Kala Senja di Meester Cornelis

Meester Cornelis? Pernah dengar namanya atau menyambanginya? Mungkin nama ini terdengar asing bagi kita, juga saya yang hidup di abad ke-21. Namun, jika kita telisik lebih dalam, Meester Cornelis sebetulnya bukanlah tempat yang asing. Setiap penumpang kereta api dari arah timur yang menuju Jakarta, pasti akan melewatinya. Meester Cornelis yang sekarang kita kenal adalah Jatinegara, sebuah kecamatan yang terletak di timur Daerah Khusus Ibukota Jakarta.

Di hari Minggu sore yang cerah, kereta api Serayu yang saya tumpangi dari Sidareja tiba di Stasiun Jatinegara. Walaupun hari libur, Stasiun Jatinegara tak pernah sepi penumpang. Di peron nomor dua yang relnya mengarah ke Jakarta Kota, KRL dan kereta jarak jauh datang dan berhenti sejenak, menurunkan puluhan hingga ratusan penumpangnya. Sementara itu di peron nomor lima, suasana tampak lebih lengang. KRL tujuan Bogor tak terlalu diminati hari itu.

Langit sore sedang cerah, matahari yang bulat sempurna bersinar redup di ufuk barat, menghasilkan nuansa warna jingga di angkasa. Beberapa hari belakangan saya tengah membaca sebuah buku yang di dalamnya banyak bertutur tentang Jakarta. Dalam salah satu bab, buku itu juga menuturkan tentang Jatinegara, namun dalam lensa dua abad silam. Sembari menanti kedatangan KRL yang akan membawa saya ke Stasiun Juanda, saya buka sejenak buku itu, membaca beberapa paragrafnya, kemudian melayangkan pandangan ke sekeliling untuk menelaah sejauh mana perbedaan antara dua abad lalu dengan masa sekarang.

Dalam upaya saya untuk belajar lebih jauh tentang Jakarta, buku yang berjudul RafflesDan Invasi Inggris ke Jawa karya Tim Hannigan sedikit banyak memberikan saya penghiburan dan juga perspektif yang lebih luas mengenai kota ini. Rupa-rupanya, rasa tidak betah dengan Jakarta juga pernah dialami oleh orang-orang Eropa yang datang ke Batavia. Dua abad silam, tatkala Belanda melalui VOC-nya tengah bercokol di Jawa, Batavia bukanlah kota yang diagung-agungkan. Kota pelabuhan di muara Ciliwung ini adalah sarang malaria dan penyakit tropis. Setiap bule Eropa yang menjejakkan kaki pertama kali di tanah Batavia harus mengalami ‘peperangan’, namun bukan melawan manusia, melainkan melawan kondisi lingkungan. Tak jarang beberapa dari mereka yang fisiknya lemah akhirnya jatuh sakit, bahkan pula meninggal.

“Pada 1670, Batavia merupakan tempat tinggal bagi 130.000 jiwa….. Iklim Batavia terkenal mematikan; seluruh kota dipenuhi dengan malaria dan demam berdarah (pendatang baru dari Eropa katanya hanya memiliki peluang bertahan hidup pada tahun pertama di bawah 50 persen), dan kotanya sebagian besar dipenuhi oleh budak, imigran asal Tiongkok, dan orang Belanda yang digambarkan pemerintahan gubernur-gubernur jenderal awal sebagai ‘sampah dunia'”. (Hannigan, 2012:23)

Membaca bagian ini membuat saya terkekeh sendiri di pinggir peron. Dua abad setelahnya, Batavia yang telah berganti nama jadi Jakarta sepertinya belum merdeka dari nyamuk. Memang angka demam berdarah dan malaria di Jakarta mengalami penurunan, tetapi itu bukan berarti kota ini bebas dari wabah nyamuk. Di kos tempat saya tinggal, sebuah got beraroma busuk depan rumah menjadi pabrik nyamuk dan warga sekitar pun sepertinya sudah sangat bersahabat dengan para nyamuk itu. Mereka tetap saja membuang sampah ke got itu, membuat alirannya mampet dan nyamuk beranak-pinak dengan bahagia. Tak peduli semahal apapun obat anti nyamuk yang saya gunakan, nyamuk tetap lestari. Ibarat jerawat, satu nyamuk yang terbunuh malah mendatangkan seribu nyamuk lainnya.

