Menjajal Hidup ala Warga Komuter

“Di Jakarta mah kalaupun gaji lumayan, pengeluarannya juga gede bro!” kata temanku. Sejak kuliah di Jogja dulu, aku sudah tahu dan yakin benar kalau hidup di Jakarta itu tidak murah, apalagi jika dibandingkan dengan biaya hidup di Jogja yang hanya dengan modal selembar goceng bisa dapat sepiring nasi telur plus sayur dan minum. Tapi, apa daya, pada akhirnya pekerjaan harus membawaku hidup dan menjadi bagian dari metropolitan penopang jutaan jiwa lainnya.

Di mataku yang sedikit banyak masih menggunakan perspektif “Jogja”, mahalnya Jakarta itu bukan sekadar isapan jempol. Jika di depan kosku dulu harga laundry hanya 2,500 per kilo, sekarang harganya 10 ribu! Itu pun minimal harus 5 kilo. Jadi, kalau kurang dari lima kilo pun harganya tetap dihitung 5 kilo.

Eits. Tapi, tulisan ini tidak akan membahas tentang dunia cuci-cucian. Kisah laundry di atas hanya sekadar pembuka tentang di balik kegemilangan Jakarta, ada pekerja-pekerja yang dompetnya sering menjerit setiap harinya.

Jakarta dan rencana masa depan

Sembilan bulan tinggal di Jakarta, sempat terbersit di pikiran. “Kalau nanti aku ditakdirkan bekerja seterusnya di Jakarta, mau tinggal di mana ya?” Untuk menjawab pertanyaan itu, aku mengobrol dengan beberapa teman. Masing-masing mereka memberi pendapatnya. Ada yang mengatakan lebih baik tinggal di apartemen saja, karena mobilitas bisa tetap tinggi. Tapi, ada juga yang ogah mencicil untuk sewa apartemen. “Rugi ah beli apartemen mah, kaga nginjek tanah!” katanya.

Berangkat dari obrolan itu, iseng-iseng aku memproyeksikan jika seandainya diriku 10 tahun ke depan tetap kerja di Jakarta dan mampu membeli rumah di pinggiran (misalnya). Supaya mendapatkan gambaran utuh tentang hidup di pinggiran Jakarta, aku mengontak temanku yang tinggal di daerah Bojong Gede, Bogor untuk numpang menginap di rumahnya semalam saja. Dia membolehkan, dan simulasi pun segera dimulai.

Jika kelak aku memiliki rumah di pinggiran Jakarta, tentu transportasi yang akan paling kuandalkan adalah KRL. Jadi, hari itu aku menaiki KRL dari stasiun Kota ke Bojong Gede. Berhubung itu hari Sabtu, KRL tidak terlalu penuh. Masih banyak ruang kosong untuk orang-orang berdiri tanpa saling berdesakan.

Perjalanan dari kota menuju Bojong Gede dilalui menggunakan KRL lintas Kota – Bogor yang hampir tiap beberapa menit selalu wara-wiri. Perjalanan sejauh 45 kilometer ini ditempuh dalam waktu kurang dari 2 jam. Setibanya di Bojong, sebuah jalan sempit menjadi penghubung antara stasiun dengan pemukiman-pemukiman di area itu. Suasananya kumuh dan macet. Angkot-angkot berjalan amat lambat, sementara itu motor-motor menghambur tak karuan sambil menekan klakson yang memekikkan telinga. Impresi pertamaku adalah suram. Dari stasiun ke rumah temanku, masih membutuhkan waktu selama 15 menit perjalanan. Jalan yang dilalui sungguh amat bagus. Di jalan sempit yang hanya muat 2 mobil ini, lubang-lubang dibiarkan menganga. Aku percaya, jika ada kerbau, maka lubang itu akan jadi tempat permandian yang amat nyaman buatnya.

Lubang-lubang itu semakin cantik dengan turunnya hujan deras. Air nan coklat mengisi penuh lubang-lubang itu dan membuat setiap pengendara motor harus mempertebal iman mereka kalau melintas. Kata temanku, lubang ini sudah banyak memakan korban. Pengendara yang kaget saat ban-nya terjerembab sering oleng lalu jatuh. “Terus, gak ada rencana diperbaiki gitu sama pemda?” tanyaku. “Ada, diperbaiki sih diperbaiki, tapi ya kalau sudah hujan, ya rusak lagi,” jawabnya.

Setelah jalanan berlubang itu selesai dilewati, kami semakin tiba mendekat ke kompleks perumahan. Sekarang jalanan lebih kokoh. Kata temanku, jalan yang bagus ini terwujud berkat upaya patungan warga sekitar komplek. Dengan dana mandiri, mereka membangun jalanan yang lebih ramah dan layak untuk dilalui sehari-harinya.

