Teras Cihampelas: Ruang Publik Gratisan untuk Pecinta Jalan Kaki

sampulblog
Penampakan Teras Cihampelas

Bandung, kota yang dijuluki “Kota Kembang” ini sedang tersengal-sengal nafasnya. Jalanannya kian sesak, tanahnya kian menyempit, manusianya semakin banyak, dan udaranya tak lagi sejuk. Beragam upaya digagas untuk mengembalikan pamor Bandung sebagai Kota Kembang, salah satunya adalah dengan menata kembali beberapa fasilitas publik.

Lima tahun yang lalu saat pergi merantau meninggalkan Bandung, tak ada kesan mendalam tentang kota ini selain kenangan masa kecil. Semua keluarga tinggal di Bandung, lahir dan besar hingga SMA juga di sini. Setiap hari menggowes sepeda melewati pasar Ciroyom yang macet dan beraroma busuk. Setiap hari libur mata selalu melihat banyak mobil-mobil ber-nopol B tumpah ruah di jalanan kota. Kalau akhir pekan tiba, melipir ke perbukitan di Bandung utara yang sekarang semakin gundul.

Setelah kehadiran tol Cipularang pada tahun 2004 lalu, tak dipungkiri arus wisatawan Jakarta yang menuju Bandung semakin meningkat. Bandung yang terletak di ketinggian 700 meter di atas permukaan laut tak lagi sulit diakses. Dengan menggunakan mobil, perjalanan Jakarta Bandung yang dulu mencapai 5 jam lewat Puncak, kini bisa dipangkas hanya 2-3 jam saja. Hadirnya Cipularang ternyata mematikan eksistensi kereta api yang dahulu dengan KA Parahyangan dan Argo Gede menjadi transportasi favorit warga kedua kota.

Seiring dengan meningkatnya kunjungan wisatawan lokal, Bandung turut berubah muka. Wilayah yang tadinya hijau mulai disulap menjadi tempat-tempat wisata, rumah tinggal, dan hotel untuk memuaskan dahaga liburan orang-orang Jakarta. Ini memang potensi bisnis yang besar, tetapi hasilnya adalah kota Bandung yang terkikis identitasnya. Sejuknya udara Bandung tergantikan oleh pengap dan polusi. Hijaunya Bandung utara berubah menjadi pohon-pohon beton. Pusat-pusat perbelanjaan baru berlomba-lomba berdiri, seolah hendak ‘memaksa’ warga Bandung untuk menjadi warga metropolitan yang menaruh kebahagiaannya pada mal-mal.

Mengembalikan citra Bandung yang dahulu jelita itu bukan perkara mudah. Butuh uang, pikiran, tenaga, dan juga kerelaan hati. Jika ingin Bandung nyaman tak lagi macet, memangnya ada yang rela bepergian jalan kaki tidak naik mobil pribadinya? Kurasa tidak. Namun, kita patut bersyukur karena ada usaha-usaha yang mulai digagas dan dilaksanakan untuk mewujudkan itu. Sebelumnya, dalam blog ini aku pernah bercerita tentang bagaimana kawasan Jalan Dago disulap menjadi jalan yang romantis. Kali ini, aku mau bercerita tentang kawasan Cihampelas yang selain terkenal karena pusat celana jeans-nya, juga tersohor karena macetnya yang luar biasa.

Untuk mempercantik kawasan Cihampelas, sekaligus memberi kesempatan kepada pejalan kaki untuk menjadi raja, pemerintah kota Bandung menggagas sebuah proyek pedestrian bernama Teras Cihampelas. Konsepnya, dibuat sebuah kawasan pedestrian layang yang membentang sejauh 450 meter di sepanjang jalan Cihampelas. Lebar rata-ratanya adalah 7,6 meter dan tinggi dari jalan 4,6 meter. Proyek ini memakan waktu 100 hari kerja plus satu bulan tambahan untuk penataan akhir.

blog2
Kios-kios souvenir

Setelah diresmikan pada 4 Februari 2017 yang lalu, Teras Cihampelas menarik minat para pelancong, khususnya para pecinta swafoto. Di beberapa sudutnya memang Instagrammable. Ada kios-kios unyu berwarna-warni yang berjejer rapi. Kios-kios ini menjajakan aneka jajanan, mulai dari pakaian, cinderamata, hingga gorengan bala-bala dimakan pakai cengek dan saus kacang.

blog4
Warung makanan, lengkap dengan aneka jenis gorengan tersedia

Fasilitas publik ini dibuat memang untuk menciptakan simbiosis mutualisme antara pejalan kaki dan pedagang kaki lima. Biasanya, kita kerap menjumpai pedagang kaki lima merampas hak pejalan kaki dengan berjualan di trotar. Tapi, di Teras Cihampelas, kedua pihak ini diberikan fasilitas yang sama. Pemerintah menempatkan 192 pedagang kaki lima yang tadinya berjualan di sepanjang jalan Cihampelas. Jadi, sambil berjalan-jalan dan swafoto, pengunjung bisa mampir untuk jajan dan memajukan ekonomi lokal.

