Bukan Kampung Halaman, Tapi Temanggung Selalu Memanggil Pulang

Kalau ada yang bertanya “kamu ini orang mana?” jujur, aku bingung menjawabnya. Secara geografis, aku lahir dan menghabiskan hidup selama 18 tahun di Bandung. Kemudian, selama 4,5 tahun aku hijrah di Jogja dan sekarang hampir setahun tinggal dan menyatu dengan ritme kehidupan di Jakarta.

Semenjak kuliah di Jogja dulu, aku jadi mempunyai banyak kampung halaman. Pasalnya, setiap kali liburan semester tiba, aku tidak pernah langsung mudik ke Bandung. Setelah ujian akhir semester rampung dan libur panjang dimulai, aku akan ngintil teman-teman yang rumahnya di sekitaran Jawa Tengah. Kadang aku ke Temanggung, Kudus, Solo, atau Cilacap. Selama beberapa hari, aku menumpang di rumah mereka dan disambut layaknya keluarga sendiri. Lama-kelamaan, aku yang bukan siapa-siapa pun merasa begitu kerasan karena diterima layaknya anggota keluarga sendiri.

Salah satu keluarga yang paling sering aku singgahi adalah keluarga Ibu Siti Salamah di Kabupaten Temanggung. Anaknya yang pertama, Tegar Pambudi, adalah teman seangkatanku sewaktu kuliah dulu. Kalau boleh dikata, keluarga ini adalah keluarga yang paling unik dan berkesan buatku. Setiap kali aku singgah ke sana, keluarga ini tidak pernah jaim, alias selalu tampil apa adanya. Kala malam tiba, kami akan menonton film horror bersama-sama di ruang tengah. Kemudian setiap kali hantunya muncul, kami berteriak histeris. Atau, jika ada pertandingan bola, kami pun duduk bersama di depan televisi. Saat tim yang didukung menang, Ibu Siti dan kedua anak lelakinya akan bersorak-sorai. Walaupun sudah dikaruniai 3 orang anak, Ibu Siti selalu tampil energik dan ekspresif layaknya anak muda.

Mbok sana, dolan ke air terjun, bagus loh tempatnya,” katanya.

Aku cukup heran. Biasanya, kalau aku berkunjung ke rumah teman-teman, orangtua mereka selalu melarang untuk pergi jauh-jauh. “Jangan naik ke gunung itu, bahaya. Jangan pergi ke sana, rawan!” Tapi, Ibu Siti berbeda. Dia paham betul bahwa insting anak muda adalah menjelajah. Jadi, alih-alih melarang dan menakut-nakuti, dia malah menyemangati kami untuk pergi dan mencari pengalaman dari tempat-tempat yang kami kunjungi.

Kisah perjalananku dengan keluarga di Temanggung ini dimulai pada tahun 2013. Waktu itu, aku dan Tegar bukanlah kawan yang karib. Aku hanya mengenalnya secara sekilas di kampus dan kebetulan di semester awal kami tidak berada di kelas yang sama. Suatu ketika, di pertengahan bulan Februari, Tegar datang berkunjung ke kosku. Di sana, dia melihat ada banyak peta yang aku tempelkan di dinding.

Bro, kamu suka jalan-jalan ya?” tanyanya.

“Iya. Tapi di sini jarang pergi, soalnya belum ada teman yang mau diajak jalan,” jawabku.

Kemudian, dia mengajakku untuk datang ke Temanggung. Katanya, dari rumahnya, kami bisa jalan-jalan ke Dieng. “Ndak terlalu jauh kok kalo dari Temanggung, bisa naik motor, paling 2 sampai 3 jam aja,” katanya dengan logat Jawa yang sangat kental.

Setelah diajak, aku tidak langsung setuju. Aku masih pikir-pikir untuk singgah di rumah teman yang baru dikenal. Tapi, waktu itu, aku sedang menaruh rasa terhadap seorang mahasiswi yang rumahnya juga di Temanggung. Setelah dipikir-pikir, sepertinya tawaran Tegar menarik. Sembari bertandang ke rumah Tegar dan bermalam di Temanggung, aku bisa mampir mengunjungi rumah si “dia”.

Singkat cerita, sejak peristiwa itu, walaupun aku sudah rajin datang ke Temanggung, aku gagal mendapatkan si “dia”. Alih-alih memberiku seorang pacar, rupa-rupanya Tuhan malah memberiku sebuah keluarga baru. Semenjak saat itu, aku jadi semakin sering ke Temanggung. Bukan untuk mengejar gebetan, tetapi karena memang keluarga Ibu Siti di Temanggung seolah menjadi keluargaku sendiri.

Temanggung selalu menjadi base-camp setiap kali tanggal merah ataupun libur panjang tiba. Bahkan, ketika dulu aku berkeliling Jawa bersama seorang teman dari Jerman yang bernama Johannes, aku pun membawanya ke Temanggung. Satu kali berkunjung ke Temanggung, Johannes pun jatuh cinta. Bukan hanya jatuh cinta pada suasana kota yang tenang dan sejuk, tapi juga karena kehangatan rumah Ibu Siti. Alhasil, selama 5 bulan Johannes berada di Jogja, setiap akhir bulan kami selalu meluangkan waktu untuk singgah di Temanggung.

Bersama Johannes Tschauner. November 2013.

Sekarang, empat tahun telah berlalu sejak aku singgah pertama kali di Temanggung. Keluarga Ibu Siti tetap menyambutku dengan hangat. Satu tahun lalu, di bulan November 2016 aku pamit karena akan pindah bekerja ke Jakarta. Waktu itu ada perasaan sedih. Aku takut apabila jarak menjadi jurang pemisah yang benar-benar nyata. Aku takut apabila harus kehilangan keluarga yang selama empat tahun telah menjadi bagian dari perjalanan hidupku.

Namun, kekhawatiranku tidak terbukti. Kesan baik yang dibangun selama empat tahun itu tidak sirna begitu saja. Di akhir bulan Agustus, tepat setelah 10 bulan aku pergi ke Jakarta, Tuhan memberiku kesempatan berharga untuk kembali menyapa Temanggung.

Pintu rumah Ibu Siti tetap terbuka lebar untukku. Tidak ada yang berubah dari keluarga ini. Sambutannya tetap hangat. Logat Jawanya tetap kental. Tawa dan canda tetap memenuhi seisi rumah. Tegar dan adik-adiknya masih sering bertengkar hingga salah satu kadang ada yang berteriak ataupun menangis. Tidak ada jaim di keluarga ini. Dan, inilah yang membuat Temanggung seperti kampung halaman sendiri yang selalu memanggil pulang.

Yang aku tahu, keluarga Ibu Siti bukanlah orang kaya. Namun, mereka tidak pernah hitung-hitungan soal uang. Entah sudah berapa rupiah yang dikeluarkan setiap kali dulu aku datang selama berhari-hari. Tapi, mereka tidak mengeluh, apalagi sampai ngomongin di belakang. Aku tahu bahwa semua ini dilakukan dengan hati yang ikhlas.

Dari keluarga di Temanggung, aku belajar satu hal. “Keluarga tidak harus sedarah” itu bukan sekadar teori, tetapi memang sebuah kenyataan yang benar-benar ada. Di Temanggung inilah aku menemukan bukti nyata dari teori ini. Jadi, selain Bandung, aku memiliki satu kampung halaman tambahan yang kepadanya aku bisa mudik dan berbagi sukacita, Temanggung.

Temanggung – 3 September 2017.
Iklan

12 thoughts on “Bukan Kampung Halaman, Tapi Temanggung Selalu Memanggil Pulang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s