Sumatra Overland Journey (1) | Medan: Kota Terburuk untuk Backpacker?

Dua puluh satu tahun menghabiskan hidup di tanah Jawa membuatku bertanya-tanya, seperti apakah rupa Sumatra itu? Yang aku tahu, dulu kerajaan Sriwijaya pernah berdiri di sana, dan kini bencana kabut asap sering menjadi tamu tahunan yang bercokol di pulau Sumatra. Tapi, selebihnya, aku tidak tahu apa-apa tentang pulau nan besar itu hingga di Juni 2015, tanpa pengalamanan apapun, sebuah perjalanan ribuan kilometer mengitari Sumatra menyambutku.

Kamis, 25 Juni 2015

Di bandar udara Husein Sastranegara, Bandung, perasaanku campur aduk, antara senang bukan kepalang, tapi juga takut. Dalam beberapa jam aku akan segera memulai perjalanan backpacking pertamaku yang rencananya akan berlangsung satu bulan. Tujuanku waktu itu adalah Sumatra, tapi aku sendiri belum tahu bagian mana dari Sumatra yang nanti akan kujelajahi. Yang aku tahu hanyalah hari itu aku begitu bersemangat untuk sebuah petualangan baru ini.

Sebelum hari keberangkatan tiba, tidak banyak persiapan yang kulakukan. Johannes Tschauner, sahabatku dari Jerman yang menjadi sponsor perjalanan ini hanya memberitahuku untuk bertemu di Bandara Kuala Namu, Deli Serdang pada hari Kamis, 25 Juni 2015. Selebihnya kami tidak banyak berkomunikasi, hanya sesekali mengkonfirmasi mengenai tiket pesawat yang telah kami pesan masing-masing.

Pukul 14:30, sebuah pesawat jenis Airbus-320 tiba di pelataran bandara dan tak lama kemudian panggilan boarding untuk pesawat tujuan Medan pun diumumkan. Hari itu aku mempercayakan perjalananku dengan maskapai Citilink, dan betapa beruntungnya aku karena pesawat dengan kode registrasi PK-GQG yang digunakan hari itu masih sangat anyar! Usianya baru 0,3 bulan sejak pesawat itu didatangkan dari pabriknya di Toulouse, Perancis.

Tanpa ada keterlambatan waktu, burung besi yang kutumpangi segera mempersiapkan dirinya untuk mengangkasa. Setelah maskapai singa merah turun menyentuh bumi, kini giliran maskapai hijau menyiapkan ancang-ancang untuk mengudara. Deru mesin menyeruak keras, suaranya terdengar jelas ke dalam kabin. Beberapa detik berselang, pesawat telah mengangkasa dan perkasa melawan gravitasi bumi menuju ketinggian 35.000 kaki.

Cakrawala membentang di ketinggan 35.000 kaki

Penerbangan dari Bandung ke Medan memakan waktu dua jam. Hari itu langit sangat cerah, jadi, sebagai orang yang jarang naik pesawat, segera kukeluarkan kamera dan jepret sana-sini. Sebenarnya di luar jendela tidak ada apapun yang menarik selain gumpalan awan, tapi apa yang tersaji di balik jendela pesawat itu membuatku takjub. Tatkala tubuh pesawat masuk ke dalam awan-awan yang menggumpal, goncangan kecil pun terjadi. Harus kuakui, rasa antusiasku sempat memudar tatkala pesawat terus bergoyang. Pikiranku melayang dan berspekulasi aneh-aneh, akankan pesawat itu mendarat dengan selamat? Atau jangan-jangan pesawat ini akan terjun bebas mencium bumi? Ah, entahlah gumamku. Segera kusingkirkan pikiran-pikiran buruk itu dan berpikir tentang petualangan apa yang nanti akan menyapa di tanah Sumatra.

Pukul 17:20 pesawat mendarat dengan sempurna di landas pacu bandara Kuala Namu. Aku memandang dengan takjub dari dalam jendela kabin. Bagiku, Kuala Namu tampak begitu megah, persis seperti apa yang ditulis di berita-berita. Landasan pacunya panjang, bandaranya mewah, juga lengkap ada kereta api khusus yang bisa mengantarkan penumpang langsung ke kota Medan.

