Catatan Singkat Liburan Impulsif di Bogor

Siapa tidak suka tanggal merah? Saya rasa semua orang yang sudah bekerja pasti bersyukur akan datangnya tanggal merah. Tapi, jika tanggal merah itu datang di tengah-tengah minggu, sukacitanya terasa berbeda. Rasanya kurang maksimal jika dibandingkan dengan tanggal merah yang jatuh di hari Jumat atau Senin.

Hari Pancasila yang diperingati pada tanggal 1 Juni lalu ternyata jatuh di hari Kamis, artinya tanggal merah kejepit dan hari Jumat tetap harus masuk kerja. Namun, berapapun lamanya, yang namanya tanggal merah harus dimanfaatkan dengan sebaik mungkin. Waktu itu saya punya dua pilihan: istirahat di kos, atau melakukan perjalanan. Tentu saya memilih opsi kedua. Maka, secara impulsif alias mendadak, saya mengajak dua orang teman dari kantor dan dipilihlah Bogor sebagai destinasi utama pengisi tanggal merah.

Untuk liburan mode kilat, bagi saya Bogor adalah kota yang tepat untuk disinggahi. Soal transportasi jangan ditanya, begitu mudah untuk mencapai Bogor. Dari Jakarta, ada KRL yang setiap beberapa menit sekali wara-wiri dari dan menuju Bogor. Tarifnya pun tidak mahal, hanya 5000 sekali jalan dan waktu tempuhnya pun hanya 1 jam.

Suasana KRL yang lengang. Hal ini mustahil ditemukan pada hari kerja.

Kami bertemu di Stasiun Kota. Tak seperti hari kerja, KRL di tanggal merah jauh lebih sepi. Di stasiun Juanda, Gondangdia, dan Cikini yang biasanya ada ratusan penumpang bejubel, hari ini hanya beberapa gelintir saja yang masuk ke dalam KRL. Setiap penumpang dapat duduk, tak ada yang berdiri. Selama satu jam, kereta meluncur terus ke selatan hingga akhirnya tiba di Buitenzorg, sebuah kota mungil yang kini menjadi bagian dari Megapolitan Jakarta.

Kebun Raya Bogor

Destinasi pertama hari itu tak lain tak bukan adalah Kebun Raya Bogor (KRB), sebuah loka nan teduh yang terletak persis di tengah-tengah kota. Mulanya, dari stasiun kami berencana untuk berjalan kaki saja sampai ke gerbang masuk utama, tetapi karena waktu yang sudah terlampau siang kami pun memutuskan untuk menaiki angkot saja.

Sebenarnya jarak dari stasiun sampai ke pintu masuk utama KRB tidaklah jauh. Tapi, kondisi lalu lintas di Bogor tidak jauh berbeda dengan Jakarta, sama-sama macet. Hanya, jika di Jakarta macet disebabkan karena jalanan menampung beban kendaraan yang terlalu banyak, di Bogor macetnya lebih disebabkan oleh karena angkot. Jika dahulu Bogor sering disebut dengan julukan “Kota Hujan”, sekarang saya lebih suka menjulukinya dengan nama “Kota Sejuta Angkot”. Di mana-mana ada angkot dan mereka berhenti atau ngetem di manapun tanpa peduli akan mengakibatkan jalanan macet atau tidak.

Keteduhan Kebun Raya Bogor.

Jika menyambangi KRB pada saat akhir pekan atau hari libur, maka kita akan menemui lebih banyak pengunjung. Kebanyakan dari mereka adalah keluarga-keluarga yang ingin bersantai tetapi tidak ingin jauh-jauh dari kota. Selain membawa serta rombongan, biasanya mereka juga membawa aneka makanan yang dikemas dalam rantang-rantang atau wadah plastik, kemudian di bawah naungan pohon yang teduh mereka menikmatinya bersama-sama.

Di tahun 2017 ini, usia KRB telah menginjak angka 200 tahun. Jika diibaratkan sebagai manusia, tentu KRB sudah sangat sepuh. Dengan luas total 87 hektar, berjalan-jalan di KRB membutuhkan stamina yang ekstra. Tak cuma teduh, KRB juga menyimpan lebih dari 15,000 spesies tanaman yang membuatnya dijuluki sebagai salah satu dari kebun botani terlengkap di dunia.

