Ambarawa, Saksi Bisu Perjalanan Panjang Kereta Api di Tanah Jawa

“Maaf mas, tiket kereta wisatanya sudah habis,” kata mbak penjaga loket. Sedikit kecewa, coba tadi kami datang lebih cepat sedikit, mungkin saja kami masih bisa mendapatkan dua lembar tiket untuk perjalanan melintasi jalur tua yang kami nanti-nantikan ini. Tapi, karena sudah terlanjur tiba, kami tetap masuk ke dalam stasiun walau tidak jadi berangkat.

Stasiun yang kami datangi bukanlah stasiun aktif yang setiap harinya dilintasi hilir mudik kereta api. Stasiun ini adalah stasiun yang sedang perlahan-lahan bangun dari mati surinya yang teramat panjang. Inilah stasiun Ambarawa, atau versi aslinya dikenal dengan nama stasiun Willem I yang dulu pernah terkenal karena menjadi jalur nadi tranportasi darat antara Yogyakarta dan Semarang.

Ketika kami tiba di sana, suasana stasiun begitu teduh. Walaupun matahari sedang bersinar terik-teriknya, atap bangunan yang tinggi menjaga suhu ruangan tetap sejuk. Setiap akhir pekan, stasiun Ambarawa akan ramai pengunjung karena ada tiga kali pemberangkatan kereta wisata yang berangkat paling akhir pada jam 2 siang. Sambil kami berjalan-jalan mengitari stasiun, kereta wisata terakhir bersiap berangkat. Kereta yang terdiri dari dua gerbong kayu dan satu lokomotif diesel D ini siap bertolak membawa wisatawan menuju Tuntang. Untuk satu kali perjalanan pulang-pergi, tiap pengunjung wajib membayar 50 ribu.

Lokomotif kuning penarik gerbong wisata

Setelah kereta wisata berangkat, stasiun menjadi lebih sepi. Dulu, satu abad yang lalu, stasiun Ambarawa dibangun berdekatan dengan benteng Wilem I, sebuah benteng pertahanan Belanda. Nama Wilem I sendiri adalah nama dari Raja Belanda, Willem Frederik Prins van Oranje Nassau yang hidup pada kurun waktu 1772-1843. Waktu itu, Ambarawa dipilih sebagai lokasi strategis untuk membangun benteng pertahanan karena posisinya yang menjadi titik temu lintasan antara Semarang, Yogyakarta, dan Surakarta.

Sewaktu jalur Semarang – Yogyakarta masih berjaya, stasiun Ambarawa sendiri merupakan sebuah jalur percabangan dari jalur utama. Titik percabangannya dimulai di stasiun Kedungjati. Setelah Indonesia menjadi negara merdeka, dunia transportasi mulai berkembang. Jika dahulu kereta api merupakan angkutan primadona, perlahan-lahan pamornya mulai susut digantikan oleh kendaraan bermotor yang lalu-lalang di jalanan. Kereta api dinilai tidak lagi efektif dan efisien, hingga akhirnya pada tanggal 1 Juni 1970, jalur kereta api Kedungjati – Ambarawa diistirahatkan selamanya. Jalur ini mati, menyisakan kenangan manis, juga perjalanan sejarah panjang. Belakangan ini, terdengar kabar bahwa pemerintah berencana menghidupkan kembali jalur mati ini, namun entah kapan akan terlaksana.

Langkah kaki kami terayun perlahan. Kami menikmati tiap jengkal keindahan bangunan stasiun Ambarawa. Pikiran kami dibawa melayang jauh melintasi sekat zaman. Sebenarnya, hati ini merasa miris melihat stasiun nan megah ini sekarang hanya menjadi saksi bisu. Jika saja jalur kereta api ini benar-benar dihidupkan, tentu akan meringankan beban jalan raya yang semakin hari semakin padat tidak karuan.

Dimulai dari pintu masuk hingga ke bangunan utama stasiun, pengunjung akan melewati sebuah lorong panjang. Di dinding lorong itu, tersaji linimasa perjalanan kereta api Indonesia sejak mula didirikan oleh pemerintah kolonial, hingga era Indonesia modern. Linimasa itu bercerita secara lengkap dan jelas bagaimana perkembangan, tantangan, derita, dan sukacita yang dialami oleh kereta api untuk terus bertumbuh dan hidup menjadi bagian dari moda transportasi nusantara.

