Mudik 2014: Menempuh 880 Kilometer, 32 jam Perjalanan Naik Sepeda Motor

Bersama Si Maxy di persawahan daerah Sidareja, Cilacap Barat, Jawa Tengah

Momen lebaran selalu menorehkan sensasi tersendiri. Terlepas dari harga bahan pokok yang merangkak naik, seminggu jelang lebaran layar kaca televisi sibuk menampilkan kemacetan di jalan-jalan antar-provinsi yang mulai mengular. Bagi yang merayakannya, lebaran adalah momen yang paling ditunggu-tunggu untuk bertemu dengan keluarga tercinta.

Tiga tahun lalu, sewaktu aku masih duduk di bangku kuliah semester empat, terlintas ide untuk mencoba mudik ke Bandung dengan cara yang berbeda. Menjelang lebaran, seluruh tiket kereta api ludes tak bersisa. Pilihannya hanya tinggal tiga: pesawat, bus, atau motor. Mudik dengan pesawat jelas mustahil karena terlalu mahal. Bus juga bukan pilhan yang tepat karena tentu perjalanan akan macet parah dan tiketnya juga sudah ludes. Pilihan yang agak membahayakan tapi paling ramah di kantong adalah pilihan terakhir, naik motor.

Lima hari sebelum lebaran, kantor tempatku bekerja sambilan baru memberi izin kepada stafnya untuk libur. Satu minggu sebelumnya, “Si Maxy” alias motor bebek Jupiter MX kelahiran tahun 2009 masuk bengkel untuk menjaga performanya tetap baik. Si motor bebek kesayangan ini akan melakukan perjalan akbar terjauhnya pertama. Membelah tiga provinsi di Jawa bersama jutaan pemudik lainnya.

Aku sengaja tidak memberitahukan keluarga di rumah tentang rencana mudik naik motor ini. Alasannya, jika mereka tahu, sudah pasti mereka tidak akan mengizinkan dan memintaku untuk tidak usah mudik saja. Tapi, daripada satu minggu hanya berdiam diri di kost, jadi rencana nekat ini mau tidak mau harus terlaksana.

Jalur yang biasanya ditempuh oleh kendaraan dari Yogya menuju Bandung adalah via selatan yang kontur jalanannya berkelok-kelok dan menanjak. Jalur ini sudah terlalu sering kulewati jika naik bus, jadi aku ingin mencoba sesuatu yang baru. Jalur yang kupilih adalah setengah-setengah. Setengah lewat selatan, setengah lagi lewat utara. Dari Yogya aku mengambil jalur selatan hingga Wangon, kemudian melewati Ajibarang bertolak lurus hingga daerah Brebes, melintasi Pantura sampai ke Cirebon. Dari Kota Udang ini perjalanan diteruskan ke selatan melewati Majalengka hingga ke Bandung. Jika ditotal menggunakan Google Maps, jarak total yang harus ditempuh adalah 471 Kilometer.

Rute perjalanan Jogja – Bandung

23 Juli 2014, perjalanan nekat bersama Si Maxy dimulai. Pukul 15:30, kami bertolak meninggalkan kota Yogyakarta ke arah barat. Langit sore bersinar cerah, tak tampak ada tanda-tanda akan turun hujan. Jadi, jas hujan yang sedianya kuletakkan di luar akhirnya kumasukkan ke dalam ransel saja.

Sepanjang jalan dari Yogya menuju Kutoarjo, jalanan ramai lancar. Tidak ada penumpukan kendaraan dan motor bisa dipacu pada kecepatan konstan 80 km/jam. Jika orang-orang mudik dari arah barat (Jakarta) ke timur, aku malah sebaliknya. Arus lalu lintas ke arah barat relatif lengang, sedangkan ke arah timur cukup padat dan didominasi oleh kendaraan pribadi.

Memasuki daerah Wates, jalanan terbagi menjadi dua cabang. Apabila mau lebih cepat, kita bisa melewati jalan Daendels yang lurus tanpa kelokan. Tapi, waktu itu jam sudah menujukkan pukul 16:30 dan melewati jalan Daendels menggunakan sepeda motor bukan pilihan yang tepat. Sekalipun lurus, jalanan di sana penuh lubang dan gelap. Jadi, supaya aman, aku mengambil jalan utama menuju Purworejo.

