Sumatra Overland Journey (7) | Ketika Kami Diselamatkan oleh Keluarga Polisi

Berpose bersama Ibu Rohani, istri dari Pak Manullang yang telah menyediakan tumpangan kepada kami selama tiga hari

Langit telah gelap dan kami belum juga tiba di Takengon. Sudah 10 jam bokong kami tertanam di jok mobil. Panas rasanya. Pegal pula, sebab jalanan Trans-Aceh tidak mulus. Udara dalam mobil pengap, sedangkan di luar hujan deras. Saat itu adalah jam buka puasa, tak banyak orang yang lalu-lalang di jalanan.

Sesuai rencana, hari itu kami seharusnya bermalam di Hotel Buntul Kubu. Kami mendapat rekomendasi hotel ini dari buku Lonely Planet yang kami temukan di Bukit Lawang lalu. Di situ tertulis kalau harga hotel ini kurang dari 200 ribu. Pas dengan budget dan perjanjian kami. Tapi, saat tiba di sana kami cuma bisa gigit jari. Hotel itu sudah beralih fungsi menjadi markas Satpol PP. Kami coba mencari hotel lain, tapi semua harganya di atas 300 ribu. Padahal, kami sepakat hanya akan bermalam di hotel dengan harga maksimal 100 ribu saja.

Kami belum menyerah. Aku ingat, ada teman kuliahku yang aslinya dari Takengon. Namanya Yosafat, dan kucobalah mengontaknya sembari mengharap dia punya rekomendasi yang tepat buatku.

“Yos, ini aku Ary. Aku lagi di Takengon nih dan gak dapet tempat nginap. Kamu punya usul gak tempat nginap yang pas?” ketik saya di Whatsapp.

Tak sampai lima menit, pesan itu dibalas.

“Susah Ry penginapan di sana. Nginap di rumahku aja gimana? Aku kasih tahu papa mamaku ya.”

Awalnya aku menolak. Nggak enak. Aku dan Yosafat tidak terlalu dekat, masak iya tiba-tiba nginap di rumahnya? Tapi Yosafat terus meyakinkanku. “Gapapa Ry, ke rumahku aja. Orang tuaku seneng pasti. Kalau kamu tetep mau cari hotel, ke rumahku dulu aja. Nanti keluargaku bantu carikan.”

Kami tak punya pilihan. Hari semakin malam dan udara dingin Takengon menusuk tulang. Dengan ketinggiannya yang berada 1.200 meter di atas laut, wajarlah kalau suhu di Takengon itu adem. Kami meminta sopir travel untuk mengantar kami ke Asrama Polisi.

Kami turun dari mobil. Suasananya sangat sepi. Tapi, baru sepuluh langkah berjalan tiba-tiba ada suara anak kecil berteriak.

“Bule! Bule!!”

Entah dari mana datangnya, teriakan anak kecil itu menarik anak-anak lainnya. Mereka menghambur, mendekati kami dan menatap dengan penasaran. Pergi bersama Johannes selalu begini. Tubuh Bule Jermannya selalu menarik perhatian orang-orang di manapun kami datang.

“Dek, rumah Pak Manullang di mana ya?” Aku bertanya ke anak-anak itu.

“Di sana bang!” tunjuk mereka sembari mengantar kami ke sana.

Tanpa perlu mengetuk pintu rumah, Pak Manullang sudah keluar duluan karena suara riuh anak-anak.

Pak Manullang adalah ayah dari Yosafat. Wajahnya tegas, kumisnya tebal, tapi senyumnya ramah. Sudah puluhan tahun dia bekerja sebagai polisi di Takengon. Di teras rumahnya kami berbasa-basi sejenak. Kemudian dia mempersilakan kami masuk.

Rumah di Asrama Polisi ini sederhana tapi nyaman. Dindingnya dibuat dari kayu yang ditata beberapa lapis, lalu dicat kuning muda. Lantainya tidak dikeramik. Kalau malam lantai ini dingin sekali, jadi Pak Manullang menutupnya dengan karpet tebal. Di depan rumah, istri Pak Manullang membuka usaha warung. Rumah-rumah ini saling berdempetan. Kalau ada tetangga menonton bola sambil teriak, kami bisa mendengarnya dengan jelas.

“Wah, ini temannya Yos dari Jogja ya,” istri Pak Manullang menyapa kami sembari membawa dua gelas kopi panas. Namanya Ibu Rohani. Saat kami datang tadi, dia sedang ke gereja. Waktu Yos mengabarinya kalau kami akan datang ke rumah, Ibu Rohani langsung memasak. Di meja makan sekarang sudah tersaji nasi panas, ikan goreng, tumis sayur, dan buah-buahan.