Selain nyamuk-nyamuknya yang ganas, Tim Hannigan (2012) juga menuliskan bahwa pantai Batavia berupa rawa-rawa berlumpur yang aromanya menyengat. Kanal-kanalnya pun busuk dan penuh sampah. Namun, di balik citra buruknya, pada masa itu Batavia merupakan pemukiman Eropa paling mutakhir di sebelah timur Suez.

Walaupun dicatat demikian, kenyataan bahwa Batavia sebagai wilayah yang canggih sama sekali tidak menarik minat Inggris untuk melirik Jawa dan Batavia. Kala itu, Inggris tengah sibuk menancapkan akarnya di India. Namun, kondisi berubah pada tahun 1811, di mana Inggris memulai ekspansinya menuju Asia Tenggara, mendarat di Batavia untuk merebut Jawa dari tangan Belanda. 

Jalan utama Cornelis, arsip Tropenmuseum, diambil dari Wikimedia

Pasukan Inggris berhasil mendarat di kawasan Cilincing dan memulai operasi merebut Batavia, juga Jawa dari tangan Belanda yang kala itu dikuasai oleh Napoleon. Inggris mengira bahwa pertempuran akan pecah di kawasan Batavia (sekarang Kota Tua), namun rupanya Belanda telah menarik mundur pasukannya terus ke selatan, di Meester Cornelis hingga Buitenzorg. Tanpa perlawanan berarti, bendera Inggris pun berkibar di bawah langit Batavia.

Pertempuran mulai terjadi di daerah Weltevreden, atau sekarang dikenal dengan nama Sawah Besar. Pergerakan prajurit Inggris menuju Meester Cornelis dan Buitenzorg dihadang oleh sepasukan tentara Belanda yang bersembunyi di hutan-hutan sepanjang jalan menuju Cornelis.

Sampai di sini, saya menutup buku sejenak, memejamkan mata dan membayangkan bagaimana mencekamnya suasana perang waktu itu. Jika di buku dituturkan bahwa perjalanan dari Weltevreden menuju Cornelis merupakan hutan, kemudian saya pun geleng-geleng. Jika di tahun 1670 jumlah penduduk Batavia adalah 130 ribu jiwa, maka empat abad setelahnya, jumlahnya membengkak berkali-kali lipat. Berdasarkan data statistik, pada 2014 lalu jumlah penduduk Jakarta mencapai 12,7 juta jiwa!

Jumlah penduduk yang besar berarti kebutuhan akan lahan untuk menunjuang kehidupan pun meningkat. Daerah yang dulu merupakan hutan ataupun sawah telah sirna seutuhnya. Tak ada lagi lahan kosong yang tersisa di Jakarta. Setiap jengkal tanah menjadi amat mahal dan diperebutkan banyak orang—para warga miskin versus Satpol PP dan juga pemilik properti. Perjalanan waktu selama berabad-abad telah mengubah wajah Jakarta secara permanen.

Nama Meester Cornelis tetap abadi hingga datangnya Jepang. Meester Cornelis sendiri merujuk kepada seorang pria yang juga guru agama Kristen dari Banda, Maluku yang bernama Cornelis Senen. Selain guru, Cornelis juga dianggap sebagai calon pendeta. Dia mendirikan sekolah untuk anak-anak dan juga berkhotbah dalam bahasa Melayu. Namun, sampai kepada akhir hayatnya, dia tidak pernah mendapatkan gelar pendeta karena faktor latar belakangnya yang bukan Eropa. Setelah dia meninggal pada tahun 1661, namanya diabadikan menjadi nama sebuah daerah.

Ketika Jepang datang dan menginvasi, nama Cornelis dianggap terlalu barat dan diganti dengan nama Jatinegara. Ketika saya mencoba googling mencari tahu apa makna di balik penamaan Jatinegara, ada dua spekulasi yang muncul. Ada yang berasumsi bahwa nama Jatinegara muncul karena dulu di daerah ini ada banyak pohon jati. Tapi, ada pula asumsi lain yang berkata bahwa nama Jatinegara berasal dari bahasa Sunda, Jati Nagara yang berarti negara yang sejati.

