Selamat Ulang Tahun, Papi!

Ada banyak panggilan untuk menyebut sesosok ayah. Ada yang memanggilnya bapak, papa, abi, papi ataupun daddy. Sejak kecil, aku diajari untuk memanggilnya dengan sebutan Papi, sebutan yang hingga hari ini masih sering kulontarkan kepadanya.

10 Agustus, hari ini adalah hari ulang tahunnya. Lima puluh empat tahun yang lalu, dia dilahirkan dan menjadi satu dari sekian milyar warga negara bumi. Dari sosoknyalah kemudian aku dilahirkan dan mewarnai kehidupannya selama 23 tahun ini.

Papi dilahirkan di pulau kecil di pinggiran Sumatra sehingga dia memiliki pembawaan yang keras. Masa mudanya dipenuhi dengan perjuangan. Sebagai seorang yang hanya tamatan SD, dia berjuang mati-matian menghidupi dirinya. Sejak kecil dia sudah merantau, melanglang buana ke sana ke mari dan menjajal aneka macam pekerjaan. Hingga di tahun 1993, petualangannya berlabuh di kota Bandung dan setahun kemudian lahirlah aku.

Sedikit banyak aku masih bisa mengingat beberapa kenangan yang terjadi semasa aku kecil dahulu. Sebagai seorang ayah, Papi harus berjuang keras menghidupi empat orang anaknya. Setiap hari, di rumah kontrakan yang mungiil, sejak pagi-pagi buta dia sudah sibuk di dapur menyiapkan adonan kue pukis untuk dicetak. Sebelum fajar menyingsing, kue-kue pukis itu sudah ditata rapi di dalam keranjang yang diikat di jok belakang sepeda. Bermodal sepeda butut, dia menggowes berkeliling Bandung, menjajakan kue jualannya di pasar-pasar.

Kata ibuku, ketika menjajakan jualannya, ayahku sering turut membawaku. Di bagian depan sepeda, ada sebuah boncengan kecil berwarna hijau yang dilekatkan di sana untuk aku duduk. Setelah semua keranjang kue didistribusikan, biasanya ayahku sebelum pulang akan membawaku melihat kereta api dari atas jembatan stasiun. Sebagai anak kecil, hiburan yang sederhana ini terasa amat menyenangkan.

Sebuah persepktif yang keliru

Seiring waktu berlalu, bahtera keluargaku banyak digoncang badai dan harus terkoyak.  Ada konflik-konflik hebat yang pada akhirnya mengubah kehidupan keluargaku. Kami yang tadinya utuh menjadi tercerai berai namun puji syukur karena sekarang bersatu kembali. Sebagai seorang anak, konflik-konflik yang terjadi itu membuatku tumbuh dengan menyimpan rasa kecewa terhadap ayahku. Buatku, Ayah berbeda dari ayah-ayah yang lain. Ketika aku sakit, bukannya dihibur, ayahku malah akan memarahiku.

“Bego sih lu, udah gua bilang juga apa, lu gak nurut. Sakitlah lu, tau rasa lah lu, untung gak mati,” katanya.

Sederet kata-kata kasar sering terucap dari mulutnya. Ketika aku merantau jauh dari rumah dan melihat teman-teman lain ditelpon ayahnya, aku hanya bisa merasa iri dan gigit jari.

Selama bertahun-tahun, aku tumbuh dengan perspektif yang memandang ayahku bukanlah ayah yang terbaik. Memang, tiap manusia tidak ada yang sempurna, demikian juga dengan ayahku. Tapi, waktu itu aku berfokus pada sisi buruk ayahku. Aku tidak dapat melihat sisi positif dari hidupnya karena aku selalu membandingkannya dengan ayah orang lain yang menurutku amat ideal.

Selama bertahun-tahun itu pula, aku selalu berdoa supaya kelak mungkin Tuhan sudi untuk memulihkan keluarga ini. Tapi, seolah-olah doa itu menguap begitu saja. Aku tidak merasakan ada perubahan positif yang terjadi, malah kurasa perubahan itu semakin negatif. Lama-lama aku jadi tidak peduli, dan tidak mau lagi berdoa untuk keluargaku, terutama ayahku.

Namun, Tuhan ternyata tidak tinggal diam. Alih-alih mengubah keluargaku seperti sulap sim-salabim, Dia ingin aku belajar tentang sebuah proses hidup. Dia tetap memeluk doa-doaku, bahkan sekalipun aku mulai memalingkan diri dari-Nya.

Suatu ketika ada sebuah peristiwa yang pada akhirnya mampu mengubahkanku. Waktu itu aku sudah duduk di bangku SMA dan aku nyaris berkelahi dengan ayahku. Perkelahian itu menyisakan luka batin yang teramat dalam. Aku sangat kecewa kepadanya, tapi aku sendiri tidak tahu harus berbuat apa. Satu hari setelahnya, hati kecilku gelisah. Aku sadar bahwa apa yang kulakukan itu adalah salah, dan dengan susah payah akhirnya aku memberanikan diri untuk meminta maaf. Walaupun tidak ada respons positif dari ayahku ketika aku minta maaf, tetapi ada sesuatu yang mulai berubah dariku.

Sebuah perspektif yang baru

Hari itu, Tuhan tidak memulihkan keluargaku. Tetapi, Dia terlebih dahulu memulihkan cara pandangku terhadap keluargaku. Seiring waktu berlalu, cara pandangku semakin positif. Aku menyadari bahwa ayahku bukanlah ayah yang jahat seperti yang dahulu kupikirkan. Setiap ayah memiliki caranya tersendiri untuk mengungkapkan cintanya. Seringkali, karena aku sering menonton televisi dan mendengar apa kata orang, dalam benakku ayah yang baik haruslah ayah yang “romantis”, yang selalu proaktif menanyakan kabar remeh-temeh anaknya. Aku melupakan satu hal yang teramat penting, yaitu bahwa ayahku memiliki bahasa ungkapan cinta yang berbeda.