Setelah mengantre bagasi selama setengah jam, agenda selanjutnya adalah mencari rekan sekolahku dulu yang berjanji akan menjemputku di Medan. Seorang lelaki bertubuh gempal menepuk pundakku, ternyata dia adalah Suryadi, temanku di SMA dulu yang sekarang menetap di Medan. Sambil bercakap dan melepas kangen, kami berpindah menuju pintu kedatangan internasional. Kulihat di papan informasi bahwa pesawat yang bertolak dari Bangkok telah mendarat.

Aku coba mengingat kembali rupa Johannes, rekanku dari Jerman itu, jangan sampai aku malah lupa dan tidak mengenalinya. Sambil aku mengingat kembali rupa wajahnya, tak lama sesosok bule berjanggut keluar sambil memanggul dua ransel ukuran besar. Mataku terbelalak melihat Johannes yang dahulu polos, kini berjanggut tebal bak belantara Amazon. Kami berpelukan erat, menepuk punggung masing-masing, dan seolah tidak percaya bahwa akhirnya jarak ribuan kilometer antara Indonesia dan Jerman itu akhirnya luluh. Hari itu kami tak lagi berjarak, dan kami siap memulai petualangan 30 hari di tanah Sumatra!

Kami tidak menggunakan angkutan kereta api menuju pusat kota Medan. Sebenarnya aku sangat ingin mencoba bagaimana rasanya duduk di kereta bandara itu, tapi tarif satu kali jalannya dibandrol seharga Rp 100.000,-. Terlalu mahal! Jadi, kami memilih menggunakan angkutan yang ramah kantong, yaitu bus Damri seharga Rp 20.000,- sampai ke pusat kota Medan.

Medan, sebuah mimpi buruk

Sebagai backpacker, hemat adalah kunci utama dari perjalanan kami. Sebisa mungkin, jika memang itu bisa dilakukan, kami akan tinggal di rumah-rumah warga lokal daripada menyewa penginapan. Selain dari menghemat uang, tentu kami akan mendapatkan banyak pengalaman baru dari warga lokal. Setidaknya, itulah yang ada di pikiran kami saat itu.

Kami belum menyusun rencana apapun hari itu, semua masih belum jelas. Satu-satunya yang kami tahu adalah malam itu kami akan bermalam di Medan, di rumah teman SMA yang sudah menjemputku di bandara. Tidak ada firasat buruk apapun saat kami tiba di Bandara, semua berjalan begitu mulus. Kami bertiga begitu akrab mengobrol dan bercerita tentang pengalaman masing-masing.

Ketika kami tiba di pusat kota Medan, langit sudah gelap karena jam telah berada di angka 20:00. Udara Medan cukup gerah hari itu dan kami ingin segera tiba di rumah temanku itu, mandi, lalu tidur dengan nyenyak. Tapi, mimpi buruk itu sejatinya baru dimulai di sini.

Rumah temanku berada persis di tengah-tengah pasar Petisah, sebuah pasar tradisional cukup besar. Bau busuk begitu menyengat di sepanjang jalan, sementara lampu jalanan yang temaram sesekali membuatku melihat kecoak-kecoak berseliweran di jalanan. Aku bergidik, tapi berusaha tetap berpikir positif.

“Krakk!” sebuah pintu besi dibuka. Tibalah kami di sebuah rumah yang tidak mirip rumah. Rumah itu adalah sebuah toko plastik tiga lantai. Lantai satu digunakan sebagai lapak berjualan, lantai dua dan tiga sebagai rumah tinggal. “Mari, silahkan masuk, dek,” sambut ibu temanku sang pemilik rumah. Aku menyalami lengannya dan memperkenalkan diriku, sekaligus memperkenalkan Johannes yang tak bisa berbahasa Indonesia. Di pojokan ruangan terdapat tempat pedupaan dengan dewi Guan Yin yang bertaktha. Nampaknya rumah ini masih kental dengan nuansa dan budaya Tionghoa.

Meja pedupaan di tiap lantai rumah

Sebelum naik ke lantai dua, aku melepaskan sepatu, tapi mataku dengan cepat menangkan gerakan-gerakan yang terbersit di depan mata. Kuarahkan pandanganku lebih teliti ke dinding, satu kecoak terbang kemudian merayap perlahan di atas tumpukan plastik. Kemudian, mataku terbelalak dan seketika itu juga ingin menangis tatkala melihat ada puluhan kecoak berseliweran di mana-mana.

