Senja di Candi Ijo

Sang bagaskara sudah condong di sisi barat. Dalam hitungan menit, ia akan segera kembali ke peraduan, menyisakan semburat warna jingga di angkasa sebelum gulita sepenuhnya datang. Sementara sang surya meniti jalan pulangnya, puluhan pengunjung masih enggan beranjak pergi. Mereka tak ingin melewatkan begitu saja momen senja yang amat syahdu di Candi Ijo. 

Jika sekarang kita menuliskan kata “Candi Ijo” di mesin pencari Google, maka akan muncul banyak sekali ulasan tentang candi yang kini namanya telah tersohor. Padahal, waktu kali pertama aku menemukan Candi Ijo di tahun 2013, kondisinya amatlah berbeda. Candi ini sepi. Tak banyak orang yang mengetahui keberadaannya, apalagi menyambanginya. Publikasi yang kurang serta posisinya yang cukup jauh dari jalan raya membuat nama Candi Ijo masih kalah pamor dibandingkan dengan Candi Ratu Boko yang lokasinya lebih mudah diakses.

Waktu itu, aku menemukan Candi Ijo secara kebetulan. Di siang bolong yang terik, tiba-tiba kelas kuliahku kosong karena dosennya tidak masuk. Kemudian, dua orang temanku mengajakku untuk jalan-jalan sejenak ke arah timur bandara. Kata mereka, di sana ada candi-candi yang bagus dan belum terkenal. Karena waktu itu aku masih mahasiswa baru dan belum banyak mengerti tentang Jogja, dengan segera aku mengiyakan tawaran mereka.

Candi Ijo ketika belum ramai dibanjiri pengunjung

Tidak terlalu sulit untuk menemukan posisi Candi Ijo. Dari jalan raya Prambanan – Piyungan, tepatnya setelah sebuah tikungan, terdapat papan penunjuk arah ukuran besar yang berwarna hijau. Di situ tertuliskan Candi Ijo belok ke kiri. Ikuti saja arahan itu dan kita akan dibawa masuk ke kawasan desa Bokoharjo. Sawah nan hijau menghampar luas, di belakangnya bukit gersang (saat kemarau) tinggi menjulang. Jika kita mencermati dengan saksama, di pucuk bukit itu terlihat sebuah bangunan dari batu yang berdiri kokoh, itulah Candi Ijo.

Sewaktu belum terkenal, jalanan menuju Candi Ijo masih rusak parah. Di saat jalanan menanjak tinggi, di situ pula lubang-lubang menganga bermunculan. Cukup berbahaya apabila pengendara motor kurang berhati-hati. Candi Ijo sendiri berlokasi di atas Bukit Gumuk, yang ketinggiannya sekitar 400 meter di atas permukaan laut dan dibangun menghadap ke arah barat. Oleh karena itu, Candi Ijo menjadi lokasi yang amat tepat untuk menikmati sunset.

Saat kami tiba di pelataran candi, tak tampak ada keramaian pengunjung. Mungkin karena waktu itu hari masih siang dan amat panas.

“Mas-mas, ke sini dulu, jangan asal masuk,” kata satpam di pos masuk.

Aku pikir tiap pengunjung bisa bebas masuk, tetapi untuk keperluan pendataan, tiap orang wajib menuliskan nama dan maksud kunjungan. Tidak ada tiket masuk, juga tidak ada pungutan biaya untuk menyambangi Candi Ijo.

Sedari kunjungan pertamaku ke Candi Ijo, saat itu juga aku langsung jatuh cinta dengan tempat ini dan di bulan-bulan setelahnya hingga aku lulus kuliah, Candi Ijo selalu rutin kusambangi. Setiap kali aku menerima kunjungan backpacker dari Couchsurfing, aku selalu mengajak mereka duduk santai menikmati semburat senja di Candi Ijo. Sebenarnya, memang menikmati senja dari Candi Ratu Boko juga menarik, tetapi kita harus membayar harga tiket masuk yang lumayan mahal. Sedangkan Candi Ijo, tarif masuknya masih gratis.

Seiring berjalannya waktu, Candi Ijo semakin terkenal. Potretnya kini banyak tersebar di linimasa media sosial. Pengunjung pun datang membanjir. Sekarang, Candi Ijo tak lagi sunyi dan sendiri. Lapak-lapak parkiran motor dibangun di sisi candi, mendatangkan pundi-pundi keuntungan bagi warga sekitar. Namun, di balik geliat wisata Candi Ijo yang meningkat, sejatinya ada satu hal yang sering dilupakan oleh pengunjung: bahwasannya, candi tetaplah candi.

Candi bukanlah bangunan sembarangan, termasuk Candi Ijo. Ada nilai historis dan magis yang terpendam di sana. Kita tahu bahwa pada masa lampau candi adalah bangunan yang dibangun secara istimewa. Betapa sedihnya aku ketika melihat pengunjung yang datang membanjir itu acuh tak acuh. Alih-alih menikmati sunset dengan duduk santai di atas rerumputan, mereka memanjat-manjat tubuh candi, membuang sampah sembarangan, ataupun merokok dan membuang abunya sembarangan. Sungguh amat disayangkan. Jika kita bisa begitu resik ketika main ke mal, mengapa kita tidak bisa berlaku demikian saat di candi?

Kadang, ketika tingkah pengunjung sudah kelewatan, biasanya satpam yang bertugas akan meniup peluit dan menegur mereka. Namun, satpam yang hanya berjumlah dua orang tidaklah memadai untuk mengawasari ratusan pengunjung yang tiap harinya menyambangi Candi Ijo. Melihat pemandangan seperti ini, aku hanya bisa mengelus dada. Sesekali, jika memungkinkan aku coba menegur orang-orang itu dengan halus.

Waktu telah berlalu. Aku telah meninggalkan Yogyakarta. Tetapi, imaji senja di Candi Ijo tak pernah lepas dari memoriku. Betapa syahdunya ketika aku duduk di atas rumput hijau, menatap angkasa yang berwarna jingga, dan membiarkan angin semilir menerpa tubuhku.

 

Iklan

12 thoughts on “Senja di Candi Ijo

    1. Iya sih.
      Ketika tempat wisata semakin terkenal, di satu sisi mendatangkan pundi-pundi dan memberdayakan ekonomi lokal. Tetapi, di sisi lain bisa jadi sifatnya merusak, terutama merusak keasrian alam itu sendiri. Kalau di Jogja masih lumayan oke lah terjaga.

      Tapi, di kawasan Bandung atau Puncak, sepertinya tempat wisata disulap sedemikian rupa hanya untuk jadi sekadar pemuas hasrat liburan orang kota.

      Mungkin, seharusnya regulasi ttg objek wisata dibuat lebih tegas ya ehhehehe. atau, bila memungkinkan, objek wisata diberi waktu tutup sejenak untuk memulihkan kondisi aslinya, semacam cuti begitu hihihi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s