Editor, Bukan Sekadar Duduk di Kantor

 

Kepalaku pening menatap layar laptop berjam-jam. Bokongku rasanya sudah menempel sempurna dengan kursi. Dari langit terang sampai gelap, tulisan-tulisan tidak pernah habis untuk diedit. Rutinitas edit-mengedit ini sepintas terlihat mudah. Editor kerjanya duduk dan memelototi deretan kata, lengkap dengan tanda bacanya.

Kalau dibandingkan dengan Jurnalis yang harus pergi wara-wiri buat meliput kejadian, kayaknya editor lebih selow. Tapi, tanggung jawab seorang editor itu bukan cuma sekadar jadi ‘polisi’ tulisan yang memastikan tiap kata tertulis dengan benar. Editor punya fungsi yang vital. Dia bertanggung jawab menolong penulis menghasilkan tulisan yang terbaik.

Di depanku setiap harinya tersaji puluhan artikel. Tidak semua artikel itu nantinya bisa naik tayang. Aku perlu menyeleksinya mulai dari tahapan yang paling simpel. Pertama adalah logika tulisan. Kalau logikanya agak bengkok, aku akan tanyakan dulu ke si penulis. Kalau penulisnya sendiri tidak bisa jawab, ya sudah, bye. Tulisan itu reject.

Salah satu kendala yang kualami adalah sulit menyamakan jalan pikirku dengan jalan pikir si penulis. Kalau kupikir si penulis mau bilang A, bisa saja aslinya dia ingin bilang B. Jadi, buat menyiasatinya aku baca artikel itu pelan-pelan. Masih tidak mengerti? Baca lagi. Setelah mataku selesai bekerja, gantian, tanganku yang kerja. Dari apa yang kubaca, kucoba menggagas outline kasaran kerangka tulisan itu. Kalimat-kalimat yang kurang jelas, ambigu, kutandai dengan stabilo, lalu kuberi pertanyaan di sebelahnya. Kalau akivitas ini dilakukan pagi-pagi, otak masih fresh! Tapi, kalau sore, otak sudah ngadat. Pandangan kabur. Kesalahan tulis bisa jadi luput dari pandangan.

Ada pula masa di mana semangatku ambyar. Kalau tulisan yang sudah diedit dengan cucuran keringat dan air mata (agak lebah sih!) ternyata gagal tayang. Setelah tulisan diproses oleh editor, tulisan akan dikembalikan ke penulis untuk meminta persetujuannya. Tapi, sebelum tahapan itu, artikel akan naik dulu ke supervisorku. Dia bertanggung jawab menelalaah isi tulisan. Bagusnya, atau malah celakanya, supervisorku itu super pintar! Matanya sejeli mikroskop dan otaknya seperti laptop yang pakai ram bergiga-giga dan prosesor mutakhir. Titik yang ke-bold saja dia sadar loh. Kalau artikel itu banyak salahnya dan minta direvisi ulang, seketika itu aku merasa jadi orang goblok. “Kuliah 4 tahun kok yang ginian aja gak bisa sihhh.” aku membatin.

Hingga suatu ketika, saat aku tengah frustrasi dan merasa sedang goblok-gobloknya, aku menemukan sebuah buku yang diberikan oleh editor seniorku di Singapura. Buku ini ditulis oleh Judith E. Markhaim, seorang Editor Kristen di Amerika yang menekuni profesi editor lebih dari 40 tahun! Alamak…, membaca tulisan-tulisannya membuat aku tersentak. Kok aku yang baru 7 bulan aja sudah frustrasi? Kalau mau mengeluh, aku masih terlalu muda buat itu. Masih bau asem, bau kencur, terlalu prematur untuk ngeluh aneh-aneh. Berkarya saja belum maksimal, ini kok sudah ngomel sana-sini duluan. Di halaman buku itu, ada satu kalimat menegurku:

And for the editor, service is a way of life.

