Sumatra Overland Journey (10) | Perjalanan Nestapa Menuju Tanah Surga

Bus antar kota dalam propinsi di Sumatra benar-benar menguras tenaga dan emosi. Tanpa AC, asap rokok yang mengepul, plus supir yang ugal-ugalan melebihi supir bus Sumber Kencono membuat perutku serasa diaduk. Seketika benakku terbang ke Jawa. Coba ada kereta api di sini, atau bis ac deh, gumamku dalam hati. Hari itu, kami harus kembali berdesakan di dalam kendaraan minibus demi sebuah tujuan yang amat kami nantikan, Pulau Samosir, yang dijuluki sebagai “Negeri Indah Kepingan Surga”.

Sejak pukul 7 pagi, kami sudah mengemas perlengkapan dan pergi meninggalkan wisma tempat kami bermalam selama tiga hari.

Abangnya nanti naik angkot dulu sampai Kabanjahe, kasih saja 4000 seorang, kata petugas wisma.

Yah, naik angkot lagi, gumamku. Bukannya aku tidak suka bepergian naik angkot, tetapi karena aku dan Johannes masing-masing membawa dua ransel raksasa, rasanya repot untuk masuk ke dalam angkot. Apalagi kalau angkotnya penuh, mau naik susah, turun pun susah. Tapi, kami tidak punya pilihan lain selain mengikuti petunjuk dari petugas itu. Semua kendaraan yang menuju Danau Toba memang berangkat dari Kabanjahe, tidak dari Berastagi.

Sebuah angkot mendekat ke arah kami. Dari jauh si supir sudah membunyikan klaksonnya berkali-kali. Kabanjahe ayo bang, katanya. Pagi itu kami beruntung karena hanya kami yang menjadi penumpang angkot. Jadi, kami tidak terlalu sulit untuk masuk dan bisa meletakkan dua ransel kami dengan leluasa. Baik aku dan Johannes, kami berdua buta jalan. Kami berharap banyak kepada si supir supaya tidak membawa kami tersesat.

Tiba di terminal Kabanjahe, petualangan sebenarnya menuju Pulau Samosir, pulau di tengah-tengah Danau Toba pun dimulai. Untuk tiba di sana, perjalanan kami akan terbagi ke dalam tiga etape. Pertama, dari Kabanjahe kami harus menaiki angkutan minibus menuju Pematangsiantar yang bisa ditempuh selama 4-6 jam. Kedua, dari Siantar kami harus menaiki bus umum menuju Parapat. Ketiga, dari Parapat kami harus menaiki ferry menuju Tuk-tuk Siadong di pulau Samosir. Kabar buruknya adalah ferry terakhir akan berangkat ke Tuk-tuk jam 17:00. Jika sampai jam lima sore kami belum tiba di dermaga, maka malam itu kami akan terlantar di Parapat.

Etape pertama dimulai tepat jam 9 pagi. Di atas sebuah minibus yang tak ber-ac namun tak panas-panas amat, kami menempelkan bokong kami selama nyaris enam jam. Seperti biasa, kehadiran sosok bule Johannes selalu menyita perhatian warga lokal.

Bang, abang kerja jadi tour guide? Tanya seorang bapak di sebelahku.

Nggak pak, aku temannya. Kami dulu bertemu di Jogja dan sekarang dia ngajak aku ke Sumatra, jawabku.

Bukan orang Indonesia namanya jika tidak kepo, maka bapak tadi terus menanyakan pertanyaan berantai kepadaku. Dibayar berapa bang? Itu bulenya umur berapa? Dari mana dia? Banyak uang ya dia? Tanyain dia bang, dia suka ga sama Indonesia? Dia mau gak kawin sama orang Indonesia?

