Yang Tetap Bertahan di Jakarta

Setiap bulan sekali, ada sebuah pertemuan rutin yang kami sebut sebagai “Jakarta Squad”. Biasanya, kami duduk melingkar di kamar kos yang sempit, atau kadang pula berkumpul di loteng, memandangi gedung-gedung tinggi menjulang sambil mengoceh tentang banyak hal.

Topik ocehan kami bisa beragam. Hal yang paling banyak dibahas adalah seputar pergumulan di tempat kerja masing-masing. Tapi, tujuan kami saling bercerita itu bukan untuk menciptakan gosip, melainkan sebagai sebuah sarana untuk kami saling mengerti, mendoakan, dan juga membagikan semangat antar anggota.

Dalam tiap pertemuan, kami akan menunjuk salah satu anggota untuk menjadi pembicara utama. Orang yang ditunjuk harus mempersiapkan diri membawakan sebuah topik yang menurut dia penting untuk dibagikan.

“Jakarta Squad” yang kami bentuk ini usianya baru seumur jagung. Sejak diadakan di bulan Mei lalu, sampai detik ini belum ada satu bulan pun yang kami absen bertemu. Ada yang spesial dari tiap pertemuan kami. Latar belakang kami semuanya berbeda. Masing-masing kami datang dari berbagai daerah di Indonesia, tetapi ada dua hal yang menyatukan kami, yaitu: Jogjakarta dan Jakarta. Dulu, kami semua pernah mengenyam pendidikan di Jogja, dan sekarang kami diberikan kesempatan untuk meniti pekerjaan di Jakarta. 

Walaupun Jogja telah lama kami tinggalkan, namun kami amat bersyukur karena rasa “Jogja” itu tidak hilang, malah semakin kuat saat kami saling bertemu.

Suatu ketika, saat kami merencanakan pertemuan di bulan Juli, sempat terbersit di benak kami untuk bertemu di sebuah mal saja.

“Ketemu di mal aja, kan enak ada food court, bisa sambil jajan.”

Teman-teman yang lain segera mengiyakan rencana ini, termasuk juga aku.

Tapi, ada seorang yang bernama Tathya dengan tegas menolak. “Di kosku aja,” katanya tanpa tedeng aling-aling. Karena dia adalah yang paling senior, jadi kami pun menurut. Dan terjadilah pertemuan bulan Juli di sebuah kamar kos yang sempit.

Kami mengobrol dan bertukar cerita tentang pengalaman apa yang kami dapatkan selama satu bulan. Bukan kebetulan, tema yang diangkat oleh seorang temanku waktu itu adalah tentang gaya hidup. Bagaimana seharusnya kita mengelola gaji yang kita terima setiap bulannya? Sebelum sesi sharing berakhir, Tathya membuka suaranya. Dia bercerita dengan jelas tentang alasan dan komitmen dari mengapa pertemuan ini dibentuk.

“Jakarta Squad” bukanlah sebuah komunitas formal. Isinya hanyalah kami, para mantan mahasiswa Jogja yang berada di Jakarta. Pertemuan ini hadir supaya kami tidak kehilangan semangat dalam bekerja. Kadang, ketika rutinitas dan beban kerja menekan, seringkali kami merasa sedih, sendiri, dan terkenang akan memori masa lalu di Jogja yang tentu membuat baper. Pertemuan ini bukanlah sebuah pertemuan yang mengagung-agungkan nostalgi tentang Jogja, tetapi menyadarkan kami bahwa Jogja adalah bagian dari memori masa lalu dan Jakarta adalah realita yang harus kami hadapi sekarang.

“Kita sekarang memang sudah bekerja, sudah terima gaji sendiri-sendiri yang pasti lebih besar jumlahnya daripada uang bulanan waktu kuliah dulu di Jogja. Tapi, kalau dulu dengan uang yang sedikit kita bisa hidup, kenapa sekarang tidak?” Kata Tathya.

