Di Balik Senyum Hangat Simbah Ngatilah

 

Setiap kali hendak berkunjung ke rumah kerabat di desa, aku sengaja tidak pernah memberitahukannya dulu kepada mereka. Bukan karena ingin memberi kejutan, tapi supaya tidak merepotkan. Kalau aku mengabari terlebih dahulu, mereka pasti akan merepotkan diri dengan memasak berbagai makanan. Padahal, aku bukanlah tamu istimewa, hanya seorang biasa yang suka melarikan diri dari Jakarta tiap akhir pekan.

Di pertengahan Juli kemarin, seperti biasanya aku menunaikan jadwal mlipir ke Jogja sebulan sekali. Hari Jumat, sedari pagi aku sudah menenteng ransel ukuran 35 liter kesayanganku. Ransel hitam ini selalu jadi penarik perhatian. Tiap orang yang berpapasan jadi penasaran bertanya, “Ke mana lagi nih weekend ini?” Dengan senyum sumringah, aku menjawab “Njogjaaaa”. Walaupun sudah 9 bulan meninggalkan Jogja, tapi entah mengapa, kota ini memang tak pernah bisa lepas dari hati.

Jam lima sore, satu per satu teman kantorku pamit pulang. Aku masih sibuk menatap laptop. Pokoknya, selama Sabtu dan Minggu aku tidak mau memikirkan pekerjaan sama sekali, titik. Jadi sembari menunggu keretaku yang berangkat jam 21:45, sebisa mungkin kutuntaskan dulu setiap pekerjaan yang masih setengah-setengah.

Sugeng rawuh ingkang Ngayogyakarta

Sabtu pagi, keretaku tiba di Stasiun Lempuyangan setelah menempuh perjalanan selama 9 jam dari Jakarta. Pagi itu, udara Jogja terasa amat spesial di hidungku. Sinar mentarinya hangat, anginnya bertiup lembut, dan logat Jawa yang medok dari para tukang ojek di depan stasiun membangkitkan semangatku. Sungguh, aku amat merindukan suasana pagi seperti ini. Di Jakarta, sedari matahari baru memunculkan diri, di jalanan orang-orang sudah balapan untuk jadi yang tercepat. Tak jarang, balapan itu memantik emosi yang berujung kalau tidak pada keributan, ya suara lengkingan klakson. 

Tanpa sempat beristirahat, aku segera melanjutkan perjalanan menuju kediaman Simbah yang terletak di perbukitan Menoreh. Sebenarnya, tidak ada yang spesial dari kediaman Simbah. Rumahnya terletak di atas bukit yang masih lebat oleh pepohonan. Tak ada objek wisata juga di sana. Tapi, satu hal yang membuat rumah Simbah amat kurindukan adalah kenangannya. Dulu, selama satu bulan penuh, aku bersama 7 teman lainnya pernah tinggal dan diasuh olehnya. Selama itu, Simbah yang sehari-harinya jadi begitu repot malah senang. Dia tidak sama sekali terganggu oleh kehadiran kami. Sekarang, setelah aku bekerja di Jakarta, aku ingin kembali menyapanya secara langsung.

Setibanya di pekarangan rumah Simbah, dua ekor soang peliharaan simbah menyambutku dengan suaranya yang khas, Kweeekkkk kweeek. Bukannya mengetuk pintu rumah, aku malah mendekati soang itu karena salah satu dari mereka kakinya putus. Semakin aku mendekat, soang itu semakin berisik dan tanpa langsung, suara soang inilah yang memanggil Simbah keluar dari rumah.

“Lho, Ari toh. Lah, kok ndak ngomong nek mau ke sini?” tanya Simbah terkejut.

Aku meninggalkan si soang dan berlari ke arah Simbah. Kuletakkan keningku di tangannya sebagai tanda salam. Senyum Simbah merekah. Dia mengajakku masuk dan dengan segera membuka setiap toples makanan yang ada di rumahnya. Ada geblek (makanan olahan singkong khas Kulonprogo), jenang, tempe goreng, klanting, tahu, dan tak lupa segelas teh panas yang segera disajikan di atas meja. Tuh kan, aku tidak bilang saja Simbah sudah menyediakan makanan sebanyak ini. Apalagi jika kemarin aku mengabari dia kalau aku mau mampir, bisa-bisa soang peliharaan Simbah dipenggal untuk dijadikan lauk hari itu.

Soang milik Simbah, dulu kakinya masih utuh.

Rumah Simbah terletak di pucuk sebuah bukit. Tak ada tetangga di kanan kirinya sehingga suasana rumah itu amat sunyi. Satu-satunya suara yang memecah keheningan hanyalah suara si soang dan ternak kambing di belakang rumah. Dulu, sewaktu aku dan temanku tinggal di sini, rumah ini terasa semakin horror saat malam tiba. Setiap kali ada satu teman yang ingin buang air, 7 teman lainnya harus ikut menemani ke WC yang terletak di belakang rumah.