Jleb! Selama ini, aku cuma memandang pekerjaanku bukan sebagai pelayanan. Editor cuma jadi status pekerjaan yang dari sana aku mendapat gaji. Tidak lebih dari itu. Aku sadar, ketika aku tidak melihat pekerjaan ini sebagai pelayanan, bisa saja aku kehilangan ketulusan hatiku karena apa-apa yang kulihat cuma uang, uang, dan uang. Aku jadi cenderung fokus pada yang negatif. Aku mengeluh karena mataku jengah memelototi layar laptop. Aku protes karena bokongku kaku. Aku lupa, dan aku sengaja menutup mata dari hal-hal baik yang seharusnya bisa kusyukuri dari pekerjaan ini.

Kurang dari dua jam membaca buku itu, aku berkomitmen mengubah pola pikirku dan cara pandangku atas pekerjaan ini. Aku hening sejenak. Aku berdoa.

“Tuhan, beri aku damai dan semangat untuk menjalani panggilan kerjaan ini. Aku tidak mau jenuh dan loyo tiap-tiap harinya. Capek kalau begini terus.”

Aku mungkin belum sampai 40 tahun bekerja jadi editor. Mungkin pula tidak akan mencapai angka itu. Entah mati duluan atau banting setir ke pekerjaan lain. Tapi, dari tujuh bulan mengarungi samudera kata-kata, tentu ada buah yang bisa dipetik. Ada esensi dari rutinitas yang kuanggap menjemukan.

Menghidupi pekerjaan sebagai pelayanan  

Seperti yang ditulis oleh Judith, seorang editor bekerja untuk melayani empat tuan:

  • Perusahaan
  • Pembaca
  • Penulis
  • Tuhan

Tanpa perusahaan, tentu si editor tidak akan mendapat gajinya tiap bulan. Kalau tidak ada gaji, mau makan apa? Makan nasi pakai garam dan kecap pun butuh uang untuk membelinya. Tanggung jawab seorang editor dalam perusahaan adalah dia harus jadi jembatan untuk menemukan penulis-penulis yang baik, dan memastikan tulisan-tulisan itu bisa terbit sesuai dengan tenggat waktu yang telah ditetapkan.

Tuan kedua yang dilayani adalah penulis. Editor bukan seorang yang lebih baik dari si penulis. Editor adalah rekan kerja penulis. Apa yang tak dilihat si penulis, bisa jadi terlihat oleh editor. Kemudian editor akan menginformasikannya kepada si penulis, berdiskusi, memperkaya tulisan dari sudut pandang yang lain.

Bicara soal penulis, salah satu hal yang kusukai adalah kalau bisa ketemu dengan penulis-penulis itu. Ada ratusan penulis yang mengirim tulisannya ke web tempatku kerja. Mereka asalnya dari berbagai daerah di Indonesia. Waktu weekend, kalau domisili si penulis itu masih di tanah Jawa dan bisa kujangkau dengan kereta kelas ekonomi subsidi, kucoba atur jadwalku untuk bertemu tatap muka dengan mereka. Ngapain capek-capek? Iya, di zaman sekarang ini kita memang bisa berkomunikasi lewat media, tapi orang lulusan Komunikasi tentu tahu bahwa tidak ada media mana pun yang dapat menandingi keotentikan komunikasi tatap muka. Ya toh? Kalau komunikasi bisa sepenuhnya dilakukan via medium, mau gak menikah tapi tinggalnya jauh-jauhan? Kalau ngobrol pakai video call aja terus seumur hidup. Pasti gak mau! Jadi, di tahun pertamaku, aku coba keliling dari Jakarta sampai Jogja, untuk menyapa barang seorang atau dua orang dari penulis-penulis ini.

Apa yang sudah ditulis oleh penulis dan diedit oleh editor tidak akan berguna kalau tidak ada yang baca. Kalau semua orang cuma maunya nulis tanpa baca, siapa dong yang baca tulisan mereka? Kepada pembaca, si tuan ketiga, editor bertugas memastikan tulisan-tulisan bisa dipahami oleh mereka. Editor memposisikan diri sebagai pembaca awam. Editor harus paham apa yang pembaca pikirkan, sukai, dan yang paling penting adalah apa yang pembaca butuhkan untuk dibaca.