Dua jam berlalu, bokong mulai terasa panas dan mulut mulai menguap. Walaupun tubuh masih muda, tapi tetap saja rasa kantuk datang menyerang. Di sebuah SPBU, aku menepikan motor kemudian membeli sebungkus nasi kucing di lapak kecil milik seorang ibu. Melihat ransel besarku dan motorku yang ber-nopol “D”, ibu itu jadi penasaran dan bertanya dalam bahasa Jawa halus. “Mudik ke mana mas?” Dari pertanyaan itu, terciptalah obrolan panjang selama hampir satu jam.

Waktu sudah menujukkan pukul 17:40. Ratusan kilometer di depan masih membentang. Langit masih tampak bersih, jauh dari awan-awan pekat yang menggumpal. Kupikir perjalanan malam itu akan aman dari hujan, jadi jas hujan tetap kusimpan dalam ransel. Di etape kedua ini, suasana mudik mulai terasa. Bus-bus besar dari arah Jakarta mulai berdatangan, melahap jalanan yang sempit dan hanya menyisakan sedikit jalur untuk sepeda motor. Ratusan pengendara motor dengan rupa-rupa barang bawaannya juga mulai menampakkan diri. Sesuai dengan rencanaku, ada tiga pemberhentian lainnya yang akan kulakukan. Jika beruntung, aku akan mengobrol dengan beberapa pemudik supaya bisa mendapatkan kesan yang maksimal.

Pukul 19:00 perjalananku tiba di daerah Gombong. Lajur ke arah timur macet parah. Sepeda motor memakan jalur lawan, sehingga berkendara harus ekstra hati-hati. Di Gombong aku berhenti untuk kedua kalinya karena badan pegal dan perut lapar. Karena kantong yang tipis, aku memilih berhenti di sebuah gereja kecil yang sebelumnya pernah kukunjungi. Bp. Satiman, menyambut hangat kedatanganku. Segera, semangkuk soto dan susu kedelai dihidangkan untuk mengisi perut. Rencana awalnya sih singgah di Gombong hanya 30 menit, tapi sulit untuk beranjak karena diajak mengobrol ngalor-ngidul, bahkan sampai diminta menginap saja. Dengan halus aku menolak hingga akhirnya bisa kembali melanjutkan perjalanan.

Etape ketiga. Perjalanan lebih menantang. Jalanan dari Gombong menuju Ajibarang sudah padat merayap. Berkendara di lintas ini harus ekstra hati-hati. Penerangan jalan terbatas, sementara itu jalanan bergelombang dan ada banyak lubang yang tak kasat mata. Selepas Wangon, jalanan lebih lengang. Tapi, tanpa disangka hujan deras pun turun. Karena jas hujan sebelumnya kuletakkan di dalam ransel, jadi butuh waktu agak lama untuk berhenti dan membongkarnya. Alhasil, badan sudah keburu basah duluan.

Pukul 21:00, memasuki daerah Ajibarang, sebuah sepeda motor yang persis di depanku tergelincir karena jalanan licin. Beruntung, karena si pengemudi tidak memacu motornya dengan kecepatan tinggi sehingga dampak kecelakaan itu tidak terlalu parah. Ditemani hujan deras yang mengguyur, perjalanan tetap dilanjutkan. Jalanan berkelok, licin, dan gelap. Supaya tetap konsentrasi mengemudi, aku mulai menyanyikan macam-macam nyanyian. Kadang, aku juga menyanyi sambil berteriak-teriak supaya tidak mengantuk.

Pukul 22:45, hujan sudah berhenti dan perjalanan telah tiba di daerah Songgom, Brebes. Kali ini, ratusan, mungkin juga ribuan pemudik sepeda motor mulai menampakkan diri. Sepertinya mereka berangkat dari Jakarta di sekitar sore hari, sehingga menjelang tengah malam mereka telah tiba di Brebes. Di sebuah SPBU, aku menepikan sepeda motor dan mengganti pakaianku yang basah. Di depan sebuah mushalla, aku merebahkan badan bersama puluhan pemudik lainnya.