Loh, tapi kan beda,” sahutku. “Jakarta sama Jogja ya beda dong, biaya hidup di sini jauh lebih mahal.”

“Aku tahu, tapi gini loh guys. Kita harus bisa komitmen. Jika dulu di Jogja dengan uang yang sedikit kita mampu hidup, oleh karena itu seharusnya di Jakarta kita bisa lebih bijak mengelola gaji kita,” katanya. “Aku tidak melarang kita pergi ke mal, dan lainnya. Untuk sesekali boleh. Tetapi, yuk, di pertemuan ini kita belajar untuk tetap hidup sederhana. Kalau kita bisa bertemu di tempat lain, kita tidak perlu ke mal. Kita belajar hemat, juga bijak mengelola uang yang sudah dipercayakan sama kita.”

Lalu, kami tertegun. Apa yang Tathya sampaikan itu benar. Memang, tidak salah jika kita pergi ke mal. Tetapi, jika kami hitung-hitung, satu kali jajan di mal di Jakarta, sekurang-kurangnya selembar lima puluh ribu bisa melayang. Jika hal itu hanya dilakukan satu kali, okelah tidak masalah. Tetapi, jika sering dilakukan, lama-lama itu akan jadi kebiasaan. Sedikit-sedikit, pertemuan penting tidak penting, pasti akan berujung di foodcourt mal.

“Jadi begini. Hari ini, aku mau menantang kalian untuk membuat sebuah komitmen. Sekarang kita sudah mandiri secara finansial. Aku mau tantang, tulislah semua kebutuhan dan jumlah uang yang kalian butuhkan dalam sebulan, lalu kalian tulis besar-besar di bawahnya ‘Aku cukup dengan jumlah ini’,” jelasnya. “Jadi, kalaupun gaji kita nanti naik. Kita tidak boleh menaikkan gaya hidup. Tapi, yang kita naikkan adalah jumlah memberi. Entah itu memberi sedekah, atau memberi ke orangtua, atau memberi yang lain, pokoknya kita harus memberi.”

Kami menanggapi ajakan itu dengan hening sejenak. Kami mencoba merenung dan mengintrospeksi diri hingga kami tiba pada sebuah kesimpulan: kami setuju.

Bicara soal memberi, aku jadi ingat sebuah kutipan dari Mahatma Gandhi yang berkata:

Kebahagiaan bergantung pada apa yang kita berikan, bukan apa yang engkau dapatkan.

Aku mengakui, bahwa ketika semakin besar jumlah pemasukan yang diterima, alih-alih menjadi lebih bijaksana, seringkali kita malah jadi lebih mudah tergoda untuk menaikkan gaya hidup. Jika dahulu kita bisa puas dan bahagia dengan makan di warung Burjo yang harga nasi, telur, sayur, dan segelas air hanya 5 ribu, sekarang seolah itu semua tidak cukup membuat kita puas. Maka, seiring dengan pemasukan yang meningkat, kita juga meningkatkan gaya makan kita dengan mencoba makan di restoran yang harganya 25 ribu seporsi. Kemudian, jika ada peningkatan pemasukan lagi, mungkin kita akan coba makanan yang harganya 50 ribu, dan seterusnya. Apakah ini salah? Tentu tidak. Setiap orang memiliki kehendak bebasnya untuk menentukan dengan cara seperti apa mereka hidup. Tetapi, apabila kami mendasarkan gaya hidup kami berdasarkan jumlah pemasukan yang kami terima, bukan tidak mungkin bahwa gaya hidup kami semakin meningkat. Bukan tidak mungkin pula kami akan gampang tergoda dengan iklan-iklan barang mahal yang sebenarnya kami tidak butuh-butuh amat. 

