Keliling Bandung Bersama Dua Bule

Akhir pekan kemarin adalah jadwal saya pulang kampung ke rumah. Tak ada agenda apapun selain mengajak dua keponakan jalan-jalan ke Kebun Binatang. Tapi, karena langit yang mendadak berubah gelap, niatan jalan-jalan tersebut kandas setengah jalan. Daripada dua ponakan yang masih bocah sakit karena kehujanan, jadi saya mengajak mereka pulang lebih awal.

Namun, karena cuaca tidak bisa diprediksi, secepat apapun saya mengendarai motor, ternyata hujan turun lebih dahulu sebelum saya tiba di rumah. Alhasil, saya pun menepi di sebuah warung pinggir jalan, memesan sebungkus baso goreng (basreng) sambil menanti hujan reda. Saya iseng memotret foto basreng tersebut dan mengirimkannya ke grup teman lama. Kemudian, seseorang bernama Iko membalas chat itu.

Lu di mana emang?” tanyanya.

“Bandung, ini lagi pulang. Kenapa gitu?”

Mengetahui saya berada di Bandung, Iko langsung antusias. Rupa-rupanya, saat itu dia tengah berada di Bandung juga, namun tidak sendiri. Dia membawa dua orang rekan kerjanya yang berasal dari Austria dan Amerika, kedua-duanya perempuan. Intinya, dia membutuhkan bantuan saya untuk menemaninya mengajak bule tersebut keliling Bandung. Karena tak ada aktivitas lain, akhirnya saya setuju dan dua jam kemudian kami bertemu di suatu tempat.

Dua bule tersebut bernama Adriana dan Rossie. Kunjungan mereka ke Bandung, juga Indonesia bukanlah untuk acara jalan-jalan backpackeran. Mereka dikirim oleh perusahaannya untuk melakukan lawatan ke banyak negara di Asia, termasuk Indonesia dan ditempatkan selama seminggu lebih di perusahaan tempat Iko bekerja di Jakarta. Menjelang akhir pekan, mereka berdua sempat terpikir untuk singgah ke Bandung, tapi tak tahu bersama siapa dan naik apa. Bukan kebetulan apabila saat itu di kantornya mereka bertemu dengan Iko, teman saya yang juga orang Bandung. Dan, terjadilah pertemuan tak terencana antara Rossie, Adriana, Iko, dan saya.

Saat itu jam sudah menunjukkan angka tiga sore. Iko mengusulkan untuk pergi ke Tangkuban Perahu, tapi saya menggeleng.

Gak bisa ke sana jam segini. Hujan, macet, dan pasti keburu tutup.”

Butuh lima belas menit lebih untuk berpikir destinasi mana yang bisa dikunjungi hari itu. Setelah mempertimbangkan faktor jarak dan cuaca, akhirnya dipilihlah agenda city tour untuk sore itu. Segera kami meluncur ke Cihampelas untuk mengenalkan Cihampelas Skywalk–kawasan pedestrian baru yang digagas oleh Bapak Walikota.

Dari lokasi kami berada ke Cihampelas itu sebenarnya tidak jauh. Tapi, Sabtu sore lalu jalanan Bandung bak pasar terbuka yang riuh. Jalanan protokol macet total. Beruntung karena kami mengendarai motor, jadi bisa mencari-cari celah di antara mobil-mobil yang bergeming hingga akhirnya bisa tiba di Cihampelas.

Dalam keadaan setengah basah karena diguyur hujan gerimis, kami berjalan kaki menyusuri Skywalk yang dibangun melintang di atas jalan raya. Ekspresi Rosie dan Diana sumringah. Mereka senang melihat geliat kehidupan di Bandung secara langsung, di mana para pejalan kaki melontarkan senyum dan para pedagang sesekali merayu mereka untuk membeli. Di beberapa titik mereka berfoto, kemudian saya menerangkan banyak hal tentang Bandung.

Long time ago, when Dutch colonized Java. Bandung only inhabited by less than two hundred thousands inhabitants. But, now, the number has been growing rapidly, till more than 2 millions!”

“What! That’s sound crazy,” sahut Adriana.

Bagi Adriana yang lahir dan besar di Austria, melihat deretan pemukiman kumuh di bawah jalan layang Pasupati adalah hal yang tidak biasa dilihatnya di daratan Eropa sana. Ketika saya bicara mengenai jumlah penduduk, dengan segera dia mengangguk. Tingkat kelahiran dan pertumbuhan penduduk turut memiliki andil dalam kota yang semerawut.

