan, bapak tadi memperkenalkan dirinya dengan nama Abu Tholib, tapi lebih familiar dipanggil “Subur” katanya. Saya mengernyit, nama asli dengan panggilannya jauh sekali. Tapi, mungkin ada kisah sejarah di baliknya.

Penginapan Toko Subur. Di bawah toko, di atas pondokan.

Tak sampai 2 menit, kami tiba di depan toko. Ibu Subur yang sebelumnya berkirim pesan dengan saya pun datang menyambut. Tubuhnya kecil, kulitnya putih, senyumnya selalu mengembang, dan perutnya membuncit karena kala itu dia sedang mengandung. Dengan ramah beliau mempersilakan kami untuk naik ke lantai atas, membersihkan diri, dan beristirahat.  

Toko Subur sejatinya adalah sebuah toko kelontong di depan stasiun yang menjual berbagai macam kebutuhan, termasuk aneka oleh-oleh khas Banyuwangi. Selama ini banyak orang hanya sekadar lewat di Banyuwangi karena tujuan utama mereka adalah Bali, namun ada beberapa traveler yang memilih singgah selama beberapa hari sebelum akhirnya menyeberang ke Bali. Melihat potensi ini, Bapak Abu Tholib memiliki ide untuk membangun sebuah pondokan di atas rumah sekaligus tokonya. Mulanya pondokan tersebut hanya merupakan tempat singgah dengan sedikit kamar. Namun, seiring dengan makin menggeliatnya pariwisata di Banyuwangi, lama-kelamaan pondokan sederhananya semakin terkenal oleh para traveler yang merasa kerasan dengannya.

Kamar seharga 20 ribu per orang, senyaman kamar kos sendiri.

Berbeda dengan hotel yang menerapkan tarif per kamar, penginapan Toko Subur mematok harga per individu, yaitu 20 ribu per malam. Karena kami datang bertiga, jadi kami dikenakan biaya sebesar 60 ribu untuk satu kamar yang menurut kami ukurannya cukup besar. Fasilitas yang diberikan juga lebih dari cukup. Ada sebuah kasur, sebuah karpet karet besar, kipas angin, wc di luar kamar, dan juga listrik. Namun, ada satu kelemahan dari penginapan ini, yaitu atapnya yang pendek dan terbuat dari asbes. Ketika siang hari, udara di dalam kamar seperti oven, panas tak terkira.

Kami beruntung karena kamar yang kami tempati posisi jendelanya tepat menghadap ke arah stasiun dan setiap pagi ada pemandangan dua gunung nan indah menyapa kami.

Stasiun Karangasem dan pemandangan dari jendela kamar kami.

Sewaktu kami singgah di sana, pondokan ini telah menjelma jadi lebih apik. Kata Pak Abu Tholib alias Pak Subur, beberapa bulan silam dia baru selesai merenovasi tokonya. Di lantai bawah terdapat sebuah kamar, sedangkan di lantai atas terdapat lima kamar dengan ukuran cukup lega yang bisa menampung banyak traveler. Tidak ada promosi berbayar yang dilakukan oleh Pak Subur. Strateginya untuk mengenalkan pondokannya adalah dengan memberikan pelayanan yang terbaik supaya para pengunjungnya betah dan menceritakan ke orang lain. Dalam teori periklanan, saya mengenal konsep ini sebagai word of mouth. Percaya atau tidak, kekuatan “kata orang” alias testimoni bisa jauh lebih besar daripada iklan. Ketika seorang gebetan atau pacar, sahabat, atau orangtua yang memberi kita saran mengenai referensi menginap, tentu kita akan lebih percaya pada mereka daripada iklan, karena mereka tentu telah mengalami sendiri bagaimana rasanya menginap di tempat itu. 

Para traveler yang puas dengan pelayanan Toko Subur (termasuk saya), akan dengan senang hati menuliskan cerita dari pengalaman bermalam di sana. Tanpa perlu mengeluarkan biaya lebih, pelayanan yang baik dan tulus akan jadi motor penggerak promosi yang paling baik.

Selain kamar, Pak Subur juga menyediakan fasilitas penyewaan sepeda motor kepada tiap tamunya. Satu sepeda motor dipatok seharga 75 ribu per 24 jam dan bebas dipakai keliling Banyuwangi, atau jika mau menyeberang ke Bali pun dipersilakan.  

Di malam sebelum kami bertolak menuju Gunung Ijen, saya menyempatkan diri untuk duduk-duduk di toko dan berbincang dengan Ibu Subur. Saya penasaran, apa yang menyebabkan nama “Subur” menjadi brand untuk toko dan penginapannya. Ibu Subur menjawabnya dengan senyum-senyum.

“Apa ya mas, hehehe. Tanya bapak aja deh,” katanya.

Jika ditanya ataupun disapa, jawaban yang pertama kali diberikan oleh Ibu Subur adalah senyuman. Dia tersenyum kepada semua orang. Kepada tamu-tamunya yang singgah, dia selalu menyapa mereka. “Gimana mas, mbak naik Ijennya? Udah ke Balurannya?”

Saat kami tengah berbincang, tiba-tiba, tiga orang anak datang menghampiri Ibu Subur yang nama aslinya adalah Dewi. Kemudian otak saya segera mengambil kesimpulan, “Oh, mungkin ini kenapa disebut namanya Subur, anaknya banyak!”

Secara sekilas, nama “Subur” yang unik tentu lebih mudah diingat daripada “Toko Ibu Dewi” atau “Toko Abu Tholib”, jadi mungkin ini jugalah alasan di balik pemilihan nama Subur, supaya gampang diingat oleh para pengunjungnya.

Satu hal yang saya sukai dari penginapan Toko Subur adalah harganya yang pas dan juga keramahan yang ditawarkannya. Setiap malam, jika lapar atau butuh benda-benda lain, saya bisa langsung turun ke lantai bawah, mengambil sesuatu dari toko dan membayarnya nanti saat check-out. Walaupun harganya 20 ribu, tapi saya merasa puas bermalam di penginapan ini.

Jika teman-teman ada yang hendak singgah ke Banyuwangi, tidak ada salahnya untuk menjadikan Toko Subur sebagai tempat untuk bermalam. Berikut ini kontak dari Ibu Subur:

Ibu Subur / Bp. Abu Tholib : 0852 361 55003

Senyum Ibu Dewi yang khas.

 

 

Iklan

8 thoughts on “Keluarga Subur dan Penginapan Sederhananya

  1. Duh aku kemaren terlalu mengandalkan rumah singgah. Yang taunya diarahkan ke penginapan yg berupa kamaran, karena waktu itu lg peak season banyak bule. Jadi kena tutuk agak mahal😂
    Kirain cuma satu itu, taunya di sekitar stasiun banyak penginapan2 serupa😖

    1. Buanyaaakk mas di sekitar stasiun. Waktu aku mlipir-mlipir, ada yang deket sawah juga. Cuma waktu itu sudah janjian dengan Ibu Subur, dan ternyata mengianp di sini asyik kok 😀

      Next chapter: Banyuwangi mas (again) hahaha

      1. Iya karangasem ternyata asik. Suasananya bukan kayak di stasiun, soalnya pinggiran kota. Pdhl stasiun ini akses terdekat ke kota😁

        Iya, harus balik lg ke banyuwangi nih. Pdhl dr dulu impianku ke ijen sm baluran. Eh kmrn jauh2 sampe sana ga dpt apa2. Karena niatnya emang ngabur sih wkwk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s