Catatan 9 Jam Di Atas Kereta Serayu Pagi

Di hari Minggu pagi yang kelabu, saya terduduk di pinggiran rel Stasiun Sidareja. Sembari memandang langit yang sebentar lagi akan turun hujan, saya menanti kedatangan sang ular besi yang akan mengantar saya kembali ke Jakarta. Agak jauh dari tempat saya terduduk, ada puluhan penumpang lainnya yang juga akan meninggalkan Sidareja pagi itu.

Sidareja bukanlah kota besar, hanya sebuah kota kecamatan kecil yang dilintasi oleh jalur kereta api. Kebanyakan warganya menggantungkan hidup di sektor pertanian. Tapi, tak sedikit pula yang merantau ke Ibukota dan mengadu nasib di sana. Untuk memfasilitasi warga yang bepergian ke Ibukota, PT. Kereta Api Indonesia menyediakan layanan KA Serayu yang setiap harinya wara-wiri dua kali di rute Purwokerto-Pasar Senen melintasi jalur selatan.

Jika biasanya kereta malam selalu jadi pilihan, kali ini saya memilih kereta pagi karena dua alasan. Pertama, lintasan di timur Jawa Barat memiliki pemandangan yang amat cantik untuk dilewatkan. Jika menaiki kereta malam, tak ada pemandangan apapun yang bisa disaksikan selain gelap gulita. Kedua, dengan menaiki kereta pagi, saya memiliki waktu istirahat satu malam sebelum besoknya kembali bekerja.

Suasana pagi di Stasiun Sidareja. Mendung kelabu menggantung pertanda hujan akan segera turun.
Tiga jalur utama di Stasiun Sidareja. Jalur 2 adalah jalur lurus.

Tepat jam 08:26, KA Serayu tiba di Stasiun Sidareja. Sebagai penanda kedatangannya, lagu keroncong Di Tepinya Sungai Serayu pun mengalun. Dengan suara pelantunnya yang mendayu-dayu, lagu ini terdengar begitu khas. Bagi yang sering bepergian menggunakan jasa kereta api, lantunan lagu ini menjadi sebuah penanda bahwa kita telah sampai di Daerah Operasi (Daop V) Purwokerto (St. Sidareja merupakan bagian dari Daop V).

Saya duduk di kereta (gerbong) paling ekor, yaitu di Ekonomi-6. Tapi, rupanya saya salah perhitungan karena kursi nomor 4E yang saya pilih ternyata posisinya berlawanan arah dengan laju kereta. Jadi, tatkala kereta api berkelok, saya tak dapat melihat lokomotif di depan rangkaian meliuk-liuk. “Ya sudah deh,” pikir saya, apa boleh buat. Tapi, ada satu hal yang patut saya syukuri adalah kaca jendela yang bening. Tak seperti kaca-kaca di kursi lainnya yang kotor, dari kursi tempat saya duduk inilah saya bisa dengan leluasa membidikkan lensa kamera ke pemandangan di balik jendela. 

Ada 17 pemberhentian yang akan disinggahi oleh KA Serayu Pagi. Selepas Stasiun Sidareja, pemberhentian pertama adalah Stasiun Banjar yang terletak di ujung Jawa Barat. Ada sesuatu yang unik dari KA Serayu. Di stasiun-stasiun sebelum Banjar, hampir seluruh penumpang berbicara dalam bahasa Jawa Ngapak (logat khas daerah Cilacap dan Tegal), tetapi, di Stasiun Banjar, hampir semua penumpang yang naik berbahasa Sunda. Alhasil, jika kita dengarkan dengan saksama pembicaraan di dalam kereta, ada dua bahasa daerah yang saling terlontar. Ada penumpang yang bicara “urang mah, atuh, euy”, sedangkan di sisi lain ada yang berbicara, “Inyong, kae, kepriwe, kencod.” Sebuah perpaduan budaya yang menarik.

Stasiun Banjar. Kereta Api Serayu berhenti di jalur 1 selama 10 menit.
Mengisi waktu selama 10 menit, beberapa penumpang memilih untuk merokok.