Sambil beristirahat, aku berbincang dengan beberapa pemudik. Seorang bapak, dengan istri dan dua anaknya hendak mudik ke Cilacap. Empat orang itu duduk berjejal di sebuah motor Honda Beat yang mungil. Tak hanya badan, mereka juga membawa dua kardus. Di bagian belakang motor mereka terdapat besi tambahan untuk meletakkan satu kardus. Sementara, satu kardus lainnya ditaruh di depan sebagai tumpuan kaki anaknya yang pertama duduk.

Lain bapak itu, ada juga pemudik lain yang hendak pulang ke Yogya. Mereka menaiki sepeda motor matic pula. Tatkala anak-anaknya merengek-rengek, sang ayah tertidur pulas di depan mushalla. “Adek, jangan ganggu ayah. Biar istirahat,” ucap si ibu. Perjalanan mereka masih panjang. Dua keluarga yang kutemui hanyalah secuil dari jutaan keluarga lainnya yang mengadu nyawa dengan mudik bersepeda motor. Mudik dengan jalan seperti ini sebenarnya bukanlah pilihan, tetapi apa daya jika dompet terbatas tapi rindu akan rumah sudah memuncak. Mereka sadar akan bahaya naik motor, apalagi di berbagai media selalu diberitakan kecelakaan motor yang terjadi saat mudik.

Empat puluh menit beristirahat, perjalanan di etape ke-empat kulanjutkan. Kali ini, perjalanan cukup mendebarkan. Lajur menuju arah Cirebon ditutup total untuk memberi ruang kepada kendaraan yang ke arah timur. Karena menggunakan motor, aku bisa tetap masuk dan melewati jalur itu. Tapi, bus-bus besar menganggap motor itu seperti nyamuk. Mereka tidak peduli, jalur tetap dimakan habis dan sepeda motor harus menepi hingga ke pinggiran sawah.

Berkendara di jalur ini adalah pengalaman pertama. Baterai handphone sudah sekarat, sementara sinyal juga tidak bagus. Tidak ada papan penunjuk arah yang jelas. Satu-satunya yang bisa diandalkan hanyalah GPS manual alias Gunakan Penduduk Setempat. Setelah tanya sana-sini dan mengandalkan insting, akhirnya aku bisa keluar di jalur utama Pantura pada pukul 00:45.

Badan mulai menuntut untuk istirahat. Sepanjang jalur pantura, motor dipacu hingga 100 km/jam, tapi pandangan mulai kabur karena rasa kantuk tak tertahankan. Akhirnya, pukul 01:30, aku menyerah dan berhenti untuk ke-empat kalinya di SPBU di daerah Losari. Sambil memeluk ransel, aku tertidur hingga pukul 03:00. Lumayan, walaupun hanya sekitar satu jam, tidur itu sangat membantu. Setelah mencuci muka, perjalanan kembali dilanjutkan. Tersisa kurang dari 200 kilometer untuk tiba di Bandung. Kondisi jalan Pantura yang lurus juga bisa dimanfaatkan dengan memacu motor hingga 110 km/jam.

Si Maxy saat beristirahat di SPBU daerah Losari, perbatasan antara Brebes dan Cirebon

Tidak ada hambatan yang berarti mulai dari Losari – Palimanan – Majalengka hingga Sumedang. Di kawasan Cadas Pangeran, hujan kembali turun namun tidak terlalu deras. Jika berhenti dan memakai jas hujan lagi itu ribet. Jadi, motor tetap kupacu. Basah sedikit tidak masalah, toh, nanti terkena anginpun akan kering lagi.

Di daerah Sumedang, badan mulai menunjukkan sinyal lemah. Tatapan mulai kurang fokus dan mulut menguap tiada henti. Satu-satunya yang muncul di pikiran adalah ingin cepat tiba di rumah. Dengan rahmat Tuhan yang maha kuasa, akhirnya di pukul 08:30 aku tiba di rumah. Total perjalanan yang ditempuh sejak pukul 15:30 adalah 17 jam dengan rincian 4 kali berhenti istirahat, dan tidur pulas 1 jam. Untuk jarak sejauh 471 kilometer, Si Maxy meminum 9 liter bensin premium dengan total harga Rp 6.500 x 9 = 58.500,-. Murah bukan? Murah sekali! Tapi, perjuangannya harus ekstra.

