Sumatra Overland Journey (7) | Ketika Kami Diselamatkan oleh Keluarga Polisi

Berpose bersama Ibu Rohani, istri dari Pak Manullang yang telah menyediakan tumpangan kepada kami selama tiga hari

Langit telah sepenuhnya gelap tapi kami belum juga tiba di Takengon. Sudah 10 jam bokong kami tertanam di jok mobil yang melibas jalanan Trans-Aceh. Sementara udara di dalam mobil terasa pengap, di luar hujan turun dengan deras. Suasana kota menjadi amat sepi, apalagi saat itu adalah jam di mana orang-orang tengah menikmati santapan berbuka puasa.

Sesuai rencana, seharusnya hari itu kami bermalam di Hotel Buntul Kubu. Katanya, hotel itu adalah penginapan yang harganya terjangkau di Takengon. Tapi, sayang sekali karena saat kami tiba di sana, hotel itu sudah beralih fungsi. Kami gigit jari. Beberapa hotel lainnya kami singgahi, tapi harganya semua di atas 300 ribu. Padahal, kesepakatan kami adalah hanya akan bermalam di hotel dengan harga maksimal 100 ribu saja.

Di tengah dinginnya udara Takengon, kami tidak menyerah. Aku ingat kalau ada teman kuliahku di Jogja yang berasal dari Takengon. Walaupun kami tidak begitu dekat, tapi aku coba saja menghubunginya. Dia merespon pesan Whatsappku dengan cepat dan memberitahu bahwa saat itu dia tidak sedang berada di Takengon, tapi kedua orangtuanya ada di sana. Jadi, dia memberikan nomor ponselku, kemudian orangtuanya menelponku balik.

Kami diarahkan untuk minta kepada sopir travel untuk diantar ke asrama polisi. Berhubung kami adalah penumpang terakhir di mobil, jadi sopir bersedia mengantar kami hingga ke lokasi. Hujan akhirnya berhenti, menyisakan kabut tipis yang melayang-layang di udara. Rumah-rumah di komplek asrama polisi dibuat dari kayu, saling berjejer dan dipisahkan oleh jalanan selebar dua mobil. Sehabis shalat tarawih, anak-anak berkumpul di sebuah lapangan. Ada yang memakai jaket tebal, ada juga yang membungkus tubuhnya dengan sarung.

“Bule! Bule!” Tiba-tiba mereka riuh saat melihat kami turun dari mobil. Mereka lari menghambur, seolah-olah kami adalah alien dari luar angkasa. Mereka menatap kami penasaran, sementara kami menebar senyum pada mereka. “Dek, rumah pak Manullang di mana ya?” tanyaku. “Itu di sana bang,” sambil menunjuk dan mengarahkan kami berjalan mengikuti mereka. Tanpa perlu kami mengetuk rumah kediaman pak Manullang, beliau sudah keburu keluar karena keriuhan suara anak-anak ini.

Pak Manullang adalah ayah dari temanku. Sosoknya tegas, berkumis, dan bekerja sebagai seorang polisi yang ditugaskan di Takengon. Senyumnya tipis, jabatan tangannya erat. Setelah berbasa-basi sejenak, dia mempersilahkan kami masuk ke dalam rumahnya. Di depan rumah, ada sebuah warung kecil yang sehari-harinya dijaga oleh istri pak Manullang. Ruang tengah rumah itu amat sederhana. Lantainya berupa semen yang dilapisi karpet. Dindingnya disusun dari kayu-kayu yang dicat berwarna kuning. Apabila tetangga berteriak, atau menonton televisi dalam volume keras, kami bisa mendengarnya dengan jelas.

Tak lama setelah perkenalan singkat itu, istri pak Manullang datang. “Halo, wah ini temannya Yos dari Jogja ya,” sapa hangat ibu Rohani. Setelah istrinya datang, pak Manullang izin pamit untuk berdinas malam. Ibu Rohani baru saja pulang dari persekutuan di gereja. Di meja makan sudah tersedia aneka jenis makanan. Ada nasi yang baru saja selesai ditanak, ikan goreng, sayuran, dan tak lupa kopi Takengon. Rupa-rupanya, ketika mengetahui bahwa kami akan datang berkunjung, ibu Rohani segera menuju dapur dan memasak.

