Sumatra Overland Journey (10) | Perjalanan Nestapa Menuju Tanah Surga

Bus antar kota dalam propinsi di Sumatra benar-benar menguras tenaga dan emosi. Tanpa AC, asap rokok yang mengepul, plus supir yang ugal-ugalan melebihi supir bus Sumber Kencono membuat perutku serasa diaduk. Seketika benakku terbang ke Jawa. Coba ada kereta api di sini, atau bis ac deh, gumamku dalam hati. Hari itu, kami harus kembali berdesakan di dalam kendaraan minibus demi sebuah tujuan yang amat kami nantikan, Pulau Samosir, yang dijuluki sebagai “Negeri Indah Kepingan Surga”.

Continue reading “Sumatra Overland Journey (10) | Perjalanan Nestapa Menuju Tanah Surga”

Candi Barong: Ketika Inspirasi Datang dari Loka Bersejarah

Sewaktu masih mengerjakan skripsi dulu, salah satu kegiatan yang paling kusuka adalah mencari inspirasi. Alih-alih mencari inspirasi di layar komputer atau perpustakaan, aku lebih suka mencarinya di dalam keheningan. Maka, pergilah aku mencari tempat-tempat yang sepi untuk sekadar duduk atau membaca buku.

Continue reading “Candi Barong: Ketika Inspirasi Datang dari Loka Bersejarah”

Aku dan Kereta Api

Sewaktu kecil dulu, badanku kurus kering karena susah makan. Badanku hanyalah tulang yang berbalut kulit, nyaris tanpa daging. Untuk menggenjot berat badanku, segala cara dilakukan ibuku untuk membuatku mau makan walaupun hanya sesuap. Mulai dari memaksaku minum susu dan vitamin, hingga mengajakku jalan-jalan.

Continue reading “Aku dan Kereta Api”

Sumatra Overland Journey (9) | Menggapai Puncak Sibayak

Hujan abu menyambut kami di Berastagi. Langit berwarna kelabu. Suasana kota terlihat muram dan orang-orang di jalan hampir semuanya mengenakan masker. Sehari sebelumnya, Gunung Sinabung kembali muntah-muntah. Kali ini muntahannya yang berupa abu halus terjatuh hingga ke tengah kota Berastagi. Perasaan kami seketika was-was, jika besok cuaca tidak membaik, mungkin kami harus mengurungkan niat untuk mendaki ke puncak Sibayak.

Continue reading “Sumatra Overland Journey (9) | Menggapai Puncak Sibayak”

Editor, Bukan Sekadar Duduk di Kantor

Kepalaku pening setelah menatap layar laptop berjam-jam. Bokongku juga seolah sudah menempel sempurna dengan kursi. Dari langit terang hingga gelap, tulisan-tulisan seolah tidak pernah habis untuk diedit. Rutinitas edit-mengedit ini sepintas terlihat mudah karena editor seolah hanya duduk santai dan berurusan dengan untaian kata dan tanda baca, berbeda dengan jurnalis yang harus pergi sana-sini meliput aneka kejadian. Tapi, tanggung jawab seorang editor bukan sekadar ‘polisi’ tulisan yang sensitif terhadap EYD dan tanda baca, ataupun bukan pula ongkang-ongkang kaki di atas kursi. Lebih dari itu, seorang editor bertanggung jawab membantu penulis menghasilkan tulisan yang terbaik.

Continue reading “Editor, Bukan Sekadar Duduk di Kantor”