Untuk pertanyaan terakhir, aku menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris dan memberitahukannya kepada Johannes. Dia mengernyitkan dahi. Why people always curious about me and asking if I would marry Indonesian girl? Lama-lama Johannes bosan. Pertanyaan seperti ini bukan kali pertama ditanyakan kepadanya. Sejak kami mulai berteman dan menjelajah di Jogja dulu, hampir tiap orang menanyakan hal yang sama. Dia mau gak punya istri orang sini?

Obrolan dengan bapak di sebelahku cukup membantu. Setidaknya perhatianku jadi teralih. Aku tidak terlalu fokus memandang ke depan dan tidak memperhatikan laju kendaraan. Sementara aku mengobrol, Johannes berpegangan erat ke besi samping jendela. Di jalan berkelok-kelok, adrenalin si supir semakin terpacu. Bukan rem yang dia injak, tapi gas makin dalam dia tekan. Mobil melaju tak karuan, bergoyang ke kanan dan ke kiri. Jika saja di tikungan itu ada bus besar melintas, bukan tidak mungkin mobil kami akan saling berciuman dengan bus itu dan kami berubah menjadi manusia penyet. Tapi, syukurlah itu tidak terjadi.

Suasana di dalam minibus sebelum disesaki penumpang

Jam tiga sore kami tiba di Pematangsiantar. Seperti biasa, kami buta arah. Waktu itu ponselku amat suram. Walaupun sinyalnya sudah mendukung jaringan 3G, tapi baterainya tak bisa bekerja optimal. Sedikit-sedikit sekarat lalu mati. Akibatnya, kami hanya bisa menggunakan GPS manual, yaitu Gunakan Penduduk Setempat. Sambil memanggul dua ransel, kami berjalan kaki mengitari terminal mencari bus lanjutan yang berangkat ke Parapat.

Pucuk dicinta ulam tiba. Tak sampai kami berjalan jauh, terdengar suara kenek berteriak keras. “Parapat, parapat, parapatttt!” Kami berlari mendekat ke arah suara itu. Sebuah bus tua sarat muatan berwarna putih sudah menanti di pinggiran jalan. Tak ada tempat tersisa untuk meletakkan tas kami. Kursinya pun nyaris penuh. Aku dan Johannes duduk terpisah dan kami tak bisa saling berkomunikasi. Aku duduk di bagian tengah, sedangkan Johannes di bagian belakang. Aku cukup beruntung karena yang duduk di sebelahku adalah seorang mahasiswi dari USU yang hendak pulang ke Tomok, Danau Toba.

Kupikir kami adalah penumpang terakhir yang naik, tapi sampai lima belas menit pun bus ini tidak jalan sama sekali. Malah semakin banyak penumpang yang naik. Tanpa AC, bus reyot ini berasa sebuah sauna berjalan, lengkap dengan bau ketek dan bau keringat macam-macam penumpang. Jantungku berdebar-debar. Kalau sampai kami terlambat tiba di Parapat, bisa kacau balau rencana kami setelahnya.

Aku lupa nama mahasiswi di sebelahku. Sejak pertama kali aku duduk, dia sudah tahu kalau aku bukan orang Sumatra.

Aslinya dari mana bang? Dia memulai pembicaraan.

Oh, aku dari Bandung, tapi kuliah di Jogja mbak, jawabku.

Obrolan hangat pun bergulir. Ketika aku bercerita kalau aku hendak ke Tuk-tuk, dia memberiku informasi tambahan yang amat berguna.

Oh mau ke Tuk-tuk ya. Kalau gitu nanti turunnya di Tiga Raja aja, ferry di situ langsung ke Tuk-tuk. Nanti aku kasih tahu kapan harus turun.

Luar biasa, aku merasa bersyukur bisa diberi informasi yang amat berguna. Sejujurnya, aku sendiri merasa takut untuk bertanya kepada orang lain. Entah mengapa, sejak menginjakkan kaki di Medan, aku menyadari kalau tidak semua orang itu baik. Jika aku bertanya pada orang yang salah, bisa-bisa aku malah berabe.

Memasuki Parapat, mahasiswi tadi memanggil kenek bus.

