Sumatra Overland Journey (3) | Jalan Panjang Menuju Bumi Syariat

Etape ketiga. Kami berpindah menuju provinsi paling barat di Nusantara. Aceh masih menjadi misteri bagi kami yang belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di tanahnya. Tapi, misteri itulah yang menjadi magnet, menarik kami untuk hadir dan merasakan langsung nuansa kehidupan di bawah naungan hukum syariat.

Senin, 29 Juni 2015. Perjalanan kami memasuki etape ketiga. Setelah sebelumnya membenamkan diri dalam belantara abadi di Bukit Lawang, destinasi kami selanjutnya adalah menjajaki Bumi Serambi Mekah.

Tatkala matahari baru menampakkan sinarnya, ransel-ransel kami telah siap untuk dipanggul. Hari itu, kami akan melakukan perjalanan nan panjang menuju Sabang. Dari Bukit Lawang, kami harus segera berangkat menuju Binjai, mengejar bus malam tujuan Banda Aceh. Menurut buku Lonely Planet yang kami pegang, disebutkan bahwa bus-bus itu akan melewati kota Binjai sebelum pukul 19:00. Sebenarnya, jika ingin perjalanan lebih pasti, kami bisa pergi dulu ke Medan, kemudian menaiki bus dari sana. Tapi, nama Medan telah kami coret dari daftar perjalanan kami. Sebisa mungkin, apapun keadaannya, kami tidak mau kembali ke Medan.

Ide mengunjungi Aceh sebenarnya tidak datang tiba-tiba. Sewaktu masih di Jogja, aku sempat bertukar pesan dengan Johannes. “How about if we try to spend Ramadhan in Aceh?” Pertanyaanku itu bersambut manis. Dengan segera Johannes mengiyakan. “Why not ?!” Pada mulanya sempat ada perasaan takut. Baik aku dan Johannes, kami tak memiliki imaji apapun tentang Aceh selain dari Tsunami 2004, GAM (Gerakan Aceh Merdeka), dan Syariat Islam.

Dari ketiga hal itu, salah satu yang paling menarik bagi kami adalah tentang Syariat itu sendiri. Kebetulan pula waktu kami menjelajah itu bertepatan dengan bulan Ramadhan. Kami penasaran dan ingin tahu bagaimana semaraknya suasana bulan suci di Bumi Serambi Mekah.

Dengan semangat yang tinggi, kami berjalan kaki meninggalkan Bukit Lawang. Perjalanan menuju Banda Aceh dimulai dengan menumpang mobil elf renta menuju kota Binjai. Di terminal yang amat lowong ini, seraya menunggu mobil datang, kami mengamati keadaan sekeliling.

Kami duduk di sebuah bangunan terbuka di tengah lapangan. Hari itu sudah bulan puasa, tapi sepertinya tidak ada perbedaan dengan hari biasa. Asap-asap rokok tetap mengambur ke udara. Bapak-bapak duduk di kursi panjang, sesekali tawa membuncah dan meja digebrak. “Woy! Hahahaha!” Mereka bermain kartu remi. Wajah-wajah sumringah para bapak itu seolah menunjukkan bahwa mereka amat bahagia. Di tengah suasana terminal yang sepi, gelak tawa mereka menjadi hiburan tersendiri.

Terminal Bukit Lawang. Kosong, sunyi, dan sepi.

Sekitar setengah jam menanti, mobil elf oranye akhirnya tiba di terminal. Mesin mobil dimatikan dan sang sopir segera menghampiri kami. “Berangkatnya setengah jam lagi!” Kecewa. Kami pikir mobil akan berangkat saat itu juga, tapi sopir yang penuh keringat itu sepertinya ingin beristirahat sejenak.

Setelah ransel dimasukkan ke bagian belakang mobil, aku iseng bertanya kepada pak sopir. “Bang, sampe Binjai berapa duit?”. “50 ribu,” tukasnya. Aku coba menawar menggunakan cara memelas dan memaksa. “Mana ada bang, kemarin aku dari Pinang Baris ke sini aja cuma 40 kok!” Sebenarnya aku tidak tahu persis harga yang resmi dipatok untuk perjalanan ke Binjai. Hanya, untuk menyelamatkan kantong, kami harus mendapatkan harga semurah mungkin. Jadi, tatkala hendak menaiki kendaraan, kami harus menggunakan dua jurus: ngotot dan memelas.