Perut yang kenyang membuat hati senang. Rasanya kami ingin segera tertidur, tapi kami masih berpikir tentang tempat penginapan untuk kami bermalam.

“Jadi gimana, tadi sudah muter-muter cari penginapan?” tanya Ibu Rohani.

Kami mengangguk. “Sudah bu, tapi ndak dapet.”

“Nah, makanya. Nginap di sini aja gimana?”

Aku menatap Jo dan ia membalasku dengan mengangkat bahu.

“Nginap di sini aja. Sekarang lagi bulan puasa. Kalau kamu menginap di luar, nanti susah kalau mau cari makan,” lanjut Ibu Rohani.

Sebelum kami sempat menjawab, Eben, putra bungsu Ibu Rohani datang membawakan selimut tebal. Sebenarnya kami sangat bersyukur kalau bisa menginap di sini. Kendalanya cuma satu, kami merasa tidak enak. Tapi, Bu Rohani kembali meneguhkan kami untuk tinggal di rumahnya. Saat kami mengangguk setuju, senyumnya pun merekah.

“Kalau begitu sebelum tidur kalian mandi dulu. Mau dimasakin air panas?”

“Nggak, nggak usah bu. Aku biasa mandi pakai air dingin kok, kan orang Bandung..he..he..he”

Aku mengucapkannya dengan pede. Saat tiba di WC, barulah aku sadar kalau Takengon dan Bandung itu meski sama-sama di gunung ternyata berbeda. Air di sini sedingin kulkas! Baru menyentuh ujung jari saja sudah terasa beku, apalagi di badan. Tapi aku coba kuat. Satu gayung pertama jatuh membasahi badan. Brrrrrrrr. Badan pun keluar asap. Meski dingin, setelah selesai mandi badan terasa hangat.

Bersama Ibu Rohani dan putra bungsunya

Keluarga Manullang, keluarga baru kami di Takengon

Pak Manullang beserta isterinya dikaruniai empat orang anak. Anak ketiganya adalah temanku di Jogja. Satu-satunya anak yang tinggal di rumah hanyalah si bungsu yang kala itu baru masuk kelas satu SMA. Di rumah sederhana ini, Pak Manullang memberikan pelayanan dan kesan yang maksimal buat kami. Selama tiga hari ke depan kami diperlakukan bak anak sendiri.

“Hari ini kalian mau ke mana?” Tanya Ibu Rohani di hari kedua kami.

“Ke danau paling bu,” jawabku.

“Bapak sudah siapin motor buat kalian, sama helmnya. Cuma nanti sekalian diisi bensinnya ya.”

Semalam aku lihat ada dua motor di halaman depan. Yang satu motor agak lawas, yang satu lagi bebek matik. Aku kaget saat Bu Rohani memberikan kunci bebek matiknya. Motor itu masih baru, masih bau showroom.

“Duh bu, motornya kebagusan. Kami pakai motor yang lama aja gapapa.”

“Eh jangan. Udah pakai ini aja. Bapak yang suruh,” katanya, lalu menyodorkan kami uang untuk isi bensi dan beli makan.

Aku menolak uang itu. Tapi Ibu Rohani terus memaksa sampai akhirnya aku yang menyerah.

Sesuai dengan rencana, hari itu kami mengitari Danau Lut Tawar yang menjadi ikon Takengon. Danau ini luasnya 5.472 hektar dan kalau dilihat dari jalan raya yang mengitari punggung bukit, airnya terasa begitu tenang. Sekitar jam 1 siang kami menemukan satu tempat yang teduh. Johannes mengantuk. Ia minta kami berhenti sejenak untuk istirahat. Tak sampai semenit merebahkan badan, dia langsung tidur.

Meski sudah siang, udara saat itu terasa segar. Di sekeliling kami hanya ada danau dan bukit-bukit menghijau. Angin semilir berhembus meniup pepohonan. Dedaunan kering berjatuhan. Air di danau beriak-riak kecil, sesekali terlihat satu dua sampah yang mengapung.