Dulu saya pernah membaca sebuah buku yang kurang lebih isinya mengatakan kalau Bandung sebenarnya tidak didesain untuk menjadi sebuah metropolitan. Namun, dalam beberapa dekade, jumlah penduduk terus berlipat sementara lahan siap huni yang tersedia tidak bertambah secara signifikan. Sudut-sudut kota yang seharusnya asri telah lenyap. Hutan-hutan di lereng Tangkubanperahu juga makin menyusut berganti villa-villa. Sawah-sawah di kawasan timur dan selatan juga sirna berganti menjadi kawasan pemukiman.

“But, we are lucky and still believe that Bandung will be better in the future,” tambah saya. “Our mayor is an Architect, and by his policies, he build a lot of park and facilities to make Bandung better.”

Bukan kampanye, tetapi di bawah kepemimpinan yang sekarang, saya melihat ada perubahan yang cukup baik bagi kota Bandung, terkhusus dalam bidang penataan kota. Bagi Adriana dan Rossie, kawasan pedestrian Cihampelas adalah hal yang menarik. Ketika mereka bercerita tentang pengalaman mereka singgah di Bangladesh, mereka mengatakan bahwa Indonesia, terkhusus Bandung sangat lebih baik dalam menata kota, termasuk juga memberi hak-hak bagi pejalan kaki.

Mencicip cita rasa lokal

Ketika malam tiba, kami berencana untuk dinner bersama. Sejak di Jogja dulu, setiap kali saya menjadi guide bagi para backpacker Barat, saya selalu menghindari restoran. Alasannya adalah supaya mereka bisa menikmati cita rasa lokal yang paling lokal. Makan di kaki lima pinggir jalan, mencuci tangan di kobokan, menyuap nasi pakai tangan, dan melihat tissue toilet tersaji di atas meja makan.

“How about if we try pecel lele? Fried catfish.”

Alis mereka mengkerut sejenak. Namun, segera mengangguk. “Sure! Whatever, we’ll follow you guys!”

Tanpa tedeng aling-aling, saya dan Iko membawa mereka berdua ke sebuah warung pecel lele favorit di pinggir jalan Suryani. Karena Adriana dan Rossie sebelumnya sudah pernah singgah beberapa lama di Nepal dan Bangladesh, jadi saya berasumsi tentu perut mereka kuat, tak akan sakit oleh sepiring pecel lele.

Dulu, di tahun 2013 saya pernah membawa seorang Amerika dan Taiwan makan bersama di warung gudeg pinggir jalan Gejayan, Jogja. Karena antusias ingin mengenalkan rasa lokal kepada mereka, saya lupa kalau perut mereka itu berbeda, apalagi mereka berdua bukan seorang backpacker. Alhasil, beberapa jam setelah menyantap gudeg nan nikmat tersebut, seorang dari mereka dilarikan ke klinik karena sakit perut.

Adriana dan Rosie adalah bule yang tangguh. Ketika pecel lele tiba di atas meja, mereka menatapnya dengan bergairah, mengeluarkan ponsel dan mengambil beberapa foto. Di suapan pertama, mereka menyahut, “This is AWESOME!”  

Dalam hati saya terkekeh dan berkata, “Dasar bule!” Tapi, saya menyajikan senyum terbaik kepada mereka. Sepiring pecel lele seharga 12 ribu mampu membuat Rosie dan Adriana sumringah. Kata mereka, sepanjang perjalanan keliling Asia, pecel lele adalah makanan terbaik dan terenak di mulut mereka.

Wow! Saya bangga mendengar pengakuan mereka. Mungkin ketika mereka kembali ke negara asal mereka, pecel lele akan menjadi salah satu hal yang paling diingat dan mungkin juga mereka cocok diangkat menjadi duta pecel lele internasional.

Menyapa halimun pagi

Sebuah perjalanan yang baik bukanlah perjalanan yang nyaman, tetapi perjalanan yang berkesan. Malam itu, Rosie dan Adriana tidak menginap di hotel, melainkan di rumah Iko, dan saya juga jadi ikut menginap. Menurut saya pribadi, bermalam di rumah orang lokal jauh lebih menguntungkan daripada di hotel. Pertama, kita bisa menghemat biaya. Kedua, kita bisa berelasi dan mengenal budaya suatu tempat dengan lebih erat. Di rumah Iko pun Rosie dan Diana belajar hidup sebagaimana layaknya orang Asia, khususnya Indonesia yang WC-nya sempit dan basah, serta jika harus buang air harus jongkok, bukan duduk. Mereka tidak keberatan dan senang bisa mempelajari hal-hal baru.

Agenda kami selanjutnya adalah memburu fajar pagi di Bandung selatan sebelum Rosie dan Adriana pulang kembali ke Jakarta. Minggu jam 3 pagi, kami kembali berada di atas sepeda motor, membelah malam yang masih gulita menuju Situ Patenggang, sebuah telaga yang terletak di tengah hamparan perkebunan teh.

