Memahami Jakarta dari Sunda Kelapa

Jika diibaratkan sebagai manusia, usia Jakarta tidak lagi belia. Detak jantunya tak beraturan karena jalan-jalannya begitu semerawut. Paru-parunya sesak karena polusi menyusupi setiap partikel udaranya. Nadinya pun kian menyempit karena setiap jengkal ruang kosong telah disulap menjadi hutan beton. Di usianya yang sepuh, Jakarta masih berjuang untuk memulihkan dan memuliakan dirinya menjadi sebuah megapolitan yang sehat dan ramah.

Di senjakala hari Sabtu, bersama seorang teman, saya berjalan kaki mengitari kawasan utara Jakarta. Sebenarnya, tujuan utama kami hari itu adalah Pelabuhan Tanjung Priok. Namun, karena terjadi kebakaran di daerah Kampung Bandan, maka seluruh perjalanan kereta api dari dan ke Tanjung Priok pun dibatalkan. Alhasil, kami mencari alternatif lain dan dipilihlah Sunda Kelapa sebagai destinasi hari itu.

Kebakaran di Kampung Bandan pada Sabtu, 16 September 2017. Seluruh perjalanan kereta api dari dan ke Tanjung Priok via Beos ditiadakan.

Dari Stasiun Kota, kami memulai penjelajahan menuju pesisir Jakarta. Karena waktu yang terbatas, kami memutuskan untuk menaiki ojek terlebih dahulu. Sebelum jam empat sore, kami harus tiba di Museum Bahari. Setelah puas menelisik isi museum, kami melanjutkan perjalanan menuju Sunda Kelapa dengan berjalan kaki. Lokasinya tidak jauh, hanya 200 meter dari posisi Museum Bahari berdiri.

Walau jaraknya dekat, tetapi berjalan kaki di sepanjang jalan menuju Sunda Kelapa cukup menantang nyali. Trotoar yang sedang diperbaiki membuat kami harus berjalan di bahu jalan yang dipenuhi lalu lalang truk-truk ukuran jumbo dan motor-motor yang pengemudinya tidak sabaran. Di beberapa titik, jarak antara pundak kami dan ban truk hanya beberapa jengkal saja.

Ada dua gerbang menuju Sunda Kelapa. Di gerbang pertama, kami sempat terkecoh. Kami kira pelabuhan Sunda Kelapa ditutup karena gerbang yang terkunci rapat. Namun, ada sebuah papan kecil yang tertulis bahwa gerbang masuk utama pelabuhan ada di sebelah kanan, sekitar 100 meter dari gerbang pertama berada.

Di gerbang utama, setiap kendaraan harus berhenti untuk membayar bea retribusi. Kami dikenakan bea sebesar 5000 Rupiah untuk dua orang. Jika membawa sepeda motor, selain bea masuk per orang, ada bea parkir yang harus dibayar. Untuk kawasan Jakarta yang segala sesuatunya serba mahal, menemukan tempat dengan tiket masuk murah meriah membuat kami tersenyum bahagia. Bayangkan saja, biaya masuk ke Pelabuhan Sunda Kelapa ini harganya beda tipis dengan biaya parkir motor di pelataran mini-market.

Sepeda motor pengunjung tidak diperkenankan untuk masuk ke dalam area kanal.

Ini adalah kunjungan kedua saya ke Sunda Kelapa sejak kunjungan pertama di tahun 2015 silam. Tak begitu banyak perubahan yang terjadi di sini. Satu hal yang membuat Pelabuhan Sunda Kelapa menjadi menarik adalah deretan kapal-kapal kayunya yang bersandar rapi. Bagi sebagian warga Jakarta, khususnya kawula muda, Sunda Kelapa dianggap sebagai tempat yang Instagrammable. Tak ayal, alih-alih datang ke sini untuk mengenal sejarah, mereka menjadikan Sunda Kelapa sebagai arena untuk berfoto. Mereka datang dengan pakaian terbaiknya. Sepatu stylish, kemeja flanel dengan warna mencolok, kacamata hitam, dan berbagai aksesori lainnya.