Mengenai gaya hidup, aku sangat terinspirasi dengan tokoh-tokoh milyuner dunia yang hidupnya bersahaja. Sebut saja Zuckenberg, sang empunya Facebook yang hartanya milyaran dolar. Tetapi, dalam kesehariannya, dia dan istrinya menampilkan dirinya dengan sederhana. Bahkan, konon katanya, sebagian besar pemasukannya dia berikan untuk keperluan sosial membantu orang lain.

Kami melakukan komitmen untuk “menjaga” gaya hidup bukan sebagai wujud bahwa kami tidak menikmati hidup. Tetapi, ini adalah salah satu cara kami untuk bertahan di Jakarta. Kami sadar bahwa perjalanan karier kami baru seumur jagung. Gaji yang kami terima setiap bulannya tidaklah fantastis, tetapi cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan ditabung sebagian. Walaupun sekarang kami tinggal di metropolitan, tetapi sebisa mungkin kami mau menghidupi cita rasa dan kebersahajaan yang Jogja telah ajarkan kepada kami.

Dari komitmen sederhana yang kami lakukan ini, kami bersepakat untuk patungan dan membantu meringankan beban kuliah seorang rekan kami yang sedang kesulitan. Jumlahnya mungkin tidak besar, tetapi dari apa yang sedikit itu, kami membantu satu orang untuk meniti jalan masa depannya. Kelak, ketika orang yang kami bantu itu bisa lulus, memakai toga, dan mendapatkan pekerjaan, tentu itu adalah suatu kebanggaan juga buat kami. 

Ketika kami memberi, memang tidak ada dampak langsung yang kami berikan. Kami juga tidak mengharap supaya pemberian itu kembali kepada kami. Kami memberi karena kami sudah diberi terlebih dahulu. Tuhan mempercayakan pekerjaan yang baik kepada kami, kesehatan, dan juga kebersamaan antar sesama alumni Jogja yang masih boleh terjaga hingga saat ini.

Di akhir pertemuan, kami menutupnya dengan sesi makan malam bersama. Kami mengeluarkan aneka snack, dan juga beberapa bungkus nasi dan ayam goreng. Di kamar yang sempit inilah, kami seolah dibawa masuk kembali ke dalam suasana Jogja. Dalam kesederhanaan, kami bisa merasakan sukacita dan kenikmatan dari makanan yang kami santap. 

Di kala beberapa teman kami mulai mengeluh dan akhirnya memutuskan untuk mundur di Jakarta, satu hal yang membuat kami masih tetap bertahan dan berkarya di Jakarta adalah sebuah keyakinan bahwa kami ada di kota ini bukan karena sebuah kesalahan, atau salah ambil keputusan. Tetapi, kami dipanggil untuk menjadi bagian dari Jakarta, untuk menorehkan sedikit dari karya dan karsa kami kepada kota ini. 

 

 

Iklan

12 thoughts on “Yang Tetap Bertahan di Jakarta

  1. Ini mengena banget mas. Bener tuh kata mbak Tathya, banyakin jumlah memberi. 👍 gaya hidup juga banyak pengaruhnya dari teman/pergaulan. Kalau dari diri sendiri udah komit pengen hemat, pengen nabung, tapi masih bergaul sama teman yang gaya hidupnya hedon. Yasudah, harus pilih antara siapin mental baja buat nabung atau duit bulanan habis sebelum waktunya 😅

  2. Betul banget mas, jika penghasilan naik bukan berarti harus menaikkan gaya hidup. Seharusnya semakin besar dalam hal memberi. Tapi jujur sulit banget, tapi bukan berarti tidak dicoba.

    Saya juga percaya, gaji yang kita terima sebesar apapapun itu tidak semuanya hasil dari keringat kita. Melainkan titipan untuk berbagi kepada sesama.

  3. kalau baru mulai kerja, masih single sudah belajar hidup hemat .. bagus bener tuh … kerennn … apalagi bisa konsisten .. hebattt, nanti bakalan jadi orang kaya deh …. biasanya waktu masih single sih foya2 .. nanti sadar waktu sudah nikah dan punya momongan .. 😀 .. #CurCol

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s