Sekeping Cerita dari Negeri Tembakau

Jam sepuluh pagi, matahari telah bersinar dengan begitu teriknya. Seorang perempuan dan anaknya yang masih balita duduk berlindung di bawah naungan pohon yang daunnya telah meranggas. Diselingi hembusan angin gunung yang sejuk, mereka berdua duduk tenang tanpa berkata-kata.

Monggo, mbak.”

Sapaanku membuat perempuan itu sedikit terkejut. Matanya menyipit, kemudian senyuman tipis tertoreh di wajahnya.

Nggih mas, monggo-monggo,” jawabnya.

“Lagi nungguin apa, mbak?”

“Jaga bako (tembakau) mas, sambil nunggu dijemput. Ini semua (tembakau) nanti mau diangkut.”

Sapaan singkat yang aku lakukan berlanjut menjadi sebuah obrolan hangat. Perempuan itu bernama Sumarni, seorang petani tembakau yang usianya baru menginjak 23 tahun. Di pertemuan itu, tatkala aku sedang berjalan-jalan menikmati aroma pegunungan, Sumarni sedang menanti kedatangan suaminya yang katanya akan segera menjemput. Bersama seluruh keluarganya, Sumarni membaktikan diri sebagai petani tembakau. Selepas lulus SMA dulu, katanya dia tidak tertarik untuk bekerja hal lain selain daripada bertani. Kepada tanah dan langitlah Sumarni dan keluarganya menggantungkan asa.

Ladang tembakau di kaki Gunung Sumbing

Berbeda dengan wilayah pertanian lainnya di Jawa yang menjadikan padi sebagai komoditi utama, di Temanggung, tembakau adalah primadona. Seperti Sumarni, banyak warga desa yang menjadikan tembakau sebagai mata pencaharian utama. Tanaman hijau berdaun lebar inilah yang membentuk identitas Temanggung sebagai negeri tembakau. Di desa-desa yang tersebar di antara lereng Sumbing dan Sindoro, ladang tembakau menghampar luas. Di alun-alun kota pun, dengan mudahnya kita bisa menjumpai aneka benda dengan corak tembakau sebagai hiasannya.

Kunjunganku ke Temanggung kali ini sungguh beruntung karena bertepatan dengan hari panen raya tembakau. Sedari fajar menyingsing, para petani telah terjun ke ladang masing-masing. Mereka memanen, merajang, kemudian menjemur daun-daun tembakau itu hingga kering.

Di samping kiri Sumarni, ada tembakau-tembakau rajangan yang disusun berjejer dan diletakkan di atas sebuah wadah kayu tipis. Tembakau rajangan itu sudah dijemur selama beberapa hari hingga kadar airnya berkurang dan warnanya berubah menjadi kecoklatan. Hujan yang tidak turun beberapa minggu belakangan ini menjadi berkah bagi para petani, tak terkecuali Sumarni.  Katanya, akibat dari cuaca ini adalah kualitas tembakau jadi meningkat.

“Nanti kalau dijual, harga satu kilonya bisa sampai 90 ribu mas. Tahun ini panennya bagus. Kalau tahun lalu kan hujan terus, jadi harganya cuma sampai 80 ribu.”

Apabila petani telah rampung memanen seisi ladangnya, tembakau-tembakau ini akan dibawa ke Parakan. Dari sana, tembakau-tembakau ini akan diangkut oleh truk-truk besar ke Semarang untuk diolah lebih lanjut di pabrik-pabrik besar. Tatkala panen tembakau usai, petani akan menanami ladang mereka dengan sayuran hingga tanah siap kembali untuk ditanami tembakau.

Sekalipun panen kali ini hasilnya amat baik, tapi Sumarni tetap merasa belum begitu puas. Dia mengeluh.

“Untungnya nggak banyak mas. Dihitung-hitung, ini aku cuma paling dapat beberapa ratus ribu untuk modal tanam selanjutnya.”

Kemudian dia bertanya.

“Aneh kan mas. Harga rokok makin naik, tapi ya kami begini-begini saja. Tapi, kalau nanti rokok sampai beneran dilarang, kami makan apa?”

Aku menjawabnya dengan senyuman tipis, tak tahu jawaban apa yang paling tepat untuk dilanjutkan. Tembakau dan rokok adalah sebuah dilema. Di Indonesia, Industri Hasil Tembakau (IHT) adalah salah satu sektor domestik yang memberikan kontribusi cukup besar bagi perekonomian nasional. Data dari Kemenperin tahun 2016 menyebutkan bahwa IHT memberikan kontribusi pembayaran cukai sebesar 138,69 triliun (99,65% dari total cukai nasional) dan serapan orang yang bekerja di sektor perkebunannya mencapai 1,7 juta orang.