Tidak ada tangga untuk naik ke atas kapal.

Sambil terus berjalan menuju ujung pelabuhan, perhatian saya tertuju kepada orang-orang yang sehari-harinya beraktivitas di sini. Sejauh saya mengamati, kebanyakan dari mereka adalah lelaki. Usianya beragam, ada yang muda hingga tua. Mereka duduk di atas kapal-kapal kayu yang tengah bersandar. Dari wajahnya yang sangar dan kulitnya yang hitam, saya bisa menangkap bahwa kehidupan di pelabuhan tentu keras. Setiap harinya mereka harus berjibaku dengan panas matahari yang menyengat dan tubuh mereka tentu selalu dibanjiri oleh keringat.

Saat mata saya tengah mengobservasi, seorang lelaki tua menghampiri. Wajahnya berkerut dan tangannya memegang sebatang rokok. “Dek, ayo naik perahu, keliling pelabuhan.” Saya tersenyum sambil menggelengkan kepala. Tapi, bapak itu terus mendekat. Kembali dia menawarkan jasanya kepada saya. Sambil tetap berlalu, saya masih berusaha menolak. Tapi, dalam pikiran saya terbersit, “Tanya dulu saja tarifnya berapa. Kalau cocok kan asyik bisa muterin pelabuhan naik perahu, plus dapat cerita lebih komplit dari si bapak.”

Saya menghentikan langkah dan bertanya. “Berapa pak?”

“50 dek, sampai ujung.”

Duh, gak 40 aja pak?”

“Ya sudah, 40 gapapa, ayo naik,” tandasnya.

Karim, seorang penjaja jasa perahu yang mengantar kami berkeliling pelabuhan.

Untuk sampai ke atas perahu, kami harus sedikit memanjat dinding beton yang tingginya sepinggang. Setelah kami duduk dengan sempurna, mesin perahu kayu kecil ini dihidupkan. Suara bisingnya memudarkan niatan saya untuk mengajak ngobrol sang bapak. Jadi, saya mengeluarkan kamera dan mulai mengambil banyak gambar.

Menikmati Sunda Kelapa dengan berperahu adalah aktivitas yang menyenangkan. Kami dibawa untuk melihat geliat Sunda Kelapa dari atas air. Sambil angin semilir menerpa, kami harus membiasakan diri menghirup aroma air yang busuk semerbak. Pencemaran yang begitu masif di Jakarta pada akhirnya turut menjadikan Sunda Kelapa sebagai korban. Airnya menjadi hitam pekat dan beraroma busuk. Namun, sekalipun saya memandang air ini dengan jijik, ada bocah-bocah yang begitu riang menceburkan dirinya. Mereka berenang, saling berkejaran satu sama lain tanpa ada perasaan khawatir ataupun jijik. Sesekali mereka berteriak, melambaikan tangan meminta difoto atau uang receh.

Jika berbicara tentang bagaimana Jakarta dimulai dan terbentuk, Sunda Kelapa memiliki andil yang besar. Ditilik dari sejarahnya, Sunda Kelapa adalah salah satu pelabuhan tertua yang berdiri di Indonesia. Pada abad ke-5, Sunda Kelapa ada di bawah kekuasaan Kerajaan Tarumanagara. Lalu, pada abad ke-12 berpindah kepemilikan di bahwa kekuasaan Kerajaan Sunda.

Lokasinya yang strategis menjadikan Sunda Kelapa primadona pada kala itu. Dari pelabuhan ini, transaksi jual beli antar kerajaan pun terjalin. Bahkan, para penjelajah Eropa pun singgah dan melakukan transaksi di sini. Pada tahun 1527, Pasukan Fatahillah datang dan berhasil menguasai Sunda Kelapa. Di sini, nama Sunda Kelapa diubah menjadi Jayakarta hingga kedatangan Belanda yang kelak mengubah kembali nama Jayakarta menjadi Batavia.