Udara Takengon seperti kulkas, apalagi di malam hari. Jika di Jawa, mungkin udara di Takengon mirip seperti udara di kawasan Dieng. Dinginnya menusuk tulang. Ketika mandi, rasa dinginnya luar biasa. Serasa mandi menggunakan air dicampur es batu. Tapi, setelah selesai mandi, rasa dingin itu berganti menjadi sensasi segar. Sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Ketiga anak Pak Manullang lainnya pergi merantau menyisakan Pak Manullang, Ibu Rohani, dan Eben, anaknya yang paling bungsu tinggal bersama di rumah itu. Kami tidur di ruang tamu. Walau hanya beralas karpet, tapi selimut tebal yang diberikan membuat badan terasa hangat. Tak perlu menunggu lama, dalam hitungan menit kami jatuh tertidur hingga keesokan harinya.

Bersama Ibu Rohani dan putra bungsunya

Hari kedua di Takengon, rencana kami adalah mengitari Danau Lut Tawar. Danau seluas 5.472 hektar ini adalah ikon dari Takengon. Tak lengkap rasanya jika berkunjung ke Takengon tanpa singgah sejenak di tepian danau ini. Sebelum kami berangkat, Ibu Rohani sudah memasak aneka makanan lezat untuk kami. Ada ikan goreng balado spesial. Katanya, ikan itu diambil langsung dari danau Lut Tawar. “Coba deh ikannya, rasanya beda sama ikan-ikan di Jawa.”

Keluarga Pak Manullang memiliki dua sepeda motor. Kedua-duanya motor bebek matic, hanya, yang satu masih amat baru, yang satu sudah cukup tua. Kami pikir kami akan dipinjamkan motor yang tua, itu pun kami sudah amat bersyukur. Tapi, tebakan kami salah. “Ini kunci sama helmnya, kalian pakai motor yang baru ya, biar jalan-jalannya enak,” kata Ibu Rohani. Spontan aku menolak. Aku merasa tidak enak. Tak perlulah motor yang baru jika motor yang lama masih bisa dipakai. Tapi, Ibu Rohani tetap kekeuh untuk memberi kami motornya yang baru itu. Bahkan, dia malah mengongkosi kami uang sebesar 30 ribu. “Untuk jajan dan beli bensin,” katanya.

Akhirnya, aku menerima keputusan itu dan pergilah kami berkeliling danau. Sambil berjalan pelan, aku tak habis pikir bisa dipertemukan dengan orang sebaik keluarga Pak Manullang. Aku lahir dan dibesarkan di kota besar. Sejak kecil aku selalu dididik untuk waspada dan tidak mudah menaruh percaya pada orang lain, teman sendiri, apalagi orang yang baru kenal. Tapi, didikan itu seolah runtuh ketika aku tiba di Takengon. Aku adalah orang baru, bukan siapa-siapa, tapi malah diberi keistimewaan oleh keluarga Pak Manullang.

Udara dingin khas pegunungan menerpa tubuh kami dan membuat kami mengantuk. Di tepian danau, kami memarkirkan motor, kemudian membaringkan tubuh kami di hamparan rumput. Johannes menutup wajahnya dengan jaket, kemudian jatuh terlelap. Alih-alih tertidur, aku memilih duduk bersila, menutup mataku, dan menghirup udara nan sejuk ini perlahan-lahan. Dalam suasana amat hening itu aku coba menyapa sang Pencipta. “Tuhan, terima kasih untuk perjalanan ini,” gumamku.

Menikmati siang di pinggiran danau
Danau Lut Tawar nan teduh
Padi yang mulai menguning di sawah sepanjang tepian Danau Lut Tawar
Berkeliling Danau Lut Tawar

Siang itu, Danau Lut Tawar cukup tenang. Riak-riak kecilnya menghanyutkan sampah-sampah plastik ke atas permukaannya. Sampah itu membuatku miris. Rupa-rupanya, tak hanya di Jawa, tapi Takengon pun, tabiat manusia masih tetap sama, menjadikan alam sebagai tong sampah raksasa. Di antara sampah yang mengambang itu, ada juga puluhan keramba apung yang sengaja dibuat warga untuk membudidayakan ikan.