Setelah berhenti selama 10 menit, KA Serayu kembali melanjutkan perjalanan ke arah barat. Langit yang sedari tadi sudah kelabu tak sanggup lagi menahan tangisnya. Hujan pun turun membasahi tiap-tiap jendela di kereta Serayu. Tak lama kemudian, seorang penumpang memanggil petugas kereta api. “Pak, AC-nya tolong dikecilin. Saya gak tahan, dingin!”

Hujan lebat turun tatkala KA Serayu melintasi Kabupaten Ciamis.

Di Stasiun Bojong, KA Serayu menghentikan lajunya untuk berbagi lajur dengan KA Pasundan yang bertolak dari Bandung menuju Surabaya Gubeng. Memasuki wilayah Kabupaten Ciamis, saya sudah bersiap-siap memegang kamera di tangan. Di lintasan ini, kereta api akan melintasi sebuah jembatan legendaris yang dahulu dibangun oleh Belanda, Jembatan Cirahong. Jika dilihat dari luar kereta, Jembatan Cirahong adalah jembatan yang bisa dilalui dua moda transportasi sekaligus. Di atas jembatan terdapat rel kereta api, sedangkan di bagian rongganya terdapat jalur khusus untuk lintasan mobil dan sepeda motor. Dari balik jendela, saya memotret beberapa kali. Sungguh indah pemandangan sungai dan hutan yang amat hijau tatkala kereta melintasi Jembatan Cirahong.

Panorama dari atas Jembatan Cirahong, Ciamis.

Di Stasiun Tasikmalaya, puluhan penumpang kembali naik. Salah satu dari mereka menjadi seorang yang duduk di kursi sebelah saya. Sedari naik, dia sudah memakai masker dan segera memejamkan matanya. Setelah 10 menit berhenti, kereta kembali bergerak. Kali ini laju kereta melambat karena posisi rel yang mulai menanjak.

Hujan gerimis turun di Stasiun Tasikmalaya menemani langkah para penumpang yang hendak masuk menuju kereta.

Jam setengah sebelas, kereta tiba di Stasiun Ciawi dan berhenti selama 10 menit untuk berbagi jalur dengan sang raja jalur selatan, KA Argo Wilis. Salah satu keistimewaan dari KA Serayu adalah frekuensi berhenti yang banyak dan lama. Dalam dunia perkeretaapian, ada sistem “kasta” yang berlaku. Kereta dengan “kasta” rendah, alias kelas ekonomi harus selalu mengalah apabila berpapasan dengan kereta dengan kelas yang lebih tinggi (ini hanya berlaku di jalur tunggal). Karena Serayu adalah kelas ekonomi, maka dia harus selalu mengalah tatkala berpapasan dengan kereta lain seperti Lodaya dan Argo Wilis.

Jalur kereta api yang diresmikan oleh Belanda di lintasan Bandung – Banjar pada periode 1889-1893 adalah salah satu dari jalur aktif kereta api paling ekstrem di Indonesia. Rel kereta api dibangun mengitari tepian bukit, melintasi jurang-jurang nan dalam, dan tentunya jalur ini rawan longsor. Tercatat ada beberapa kecelakaan fatal yang terjadi di jalur lintasan ini. Termutakhir adalah kecelakaan KA Malabar akibat tanah longsor pada tahun 2014 silam yang menewaskan 3 penumpangnya.

Namun, di balik jalur ekstrem dan laju kereta yang lambat, lintasan ini menawarkan pemandangan yang amat indah untuk dilewatkan. Di Stasiun Lebakjero, misalnya, kita akan disuguhi pemandangan berupa gunung yang berada persis di tepi rel kereta. Jika kereta melintas kala pagi hari, kabut akan turun dan menyelimuti sepanjang lintasan rel. Karena medan ekstremnya pula, jalur kereta api di lintasan ini masih berupa jalur tunggal. Artinya, apabila ada dua kereta berlawanan arah bertemu, salah satu harus mengalah dan berhenti untuk mempersilakan kereta lainnya melintas.

Selepas Stasiun Tasikmalaya, kursi kereta semuanya terisi penuh.

