Ketika Mereka (Harus) Hamil Sebelum Waktunya

hamil

Wajah-wajah mereka tampak sayu. Senyum getir tersungging di bibir mereka. Aku tak paham bagaimana sesungguhnya perasaan mereka. Kontras dengan tubuh mereka yang kecil, perut mereka kian membesar. Di usia yang masih belia, mereka telah kehilangan sukacita masa remaja dan berganti status menjadi seorang ibu.

Hari itu, Sabtu 20 Mei 2017. Jika biasanya aku melewatkan akhir pekan dengan pergi mencari ketenangan alam, hari itu aku mencoba sebuah perjalanan baru. Bersama rekan-rekan remaja dari gereja, kami mengunjungi sebuah rumah singgah yang terletak di Bandung utara. Sebenarnya aku bukanlah peserta resmi kunjungan ini karena pada awalnya tidak ada niatan sama sekali untuk pulang ke Bandung di hari itu.

Ide mengunjungi rumah singgah datang dari panitia acara. Acara yang sederhana ini mereka susun dengan apik walau pada hari pelaksanaannya harus molor karena jalanan Bandung yang amat macet hari itu.

Tatkala kami tiba di sana, aroma bedak bayi tersebar amat harum di seluruh penjuru ruangan, sementara itu ada sekitar 14 orang perempuan yang duduk berjejer. Usia mereka belum genap dua dekade, namun dalam perut mereka telah terkandung generasi-generasi baru yang siap tiba di dunia ini. Mereka datang dari berbagai lokasi di Indonesia. Paling jauh berasal dari Sulawesi. Sekalipun daerah asal mereka berbeda, namun mereka berkumpul di tempat ini karena satu alasan yang sama, kehamilan di luar nikah.

Perempuan-perempuan belia ini membuatku terhenyak. Dulu, aku pun pernah hidup dalam fase remaja di mana rasa keingintahuan begitu tinggi. Salah satu hal yang membuatku amat penasaran waktu itu adalah mengenai seks. Bagaimana caranya seorang perempuan bisa hamil? Apa itu diperkosa? Pertanyaan itu terus menggantung di benakku, apalagi jika aku menonton tayangan berita kriminal yang banyak memberitakan tentang korban-korban pemerkosaan.

Tatkala aku menanyakannya kepada ibuku, dia enggan menjawab. Bahkan, sampai aku kelas 1 SMP, yang aku tahu jadi penyebab kehamilan adalah karena berpegangan tangan! Aku buta akan pengetahuan seks, sama sekali buta. Akhirnya, pengetahuan itu lambat laun datang dari teman-teman sepermainan sendiri. Bermula dari diskusi konyol yang tak berujung hingga berakhir di warnet untuk mencari konten-konten mesum.

Namun, syukurlah kenakalan itu tidak berlanjut. Rasa keingintahuanku waktu itu tidak memuncak menjadi tindakan di luar batas. Bersyukur karena waktu itu memiliki teman-teman sepergaulan yang mampu mengajakku untuk meluangkan waktu ke hal-hal yang setidaknya lebih berguna. Alih-alih mencari tahu tentang sesuatu yang nyeleneh, teman-temanku mengajakku untuk sekadar main online games ataupun jalan-jalan.

Pencarian jawaban yang salah

Kita hidup dalam negara yang konon katanya menjunjung tinggi budaya timur. Jadi, sekalipun pendidikan seks mulai digalakkan di sekolah-sekolah, tapi pembicaraan mengenai seks jarang sekali merambah hingga meja makan keluarga. Akibatnya, seperti kenakalanku dahulu kala remaja, anak-anak yang rasa ingin tahunya amat tinggi pun mencari jawabannya dari teman-teman sepermainan.

Pencarian jawaban yang salah itulah yang bisa menjerumuskan seseorang masuk ke dalam jurang seks bebas. Berdasarkan data statistik, pada tahun 2016, ada 56 juta perempuan di seluruh dunia yang diketahui melakukan aborsi. Alasannya beragam, salah satunya karena janin yang terkandung di dalam perut mereka bukanlah sesuatu yang diharapkan. Jika kita lihat di Indonesia, statistik aborsi telah menunjukkan 2 juta kasus terjadi di tanah air. Angka itu bukanlah angka yang pasti, karena kebanyakan perilaku aborsi tidak pernah dilaporkan alias dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

Dari 14 orang yang kutemui di rumah singgah itu, beberapa dari mereka terpaksa hamil karena beragam alasan. Namun, alasan paling umum adalah karena diajak berhubungan seks oleh pacar, kemudian hamil. Mereka semua masih polos, bahkan ada di antara mereka yang tidak paham bahwa dirinya hamil hingga mereka menceritakan gejala-gejalanya kepada orang terdekat mereka.

Ketika keluarga mereka mengetahui bahwa ada janin yang terkandung dalam rahim mereka, reaksinya juga beragam. Ada keluarga yang terpukul, menyalahkan si perempuan, memperkarakan kasus ini ke polisi, atau juga segera merencanakan pernikahan. Perempuan-perempuan yang keluarganya menolak itulah yang berada di rumah singgah ini. Hadirnya janin dalam rahim mereka seolah menjadi sebuah bencana yang memadamkan harapan mereka.

Perempuan-perempuan ini hanyalah korban. Mereka diperdaya oleh tawaran kenikmatan sesaat yang menggiurkan. Ketika kehamilan akibat seks bebas itu terjadi, lagi-lagi mereka pun harus menjadi korban kembali. Seringkali mereka harus berhadapan pada pilihan aborsi, sebuah pembunuhan atas janin yang tak bersalah.

Memupuk kembali harapan

Senyum-senyum getir di wajah mereka perlahan pudar ketika pembawa acara meminta setiap peserta kunjungan untuk berkumpul membentuk kelompok. Seusai menyanyikan lagu-lagu pujian, kami dibagi menjadi lima kelompok untuk bermain sebuah permainan komunikata. Semua membaur. Tawa riuh meledak ketika ada kelompok-kelompok yang salah.


Selama 20 menit itu, beban mereka seolah lepas. Mereka membaur bersama remaja-remaja lainnya. Tapi, wajah sayu mereka kembali datang tatkala kami masuk ke sesi sharing bersama. Seorang pengelola rumah singgah mulai bercerita panjang lebar mengenai alasan dibentuknya rumah singgah ini secara legal pada tahun 2011.

Rumah singgah ini ibarat sebuah bengkel manusia. Mereka yang dahulu mengalami kehamilan di luar nikah ini dibentuk untuk memupuk harapan dari “kecekalaan”. Mereka dibina secara spiritual maupun mental. Mereka dikasihi oleh rekan-rekan pengurus selayaknya keluarga sendiri. 

Mereka mengisi hari-hari di rumah singgah dengan belajar keterampilan. Memasak, menyulam, merawat bayi, dan banyak hal-hal lainnya. Kelak, mereka akan menyusul jejak para alumni rumah singgah ini yang telah bangkit dari keterpurukan kepada kehidupan yang penuh harapan.

 

 

Masa depan mereka masih terhampar luas, seluas langit nan biru. 

Teruntuk para lelaki, jangan jadikan perempuan sebagai korban.

Iklan

2 thoughts on “Ketika Mereka (Harus) Hamil Sebelum Waktunya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s