Di tepian danau terdapat jalanan aspal yang berkelok-kelok. Jalanan ini mulus, tapi kita harus waspada karena di beberapa titiknya rawan longsor. Di beberapa tikungan, bahkan longsor telah menutup setengah badan jalan. Seperti daerah-daerah lain di Indonesia, tiap tempat biasanya memiliki kisah-kisah mistis di baliknya. Konon katanya, ada makhluk halus yang menjadi penunggu Danau Lut Tawar. Tapi, aku tidak terlalu peduli, kupikir makhluk-makhluk halus itu tidak mungkin menggangguku selama aku datang dan pergi dengan bertanggungjawab.

Jelang maghrib, kami kembali ke rumah Pak Manullang. Aroma lezat makanan sudah menyambut kami. Ibu Rohani sudah mempersiapkan makanan yang terbaik. Aku lupa menu makanannya apa, tapi yang jelas kami makan dengan lahap. Malam itu adalah malam terakhir kami di Takengon. Keesokan harinya, kami berencana untuk kembali ke Sumatra Utara, tepatnya ke Berastagi.

Salah satu hal yang membuatku amat bersyukur mengenal keluarga ini adalah karena pemikiran mereka yang sungguh terbuka. Tatkala ada orang-orang lain yang mencemooh perjalanan kami berkeliling Sumatra sebagai buang-buang waktu, Ibu Rohani dan Pak Manullang malah memuji kami. “Kalau kalian tidak pergi ke Sumatra, mana mungkin kita bisa ketemu sekarang kan? Tuhan mempertemukan kita,” kata Pak Manullang. Betul juga, pikirku. Jika aku waktu itu tidak mengiyakan ajakan Johannes untuk pergi, mungkin aku tak pernah mendapat pengalaman ini. Mungkin, aku akan tetap hidup dalam perasaan insecure terhadap orang-orang baru, sebagaimana didikanku di kota dulu mengajarku demikian.

Dua malam di Takengon cukup meruntuhkan pemikiranku selama belasan tahun. Hari itu aku menemukan bahwa di dunia yang semakin kejam ini masih tersisa orang-orang baik, orang-orang yang memiliki hati tulus, orang-orang yang memandang manusia sebagai manusia.

Pagi-pagi benar Pak Manullang sudah tidak berada di rumah. “Bapak ada dinas. Bapak titip salam buat kalian, hati-hati dan jangan lupa nanti mampir lagi ke sini,” ucap Ibu Rohani. Sebelum berpisah, kami mengabadikan foto, tapi tanpa kehadiran Pak Manullang. Di depan sebuah warung kecil, kami mengucapkan salam pamit dan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada keluarga ini.

Kami tak dapat membayangkan apa jadinya jika kami tidak dipertemukan oleh keluarga Pak Manullang. Mungkin kami akan terlunta-lunta di Takengon. Tapi, keluarga ini telah menyelamatkan kami dan menjadikan kami bagian dari mereka. Walau hanya tiga hari, tapi kami mendapatkan kesan abadi tentang kebaikan mereka.

Di dunia yang kejam ini, masih ada orang-orang baik.

Iklan

4 thoughts on “Sumatra Overland Journey (7) | Ketika Kami Diselamatkan oleh Keluarga Polisi

  1. Saya salut banget lhoo, kamu masih muda tapi punya pengalaman berharga seperti ini. Hehee..biarin ajaa orang mencemoohna. Mencari pengalaman itu tidak ada istilah buang-buang waktu. Mereka bilang gitu karna iri dan gak punya jiwa traveling kaya kamu wkwkwk

    1. Halo mbak 🙂

      Makasih sudah mampir hehehe.
      Iya, aku sendiri tidak menyangka bisa dapat pengalaman itu mbak. Lagipula waktu keliling Sumatra, aku ndak keluar uang apa-apa, semua dibiayai oleh temanku.

      Dan, apabila lancar, tahun 2019 nanti kami akan coba menjelajah lagi 😀

  2. Luas biasa mas. Pengalaman yg tak terlupakan ya, bisa bertemu dg keluarga pak manullang. Kenal dengan orang asing sebenarnya tidak melulu harus menaruh curiga, tapi sebaliknya, malah bisa membawa kehangatan dan pengalaman baru. Serta pelajaran, bahwa masih banyak manusia baik di luar sana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s