***

Setelah satu minggu di Bandung, perjalanan kembali ke Jogja kembali ditempuh. Kali ini menggunakan 100% jalur selatan, dari Bandung via Tasik-Banjar hingga Yogyakarta. Jika perjalanan pergi memakan waktu 17 jam, perjalanan kembali ke Yogya lebih irit dua jam. Berangkat dari Bandung pukul 18:30, tiba di Yogya pukul 09:30.

Perjalanan kembali ke Yogya jauh lebih menantang ketimbang perjalanan ke Bandung. Pasalnya, sepanjang jalan dari Tasik hingga Yogya, atau selama 12 jam turun hujan tanpa berhenti. Sekalipun jas hujan sudah dilapis dua, tapi air tetap tembus. Sepanjang malam itu badan menggigil, mungkin juga kulitku jadi mengkerut.

Jalanan jalur selatan yang sempit membuat arus kendaraan tersendat di dua arah. Sekitar pukul 01:30 dini hari di daerah Karangpucung, sebuah bus Murni Jaya menyerobot jalur tepat di tikungan. Sontak, aku mengalihkan kemudi motor ke kiri dan jatuh terjerembab ke dalam tanah berlumpur. Beruntung, tidak ada luka ataupun kerusakan yang dialami. Perjalanan pun dilanjutkan.

Lintas Tasikmalaya – Malangbong yang padat merayap

Ketika tiba di daerah Jatilawang sekitar pukul 03:30, tubuh ini rasanya sudah ingin menyerah. Tapi, aku bertemu dengan seorang bapak yang juga mengendarai motor seorang diri. Bapak ini baru hendak pulang ke kampung halamannya di Pacitan. Mendengar tujuannya, aku terbelalak. “Pacitan, pak? Ini masih setengah jalan loh pak.” Bapak itu terkekeh. Dia bertolak dari Jakarta pukul 14:00 kemarin, dan setelah 14 jam perjalanan dia baru tiba di Jatilawang. Untuk tiba di Pacitan, dia mungkin masih membutuhkan lebih dari 10 jam lainnya.

Bapak itu membuatku terhenyak. Badannya sudah tidak lagi muda, tapi semangatnya masih membara. Selepas Jatilawang hingga Gombong, kami berkendara bersama, saling mengekor. Memasuki daerah Kebumen, si bapak memilih jalur lewat jalan Daendels supaya lebih cepat sampai di Pacitan, sedangkan aku tetap memilih menggunakan jalur utama.

Pukul 09:30, dengan kondisi basah kuyup akhirnya aku tiba di depan kost di Yogyakarta. Hari itu, badan langsung jatuh meriang. Tapi, aku bangga dan mengucap syukur. Akhirnya, rasa penasaranku tentang mudik itu terpuaskan. Sekarang, aku mengerti apa yang menjadi sensasi mudik naik motor. Jutaan orang rela mengabaikan keselamatan, demi sebuah hal: kebersamaan dengan keluarga.

Secara total, untuk jarak pulang pergi dari Jogja ke Bandung, aku telah menempuh jarak 880 kilometer ( 471 km perjalanan pergi, 409 km perjalanan pulang), dan 32 jam (17 jam pergi, 15 jam pulang).

Pengalaman ratusan kilometer di atas jalan raya membuatku menyadari bahwa pada akhirnya keluarga adalah tempat pulang yang terbaik.

***

Sekarang, tiga tahun telah berlalu dan aku tak lagi berada di Jogja. Jika dulu mudik kulakoni dengan motoran, sekarang aku terduduk di atas kursi kantor. Kelak, aku akan melakukan mudik motoran sekali lagi, bersama anak dan isteri (jika mereka mau).

 

 

 

 

Iklan

15 thoughts on “Mudik 2014: Menempuh 880 Kilometer, 32 jam Perjalanan Naik Sepeda Motor

  1. Saya juga dulu sering bolak balik jogja-bandung, tapi bukan dalam rangka mudik hehe

    Lewat jalur selatan seger banget, asal nggak macet .. kalau macet bisa coba alternatif lewat deandels 😁

  2. Waaah meski literaly ga ikut merayakan lebaran, tapi dr kecil sudah merasakan yg namanya mudik.
    Kalo naik motor, baru tahun lalu dr semarang-wonogiri. Untungnya lancar dan gak ada kendala. Pdhal itu pengalaman pertama riding motor jarak jauh🙈

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s