Menjajal Tawang Jaya, Kereta Api Terpanjang di Jawa

Di tengah ritme pekerjaan di Ibukota, akhir pekan nampaknya menjadi waktu jeda yang paling dinanti untuk bepergian ke luar kota. Tak ayal, tiap Jumat malam tiba, Stasiun Pasar Senen dibanjiri oleh ribuan orang yang siap bepergian ke aneka kota di pulau Jawa.

Seluruh tiket kereta api ekonomi dengan tujuan Yogyakarta dan Solo telah ludes terjual. Padahal, hari ketika aku memesan tiket adalah H-2 bulan dari waktu keberangkatan. Sebenarnya, masih tersisa beberapa kereta lainnya, seperti Senja Utama Solo yang masih tersedia 100-an kursi. Akan tetapi, harganya terlampau mahal! Untuk satu kali perjalanan ke Solo, tarifnya 280 ribu. Jadi, aku coba mencari alternatif lain supaya bisa tetap berangkat. Pilihanku jatuh kepada kereta api Tawang Jaya dengan tujuan Semarang Poncol. Tarifnya tidak terlalu mahal, 120 ribu, tapi karena kereta ini berhenti di Semarang, jadi aku harus menyambung transportasi lain untuk tiba di Solo. Walaupun jarak yang ditempuh jadi memutar, tapi tak masalah selama harganya lebih murah. Toh, kalau dihitung-hitung, tarif ke Solo menggunakan KA Tawang Jaya tetap lebih murah daripada harus naik kereta Senja Utama.

Dari penampakannya, tidak ada yang istimewa dari kereta api Tawang Jaya. Kelasnya tetap ekonomi, warna gerbongnya tetap abu-abu, dan konfigurasi duduknya tetap 3-2 dan saling berhadapan. Namun, jika kita teliti lebih lagi, kereta api Tawang Jaya adalah salah satu kereta penumpang dengan rangkaian terpanjang di Jawa. Untuk satu kali perjalanan, KA Tawang Jaya membawa konfigurasi 14 kereta penumpang, 1 kereta bagasi, dan 1 kereta makan. Jadi, jika ditotal, jumlahnya ada 16 kereta dan mampu mengangkut hingga 1.400 orang. Selain Tawang Jaya, kereta api Kertajaya (relasi Pasar Senen – Pasar Turi) sudah terlebih dahulu menggunakan rangkaian panjang, sama-sama berjumlah 16 kereta. Karena panjangnya inilah, baik kereta api Tawang Jaya maupun Kertajaya ditarik menggunakan lokomotif CC206—lokomotif anyar yang biasanya hanya digunakan untuk menarik kereta api kelas eksekutif.

Interior kereta api kelas ekonomi

Jam sepuluh malam, pengumuman boarding sudah diberikan kepada seluruh penumpang Tawang Jaya. Satu per satu penumpang antre untuk diperiksa identitasnya sebelum bisa memasuki peron. Rangkaian kereta api Tawang Jaya diparkir di peron 3. Setelah menanti sekitar 30 menit, tepat jam 11 malam, kereta api Tawang Jaya diberangkatkan dari Stasiun Pasar Senen dengan tujuan akhir Stasiun Semarang Poncol. Untuk menempuh jarak sekitar 400 kilometer, KA Tawang Jaya membutuhkan waktu kurang lebih 7 jam dan berhenti di 13 stasiun.

23:00

Setelah peluit panjang Semboyan 35 (Semboyan untuk KA diberangkatkan) dibunyikan, sang ular besi berjalan merayap melintasi Jakarta yang mulai lenggang. Jam sebelas malam, arus lalu lintas kereta api di lintasan Bekasi – Jakarta sudah lebih sepi dari jam-jam sebelumnya. Seluruh kereta api tujuan timur telah diberangkatkan lebih dahulu sebelum Tawang Jaya. 

Jalur kereta api lintas Bekasi – Jakarta adalah jalur kereta paling padat di Indonesia. Saban hari, jalur yang hanya terdiri dari 2 rel saja (Bekasi – Jatinegara), harus melayani ratusan perjalanan kereta api, baik itu kereta jarak jauh maupun kereta rel listrik. Akibatnya, tak jarang arus kereta api sering tersendat. Untuk mengatasinya, saat ini sedang dibangun jalur rel tambahan yang diprediksi akan rampung 2018 akhir atau 2019 awal. Kelak, jalur antara Bekasi hingga Jatinegara akan menjadi jalur dwiganda yang diharapkan akan mengurai kepadatan arus kereta api.

Karena kereta api Tawang Jaya berangkat di waktu larut malam, kebanyakan penumpang sudah keburu lelah. Mereka mengeluarkan jurus masing-masing untuk segera terlelap. Ada yang membawa bantal portable, mengalungkannya di leher. Ada yang menutup wajahnya menggunakan kain, kemudian menyandarkan kepalanya di jendela. Ada yang berusaha tidur sambil duduk tegak. Tapi, ada pula yang tidur dengan menumpang di pundak penumpang sebelahnya.