Bang, ini temen saya nanti turun di Tigaraja, kasih tau dia nanti kalau sudah di Tigaraja ya bang.

Kemudian mahasiswi itu turun duluan. Tak lama setelahnya, kami tiba di Tigaraja dan waktu sudah menunjukkan jam setengah enam sore.

Matilah, pikirku. Pasti ferry sudah berangkat dan kami harus terkatung-katung di Parapat. Walaupun pesimis, tapi kami coba tetap berjalan ke dermaga. Di sebuah papan pengumuman tertempel sebuah kertas. “Ferry terakhir berangkat jam 18:00”. Kemudian aku bertanya ke petugas dermaga apakah pengumuman itu benar atau salah. Ternyata benar! Karena hari itu adalah musim liburan, maka jadwal ferry diperbanyak satu kali, dan pemberangkatan terakhirnya adalah jam enam sore. Kami girang bukan main. Masih tersisa setengah jam sebelum berangkat, maka kami memutuskan untuk menyantap bakso terlebih dulu. Sambil makan, kami juga mengobrol.

Why don’t you marry Indonesian girl? Tanyaku berkelakar kepada Johannes.

Dia menggeleng. No. I don’t want to. I will marry German, sure! Jawabnya tegas.

No, marry Indonesian girls. They have exotic skin! Bujukku lagi.

Hahahaha. No!! Jawabnya sambil melempar tissue ke arahku.

Walaupun aku tahu kalau Johannes memang tidak mau menikahi orang selain bangsanya, aku suka mengolok-oloknya. Sudah jauh-jauh datang ke Indonesia, maka seharusnya dia pulang ke Jerman dengan membawa oleh-oleh berupa menantu dong harusnya.

Suasana senja di Parapat, sesaat sebelum ferry yang kami naiki bertolak dari Tigaraja menuju Tuk-tuk Siadong
Ferry yang kami tumpangi menuju Tuk-tuk
Berpose sejenak

Jam enam kurang sepuluh, langit masih terang benderang, berbeda dengan di Jogja yang langitnya sudah gelap sejak pukul setengah enam. Mendekati dermaga, ada seorang lelaki setengah tua mendekati kami. Dia menawarkan penginapan untuk kami. Walaupun kami tidak tahu di mana akan menginap, tapi hari itu kami berprinsip yang penting tiba dulu di Tuk-tuk, baru setelahnya cari penginapan. Tapi, lelaki itu terus mengoceh, padahal kami tidak mengucap kata-kata apapun. Dalam bahasa Inggris ala kadarnya, dia terus merayu.

Come on brother, stay at my hotel. It is cheap for cool couple like you. So, who is wife and husband?

Kami tersentak. Johannes berbalik badan dan menjawab, Crazy! We are not gay!

Lelaki itu malah tertawa. Ups, sorry. I think you and you are gay, coz you are traveling together.

Dia kembali mengoceh. Akhirnya kami bersedia menanggapi. Dia membuka harga di 100 ribu. Kami menolak. 50 ribu, titik, kataku. Dia menolak. Debat nan alot pun berlangsung. Kalaupun kami tidak mendapatkan harga itu, kami bisa mencari penginapan lain. Jadi kami tidak terlalu memusingkan tawar harga dengan lelaki itu. Tapi, entah mengapa, akhirnya dia menyerah dan menerima kesepakatan harga di angka 50 ribu. Hore! Kami menang!

Ferry pun bertolak meninggalkan dermaga Tigaraja menuju Tuk-tuk. Dalam imajiku, Danau Toba ya sama saja seperti danau-danau lain di Jawa yang airnya tenang. Tapi, imajiku salah. Sore itu, angin bertiup kencang dan air di Danau Toba bergelora. Aku panik dan berpegangan erat di besi penyangga dek kapal. Bukan aku takut mati, tapi aku takut kalau perahu ini tenggelam, kameraku yang berharga akan ikut tewas. Enam bulan sebelumnya, sebuah kamera kesayanganku dijatuhkan oleh temanku di danau Cirata dengan kedalaman 80 meter. Kamera itu raib, dan menyisakan trauma setiap kali aku melihat danau.