Karena waktu yang terbatas, kami sadar bahwa mengelilingi seluruh kebun raya adalah pekerjaan yang mustahil kami lakukan. Jadi, kami mendatangi penyewaan sepeda yang lokasinya tak jauh dari pintu masuk. Setiap pengunjung yang ingin menyewa sepeda dikenakan tarif Rp 15.000,- untuk satu jam plus mendapatkan fasilitas helm sepeda. Jika pengunjung sedang sepi, kita boleh menyewanya lebih dari satu jam. Tapi, berhubung hari itu sedang padat pengunjung maka kami hanya boleh menggunakan sepeda selama satu jam. Lebih dari batas waktu maka harus membayar denda.

Dari lokasi penyewaan, kami memilih jalanan yang menurun. Tak sampai 15 menit kami sudah tiba di jembatan legendaris yang menggantung di atas sungai Ciliwung. Jembatan ini berwarna merah dan sering dijadikan spot foto favorit oleh para pengunjung. Namun, karena usia jembatan yang juga sudah tua, maka hanya jumlah orang yang naik ke atasnya dibatasi hanya 10 orang saja. Lebih dari itu makan risiko tidak dijamin.

Dari jembatan, kami kembali mengayuh sepeda. Kali ini tujuan kami adalah Pohon Baobab (Adansonia Digitata)sebuah pohon endemik Afrika yang terkenal karena batangnya yang besar. Di habitat aslinya, Baobab mampu tumbuh dengan tinggi mencapai 47 meter dan lingkar batang 16 meter. Namun, Baobab di Kebun Raya Bogor sedikit berbeda. Walaupun spesiesnya sama, tetapi ukuran Baobab di sini jauh lebih kecil. Walaupun demikian, Baobab di KRB tetap memiliki batang dan dahan yang bentuknya gendut-gendut sehingga saya melihatnya dengan perasaan sedikit gemas.

Waktu penyewaan sepeda tinggal 30 menit lagi, jadi kami memutuskan untuk segera kembali ke titik pertama. Dari lokasi pohon Baobab, kami harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk tiba di lokasi penyewaan sepeda. Jika sedari tadi jalanan yang kami tempuh konturnya menurun, kali ini kami harus melewatinya dengan menanjak. Setiap kayuhan jadi terasa begitu berat, apalagi kami termasuk orang kantoran yang jarang berolahraga. Setelah setengah jalan, kami menyerah dan menuntun sepeda hingga tiba di lokasi terakhirnya.

Selepas jam dua siang, awan mendung mulai datang. Masih ada satu destinasi lain yang ingin kami singgahi di KRB, yaitu makam Belanda. Di tengah lebatnya pepohonan, terdapat sebuah kompleks pekuburan kuno yang isinya adalah jasad-jasad orang Belanda. Kebanyakan nisan di makam ini dicat menggunakan warna putih, namun ada pula yang warnanya jadi hijau karena ditutupi oleh lumut. Dari sekian banyak makam, tercatat makam MR. A. Prins adalah makam tertua di sini. Ketika Prins wafat pada 28 Januari 1867, jasadnya dikebumikan di kebun botani ini.

Berbeda dengan lokasi lain di Kebun Raya Bogor yang riuh oleh pengunjung, suasana di sekitar makam relatif lebih tenang. Pengunjung yang singgah ke sini umumnya tidak berisik, mungkin mereka sedikit takut. Suasana yang tenang ini begitu saya nikmati. Saya berjalan masuk ke dalam kompleks pemakaman dan sesekali menyentuh beberapa nisan di sana.

Kelenteng Dhanagun

Tak jauh dari pintu utama KRB, ke arah jalan Suryakancana berdiri sebuah kelenteng yang menyita perhatian saya. Mulanya kami ingin segera masuk ke dalam angkot karena hujan. Tapi, tatkala mata saya menatap sebuah gapura kelenteng, kami malah singgah sejenak ke dalamnya.

Tampak muka Kelenteng Dhanagun.

Harum dupa menyambut kedatangan kami. Seperti bangunan kelenteng pada umumnya, Kelenteng Dhanagun dibangun dengan corak Tiongkok dan menjadi rumah ibadah untuk para pemeluk Konghucu. Menurut catatan sejarahnya, diperkirakan kelenteng ini dibangun pada abad ke-18 tatkala mulai banyak warga Tionghoa yang menetap di sekitaran Pasar Bogor. Kesan merah ada di mana-mana, di dinding, tempat pembakaran dupa, dan di banyak tempat lainnya.