Sampai sebelum abad ke-19, Pelabuhan Sunda Kelapa mengalami masa kejayaannya. Pemerintah Belanda melakukan revitalisasi pelabuhan dengan memperpanjang kanal yang tadinya sepanjang 810 meter menjadi 1.825 meter. Namun, seiring waktu berlalu, kedalaman air di Sunda Kelapa mengalami pendangkalan. Akibatnya, kapal-kapal dengan ukuran besar pun kesulitan untuk berlabuh. Sebagai gantinya, Belanda membangun sebuah pelabuhan baru yang memiliki kapasitas lebih besar dari Sunda Kelapa. Sekarang, kita mengenal pelabuhan itu dengan nama Tanjung Priok.

Dari atas perahu yang melaju pelan, saya mencoba menyesapi atmosfer kejayaan Sunda Kelapa pada masa lampau. Walaupun telah kalah pamor oleh Tanjung Priok, tapi Sunda Kelapa masih tetap menggeliat. Dari perahu-perahu kayu yang bersandar rapi inilah denyut Sunda Kelapa tetap berdetak. Selain berlayar untuk menangkap ikan di perairan Nusantara, kapal-kapal kayu ini pun masih digunakan sebagai sarana angkutan barang, walaupun daya angkutnya tidak sebesar kapal-kapal kargo yang bersandar di Tanjung Priok.

Sekalipun penampakannya sederhana, tetapi kapal-kapal kayu ini tetap gagah dan perkasa mengarungi lautan. Kata sang bapak, dalam satu kali pelayaran kapal-kapal ini bisa menempuh waktu berbulan-bulan. Kayu-kayunya begitu kuat, tak koyak dihantam gelombang di lautan lepas.

Dengan ditetapkannya Sunda Kelapa sebagai objek wisata andalan DKI Jakarta, semakin banyak wisatawan yang datang berkunjung ke sini. Walaupun tujuan mereka tidak melulu untuk belajar dan mengenal sejarah Jakarta, tapi setidaknya kehadiran mereka turut menambah semarak Sunda Kelapa.

Tanpa terasa, sudah setengah jam kami berperahu mengitari pelabuhan. Saat perahu kecil kami menepi dan mesin dimatikan, saya mengajak sang bapak untuk berkenalan dan mengobrol sejenak. Sebut saja nama bapak itu Karim. Setelah hari hampir gelap sempurna, ternyata kami adalah orang pertama yang menjadi penumpang Karim hari itu.

“Kalau Sabtu Minggu memang ramai dek, banyak yang datang, tapi tidak banyak yang mau naik perahu,” paparnya.

Dua blok apartemen baru rampung dibangun di tepi kanal Sunda Kelapa.
Kontras dengan apartemen yang tinggi menjulang, perkampungan kumuh tumbuh berderet di samping kanal Sunda Kelapa.

Di mata Karim yang terlahir sebagai orang Bugis, Sunda Kelapa bukanlah sekadar pelabuhan. Sejak kali pertama menjejakkan langkahnya di Jakarta 42 tahun silam, Sunda Kelapa adalah bagian hidupnya. Dari pelabuhan berair hitam pekat inilah Karim menggantungkan asanya sebagai nelayan, kuli angkut, dan juga penjaja jasa mengantar pengunjung berkeliling menaiki perahu kecilnya.

“Ya, ginilah Jakarta, dek,” katanya sambil terkekeh.

Sekalipun apartemen-apartemen pertanda kemajuan ekonomi telah berdiri menjulang di sekitar Sunda Kelapa, kehidupan Karim beserta para pencari nafkah lainnya di Sunda Kelapa tidak banyak berubah. Seiring dengan pembangunan fisik yang terus digalakkan, hingga Maret 2017 masih terdapat 389,69 ribu orang miskin yang hidup di Jakarta. BPS mencatat bahwa orang yang disebut miskin adalah mereka yang pengeluaran bulanannya ada di bawah Garis Kemiskinan, yaitu Rp 536.546,-.

Ketika langit menjadi gelap, kami berpamitan dengan Karim. Dia mendorong perahunya agak ke tengah, kemudian deru mesin nan bising menyeruak. Karim pun menghilang di balik kapal-kapal kayu.