Jurus itu membuahkan hasil, setidaknya untuk hari itu. Perjalanan dari Bukit Lawang ke Binjai hanya dipatok tariff Rp 25.000,- per orang. Hmm, kalau begitu, di perjalanan dari Medan ke Bukit Lawang kami ditipu. Bagaimana caranya, perjalanan pergi dihargai Rp 40.000,- sedangkan perjalanan pulangnya hanya Rp 25.000,-? Sudahlah, kami tak mau terlalu berpusing. Yang penting hari itu harga murah kami dapatkan.

Menuju kota Binjai

Deru mesin diesel mobil elf membuat telinga kami berasa budheg. Mobil terhempas ke kanan dan kiri. Sopir dengan lihai melakukan manuver supaya mobil ini tidak masuk ke dalam lubang-lubang yang menganga di sepanjang jalanan. Belantara telah berganti menjadi pemukiman penduduk, kemudian berganti lagi menjadi ladang sawit yang menghampar amat luas.

Sumatra yang dulu amat lebat dan dijuluki paru-paru dunia, kini mulai kritis. Kupikir itu hanya isapan jempol belaka. Tapi, tatkala mataku memandangi hamparan sawit, aku menyadari bahwa sesungguhnya deforestasi itu nyata. Penebangan hutan memang buruk untuk kebaikan iklim, tapi apalah daya isu tentang iklim jika ia harus berhadapan dengan ekonomi? Tentunya, di zaman sekarang ini, uang punya suara yang lebih kuat.

Kritisnya belantara Sumatra ini didukung dengan data yang dirilis Kementrian Kehutanan. Dalam kurun waktu 1990-2010, Sumatra telah kehilangan 7,5 juta hektar hutannya. Dari total keseluruhan pulau, hanya 8% yang masih dikategorikan sebagai hutan perawan, salah satunya adalah di Taman Nasional Gunung Leuser, yang di dalamnya termasuk Bukit Lawang.

Salah satu faktor penyebat direnggutnya keperawanan belantara Sumatra adalah karena si sawit. Kelapa sawit adalah komoditas yang cukup seksi. Statistik mengatakan, bahwa pada 2016, ekspor sawit Indonesia mencapai 12% dari total produksi ekspor nasional. Dan, dari angka itu lahir nilai uang sebesar Rp 231, 4 triliun yang mengalir dari transaksi sawit-menyawit. Selain uang, sawit pun menyerap tenaga kerja hingga 5,6 juta orang. (Tempo Online, 2 Februari 2017; 18:42)

Jika bumi adalah pribadi, kupikir hutan adalah rambutnya. Aku membayangkan bagaimana perasaan bumi ketika hutan-hutannya yang lebat itu dibakar. Hangus tak bersisa, kemudian, tak lama, dari tanah yang hangus itu ditanami oleh pohon-pohon sawit. Ibarat digunduli paksa, kemudian diberikan rambut baru yang keras. Ah, bumi, maafkan kami manusia yang amat jahat kepadamu.

Sementara Johannes tertidur, sawit-sawit itu membuatku berpikir. Satu sisi aku mengutuk sawit sebagai pemerkosa hutan Sumatra, tapi tanpa kusadari, aku pun punya andil dalam pengrusakan itu. Bagaimana tidak, tiap hari aku mengonsumsi makanan yang digoreng dengan miyak sawit. Bukankah aku juga adalah orang yang amat bergantung dengan sawit kalau begitu? Perenungan itu membuat meringis. “Iya juga ya,” pikirku.

Brakk! Mobil kami tiba-tiba berhenti mendadak. Rupa-rupanya, ada seekor kucing yang menyebrang. Sopir berusaha menghindari kucing itu, kemudian dia turun melihat apakah kucing itu tewas terlindas atau selamat. Tapi, dia tak menemukan apapun di kolong mobil.

Tak sampai lima menit berlalu, di tengah mobil yang sedang berpacu terdengar suara “miaauuww!” Aku mengernyitkan dahi. “Jo, do you hear it, miauw?” Johannes mengangguk dan memintaku untuk memberitahu si sopir. “Pak, kayaknya ada kucing nyangkut di kolong,” tuturku. Tapi, bapak sopir bergeming. Seketika dia menjadi ganas. “Biar sajalah, tanggung ini, dikit lagi sampai Binjai.”

Seketika aku merasa ngeri. Aku tak sanggup membayangkan apa yang terjadi pada si kucing di kolong mobil kami. Sepanjang satu jam perjalanan yang tersisa, kami terus mendengar suara miauw..miauw.. Suara kucing malang itu beradu dengan deru diesel yang amat keras. “Duh, aduh, meng..meng” gumamku dalam hati.