Saya membuka buku kembali dan melanjutkan bacaan. Cornelis pada waktu itu adalah sebuah benteng Belanda yang dianggap Inggris sebagai halangan yang cukup berarti. Setelah mengerahkan prajuritnya dari Cilincing, sebelum mencapai Buitenzorg (Bogor), pasukan tersebut harus bisa menumbangkan Belanda di sini. Meester Cornelis memiliki panjang sekitar 1.600 meter dan memiliki 280 meriam yang dipasang di dindingnya. Menaklukan Cornelis bukan perkara yang mudah. Prajurit Inggris secara total hanya berjumlah 12.000, sedangkan Belanda 18.000. Secara jumlah, Inggris kalah. Tetapi, karena semangat prajurit Belanda yang melempem, melalui pertarungan sengit akhirnya Meester Cornelis pun jatuh ke tangan Inggris.

Benteng Meester Cornelis. Sumber: Tirto.id

Dengan ditaklukkannya Cornelis oleh Inggris, posisi Belanda semakin goyah. Pada waktu itu, Meester Cornelis adalah wilayah yang penting. Selain terdapat benteng pertahanan, Cornelis juga merupakan jalur penghubung antara Batavia dengan Buitenzorg. Membayangkan peristiwa berdarah yang terjadi di Meester Cornelis membuat saya bergidik. Betapa perang menyisakan banyak mudarat. Demi sebuah kekuasaan, nyawa-nyawa harus melayang dan entah berapa banyak manusia yang harus merintih kesakitan.

Saat mata saya menatap lembar demi lembar buku dengan begitu serius, KRL dengan tujuan Jakarta Kota pun datang. Saya kembali menutup buku, merangsek masuk ke dalam kereta yang ternyata penuh sesak. Saya memandang ke luar jendela, menyaksikan langit kelabu Jakarta yang berpadu dengan rona jingga matahari terbenam.

Jika sekarang kita mencoba menelisik kembali jejak sejarah Cornelis, tak ada lagi jejak benteng yang tersisa. Sejauh mata memandang dan kaki melangkah, hanya ada pemukiman dan pemukiman. Tak ada jejak nyata yang bisa kita saksikan sebagai bukti bahwa peristiwa sejarah dua abad lalu pernah terjadi di sini.  

***

Di balik citranya yang buruk, ternyata Batavia yang kini kita kenal sebagai Jakarta rupanya tetap menjadi sebuah loka yang memikat. Jika dahulu dia memikat para penjajah untuk bercokol dan mendirikan pemerintahan di atas tanahnya yang dipenuhi wabah, kini dia pun tetap sama, memikat jutaan jiwa, termasuk saya untuk mengadu nasib dan mencari nafkah. Ratusan tahun setelah penyerbuan Meester Cornelis, Batavia menjelma menjadi sebuah megapolitan yang menghidupi jutaan jiwa dan juga menjadi jantung bagi sebuah Republik nan luas.

Senja hari itu memberi saya pengatahuan baru tentang Jakarta. Tapi, saya belum sepenuhnya puas. Cornelis yang saya saksikan hari itu hanya secuil dari seluruh wilayahnya. Di akhir pekan lainnya, saya berjanji untuk mencari tahu dan menelusuri Cornelis lebih jauh.

Cerita tentang Meester Cornelis mungkin masih lestari di telinga beberapa kalangan, tetapi tak lagi muncul ke permukaan. Meester Cornelis kini telah menjelma menjadi Kecamatan Jatinegara yang padat dengan 272 ribu penduduk bercokol di atas tanahnya.

Historia vitae magistra—Sejarah adalah guru kehidupan.

Referensi pustaka:

Hannigan, Tim. (2012). Raffles dan Invasi Inggris ke Jawa. Jakarta: Kompas

 

Iklan

25 thoughts on “Kala Senja di Meester Cornelis

  1. Batavia sudah banyak berubah. Bahkan di masa lalu. Padahal dulu terkenal sebagai ‘Ratu dari Timur’. Harus diakui, dari dulu ada yang salah dengan perencanaan dan tata kota. Begitu menurut para sejarawan yang bukunya pernah saya baca, hehe.
    Jatinegara dekat dengan tempat saya. Hanya berjarak dua stasiun. Mungkin kapan-kapan kita bisa kopdar Mas, hehe. Saya pernah ikut jelajah yang diselenggarakan sebuah komunitas. Hasilnya, memang banyak sekali cerita disimpan pada sepetak daerah bersejarah itu.
    Dan, bukunya! Sepertinya saya tahu buku itu, hehe. Jadi penasaran juga untuk membacanya. Mudah-mudahan masih ada. Terima kasih atas rekomendasinya.