Sambil menanti hujan reda, kami duduk-duduk di pelataran kelenteng. Tak ada umat yang datang untuk bersembahyang hari itu. Kelenteng bukanlah hal yang asing buat saya karena waktu kecil dulu, Ayah sering mengajak saya untuk singgah dan berdoa kepada dewa-dewa di dalam kelenteng.

Altar pemujaan di dalam kelenteng.
Relief di dinding kelenteng.

 

Kuliner Jalan Suryakancana

Setelah hujan reda, kami berjalan kaki menyusuri Jalan Suryakancana. Di jalan ini, ada kuliner legendaris khas Bogor yang tidak boleh dilewatkan, yaitu soto bogor dan ngo-hiang. Sebelumnya saya pernah mencicipi ngo-hiang, tetapi tidak terlalu suka dengan rasanya. Jadi, di kesempatan kali ini saya dan teman-teman memilih kuliner yang lebih pas di lidah, soto bogor.

Dilihat secara sekilas tidak tampak perbedaan yang kentara antara soto bogor dengan soto-soto lainnya. Warga lokal menyebut soto ini dengan sebutan soto kuning karena memang kuahnya berwarna kuning. Yang unik dari soto bogor adalah penyajiannya. Sebelum soto disajikan di atas meja makan, kita bisa memilih daging atau jenis jeroan sapi apakah yang ingin kita santap. Ada daging, babat, usus, dan paru. Pada dasarnya saya tidak terlalu suka jeroan, jadi saya memlih satu daging dan satu babat. Kemudian, si penjual akan memotong-motong daging atau jeroan itu dan menyiramnya dengan kuah soto berwarna kuning. Dan, jadilah soto kuning hangat yang nikmat disantap.

Jeroan-jeroan sapi.

Jika tak ingin menyantap soto, ada beragam pilihan kuliner lain yang tersedia di sepanjang Jalan Suryakancana. Jika dibandingkan dengan Jogja, maka Suryakancana adalah Maliboronya Bogor.

Menjelang gelap, kami menyudahi perjalanan impulsif di Bogor. Stasiun Bogor menjadi titik masuk dan berangkat kami. Sebelum masuk ke dalam gerbong KRL, saya mengamati sejenak suasana di sekitar stasiun. Momen senja sehabis turun hujan membuat suasana Bogor terasa begitu sejuk. Kebetulan juga awan mendung telah pergi dan langit begitu cerah, dari kejauhan saya dapat melihat Gunung Salak berdiri dengan kokohnya.

Gunung Salak dilihat dari Stasiun Bogor.

Satu hari yang singkat kami lewatkan dengan puas di kota Bogor. Walaupun saat ini kondisi Bogor sebelas dua belas dengan Jakarta, alias sama-sama macet, tetapi kota ini tetap menarik untuk disinggahi. Berjalan kaki di bawah keteduhan kebun raya dan mencicipi kuliner di Suryakancana adalah dua hal sederhana yang akan memanggil saya kembali untuk datang ke Bogor.

Kembali pulang ke Jakarta.

 

***

How to get there?

Dari Jakarta, tersedia perjalanan KRL yang berangkat dari Stasiun Jakarta Kota/Beos atau Stasiun Jatinegara. Perjalanan ke Bogor membutuhkan waktu sekitar 1 jam.

Tiket masuk Kebun Raya Bogor : Rp 15.000,- per orang. (Tiket ini sudah termasuk dengan masuk Museum Zoologi).

Jam buka KRB setiap hari mulai pukul 07:30 sampai dengan 16:00.

Angkot atau ojek online? 

Jalanan di Bogor relatif tidak terlalu jauh, namun sangat macet. Jika ingin cepat bisa menggunakan jasa ojek online. Tetapi, jika ingin mencicipi Bogor yang otentik bisa menggunakan angkot. Satu kali perjalanan angkot untuk jarak dekat harganya 2000, sedang 3000, jauh 5000.

Dari Suryakancana menuju Stasiun Bogor sebenarnya jaraknya tidak jauh, tetapi angkot harus memutar. Tarifnya 4000 rupiah.

 

 

Iklan

8 thoughts on “Catatan Singkat Liburan Impulsif di Bogor

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s