Dinding linimasa di lorong stasiun
Bangunan stasiun yang megah tetapi sepi
Bangunan gudang dengan aristektur sederhana

Kelahiran jalur kereta api pertama di Jawa dimulai pada tahun 1864 untuk rute sepanjang 24 kilometer yang membentang dari Kemijen menuju Tanggung. Sejak saat itu, pemerintah kolonial lewat perusahaan-perusahaan kereta apinya mulai membangun jalur-jalur kereta api yang menghubungkan pulau Jawa. Hingga tahun 2010, secara total Indonesia memiliki panjang rel 6.714 kilometer, tapi hanya 4.678 km rel yang aktif. Panjang ini masih jauh tertinggal dibandingkan rel di negara lain, sebut saja Tiongkok yang memiliki panjang rel 91.000 km.

Di bangunan utama stasiun, atapnya tinggi menjulang dan arsitektur khas Belandanya terasa begitu kental. Kursi-kursi kayu diletakkan menempel di pinggir tembok. Sebuah genta tua juga berdiri kokoh di tepian peron stasiun. Di atas rel-rel tua ini berbaris rapi beberapa lokomotif dan gerbong-gerbong kayu lawas yang kini tidak lagi bisa digunakan karena alasan usia. Lokomotif yang seluruhnya didatangkan dari Eropa itu masih amat terawat. Cat hitamnya masih tampak gagah seolah dia masih mampu bergerak melanglang buana. Pengunjung diperbolehkan untuk mengambil foto, menyentuh, bahkan naik ke ruang kemudi di tiap-tiap lokomotif ini.

Tampak muka stasiun Ambarawa
Lokomotif uap C2720
Ruang kendali rel

Stasiun Ambarawa nasibnya masih jauh lebih beruntung daripada stasiun-stasiun lainnya di sepanjang jalur non-aktif. Ketika stasiun-stasiun lain, seperti stasiun Bingin, Pangandaran, atau stasiun Cikajang telah meninggal dengan sengsara, stasiun Ambarawa masih tetap berdiri megah karena status museum yang disandangnya. Jalur kereta api yang mati tidak dianggap sebagai aset berharga oleh pemerintah, akibatnya jalur yang kaya nilai sejarah itu lenyap tergantikan oleh jalan raya atau pemukiman penduduk. Kejayaan generasi masa lalu kini tak dapat lagi disaksikan secara langsung oleh generasi sekarang dan yang akan datang. Paling-paling, hanya penuturan dan sejarah konon katanya saja yang kelak akan jadi referensi anak cucu kita tentang bagaimana kereta api di tanah Jawa pernah berjaya.

Nostalgi yang disajikan oleh stasiun Ambarawa membuatku betah duduk berlama-lama di sini. Aku masih membayangkan dan penasaran dengan seperti apa riuhnya suasana stasiun waktu itu. Sebagai pecinta kereta api, aku masih berangan-angan, akankah stasiun ini kembali bangkit? Atau untuk selamanya dia tertidur lelap. Ketika negara-negara maju mengembangkan sistem transportasi berbasis rel, kita malah mematikan rel itu dan menyimpannya sebagai kepingan sejarah.

Bercengkrama dengan kawan di stasiun

Jika kita menilik rel yang terdapat di stasiun Ambarawa, memang tidak ada bedanya dengan rel yang biasa kita jumpai di jalur aktif. Tapi, cobalah telusuri rel itu hingga ke daerah Bedono, ada perbedaan yang tak akan kita jumpai di jalur kereta api modern tanah air saat ini. Ketika trek mulai menanjak, di bagian tengah rel terdapat besi tambahan, atau biasa disebut dengan rel gigi. Fungsi rel gigi ini adalah membantu lokomotif untuk bisa membawa gerbong-gerbongnya naik. Sebelum menaiki trek menanjak ini, lokomotif akan berputar posisi dari depan ke belakang. Jadi, di trek ini gerbong-gerbong tidak ditarik, melainkan didorong.