Masing-masing penumpang sudah terlelap

00:43

KA Tawang Jaya tiba di pemberhentian pertama, Stasiun Pegaden Baru. Stasiun ini terletak di Kabupaten Subang. Cukup banyak penumpang yang turun di stasiun ini. Setelah berhenti selama 2 menit, Tawang Jaya melanjutkan perjalannya.

Selepas Stasiun Pegaden Baru, penumpang sebelahku yang badannya besar ambruk ke arahku. Karena tertidur pulas, dia tidak mampu lagi mengatur posisi tubuhnya. Alhasil, kala kereta bergoyang-goyang, tubuhnya semakin condong ke arahku hingga akhirnya kepalanya mendarat di pundakku. Dia tidur amat lelap hingga kereta api tiba di stasiun Pekalongan.

Alih-alih marah, aku coba membangunkannya dengan perlahan supaya dia memindahkan posisi kepalanya. Tapi, seiring dengan kereta yang bergoyang, badannya terus ambruk ke arahku. Ya sudah, ini adalah seni dari bepergian menggunakan kereta api. Kita harus berbagi rasa, dan tentu juga berbagi pundak supaya penumpang lain juga bisa menunaikan tidurnya.

Menjadi donor pundak. Saking nyamannya pundakku, mas di sebelah tidurnya amat nyenyak

00:59 – 02:27

Di sepanjang lintas utara Jawa Barat, KA Tawang Jaya berhenti di stasiun Haurgeulis, Jatibarang, dan Cirebon Prujakan.

Di stasiun Cirebon, kereta berhenti sekitar 10 menit. Waktu yang singkat ini dimanfaatkan oleh beberapa penumpang untuk keluar kereta dan merokok. Semenjak terbitnya aturan larangan merokok, tidak ada penumpang yang berani diam-diam merokok di dalam gerbong. Jika ketahuan, petugas tidak segan-segan menurunkan penumpang itu di stasiun terdekat. Aturan ini bukan sekadar gertak sambal, sudah ada beberapa penumpang yang kedapatan merokok dan benar-benar diturunkan di stasiun terdekat.

02:17-03:42

Selepas stasiun Cirebon hingga ke Tegal, KA Tawang Jaya berhenti di stasiun Babakan, Tanjung, Brebes, dan Tegal.

Dengan banyaknya pemberhentian, otomatis ada banyak pengumuman juga. Suara speaker yang terlalu keras membuat beberapa penumpang mengeluh. Mereka jadi terbangun dari tidurnya.

04:14

Kereta api Tawang Jaya tiba di Stasiun Pemalang. Beberapa penumpang sudah kembali terjaga. Selepas stasiun ini, kereta api akan melintasi daerah bernama Plabuan di mana lokasi rel berada persis di samping laut. Jika kereta api melintas saat siang hari, kita bisa menyaksikana pantai yang terhampar langsung dari balik jendela kereta. Tapi, karena KA Tawang Jaya melintas kala masih subuh, maka pemandangan pantainya tidak dapat dinikmati secara maksimal.

04:45

Kereta api tiba di stasiun Pekalongan. Setelah 4 jam, akhirnya penumpang sebelahku terbangun. Pundakku kembali lega!

06:15

Dengan tepat waktu, kereta api Tawang Jaya tiba dengan selamat di Stasiun Semarang Poncol.

Seperti perjalanan-perjalanan dengan kereta api ekonomi lainnya, selalu saja ada kesan dan pesan yang kudapat. Biasanya, kesan dari naik kereta ekonomi adalah tentang berbagi cerita dengan penumpang lainnya. Tapi, kali ini kesannya adalah berbagi pundak. Kadang, ketika mulut tak mampu berkata, tangan tak mampu memberi, pundak kita bisa jadi sebuah sarana untuk beramal.

Selepas Stasiun Poncol, perjalananku masih harus dilanjutkan dengan ojek menuju terminal Terboyo. Dari sana, aku harus menaiki bus menuju Solo.

Selamat datang di Semarang Poncol!

Rincian tarif ke Solo menggunakan Tawang Jaya:

  • Tiket KA Jakarta – Semarang : 120.000
  • Ojek dari Poncol – Terboyo : 7.000
  • Bus Semarang-Solo : 30.000

TOTAL : 157.000

Jika dibandingkan dengan KA Senja Utama Solo yang tarifnya 280 ribu, masih ada kembalian 123 ribu!

Iklan

9 thoughts on “Menjajal Tawang Jaya, Kereta Api Terpanjang di Jawa

    1. Iya. Mas sebelahku itu dia pakai parfum cukup menyengat baunya. Hahaha
      Tp ya sudah, itung-itung aku beramal, amal pundak.

      Kalau naik Tawang Jaya cukup nyebelin. 2x aku naik, speakernya rusak. Jadi satu pengumuman bisa diulang sampai 4x

  1. Nah alternatif transit seperti ini memang lumayan mas, bisa ngirit.
    Dua kali ke bandung semua kutempuh lewat jogja, naik kahuripan. Jauh lebih murah drpd naik Harina bisnis, karena ekonominya sering ludes.
    Skrg ada Ciremai jika mau ke bandung, tp blm ada rencana sih kesana untuk ke tiga kalinya😅

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s