    1. Awalnya aku sempet ragu mau beli buku ini mas, kupikir pasti isinya cuma penuturan sejarah yang isinya data-data melulu. Tapi, aku salah. Gak nyesel beli buku ini. Penulisnya apik banget, dia memadukan nuansa masa lalu dengan masa kini, plus dibuat alurnya menarik, mirip seperti novel. Jadi kita bacanya pun larut.

      Mengenai tata kota Batavia, saya juga jadi penasaran sih. Mengapa pada abad ke-18 Batavia jadi amburadul begitu.

      Boleh mas. Kukira kamu orang Malang loh, soalnya banyak postingannya tentang Malang.

      Aku di Kalideres, tp sering juga mlipir-mlipir ke timur.

      1. Kalideres? Okeeh. Kapan-kapan saya kabari ya, siapa tahu bisa kopdar, hihi.
        Saya jadi dapat satu referensi baru. Terima kasih!
        Bukan, saya bukan orang Malang, haha. Saya orang Lombok, yang tersasar di Jakarta. Hehe.

  2. Wah… menarik juga cerita mengenai sejarah jaman kolonial dlu.. waktu ke Madurodam juga ada penjelasan ttg gmn sulitnya kehidupan org2 Belanda jaman duli buat mencapai Indonesia.. demi mendapatkan kekayaan Indonesia.. termasuk mengenai malaria n wabah lainnya..

      1. Oalah. Pantesan saya baru pertama dengar hehehe.

        Buku yang ditulis Tim Hannigan ini menarik sih mas. Dulu yang saya tahu dari pelajaran sejarah hanyalah para bangsa Barat datang ke Asia untuk menjajah, titik. Tapi tidak dijelaskan juga dengan detail ttg keadaan Asia waktu itu seperti apa 😀

  3. historia magistra vitae. trimakasih ulasannya. sayang banyak yg nggak mau belajar dari sejarah. maaf kalau saya sekedar mengingatkan bahwa berabad lampau orang Tionghoa memang sudah menjadi bagian dari Batavia atau Jakarta, jadi agak aneh kalau sekarang banyak yang nggak mau atau tepatnya “pura-pura” lupa dengan fakta itu hehehehe. saya bukan Tionghoa, tapi masyarakat kita perlu kembali melihat sejarah supaya tidak selalu merasa bahwa tanah ini miliki pribumi semata.

    1. Yap, betul mas.
      Sebenarnya, jika mau ditarik ulur lebih jauh, masyarakat Tionghoa sudah ada sejak zaman Hindu-Buddha. Bahkan Brawijaya V pun menikah dengan seorang putri Champa, yang notabene adalah berdarah tiongkok.

      Tapi ya begitulah. Kadang demi kepentingan penguasa, sejarah bisa direkonstruksi ulang.

      1. wah kalau rekonstruksi itu masih bagus kwn, saya melihatnya seperti dekonstruksi: fakta sejarah yang dihancurkan oleh nafsu kekuasaan yang dibumbui dengan fanatisme agama. saya senang masih ada yang suka mengulas sejarah dalam tulisan di blog seperti anda. terus berkarya ya unk konten2 yg membangun dan mencerahkan

      2. oh ya jangan panggil aku mas ya cukup panggil “kawan” saja hehehe soalnya aku bukan orang jawa. dan “kawan” atau “bung” sepertinya lebih Indonesia hehehehe

  4. Banyak yg ngira kita hanya pernah dijajah belanda. Padahal bangsa2 lain jg tercatat oernah menduduki negeri ini. Entahlah kata menjajah itu aslinya didefinisikan seperti bagaimana. Toh mereka pertama datang juga ga asal serang lalu diduduki. Bisa jadi bermula dari dagang-berdagang.

    Bukunya menarik sepertinya, sejarah gak melulu diceritakan dg rentetan tahun dan peristiwa. Kalo boleh kapan-kapan aku pinjem😁

    1. Boleh. Nanti pas ke Lasem tak bawain ya.

      Menarik sih mas. Aku gak terlalu setuju dengan perkataan kalau kita dijajah Belanda 350 tahun. Pada kenyataannya, yang banyak dijajah itu Jawa, sementara wilayah lain tidak jatuh ke tangan Belanda kok.

      1. Dijajah, dala arti diserang mnrtku malah setelah kemerdekaan yaitu agresi militer dimana belanda blm ikhlas melepas hindia belanda. Pertempuran terjadi dimana-mana melawan belanda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s