Sewaktu aku berkunjung ke rel gigi di daerah Jambu, seluruh permukaan rel telah tertutup rumput liar. Warna besi berkarat menjadi kontras di antara hamparan rumput hijau. Saat aku sedang duduk termenung, tiba-tiba dari balik tikungan muncul sebuah lori kecil yang dikendarai oleh seorang lelaki. Ketika melintas di depan kami, lori itu berhenti dan menyapa kami. “Monggo, mas,” sapa mas Radji, seorang warga lokal yang memanfaatkan jalur mati ini untuk mengambil kayu-kayu bakar. Mas Radji, bersama beberapa warga lainnya memanfaatkan jalur mati di sepanjang lintas Bedono-Jambu sebagai sarana transportasi untuk mengangkut kayu-kayu bakar. Lori sederhana yang dibuat dari kayu ini hanya bisa digunakan di rel yang menurun. Jadi, saat berangkat mencari kayu, mas Radji akan mengangkat lori ini dan menggunakannya ketika pulang.

Mas Radji bersama lori kayu buatannya
Mencoba mengendarai lori
Lori milik mas Radji berjalan menuruni rel

Aku memandangi lori milik mas Radji ini dengan penasaran. “Mau coba mas, monggo,” katanya. Penasaranku terjawab. Duduk di atas lori ini tidak sulit, posisinya mirip seperti mengendarai mobil-mobilan yang sering dijumpai di mal. Namun, bedanya adalah lori ini tidak ada kemudi dan gas, hanya ada rem. Ketika laju lori semakin cepat, ada tuas rem yang bisa kita tekan menggunakan kaki. Di belakang lori, ada sebidang ruang untuk meletakkan kayu-kayu bakar.

Setelah puas menjajal lori, mas Radji malah mengajak kami untuk mampir di rumahnya yang berjarak 700 meter dari posisi kami berdiri. Tapi, kami menolaknya karena waktu itu hari hampir gelap dan kami masih harus melanjutkan perjalanan.

Lintasan bergigi dari Bedono hingga Ambarawa inilah yang menjadi saksi bisu peradaban yang masih bisa kita sakisan hingga saat ini. Sembari aku mengamati roda zaman yang terus berputar, dalam hatiku mengucap doa semoga jalur-jalur tua yang mati suri ini bisa dibangkitkan kembali.

Iklan

10 thoughts on “Ambarawa, Saksi Bisu Perjalanan Panjang Kereta Api di Tanah Jawa

  1. Kok keliatan sepi ya? Dulu jaman kuliah pernah main kesini dan ramai banget. Mungkin kebetulan karena hari Minggu juga kali yah 😄 dan memang ticket kereta cepat banget habis. Waktu itu aku sampai di lokasi jam satu siang udah ludes

  2. Gak bosen memang kesini, meski selalu rame. Tapi hawanya ttp adem hehe.

    Kereta wisatanya memang banyak diburu wisatawan mas, makanya cpt banget abisnya. Kalo aku sih sbenernya pengen yg kereta uap ke stasiun bedono, tapi loko uapnya sedang sakit. Pdhl jalur ini mnrtku paling romantis. Mengenang kembali jalut kereta yg nanjak esktrim. Dan hanya satu2nya di indonesia kalo ga salah ya.

  3. Iya betul skrg mulai diaktifkan lagi, kmarin saya lihat jalur dari kedungjati sampai tuntang sedang direvitalisasi, mungkin tidak lama lagi sampai ambarawa..

  4. kapan2 wajib ke sini, kenapa transportasi massal justru banyak ditinggalkan? berharap juga jalur kereta api di Banjarnegara bisa dihidupkan lagi sehingga mau pergi2 jadi mudah hmmmm

    1. Krna waktu dekade 70-an, transportasi darat lainnya seperti bus mulai berkembang, dan saat itu dinilai lebih cepat daripada kereta api. Akhirnya, pamor kereta api meredup dan direspon pemerintah dengan menutupnya–respon yg salah, krna di kemudian hari beban jalan raya terlalu berat.

      Sekarang, mau diaktifkan lagi pun upayanya harus besar banget. Hehehe
      Semoga terlaksana yaaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s