Di atas ferry, terdapat aneka jenis muatan dan manusia. Ada sepeda motor, kardus indomie, beras, buku, manusia Indonesia, hingga manusia bule. Untuk satu kali perjalanan menuju Tuk-tuk, kami dipatok tarif sebesar Rp 15.000,-. Tidak mahal-mahal amat untuk perjalanan menyeberang selama nyaris 2 jam. Sebenarnya, selain dermaga Tigajara, ada dermaga-dermaga lain yang bisa digunakan untuk menyebrang. Dermaga Tigaraja hanya melayani penyeberangan dari dan ke Tuk-tuk. Kapal ferry yang digunakan pun kecil. Untuk kargo, paling maksimal hanya bisa memuat sepeda motor. Apabila hendak menyeberangkan mobil atau truk atau bis, harus dilakukan via pelabuhan Ajibata – Tomok. Di sana ada ferry yang lebih besar yang bisa menjadi jembatan penghubung ke Samosir.

Setibanya di Tuk-tuk, kami berjalan mengikuti lelaki pemilik penginapan tadi. Sepertinya dia orang yang cukup terkenal. Semenjak dari dermaga, tiap kali berpapasan dengan siapapun, dia selalu disapa. Di tengah suasana malam, Tuk-tuk begitu nyaman. Kupikir suasananya mirip seperti di Bali, tapi versi lebih sepi. Turis-turis, baik lokal maupun asing berseliweran. Ada yang jalan kaki, ada juga yang naik sepeda. Losmen-losmen bertebaran, juga hotel-hotel mewah dengan segudang fasilitas. Sambil berjalan melewati jalan utama yang dipenuhi turis, kami bertanya-tanya dalam hati sambil berdoa. Semoga lelaki ini tidak menipu kami.

Akhirnya, tibalah kami di “hotel” milik si lelaki ini. Di depannya tergantung sebuah papan kayu, “Hot Chilli Hotel”. Namanya saja “hotel”, tapi aslinya hanyalah sebuah rumah biasa dengan ukuran besar yang disulap menjadi hotel. Aku tidak tahu dan tidak merasa tertarik untuk bertanya apa alasannya menggunakan nama cabe pedas sebagai nama hotelnya. Walau namanya aneh, rumah ini malah lokasinya persis di sebelah Gereja Katolik, sementara di belakangnya terdapat kebun markisa. Halaman depan rumah diubah menjadi restoran kecil untuk melayani tamu-tamu. Menunya beragam, kebanyakan makanan bergaya Eropa dengan harga lumayan mahal. Setelah melihat-lihat menunya, Johannes memberi isyarat berupa cibiran dan pandangan sinis untuk tidak makan di sini.

Gereja Katolik yang berdiri tepat di sebelah rumah tempat kami menginap
Kamar seharga 50 ribu

Kamar tempat kami bermalam sangat nyaman. Tapi, tidak tersedia kamar mandi di dalamnya. Jadi, setiap kali hendak MCK, kami harus menumpang di wc milik keluarga si pemilik. Okelah, tidak masalah menurut kami selama kamarnya masih nyaman. Si pemilik hotel sepertinya masih ingin membuat kami keluar uang. Dia sering berkunjung ke kamar dan menawari kami aneh-aneh. Mulai dari minuman ringan, minuman beralkohol, bahkan sampai pijat panggilan plus-plus. Di titik ini, akhirnya aku mengerti alasan mengapa dia menamai hotelnya dengan “Hot Chilli” alias cabe pedas.

Inilah kisah kami di hari pertama di Samosir. Perjalanan kami di Samosir akan menjadi hari yang amat panjang karena kami akan terdampar selama 14 hari di sini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s