Perumahan tempat temanku tinggal bukanlah perumahan elite, tapi sebuah perumahan yang diisi oleh warga kelas menengah. Hampir semua warganya adalah pekerja di Jakarta yang menggantungkan transportasi sehari-hari pada KRL, sehingga mereka juga disebut komuter. . Selain itu, mereka juga adalah bagian dari generasi 4P, Pergi Pagi Pulang Petang, termasuk juga temanku yang sudah bertahun-tahun tinggal di sini dan bekerja di Jakarta.

Sepanjang malam itu, aku dan temanku saling bercerita.

“Mau gimana lagi, kalau penghasilan pas-pasan, ya pasnya beli rumah di sini aja,” katanya.

“Tapi, kalau rumah di sini dan kerja di Jakarta, ya tua di jalan nggak sih,” balasku.

“Ya mau gimana lagi bro, ini risiko kerja di Ibukota.”

Sambil menyantap nasi goreng yang baru kubeli di depan komplek, aku termenung. Kemudian temanku melanjutkan.

“Paling telat, kalau pagi itu jam 4 subuh sudah harus di stasiun. Lewat jam itu, kereta bakal penuh banget,” katanya.

Aku dan temanku bekerja di satu kantor yang sama. Setiap harinya, tatkala aku masih tidur nyenyak di kost, temanku itu harus pergi pagi-pagi buta jam empat untuk tiba di Jakarta. Setibanya di stasiun Juanda, dia masih harus melanjutkan perjalanan menggunakan Busway ke arah Kalideres yang jaraknya sekitar 15 kilometer. Jam kerja setiap harinya berakhir pukul 17:00, dan biasanya dia akan berkemas pulang pukul 17:30. Di jam pulang kantor, perjalanan menuju stasiun Juanda berkisar 1 jam. Jadi, anggaplah dia tiba di stasiun pukul 18:30.

Dari stasiun, perjalanan harus dilanjutkan lagi menggunakan KRL ke arah Bogor yang bisa dipastikan penuh tanpa ruang kosong. Jika beruntung bisa langsung naik kereta, paling cepat tiba di rumah sekitar jam 20:30, paling cepat. Dengan badan lusuh, lelah, dan loyo, keesokan paginya jam 3 subuh sudah harus bangun, dan jam 3.30 sudah nongkrong di peron stasiun.

Gimana, bro? Hahaha. Siap jadi komuter? tanya temanku.

“Entahlah,” jawabku.

Membayangkannya saja aku bergidik. Di malam itu, aku menyempatkan diri untuk berdoa. “Tuhan, jika boleh, aku tidak ingin tinggal menetap selamanya untuk bekerja di Jakarta. Tapi, semua kembali pada kehendak-Mu,” ucapku.

Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di depan. Satu-satunya yang bisa aku lakukan adalah bekerja maksimal saat ini dan mulai menyusun rencana kehidupan ke depannya mau seperti apa.

Keesokan harinya, di hari Minggu yang gerimis, aku pulang ke Jakarta. Di atas gerbong KRL aku menaruh rasa salut dan kagum kepada ribuan orang yang setiap harinya berjejalan di dalam gerbong ini. Kelak, jika memang bagian hidupku adalah menetap di Jakarta, mungkin Tuhan akan menjadikan aku tangguh seperti para komuter yang harus wara-wiri setiap harinya. Jika tidak, Indonesia itu luas, aku percaya masih ada kesempatan lain yang juga terbuka lebar. Hanya, tugasku sekarang adalah melakukan dulu bagianku dengan setia.

Jika bukan di akhir pekan, sulit sekali menemukan KRL yang lowong penumpang.
Iklan

11 thoughts on “Menjajal Hidup ala Warga Komuter

  1. Waduh, seminggu yang lalu ane di Jakarta, Bang. di Bagian Palmerah. selama seminggu ane di sana, sumpah… ane kagak betah. perjalanan yang biasanya bisa ditempuh dengan estimasi waktu 10 menit di Jogja bisa 30 menit lebih di Jakarta -_- | semoga kuat iman ye dsna, bang. hehehe 😥

    1. Nah, untung aku pakai Fl*zz, jadi ndak perlu antre. Tapi, tetap saja ndak bisa bayangin nek tiap hari harus berjejal kayak pepes di dalam gerbong.

      Rasanya sebelum sampe kantor, bisa-bisa semangatnya udah menguap duluan hehehe

  2. Dulu sempet mau bekerja di jakarta. Ga pake desek2an di gerbong juga sih. Tapi namanya jakarta yg merupakan ibukota, katanya lebih kejam dari ibu tiri😀

    Nikmati dulu mas. Karena banyak orang diluar sana yg tidak seberuntung mas😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s