Menikmati siang di pinggiran danau
Danau Lut Tawar nan teduh
Padi yang mulai menguning di sawah sepanjang tepian Danau Lut Tawar
Berkeliling Danau Lut Tawar

Menjelang sore, kami kembali ke rumah. Ibu Rohani sudah menyiapkan makanan lezat. Ada ikan goreng, nasi panas, kopi, dan sayur. Aromanya bahkan sudah tercium sedari motor kami belum tiba di depan rumah. Malam itu adalah malam terakhir kami di Takengon. Besok paginya kami akan melanjutkan perjalanan kembali menuju Berastagi via Kutacane. Jalanan ini sengaja kami pilih meski waktu tempuhnya jauh lebih lama daripada jalan utama. Itung-itung mencari pengalaman.

Mungkin tidak banyak yang aku dan Johannes lakukan di Takengon, tapi kota ini menorehkan kesan yang mendalam di hati kami, tentang keluarga Pak Manullang yang amat baik. Seharusnya, Pak Manullang dan Ibu Rohani bisa saja menolak kami atau menolong kami ala kadarnya. Tapi, mereka malah memberikan yang terbaik. Makanan yang terlezat, selimut yang terhangat, dan motor yang terbaru. Kami tidak menyangka bahwa perjalanan kami ke Sumatra akan mempertemukan kami dengan pengalaman seperti ini.

“Kalau kalian tidak pergi ke Sumatra, mana mungkin kita bisa ketemu sekarang kan? Tuhanlah yang mempertemukan kita,” kata Pak Manullang.

Aku jadi ingat pepatah yang berkata: besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya. Dengan apa manusia dibentuk? Ya tentu melalui interaksi dengan manusia lainnya. Sebagai anak yang tumbuh besar di kota, aku selalu ditanamkan pikiran untuk merasa insecure dengan kehadiran orang asing. “Jangan deket-deket sama orang baru” atau “Jangan terlalu baik sama orang, nanti lu dijahatin” adalah nasihat yang sering diberikan kedua orangtuaku. Aku tahu, orang tuaku tidaklah salah, mereka cuma ingin aku terhindar dari hal-hal yang jahat.

Tapi, perjalanan ini membukakan mataku bahwa masih ada manusia-manusia yang baik. Manusia yang di balik kebaikannya tidak ada maksud jahat sama sekali. Pak Manullang dan keluarganya mengajariku bahwa orang asing pun bisa menjadi keluarga, sebab keluarga tak melulu bicara soal hubungan darah, melainkan kemanusiaan itu sendirilah yang seharusnya menjadi dasar utama kita bersaudara.

Kalau saat itu kami tidak dipertemukan dengan keluarga Pak Manullang mungkin saja kami akan terlunta-lunta di Takengon. Tapi, syukur kepada Tuhan karena Ia menolong kami melalui keluarga Pak Manullang.

5 respons untuk ‘Sumatra Overland Journey (7) | Ketika Kami Diselamatkan oleh Keluarga Polisi

  1. Saya salut banget lhoo, kamu masih muda tapi punya pengalaman berharga seperti ini. Hehee..biarin ajaa orang mencemoohna. Mencari pengalaman itu tidak ada istilah buang-buang waktu. Mereka bilang gitu karna iri dan gak punya jiwa traveling kaya kamu wkwkwk

    1. Halo mbak 🙂

      Makasih sudah mampir hehehe.
      Iya, aku sendiri tidak menyangka bisa dapat pengalaman itu mbak. Lagipula waktu keliling Sumatra, aku ndak keluar uang apa-apa, semua dibiayai oleh temanku.

      Dan, apabila lancar, tahun 2019 nanti kami akan coba menjelajah lagi 😀

  2. Luas biasa mas. Pengalaman yg tak terlupakan ya, bisa bertemu dg keluarga pak manullang. Kenal dengan orang asing sebenarnya tidak melulu harus menaruh curiga, tapi sebaliknya, malah bisa membawa kehangatan dan pengalaman baru. Serta pelajaran, bahwa masih banyak manusia baik di luar sana.

  3. Dulu saat saya ke Takengon, saya menginap di rumah adik rekan kerja teman saya, lah kan panjang…ahaha
    Beruntung, ada beberapa remaja di sekitar yang baik dan menjadi pemandu lokal dadakan kami.

    Saat tahun 2017 ke Takengon lagi, baru sadar bahwa perencanaan kotanya belum matang, terutama di saluran air dan sanitasinya, banyak got-got yang terbuka dan sampah plastik yang mengalir perlahan, dan bisa ditebak larinya kemana 😀

    Paling suka foto yang di area sawah itu, aku suka angin di daerah itu, ahaha dingin-dingin kenceng kalau sore,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s