Bagi sebagian orang, momen papasan dan tunggu-menunggu ini cukup menyebalkan. Pasalnya, dalam satu kali berhenti, KA Serayu bisa menghabiskan 10 menit lebih. Bahkan, untuk KA Serayu Malam ada satu kali berhenti yang durasinya hampir 40 menit. Bagi pecinta kereta api seperti saya, momen berhenti ini justru adalah momen yang paling dinanti. Seraya kereta berhenti, saya dan juga para perokok akan keluar kereta. Jika saya memotret keadaan sekeliling, para perokok segera menyalakan rokoknya dan cepat-cepat menghabiskan satu atau dua batang sebelum kereta kembali berangkat.

Ketika KA Serayu berhenti di Stasiun Ciawi, langit yang semula mendung telah berubah menjadi cerah. Dari kejauhan, tampak rel kereta api yang membentang lurus menanjak. Dari sanalah sang raja selatan, Argo Wilis melaju, melengos begitu saja melewati KA Serayu yang sudah bermenit-menit menantinya.

Dari Ciawi menuju Cipeundeuy, rel kereta api akan menanjak tinggi.
KA Argo Wilis, sang raja selatan tiba menyapa KA Serayu yang sedari tadi menanti kedatangannya.

Selepas Stasiun Ciawi, kereta berjalan lebih lambat. Kali ini lokomotif harus bekerja lebih keras. Rel kereta tidak lagi datar, melainkan menanjak curam dan berkelok mengitari punggung-punggung perbukitan. Di sini, kecepatan kereta api dibatasi hanya berkisar 30-40 km/jam saja. Selain itu, karena kondisi jalur yang curam, rel kereta api di lintasan ini diberi tambahan besi bernama rel gongsol. Tujuannya adalah agar kereta api tidak selip saat menikung dan menanjak.

Titik tertinggi dari lintasan rel di timur Jawa Barat adalah Stasiun Nagreg yang ketinggiannya +848 meter di atas permukaan laut. Sebelum tiba di Nagreg, semua kereta, apapun kelasnya harus berhenti selama beberapa menit di Stasiun Cipeundeuy. Di sini, kereta api akan dicek kembali fungsi remnya supaya tidak mengalami malfungsi. Tindakan pengecekan rem ini dilakukan untuk menghindarkan kereta api dari kecelakaan.

Langit cerah menyambut kedatangan KA Serayu di Stasiun Cipeundeuy.

Pada tahun 1995, rangkaian gabungan kereta api Galuh dan Kahuripan mengalami kecelakaan di lintasan antara Stasiun Cipeundeuy dan Stasiun Trowek. Waktu itu, rem kereta api mengalami gagal berfungsi sehingga saat jalur rel menurun, kecepatan kereta api terus bertambah dan tak dapat dikendalikan. Mendekati sungai Cirahayu yang jalur relnya menikung dan menurun, kereta api pun terhempas keluar dari rel dan masuk ke jurang. Tiga gerbong berhasil selamat dengan bertahan di atas rel. Peristiwa nahas ini merenggut korban jiwa dan kerusakan kereta api yang cukup fatal. Akibatnya, semenjak peristiwa itu, Perumka mewajibkan seluruh kereta api berhenti di Cipeundeuy untuk diperiska remnya. Nama Stasiun Trowek pun akhirnya diruwat dan diganti dengan nama “Cirahayu” yang maknanya dinilai lebih baik. 

Ketika saya tiba di Stasiun Cipeundeuy, suasananya jauh lebih resik dan tenang ketimbang 10 tahun lalu saat kereta api belum melakukan reformasi di tubuh perusahaannya. Waktu itu ketika saya menaiki KA Mutiara Selatan pada tahun 2010, Stasiun Cipeundeuy adalah stasiun yang “berbahaya”. Ada banyak sekali pedagang asongan yang bandel dan merangsek masuk ke dalam kereta-kereta penumpang. Mereka berjualan cemilan, makanan berat, hingga perabot-perabot lainnya. Tak jarang, di antara puluhan asongan itu terselip satu atau dua pencopet yang siap mencuri barang bawaan penumpang yang kala itu lengah atau tertidur. Tak hanya asongan, dari luar kereta, bocah-bocah mengetuk-ngetuk kaca kereta api. Mereka meminta uang receh dari para penumpang.

Ibu-ibu tangguh pejuang hidup yang setiap harinya berjualan di balik pagar Stasiun Cipeundeuy.