Edward England pernah berkata: “Jika sebuah buku doa tidak membuatku mau berdoa atau jika sebuah buku tentang orang-orang kelaparan tidak membuatku mau memberi, aku tidak mau menerbitkannya.” Tujuan dari tiap tulisan yang ditulis, diedit, dan ditayangkan seharusnya bukan sekadar memberi informasi. Bukan sekadar membuat orang jadi tahu. Tulisan yang bernyawa adlah tulisan yang mampu mengajak pembacanya bertindak dan merasa tertegur atau tergugah.

Aku percaya, sesederhana apa pun tulisan, ketika si penulis menuliskannya dengan hati, maka pesan itu akan sampai kepada hati. Waktu aku putus asa karena gagal cari kerja, sebuah tulisan dari seorang guru di Surabaya menyentakku sekaligus menyalakan kembali lentera jiwaku. Tulisan itu sederhana, isinya penuturan tentang perjalanan si penulis mencari-cari pekerjaan, gagal, hingga akhirnya dia menerima kenyataan kalau panggilannya adalah jadi seorang guru. Tulisan itu bicara lembut, mendorongku untuk memulihkan semangat dan percaya akan campur tangan Tuhan dalam proses kehidupan ini.

Tuan terakhir yang dilayani oleh editor adalah Tuhan sendiri. Pekerjaan ini datang dari Tuhan. Dia memanggilku untuk ada di sini. Oleh karena itu, aku bertanggung jawab kepada-Nya, memastikan bahwa dalam pekerjaan ini ada orang yang mendapat manfaat dan aku pun bertumbuh layaknya pohon yang makin rindang dan berbuah.

***

Apa pun pekerjaan yang digeluti di bumi ini, pasti ada naik turunnya. Ada kalanya semangat memuncak, tapi ada kalanya juga semangat itu terjun bebas ke palung paling dalam. Tidak ada yang sempurnah di dunia ini, termasuk juga dengan pekerjaan yang kita geluti sekarang. Tapi, satu yang pasti adalah segala sesuatu di bawah kolong langit ini punya waktunya sendiri. Ada waktu buat berduka, ada waktu untuk bersuka. Ada waktu untuk tertawa, ada waktu untuk menangis.

Kiranya, aku dan kamu yang membaca tulisan ini boleh menikmati tiap ritme dari pekerjaan yang kita geluit. Dan, semoga damai sejahtera dari Tuhan yang melampaui segala akal, memelihara kita senantiasa.

Yeay! Semangat guys!

 

*Saya bekerja sebagai seorang Content-Developer. Editing adalah salah satu dari tanggung jawab yang saya emban di sini. Kalau kamu ingin tahu lebih detail tentang pekerjaan ini, monggo mengobrol lewat email atau DM saya via Instagram.

21 respons untuk ‘Editor, Bukan Sekadar Duduk di Kantor

    1. Wkwkwkwkwk. Nge-blog itu bikin otakku serasa pergi jalan-jalan mas. Apalagi kalau baca postingan di blogmu yang tentang eksplor Rembang – Lasem, aku lgsg ngiler pgen kesana 😀

      1. Tanggal 4 itu aku naik Tawang Jaya ke Poncol, tapi mau langsungan ke Sala3.

        Nah, tgl 31 Agustus aku mau ke Temanggung via Semarang, turun di Poncol. Ayuk tanggal 1 Septembernya ketemu 😀

  1. Kak, kalau sempat, bikin postingan yang tentang keeditoran gini lagi ya. Soalnya saya tertarik menjadi editor novel. Apalagi setelah baca postingan ini, udah kebayang aja bakalan dibanjiri banyak naskah seharian hahaha

  2. Kalau saya seorang penulis, mau banting setir jadi editor.

    Menurut kamu, lebih baik atau tidak?
    Karena kan sebenarnya sama-sama tidak duduk manis di kantor. hhe*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s