Sewaktu aku dan teman-teman tiba di kawasan Teras Cihampelas, tidak banyak orang yang berlalu-lalang di sana, mungkin karena itu adalah H-1 Lebaran jadi orang-orang tengah sibuk menyiapkan diri. Momen yang sepi ini kami manfaatkan sebaik mungkin untuk menyusuri dan menjajal ruang publik gratisan yang dipersembahkan oleh pemerintah kota Bandung kepada warganya.

blog6
Nongkrong gratisan

Di sisi selatan, terdapat bingkai foto Instagram yang disertai caption menarik dan replika Ridwan Kamil. Sudah bisa ditebak ini idenya siapa lagi kalau bukan walikota Bandung yang memang nyentrik di dunia media sosial. Seusai berfoto, kami berjalan santai sambil menghirup udara pagi yang masih lumayan sejuk. Lantai di koridor utara menggunakan keramik berwarna-warni, berbeda dengan lantai di koridor selatan yang menggunakan lapis kayu. Bagus yang mana? Menurutku keduanya sama-sama bagus. Hanya, di beberapa lokasi lantai terlihat kotor karena ulah pengunjung. Ada yang sambil jalan memakan es krim, lalu esnya meleleh dan tumpah ke lantai. Lalu, ada pula yang membuang abu dan puntung rokok sembarangan di lantai. Tidak bisa kita pungkiri kalau terkadang masyarakat sendiri belum sadar untuk mencintai fasilitas publik.

blog1
Bersama Pak Ridwan Kamil
blog5
Area swafoto bersama bapak Kamil

Di sepanjang koridor, selain kios-kios jualan, kita juga bisa duduk-duduk santai. Teras Cihampelas menyediakan kursi-kursi yang dilengkapi meja di beberapa sisi koridor. Selain untuk melepas lelah, kursi ini juga nikmat untuk dipakai mengobrol lama-lama, apalagi jika sambil menyantap camilan dan minum es teh manis, pasti sungguh terasa nikmat.

Teruntuk warga yang memiliki disabilitas, Teras Cihampelas juga menyediakan lift yang bisa diakses untuk naik dari jalan ke atas koridor. Selain itu, jangan takut kalau tiba-tiba merasa kebelet karena ada tiga toilet yang disediakan, dan juga musholla untuk warga yang ingin berdoa.

Ramalan yang mengatakan Bandung heurin ku tangtung (Bandung akan padat penduduk), agaknya memang benar dan sekarang telah menjadi kenyataan. Tapi, heurin ku tangtung itu tidak masalah selama kota Bandung mampu mengelolanya dengan baik. Mengembalikan imaji Bandung masa lampau yang sepi, sejuk, dan penuh kembang rasa-rasanya pekerjaan yang hampir mustahil, atau jika bisa pun akan sulit sekali. Tapi, imaji dan citra masa lalu itu dapat dimodifikasi menjadi Bandung yang modern dan kreatif. Di tengah gempuran kota yang kian padat, kiranya boleh muncul fasilitas-fasilitas publik yang bisa dinikmati oleh semua kalangan tanpa terkecuali.

Namun, terlebih penting dari semua, sekiranya manusia-manusia di Bandung bisa sadar dan menjaga apa yang sudah dipersembahkan kepada mereka, karena gratis bukan berarti boleh semena-mena.

Iklan

6 thoughts on “Teras Cihampelas: Ruang Publik Gratisan untuk Pecinta Jalan Kaki

  1. Mnrtku bandung memang kota yg kreatif. Selain karena walikotanya, warganya sendiri juga kreatif.
    Bandung sedang berusaha kembali nyaman dengan taman2nya yg sangat banyak.
    Dprd ke tempat wisata yg macet seperti lembang, aku lebih suka menikmati bandung di taman2 kotanya. Bisa mengamati juga bagaimana org bandung berlibur hehe.

  2. I see you don’t monetize your website, don’t waste your
    traffic, you can earn extra cash every month because you’ve got hi quality content.
    If you want to know how to make extra money,
    search for: Boorfe’s tips best adsense alternative

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s