Perjalanan singkat kami di Sunda Kelapa sore ini membuat kami belajar untuk mengenal Jakarta lebih dekat. Jakarta yang kini berusia 490 tahun dan dipenuhi bangunan pencakar langit yang sehari-harinya kami lihat adalah produk dari sebuah perjalanan nan panjang. Jakarta yang dulu mungil telah berubah menjadi ibukota Republik dan juga kota raksasa penopang hidup jutaan manusia.

Ibarat mengenal seorang kekasih dari asal usulnya, kami bersyukur bisa mengenal dan belajar memahami Jakarta dari titik nol kehidupannya, yaitu di Sunda Kelapa.

***

How to get to Sunda Kelapa?

Akses transportasi publik paling dekat dari Sunda Kelapa adalah Stasiun Jakarta Kota/Beos. Dari sini kita bisa berjalan kaki selama sekitar 30 menit untuk tiba di Sunda Kelapa. Atau, bisa menggunakan transportasi ojek daring seharga 5000 per sekali jalan.

What to see? 

Di Sunda Kelapa kita dapat melihat geliat kehidupan khas pelabuhan. Disarankan untuk berkunjung pada sore hari.

Selain pelabuhan, terdapat Museum Kebaharian dan Menara Syahbandar yang jaraknya hanya 200 meter dari Sunda Kelapa. Di Museum Kebaharian kita dapat melihat bangunan kuno peninggalan Belanda. Di lantai II museum juga terdapat patung-patung lilin tentang legenda-legenda laut dan kisah maritim Nusantara.

How much we need to pay? 

Tiket masuk per orang ke Sunda Kelapa adalah Rp 2.500,-

Jika ingin menaiki perahu, jangan lupa bernegosiasi harga terlebih dahulu. Biasanya harga per orangnya sekitar 20 ribu.

What should we prepare? 

Kawasan pelabuhan biasanya berangin besar. Jika tidak kuat angin, bawalah jaket. Jangan lupa untuk mengenakan masker karena di Sunda Kelapa ada banyak sekali debu.

 

 

Iklan

14 thoughts on “Memahami Jakarta dari Sunda Kelapa

  1. Saya belum pernah ke Pelabuhan Sunda Kelapa. Terima kasih untuk rekomendasinya. Sekali waktu boleh deh main kemari, masa sudah hampir lima tahun tinggal di Jakarta belum pernah main ke sana, hehe. Dari sini kita bisa lihat, Jakarta itu berawal dari Sunda Kelapa. Maka akan sangat durhaka ketika kini Sunda Kelapa diabaikan dan cenderung tertutup. Mudah-mudahan masa depan lebih cerah untuk Pak Kariim dan orang-orang lain di sana. Mereka berjasa banget, menjadikan Sunda Kelapa abadi. Kalau kita semua berpaling muka, mungkin Sunda Kelapa akan musnah lebih dulu dari yang bisa kita perkirakan.

    1. Ya Mas Gara.
      Sewaktu saya ke Sunda Kelapa, ada atmosfer masa lalu yang setidaknya bisa kita lihat dari deretan kapal-kapal kayu yang bersandar. Nanti kalau ke sana, jangan lupa naik perahu, biar bisa dapat pemandangan Sunda Kelapa secara menyeluruh. :))

    1. Betul mas. Dengan mengenal sejarah, saya jadi bisa mengerti tentang carut-marutnya Jakarta secara lebih menyeluruh. Dengan sejarah pula, saya belajar cinta Jakarta, sebagaiamana dulu sy bisa cinta sama Jogja 🙂

  2. Apartemen-apartemen itu tampak seperti sedang mengejek pak karim dan kawan-kawannya, benar-benar sangat terlihat ketimpangannya. Btw, foto-fotomu bagus-bagus mas, pakai kamera apa nih? Hehe.

    1. Halo mas Abe 🙂

      Betul mas. Kehadiran apartemen yang tinggi menjulang di sebelah Sunda Kelapa yang sudah sepuh itu kontras sekali. Apartemen baru ada dalam satu dekade ke belakang, sedangkan Sunda Kelapa telah berabad-abad.

      Foto-fotoku pakai kamera dslr Canon Eos 600D, lensa kit 18-55mm mas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s