Jika kemarin jalanan Bandung macet luar biasa, subuh ini kondisi berubah 180 derajat. Jam tiga pagi, jalanan super lengang. Kurang dari dua jam, kami sudah tiba di pinggiran telaga dengan gigi bergemertak dan tangan dingin seolah membeku. Rosie dan Adriana pun mengakui bahwa udara pagi itu cukup dingin, bahkan untuk ukuran dua bule yang mengenal salju.

Tak ada seorang lain pun di telaga kecuali kami. Sambil menanti fajar terbit, kami duduk di sebuah pondokan kayu, menatap kerlip bintang dan juga pendaran bulan yang masih setia bertengger di langit. Dari kejauhan tampak lampu-lampu hotel yang berpendar. Suasana begitu sunyi dan tenang. Hanya ada suara cuitan burung dan desiran angin. 

Pemandangan pagi itu begitu indah. Saat matahari mulai menampakkan diri dan gulita tersingkap, halimun tipis melayang-layang di atas air telaga, memberikan nuansa magis nan mistis. Kami tak banyak berkata-kata, hanya menatap penuh kekaguman, sementara itu Iko terus menerus mengambil gambar melalui kameranya.

Kala matahari telah naik sempurna, kami menyudahi kunjungan singkat di telaga dan singgah di warung. Empat mangkuk mie rebus menghangatkan perut kami yang keroncongan.

“You guys are awesome! Thanks for taking us here” kata Rosie.

Baik Rosie maupun Adriana merasa amat senang atas kesempatan singgah sejenak di Bandung. Sebuah perjalanan sederhana di mana mereka bisa merasakan nikmatnya pecel lele, hangatnya indomie rebus, dan teduhnya alam Bandung Selatan. Semua kisah ini terangkum sempurna, menciptakan kenangan akan Indonesia yang ramah, baik, dan indah di benak mereka.

Sebuah kesempatan di akhir pekan ini membuat saya mengucap syukur. Kepada dua orang asing nun jauh dari negeri seberang, saya bisa menunjukkan kepada mereka akan wajah Indonesia yang sebenarnya. Betul memang jika negara ini padat penduduk. Betul juga jika jalanan di kota-kota negeri ini, khususnya Jakarta dan Bandung penuh sesak oleh kendaraan. Namun, di balik semerawutnya kota dan udaranya yang terpolusi, Indonesia masih menyajikan senyuman manis dan sambutan hangat bagi semua orang, karena memang inilah budaya asli kita yang sesungguhnya.

Bandung – 8 Oktober 2017

 

 

Iklan

9 thoughts on “Keliling Bandung Bersama Dua Bule

  1. Wah, seru. Menurut saya ini tidak cuma untuk wisatawan mancanegara saja, hehe. Bahkan saya pun cukup bahagia dengan jalan ke pecel lele dan danau di pagi-pagi buta, hehe. Jam segitu danaunya sudah buka? Atau masuk sana gratis? Sepertinya seru banget bisa ke sana di pagi-pagi buta. Jadi pengen. Betul, Bandung menyediakan sejuta kenangan. Senang juga rasanya bisa melihat teman-teman dari luar negeri bahagia berkunjung ke Indonesia.

    1. Kalau siang bolong, masuk Patenggang lumayan mahal mas, sekitar 20 ribu, itu pun belum ditambah parkir 5 ribu. Harganya meningkat soalnya banyak turis lokal dari Jakarta sih.

      Kalau masih subuh, di bawah jam 6, bisa masuk gratis, ndak perlu bayar dan bisa mendapatkan ketenangan yang paling poll. Sepi banget dan kabut paginya masih terlihat jelas di atas permukaan air

  2. Mas mas nanti klo aku ke Bandung sampean mau jadi guideku hahahaha.
    Omegad pecel lele favoritku mas, palagi pake nasi anget, trus sambelnya pedes-pedes nendang gimana gitu 😀

  3. Kalo dibandingin sama masakan2 dari Eropa atau Amerika, kayaknya masakan Indonesia emang paling oke sih.. menurut temen2 aku yg org luar jg gtu.. karena makanan Indonesia banyak bumbunya.
    Pernah waktu kuliah dulu bikin acara Indonesia Cultural Day gtu.. makanannya langsung pada habis.. hehehe…

    1. Iyap. Beberapa bule yang kuajak nyicip kuliner kaki lima, mereka semua suka sama nasi goreng, tahu, dan juga tempe. Ada satu temenku yang orang Jerman bahkan kalau sarapan di sana jadi suka bikin nasi goreng.

      Kuliner kita memang kaya rasa 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s