Persinggahan di Binjai

Satu-satunya yang aku tahu tentang Binjai adalah karena buah durian yang sering disebut dengan durian Binjai. Karena mobil yang kami tumpangi tujuannya adalah ke Medan, maka kami pun diturunkan di pinggir jalan.

Ketika kami turun dan memanggul ransel, puluhan tukang ojek yang sok kenal mengerubungi kami. Ada yang menawarkan jasa ojek, ada yang menawarkan kamar hotel, ada pula yang sok tahu menebak-nebak. “Where you going mister? Aceh, Medan? Come with me.” Kami tak yakin niat mereka sepenuhnya baik. Kami terus berjalan, tak menggubris satu pun dari mereka.  Kemudian, beberapa dari mereka berlalu, tapi ada pula yang mengumpat. “Sombong kali, kau!”

Acuh tak acuh, kami terus berjalan menuju terminal. Hari itu jam baru menunjukkan pukul 14:00. Ada banyak kios-kios bis yang berjejeran di pelataran terminal. Dari kios-kios itu, para agen-agen bus berteriak lantang. “Ke mana bang? Where you go, mister?” Langkah kami tertuju kepada sebuah kios yang terletak di paling pojok terminal. CV Putra Pelangi Perkasa, tertulis di bagian atas kios itu. Agen bus yang menjaga kios hari itu adalah seorang perempuan. Dengan nada ketus dia bertanya, “Ke Aceh? Kapan? Hari ini sisa dua kursi.” Untung kami datang dengan tepat, karena ternyata kursi yang tersisa hanya cukup untuk kami berdua.

Harga yang dibandrol untuk perjalanan ke Banda Aceh adalah Rp 200.000,-. “Gak bisa kurang, bu?” tanyaku. Dia menggeleng, mengatakan bahwa harga itu adalah harga yang amat ‘spesial’. Seharusnya, dia bisa saja menaikkan harga lebih tinggi. Ya sudah, kami tidak punya pilihan lain. Setelah membayar total biaya tiket sebesar Rp 400.000,-, kami masih memiliki waktu empat jam sampai bus tiba di Binjai.

Hari itu, ponsel butut Johannes rusak. Jadi, sembari menunggu bus, kami masuk ke sebuah mal yang berlokasi persis di seberang terminal. “Pokoknya jam setengah enam balik ke sini ya!” ucap si ibu agen bus sebelum kami pergi.

Perasaan kami cukup lega. Aceh tinggal selangkah lagi di depan. Tak apalah kami membayar cukup mahal, yang penting bisa tiba di Banda Aceh dengan selamat.

Dengan badan kumal dan memanggul ransel berat, kami masuk ke dalam mal. Pengunjung yang tadinya sibuk dengan urusannya, sesekali menorehkan pandangannya ke arah kami. Mereka menatap gerak gerik kami dari ujung kepala hingga kaki. Mungkin mereka merasa aneh melihat satu bule berjanggut berjalan bersama satu lelaki ceking, sambil memanggul ransel raksasa pula.

Waktu itu kami ingin masuk ke dalam swalayan untuk sekadar melihat-lihat. Saat kami hendak menitipkan tas, si mbak malah menolak. “Bawa saja bang.” Sial, pikirku. Ransel seberat 15 kilogram itu membuat punggungku tegang. Ingin rasanya kulepaskan saja sejenak.

Kami seperti orang salah kostum. Mau petualangan kok masuk ke supermarket? Satpam, pengunjung, semua memandang heran ke arah kami. Tiba-tiba ada seorang ibu. Dia berjalan ke arah kami dan tersenyum lebar. Sepertinya aku bisa menebak apa maksud ibu itu. Dia meminta berfoto dengan Johannes.

Johannes hanya bisa pasrah. Sebagai bule yang ramah, Indonesia telah membuatnya menjadi selebriti mendadak. Berjalan ke manapun, selalu saja ada orang yang terpesona pada tubuh bulenya. “Why, they love to take picture with bule? For what?” Sambil terkekeh, aku menjawab pertanyaan Johannes.  “Don’t know, maybe they love you?”

Bicara soal perilaku orang Indonesia kepada bule memang unik. Bagi Johannes, orang Indonesia itu sangat teramat ramah. Bahkan, saking ramahnya, mereka jadi usil dan kepo, alias sok ingin tahu. Dengan senyum merekah, ibu tadi bertanya. Siapa namanya? Ngapain di Indonesia? Berapa lama? Kamu suka sama perempuan Indonesia? Pertanyaan-pertanyaan itu dilontarkan dengan penuh semangat. Bagi Johannes, pertanyaan itu aneh untuk ditanyakan, apalagi pertanyaan terakhir. Johannes hanya tertawa kecil sambil menggeleng-geleng kepala tiap pertanyaan itu diberikan.