Angka ini begitu fantastis. Terlepas dari fakta bahwa rokok itu berdampak buruk bagi kesehatan, di lain sisi industri rokok malah memberi sumbangsih yang besar bagi ekonomi negara. Kekhawatiran Sumarni sebagai seorang petani rasanya wajar-wajar saja. Baginya, tembakau adalah sumber penghidupannya dan seisi keluarganya. Dalam benaknya, pelarangan merokok mungkin akan berimbas pada merosotnya permintaan akan tembakau, yang tentu akan berdampak pula pada kehidupan 1,7 juta petani tembakau. 

Yang aku tahu, setiap keputusan, apapun itu, pasti memiliki sejumlah risiko yang turut menyertainya. Menaikkan harga rokok, mungkin akan membuat jumlah perokok menurun. Namun, apabila harga rokok semakin murah, mungkin juga akan semakin banyak orang yang merokok yang juga berdampak buruk bagi kesehatan. 

Tak terasa, obrolan kami sudah berlangsung selama satu jam. Sementara aku bersiap merapikan bawaaan untuk melanjutkan perjalanan ke Dieng, suami dari Sumarni datang. Mereka bersiap untuk mengangkut tembakau-tembakau rajangan itu ke Parakan.

Eh mas, umurmu berapa ya?” tiba-tiba Sumarni bertanya.

Ehmm..aku 23 tahun mbak, memang kenapa?”

Ohh….podho mas. Tapi aku wis menikah,” katanya kemudian diselingi gelak tawa.

Aku tak tahu apa maksud dari pertanyaannya yang terakhir ini. Mungkin dia bersyukur bahwa di usianya yang masih muda ini dia bisa memadu kasih bersama keluarga mungilnya, sedangkan aku masih berjuang ke mana-mana sendirian.

Aku berpamitan dan kami saling bersalaman. Pertemuan singkat di kaki Gunung Sindoro pagi itu memberiku gambaran yang lebih nyata tentang dua sisi mata uang problematika tembakau. Di satu sisi tembakau dihujat, tetapi di sisi lain dia dipuja.

 

Desa Kledung, Temanggung – 2 September 2017

Iklan

7 thoughts on “Sekeping Cerita dari Negeri Tembakau

  1. Menyenangkan sekali, bisa bertemu dg warga lokal ya mas. Apalagi seumuran, tapi sudah beda prioritas hehe.
    Ah alam temanggung mnrtku gak kalah sm dieng. Malah lebih lengkap dan lebih luas.
    Belom kesampaian kesini, baru lewat doang😂

  2. Problematika tembakau dan rokok semacam sesuatu yang belum terlihat ujungnya.
    Tetapi semangat Mbak Sumarni dan yang lainnya patut diacungi jempol ya, saya senang sekali pas kebetulan tahun 2015 ke Kledung ini, buat pendakian Sumbing. Disela-sela istirahat memperhatikan sekitar jemur tembakau, ada yang belum dipanen pula. Masyarakat rukun sama sama bertani. Sesekali tersenyum, tertawa. Ah jadi pengen ke sana lagi :’)

    1. Betul mbak.
      Apalagi saat cuaca sedang cerahnya, sambil duduk di pinggiran embung, menatap Sumbing yang begitu gagah.

      Dengan bertemu mbak Sumarni minggu lalu, setidaknya saya bisa melihat problematika tembakau dari dua sudut pandang 🙂

  3. seharusnya sih pemerintah .. kayaknya sih iya … sudah menyiapkan switching petani tembakau jadi tanam apa .. sekarang kan katanya sedang giat2nya swa sembada pangan dan membutuhkan lahan jutaan hektar untuk tanam, artinya bisa switching, bisa dengan relatif mudah.
    Kalau harga rokok naik terus dan petani2 biasa2 aja .. artinya yang nerima untung lebih adalah non-petani dan kayaknya merekalah yang paling kencang protes

    1. Iya sih… Terakhir aku cek di berita, tahun ini panen tembakau di Temanggung sedang bagus-bagusnya, bahkan harganya sampai 95k per kilonya.

      Mungkin selain jagung atau sayur lain, petani-petani juga bisa mulai diberdayakan untuk mulai melakukan budidaya, semisal jamur atau apa gitu hehehehe.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s