Ketika kereta api melakukan reformasi di bawah kepemimpinan Ignasius Jonan, Stasiun Cipeundeuy pun mulai disterilkan. Kini, tak ada lagi pedagang asongan yang berjualan di dalam kereta. Tapi, dari luar pagar stasiun, ada sekumpulan ibu-ibu yang berteriak menjajakan jualannya. Setiap kali kereta api berhenti, mereka berlomba-lomba merayu penumpang untuk jajan. Tentunya mereka bicara dalam bahasa Sunda.

Pop-miena a, pop mie. Aqua. Mijon. Aqua. Mijon. Tarahu-tahu, tahuna haraneut a.”  Mereka menjajakan pop-mie, aqua botol, tahu sumedang dan aneka penganan lainnya.

Sewaktu saya turun dan membeli sebungkus tempe goreng, mereka terus menerus menawari saya untuk membeli makanan lainnya. Saya menggeleng karena sebungkus tempe ini pun sudah cukup. Saya memandang ibu-ibu ini dengan perasaan kagum. Mereka tidak menyerah. Teriakan mereka mampu menggema di seantero stasiun. Tangan-tangan mereka begitu terampil melayani pembeli dengan cepat karena takut kereta segera berangkat. Semua itu mereka lakukan dengan satu alasan, mencari penghidupan. Dulu, setiap kali kereta api yang saya tumpangi berhenti di Cipeundeuy, saya selalu menyempatkan diri untuk jajan satu atau dua menu makanan di ibu-ibu asongan ini. Di samping untuk mengisi perut saya yang keroncongan di perjalanan, dengan membeli jajanan, saya juga mengapresiasi kegigihan mereka untuk bekerja.

Perjalanan KA Serayu terus berlanjut. Dengan lajunya yang perlahan, lokomotif terus berjuang menghela delapan kereta. Semakin menanjak, derunya semakin kuat dan sesekali asap hitam membumbung tinggi. Selepas Stasiun Nagreg, barulah kereta api berjalan dengan lebih cepat, dan dipacu pada kecepatan maksimum setelah melewati Stasiun Cicalengka.

Setelah Stasiun Leles, kereta api akan menanjak memasuki area perbukitan Lebakjero.
Jembatan Citiis.
Persawahan di area Bandung Timur dengan latar belakang pembangunan gedung dan Gunung Manglayang.
Sawah di perbukitan. Hijau merona berpadu dengan birunya langit.
Perbukitan dan persawahan di kawasan Bandung Timur.


Jam setengah dua, KA Serayu telah tuntas menyelesaikan setengah dari perjalanannya di trek yang menanjak. Setelah ini, masih ada satu etape lainnya yang harus dilalui KA Serayu dengan perjuangan tinggi, yaitu lintasan antara Padalarang hingga Purwakarta.

Mata saya mulai berat. Pemandangan dari balik jendela mulai kabur hingga akhirnya saya jatuh tertidur. Ketika terbangun, kereta telah tiba di Stasiun Purwakarta. Sudah tujuh jam saya duduk di atas kereta. Bersama puluhan penumpang lain yang ingin meluruskan badan, kami keluar kereta dan duduk-duduk di pinggiran stasiun. Saat kereta Serayu berhenti, ada kereta lainnya yang turut berhenti di Purwakarta, yaitu KA Lokal yang berangkat dari Purwakarta menuju Cibatu. Kereta ini berhenti di jalur 3 dan menutupi gunungan kereta-kereta tua yang telah menjadi bangkai.

Penumpang yang kelelahan keluar dari kereta.

Konon katanya, akibat banyaknya kereta-kereta tua yang dibiarkan teronggok, Stasiun Purwakarta disebut-sebut sebagai stasiun yang seram dan penuh kisah mistis. Tapi, berhubung saya berhenti di sore hari, jadi tidak ada aura mistis apapun yang saya rasakan.

Kereta usang yang teronggok di balik KA Lokal Cibatu.
Kereta-kereta usang yang tak lagi digunakan. Konon katanya tempat ini berhantu.

Setelah Stasiun Purwarkata, pemandangan sepanjang etape terakhir menuju Jakarta terasa monoton. Kereta api melaju cepat melintasi deretan pemukiman dan sawah-sawah yang mulai berubah menjadi beton. Langit yang semula biru mulai dihiasi oleh awan kelabu pekat. Tak ada lagi perbukitan hijau. Tak ada lagi sungai yang mengalir jernih. Di sepanjang petak antara Jakarta – Cikampek, lahan-lahan kosong sedang menanti untuk beralih fungsi menjadi kawasan industri. 