Sesi foto itu ternyata berlanjut. Ketika kami tiba di kios ponsel, si mbak penjaganya terpincut dengan wajah Johannes. Alih-alih berkonsentrasi melayani konsumen, dia malah senyum-senyum sendiri. Hari itu Johannes membeli sebuah ponsel ala kadarnya seharga Rp 250.000,- saja. Ponsel Nokia itu dibelinya karena ponsel lamanya wafat tak bangkit lagi.

Johannes adalah bule yang unik. Dia tidak pernah terpikirkan untuk membeli sebuah smartphone. Baginya, bisa menelpon dan sms saja sudah cukup. Titik. Media sosial pun dia hanya memiliki Facebook. Diminta membuat Whatsapp pun dia ogah. Memang, bule yang tidak update.

Menuju bumi syariat

Kami kembali di terminal tepat pukul 17:30. Si ibu agen bus itu sibuk menelpon. Suaranya keras dan terdengar lugas. Sepanjang hari-hariku di Sumatra, aku terbiasa mendengar orang bicara keras-keras di tempat umum. Sangat kontras dengan di Jogja di mana seseorang berbicara dengan suara pelan.

Setelah menutup telponnya. Ibu itu memanggil kami, dia meminta kami naik bentor di pojok terminal untuk diantar ke pinggir jalan raya. “Busnya gak masuk terminal, jadi kalian naik saja dari pinggir jalan. Nah, itu bentor, kalian diantar naik itu.” Ongkos bentor itu sudah ditanggung oleh pihak agen bus. Hari itu, penumpang dari terminal hanya kami berdua, jadi sopir bus merasa enggan untuk singgah ke dalam terminal.

Di pinggir jalan raya kami melihat banyak bus-bus besar berseliweran. Hampir semuanya bertujuan ke Aceh. Bus-bus Sumatra ini unik menurutku. Di kaca depannya terpasang tralis besi yang kekar. Belakangan aku tahu bahwa tralis itu berfungsi untuk melindungi kaca dari lemparan batu. Orang iseng macam apa yang suka melempar batu ke bus?

Aku jadi ingat ketika dahulu sering menaiki kereta api dari Bandung ke Jombang. Biasanya, selepas stasiun Cipeundeuy, selalu saja ada orang kurang kerjaan yang melempar batu ke arah gerbong. Pernah suatu ketika, sebuah batu bata merah yang dilempar memecahkan kaca. Batu itu masuk ke dalam gerbong. Untunya, batu itu mendarat di bordes kereta sehingga tidak ada orang yang terluka.

Tralis besi dipasang sebagai pelindung kaca bus dari lemparan batu.

Perilaku kurang kerjaan itu nampaknya masih lestari. Entah apa yang memotivasi pelaku melakukan itu. Tapi, yang jelas, perilaku itu sama sekali tidak terpuji.

Bus Putra Pelangi yang kami tumpangi tiba. Bus yang gagah itu berwarna putih. Lampu di dalam kabinnya berwarna-warni, seperti warna pelangi, membuat bus itu lebih mirip seperti akuarium berjalan. Kami duduk di kursi bagian belakang. Ah, betapa nyamannya kursi bus ini. Selama beberapa hari kami harus duduk di mobil tua renta dengan kursi yang ala kadarnya. Ketika menemukan jok kursi yang empuk, hati kami pun turut luluh.

Akuarium berjalan.
Menuju Banda Aceh.

Pukul 18:15, bus kami melaju meninggalkan Binjai menuju Banda Aceh. Kami tak tahu seperti apa rupa Bumi Serambi Mekah itu, namun hati kami amat yakin bahwa petualangan yang seru menanti kami di sana.

 

 

 

Iklan

2 thoughts on “Sumatra Overland Journey (3) | Jalan Panjang Menuju Bumi Syariat

  1. Btw setau saya, sawit bukan hanya buat minyak goreng mas. Tapi juga bahan baku biodiesel yg semakin laku. Soalnya bahan bakar fosil kian habis makanya alternatifnya pake sawit.
    Pun lihat saja sekarang harga minyak dunia malah anjlok, ini sbg tanda bahwa sebagian besar sudah memikirkan energi alternatif, seperti sawit, jagung, tebu dll.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s