Ketika aku sakit dan dia memarahiku, sejatinya dia sedang mengungkapkan rasa sayangnya. Namun, caranya memang kurang elok. Tetapi, dia adalah ayah yang autentik. Di balik marah-marahnya atas sakitku, sesungguhnya dia sedang berbicara “seandainya kamu itu nurut sama aku, pasti kamu gak akan sakit.” Hanya, dulu pikiranku tidak cukup dalam untuk memahami semua ini.

Ketika dia berkata-kata kasar, aku percaya bahwa hatinya tidak ikut menjadi kasar. Aku tahu bahwa latar belakang kehidupannya yang beratlah yang membuat dia tumbuh menjadi seorang ayah penuh emosi meletup-letup.

Ketika aku meminta sesuatu dan dia tidak menanggapi, sesungguhnya di situlah aku belajar untuk hidup mandiri. Dulu, sewaktu kuliah, aku ingin memiliki sebuah kamera. Tapi, aku tidak mungkin memintanya kepada ayah. Jadilah aku bekerja paruh waktu. Aku mengumpulkan uang sedikit demi sedikit hingga akhirnya aku mampu membeli kamera. Aku yakin, sesungguhnya ayahku bukanlah ayah yang tidak peduli. Tapi, dia mau supaya aku belajar tentang perjuangan. Jika aku ingin memiliki sesuatu, maka aku harus berjuang. Tidak ada yang instan, yang tiba-tiba datang dari langit. Jadi, aku harus jadi seorang lelaki yang tangguh.

Ya, aku pernah salah memandang ayahku. Kupikir kesalahan ini bisa terjadi karena memang setiap harinya kita disuguhkan oleh sesuatu yang “salah”. Kita sering menonton film-film, entah itu di televisi atau bioskop, atau kita sering membanding-bandingkan ayah kita dengan orang lain. Biasanya, ayah di sana digambarkan sebagai ayah yang begitu dekat dan romantis. Ketika kita melihat ayah kita tidak seperti itu, maka timbullah rasa kecewa, dan keinginan untuk mendapatkan ayah yang seolah-olah terkesan lebih baik.  

Hari ini, aku kembali diingatkan bahwa setiap ayah adalah istimewa. Mereka memiliki keunikan dan cara mereka sendiri-sendiri untuk mengungkapkan kasih sayangnya. Memang, ayahku bukanlah tipe ayah yang menganggap anaknya seperti sahabat, tetapi dia adalah tipe ayah yang sangat bertanggung jawab. Dengan peluhnya, dia sanggup membiayai aku hingga lulus sarjana.

Ayahku telah mengajariku untuk menjadi seorang anak yang lebih bijak. Jika ada peribahasa yang berkata buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, aku pikir itu memang benar. Tetapi bagaimana jika aku mengubah sedikit peribahasa itu jadi lebih panjang, buah jatuh dari pohonnya, kemudian tumbuh pohon baru yang lebih kokoh dan kuat. Dari seorang Ayah yang tangguh, akan lahir pula anak yang lebih tangguh dari ayahnya.

Urusan lahir di keluarga mana adalah hak pereogratifnya Tuhan. Kita memang tidak bisa mengubahnya, tetapi kita bisa menentukan bagaimana cara kita memaknai keluarga kita.

Selamat ulang tahun, Bapakku! Semoga sehat selalu!

Iklan

14 thoughts on “Selamat Ulang Tahun, Papi!

  1. Cara mendidik anak emg beda2, bapakku pun bkn tipe org yg mudah mengungkapkan rasa sayang tp aku pham jka ortu pasti sngt menyayangi anak2nya dgn caranya masing2.
    Btw kamu lucu bgt pas kecil…ikal2 gtu rambutnya

      1. Wahh, sudah pernah mas. Dulu 2013 rambutku kayak brokoli. Unik memang, jadi autentik. Tapi, kalau harus naik motor dan pakai helm, kepalaku rasanya penuh. Jadi, dengan terpaksa, kribo ini harus dipangkas jadi cepak haha

  2. Itu hal yang sama aku rasakan, namun aku dengan ibu. Ada banyak pertentangan dari diri kita masing-masing. Ibuk yang keras, dan aku bahkan lebih keras kepala darinya. Orang tua mengajarkan kita untuk tumbuh menjadi anak mandiri, tanpa harus merengek padanya. Selamat ulang tahun om, senantiasa sehat aamiin 🙏

    1. Halo mbak Vera 🙂
      Makasih banyak ya sudah mampir. Makasih juga ucapannya hehehe.

      Betul mbak.
      Kelak, kita pun bakal jadi orang tua jika nanti dikaruniai anak 🙂 Dan, tentunya kita juga ingin anak-anak kita jadi lebih baik dari kita.

  3. Selamat ulang tahun papinya mas aryanto😀

    Kalo aku memanggilnya bapak, sebagaimana anak lelaki yg mengidolakan sosok ayah, apalagi hanya aku anak laki-laki satunya.

    Kami tidak begitu dekat, beliau cukup pendiam. Dimana karakter ini menurun ke anak lelakinya. Tapi cukup tegas, dan ada momen yg paling aku ingat: aku dipeluknya sewaktu aku tidur, tapi sebenarnya aku tidak benar2 tidur.

    Hingga akhirnya, beliau tidak sempat melihat anak lelakinya tumbuh dewasa.

    Duh kok jadi curhat🙊😂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s