Di petak antara Cikampek hingga Bekasi, KA Serayu melaju pada kecepatan maksimalnya. Tatkala saya coba mengecek kecepatannya menggunakan aplikasi ponsel, kereta api berada pada laju konstan di angka 90 km/jam.

Sebenarnya, untuk bepergian ke Purwokerto, KA Serayu jarang dijadikan pilihan utama karena rutenya yang memutar via jalur selatan. Jika melewati jalur utara via Cirebon, jarak antara Jakarta-Purwokerto cukup ditempuh dalam 5 jam saja. Sedangkan KA Serayu memakan waktu nyaris 12 jam. Mengapa? Karena sepanjang lintasan dari Jakarta ke Purwokerto sudah berjalur ganda, sehingga kereta api tidak perlu saling tunggu-menunggu untuk berpapasan. Sedangkan, di jalur selatan, kondisinya berbukit-bukit dan belum memungkinkan untuk dibangun jalur ganda. Alhasil, selain kecepatan kereta api yang dibatasi, setiap kali ada dua kereta berpapasan pun salah satu harus mengalah dan berhanti.

Akan tetapi, terlepas dari waktu tempuhnya yang lama, saya tetap senang menaiki KA Serayu. Pertama, tarifnya masih murah, yaitu hanya Rp 67 ribu per sekali jalan. Kedua, pemandangan yang dilalui menarik untuk memanjakan mata. Namun, keuntungan yang kedua itu hanya bisa saya nikmati jika menggunakan KA Serayu Pagi. Jika saya nekat menggunakan KA Serayu Malam menuju Jakarta, saya kapok. Pernah di bulan April lalu, saya menaiki kereta Serayu Malam yang jadwal tibanya di Jakarta mengalami keterlembatan dari yang seharusnya pukul 04:02 menjadi pukul 05:15. Akibatnya, saya berasa seperti zombie di kantor akibat kelalahan duduk di atas kereta.

Melesat 10 menit dari jadwal yang tertera, pukul 17:13, KA Serayu tiba di Stasiun Jatinegara. Perjalanan selama 9 jam pun akhirnya berakhir seiring dengan hadirnya momen senja. Setelah dua menit menurunkan penumpang, KA Serayu kembali bertolak menuju tujuan akhirnya, Stasiun Pasar Senen. 

Disambut senja yang syahdu di Stasiun Jatinegara.
Iklan

30 thoughts on “Catatan 9 Jam Di Atas Kereta Serayu Pagi

      1. Nah itu. Puasnya pakai banget.
        Kalau mau lebih puas, naik kereta Serayu Malam yang dari Purwokerto ke Jakarta. Waktu tempuhnya bisa sampe 12 jam mas. wkwkwkwk

        Di Stasiun Ciawi bahkan berentinya 45 menit.
        Selepas Cikampek, lalu berenti lagi karena disusul sama Gajayana.

  1. Wah pengen ngerasain juga naik kereta di tanjakan. Kayaknya seru.
    Btw pengalaman naik kereta cuma bolak-balik pwt-smt naik kamandaka, smt-pemalang naik kaligung 😂 kelas ekse cuma baru icip gajayana gambir-pwt. Rutenya nggak ada yang nanjak karena memang lewat jalur utara.
    Perjuangan tuh naik kereta 9 jam mas. Kalau saya sih habis itu pasti tepar kecapaian 😂

      1. Naik gajayana gratis, alias dibayarin mas 😁😂. Kalau bayar sendiri masih mikir2 hahaha
        Iya mas, aku naik kamandaka yg Lima jam aja badan pegel-pegel. Apalagi kalau sampai 9 jam ya 😄

      2. Wuhihihihihi.
        Enak tenan dibayarin mbak.

        Ada yg lebih mantap dari 9 jam mbak, naik Sri Tanjung dari Jogja ke Banyuwangi.
        Brngkt dari Lempuyangan jam 07:15 pagi, sampai di Banyuwangi jam 22:00.

        15 jam non-stop 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s