Keheningan ini membuat suasana begitu damai. Seandainya, jika ada nominasi orang yang hidupnya paling damai, mungkin Simbah masuk ke salah satunya. Simbah tidak pernah menonton televisi, membaca koran, apalagi bersosial-media. Jika berbicara tentang isu-isu mutakhir yang sedang berkembang, Simbah hanya manggut-manggut tidak mengerti. Tapi, jika bicara soal makanan apa yang paling enak dimasak, Simbah juaranya.

Setelah sepuluh menit kami mengobrol, Simbah pergi ke dapur. Sudah bisa kutebak, pasti Simbah segera memasak. Benar saja, dalam beberapa saat, asap kayu bakar menyeruak masuk ke dalam ruangan.

“Lho, Simbah, mbok tidak usah repot-repot. Ndak usah masak buat aku Simbah,” kataku.

“Halah, yo mboten nopo-nopo mas, mpun, mas e duduk mawon,” jawabnya.

Aroma kayu bakar ini mengingatkanku kembali akan kenangan dulu. Selama sebulan, aku dan teman-temanku tidak pernah kelaparan. Di tengah keterbatasannya, Simbah selalu menyajikan kami 3 menu yang berbeda untuk sarapan, makan siang, dan makan malam. Tak hanya makanan utama, Simbah juga selalu menyediakan aneka camilan lain. Yang paling aku suka adalah pisang dan singkong gorengya Simbah, maknyus! Ketika program KKN telah usai, kami berniat untuk memberikan uang terima kasih kepada Simbah karena telah banyak direpotkan oleh kami. Tapi, Simbah malah menolak uang itu. Katanya, semuanya ini dia lakukan dengan ikhlas sehingga dia tidak mau menerima uang dari kami. 

Simbah merepotkan diri dengan memasak.

Hari itu Simbah memasak makanan yang amat sederhana. Sayur, gorengan, dan telur. Tiga menu ini ketika masuk ke dalam kerongkongan terasa nikmat sekali. Nikmat bukan karena rasanya yang super gurih, tetapi karena ada ketulusan Simbah yang menjadi bumbu utamanya. Setelah satu piring sukses kuhabiskan, Simbah segera mengisi lagi piringku dengan lauk pauk sampai aku merasa tidak sanggup lagi. Ketika sendawa keluar dari mulutku, barulah Simbah berhenti menawariku untuk makan.

Kunjunganku hari itu di rumah Simbah tidak lama, hanya berlangsung selama satu jam karena sesudahnya aku harus melanjutkan perjalanan ke Ambarawa. Ketika aku berkata ingin pamit, nada bicara Simbah meninggi.

“Lha kok sebentar amat, nginep sini aja ya? Udah nginep aja, istirahat di sini,” katanya.

Ajakan Simbah ini bukan sekadar basa-basi belaka, aku merasa bahwa dia ingin ada orang lain yang menemaninya. Dia ingin supaya hari itu aku menginap. Dengan lembut aku menolak tawaran itu. Hati kecilku memang ingin berlama-lama di rumahnya, tetapi karena waktu yang terbatas, aku tidak mungkin berlama-lama di satu tempat saja.

Aku bukanlah cucu Simbah yang sedarah. Sejatinya, ada begitu banyak perbedaan di antara kami. Aku dan Simbah jelas berbeda usia, berbeda budaya, iman, dan juga berbeda cara pikir. Tetapi, satu hal yang menyatukan kami adalah ketulusan. Simbah mengasihi aku dengan tulus, seolah-olah aku adalah cucunya sendiri yang lahir dari garis keturunannya. Aku pun belajar untuk hidup tulus sebagaimana Simbah telah memberiku teladan.

Hari itu, aku kembali dikuatkan bahwa di zaman ketika orang-orang semakin egois, di muka bumi ini masih ada orang-orang baik dan tulus yang hidup dan eksis. Salah satunya adalah Simbah.

Sebelum beranjak pergi. Kupeluk Simbah. Kuletakkan kembali keningku di tangannya.

“Nek ke Jogja, jangan lupa mampir ke sini ya mas,” katanya.

“Nggih, Simbah. Kula pasti mampir,” jawabku tegas.

Aku berkunjung ke rumah Simbah tanpa membawa apapun. Tapi, hari itu Simbah memberiku senyuman terbaik, di mana di balik senyuman itu terpancar sebuah ketulusan, ya ketulusan untuk mengasihi orang lain yang sejatinya bukanlah siapa-siapa untuknya. 

Iklan

7 thoughts on “Di Balik Senyum Hangat Simbah Ngatilah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s