Menepi Sejenak di Pantai Sanglen

Pantai Sanglen. Jika namanya disandingkan dengan pantai-pantai lain di selatan Gunungkidul, mungkin belum banyak orang yang mengetahuinya. Lokasinya tersembunyi di balik bukit-bukit, juga jalan masuknya hanya bisa dilalui oleh kendaraan roda dua.

Mulanya, niatan kami berkunjung ke Pantai Sanglen dimulai dari sekadar iseng menjelajah linimasa Instagram. Di akun-akun wisata Jogja, ada sebuah foto pantai yang ciamik. Lautnya biru, pasirnya putih, banyak pepohonan di bibir pantainya, dan sepi pengunjung. Pantai-pantai “baru” yang muncul belakangan ini disebabkan karena tingginya jumlah kunjungan wisatawan ke kabupaten Gunungkidul. Sebenarnya, pantai tersebut tidak benar-benar baru. Pantai itu sudah ada, hanya lokasinya yang semula terpencil mulai dibuatkan jalan masuk dan papan penunjuk arah. Salah satu dari sekian banyak pantai ‘pendatang baru’ itu, Sanglen adalah salah satunya.

Di zaman digital seperti sekarang ini, tidak sulit untuk menemukan lokasi Pantai Sanglen berada. Beberapa blogger yang pernah berkunjung ke tempat ini sempat membuat ulasan dan menyertakan titik koordinat yang bisa diakses lewat aplikasi Google Maps. Atau, jika ingin mencoba perjalanan yang lebih manual, bisa juga gunakan GPS tradisional, alias Gunakan Penduduk Setempat. Jangan takut bertanya karena warga di kabupaten Gunungkidul itu sangat ramah. Hanya, terkadang mereka tidak fasih berbahasa Indonesia, terutama untuk warga yang usianya sudah sepuh. Jadi, siapakan satu orang translator yang fasih berbahasa Jawa.

Titik nol perjalanan kami dimulai dari kawasan Babarsari, Sleman. Kami mengendarai sepeda motor dengan kecepatan normal, sekitar 50-60 kilometer per jam. Perjalanan ke kawasan Gunungkidul aku pikir bukanlah perjalanan yang menjemukan. Sepanjang jalan, kita akan disuguhi dengan lanskap alam yang menarik. Di kawasan Bukit Bintang, jika kita melayangkan pandangan ke bagian bawah, terhampar pemandangan kota Yogyakarta. Setelah melewati kota Wonosari, jalanan mulai menyempit. Pemandangan didominasi oleh perkampungan warga, perkebunan, dan bukit-bukit karst. Tidak ada tanda-tanda kita akan segera menjumpai pantai sampai kita tiba di pos retribusi. 

Ketika kami tiba di pelataran parkiran motor, deru ombak dan aroma samudera segera menyapa kami. Tak seperti pantai-pantai lain yang tandus, Pantai Sanglen memiliki sebuah spot hijau yang bisa dipakai untuk bersantai. Spot hijau ini adalah sebuah tanah landai yang ditutupi oleh lebatnya pepohonan. Jika ingin bersantai, tiap pengunjung dipersilakan untuk menyewa tikar seharga 10 ribu saja. Ukuran tikarnya cukup besar dan dapat menampung kami berempat plus aneka barang bawaan.

Spot hijau untuk pengunjung bersantai
Menjelang senja, air laut pun surut

Sebagai pantai yang masih asri, Pantai Sanglen dijaga secara khusus oleh seorang lelaki dan ibunya. Aku lupa nama mereka, tetapi sebut saja Mas Parjo dan Simbah Parjilah. Kepada tiap pengunjung yang baru hadir di parkiran motor, dengan segera Mas Parjo menyambangi mereka dan mengulurkan jabat tangannya. Tiap pengunjung disapanya dengan hangat dan dia memberikan penjelasan singkat mengenai sejarah dan tata tertib berkunjung di Pantai Sanglen.

Pengelolaan pantai yang diserahkan langsung kepada warga ini rupanya memberikan dampak yang positif. Selain dari warga sekitar mendapatkan manfaat ekonomi, mereka juga dilibatkan lebih untuk turut menjaga lingkungan tempat tinggal mereka. Mas Parjo menyediakan beberapa tempat sampah di sekitar pantai. Di situ dia menuliskan sebuah kalimat ajakan kepada pengunjung untuk turut menjaga kebersihan lingkungan. “Nek, ada pengunjung yang buang sampah sembarangan, ada dendanya mas,” katanya. Denda ini dilakukan dengan tujuan memberikan efek jera kepada pengunjung yang membandel. “Boleh bermain di pantai, tapi ndak boleh sembarangan,” tandasnya.

Sore itu, sementara matahari perlahan condong ke barat, kami menikmati suasana dengan mengamati sekeliling. Karena laut sedang surut, beberapa pengunjung memberanikan diri untuk berjalan lebih ke tengah. Kemudian, mereka mengeluarkan sebuah tongkat swafoto, bergaya, dan cekrek..cekrek. Sementara para pengunjung asyik mengabadikan momen, beberapa warga lokal tetap asyik dengan aktivitasnya mencari udang dan ikan-ikan kecil.

Ada seorang bapak yang berjalan mondar-mandir. Setibanya di satu titik, dilemparkannya kail, ditunggunya beberapa saat. Jika hasilnya nihil, dia kembali berpindah mencari lokasi lain. Bila ada tangkapan yang mengigit kailnya, segera dia masukkan ikan atau udang itu ke dalam jaring yang dia bawa.

Ada seorang bocah juga yang melewatkan sorenya dengan memburu hasil laut di pinggiran pantai. Ketika kami mendekatinya dan mengajaknya mengobrol, dia merasa sungkan. “Cari ikan sama udang,” katanya singkat. Kemudian dia berlari-lari mengejar satu kawannya yang lain.

Saat semburat jingga mulai menghilang, kami memutuskan untuk menyudahi persinggahan di Pantai Sanglen. Sebenarnya, jika hendak bermalam, kita bisa menggelar tenda di pinggir pantai. Tapi, karena waktu yang amat terbatas, kami harus mengurungkan niatan untuk bermalam.

Jika harus mengungkapkan keindahan alam dengan kata-kata, rasanya tak ada kata yang benar-benar tepat untuk merepresentasikan keindahan itu. Alam ini terlalu indah untuk dilukiskan dan terlalu besar untuk dirangkum dalam tulisan. Kami amat bersyukur atas kesempatan yang diberikan untuk menepi sejenak dari hiruk pikuk kehidupan. Pantai Sanglen adalah tempat menepi yang nyaman.

 

Iklan

5 thoughts on “Menepi Sejenak di Pantai Sanglen

      1. Hihihihi.
        Iya mbak. Aku kl sebulan sekali ke Jogja aja udah seneng. Pengennya lebih sering, tp apa daya, sepur mahal skrg.

        Kl k Jogja satu-satunya andalanku harus naik KA Bengawan, yg tarifnya 74 ribu

      2. Kapan kapan bisa nih aku join ke Jogja. Aku cupu mas gg pernah ke jogja kecuali maliouitupun mampir dan udah lama banget. Kagak bisa nikmtiinn,, biasa rombongan rekreasi musti buru2 🙁
        Iya tiket KA lmyan yaaa, eh itu lmyana ya 74 ribu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s