“Kenapa to, kamu takut sama kecoak? Di sini mah sudah biasa kecoak banyak,” ucap temanku dalam logat bahasa Sunda yang hancur. Aku merasa ingin melarikan diri saat itu juga, tapi rasanya tidak mungkin karena dengan demikian aku tidak hormat kepada temanku yang sudah memberikan tumpangan. Johannes mencoba menenangkanku, “It’s okay Ary, don’t worry

Aku tidak dapat tenang, melainkan berpura-pura tenang seraya mulut berkomat-kamit tiada henti memohon mujizat dari Tuhan. Jika Tuhan tidak bisa mengenyahkan seluruh kecoak di rumah itu, setidaknya kecoak itu tidak mendekati tubuhku, itu saja doaku.

Kami diberikan sebuah kamar kecil di pojok ruangan yang sejatinya nyaman untuk beristirahat. Tapi, kamar itu jarang sekali digunakan, sehingga tatkala kami datang, sebuah tikus hitam besar menyambut kehadiran kami. Rasanya aku mau mati lemas, tapi aku sebisa mungkin menenangkan diriku. Malam itu adalah mimpi buruk. Perjalanan yang kupikir akan begitu menyenangkan berubah menjadi acara uji nyali ketika aku harus dihadapkan pada binatang yang paling kubenci di jagad raya, kecoak!

Sebelum beranjak tidur, aku dan Johannes berpikir keras tentang kota mana saja yang akan kami kunjungi dalam waktu satu bulan ini. Awalnya kami ingin tinggal di Medan selama tiga malam, tetapi kami belum dapat memastikan apakah kami tinggal lebih lama atau lebih cepat. Karena lelah, sebelum keputusan yang tepat diambil, kami jatuh tertidur.

26 Juni 2016

Kota Medan yang Edan!

Seekor kecoak merayap naik ke perutku. Dalam keadaan tertidur, aku pikir itu tangan Johannes yang berusaha membangunkanku. Tapi, kok aku merasa sentuhan itu begitu lembut. Tatkala aku membuka mata, sontak aku terbangun, dan berteriak seperti orang kesurupan. Kecoak itu berjalan anggun di atas perutku! Dan itu adalah suatu kekejian yang begitu mengerikan!

Aku segera mengambil handuk dan mandi seraya berharap kuman-kuman yang dibawa kecoak itu turut mati terkena sabun. Setelah kami bergantian mandi, kami segera mengemas ransel dan bersiap berkeliling Medan. Waktu itu panduan kami adalah buku Lonely Planet yang lumrah dipakai sebagai panduan bertualang bagi wisatawan Barat. Tapi, berhubung ada temanku, maka yang bertidak sebagai tour guide adalah Suryadi.

Rute pertama, kami dibawa mengelilingi pasar Petisah. Pasar ini begitu ramai oleh beragam jenis manusia. Teriakan ibu-ibu penjual sayur lebih kuat daripada suara klakson bus akap, belum lagi pekikan klakson dari bentor dan mobil-mobil yang terjebak macet. Pagi itu bukanlah pagi yang syahdu, tapi syukurlah karena semangkuk bubur mengandung babi menjadi hidangan pembuka. Ketika kami memasuki pasar, dengan segera kami menjadi pusat perhatian. Johannes yang berjanggut itu mendadak menjadi primadona. “Mister, mister!” sahut orang-orang di dalam pasar. Johannes menanggapinya dengan tersenyum dan terus berjalan.

Hidangan pagi

Sebuah bentor, becak motor menjemput kami bertiga. Ketika si sopir melihat sosok bule di hadapannya, dia tersenyum lebar dan berusaha menyapa ramah. Tapi, kemudian dia berbisik ke arahku, “Bang, ongkosnya dobel ya! Kan temenmu bule!” Aku menanggapinya dengan protes. “Gak bisa lah bang!” kemudian aku meminta temanku untuk mencoba negosiasi harga. Namun, entah mengapa, sepertinya temanku memiliki pemikiran serupa dengan sopir itu bahwa bule pasti banyak uang. Mau tidak mau, kami membayar harga yang cukup mahal. Hari itu, untuk perjalanan ke Istana Maimun, Rumah Tjong A Fie, dan Masjid Deli, kami membayar Rp 150.000,-.

Masjid Deli nan megah
Salah satu sudut kediaman rumah Tjong A Fie

Sepanjang perjalanan, tatkala bentor yang kami tumpangi berhenti di lampu merah, pengendara-pengendara lain berteriak-teriak, “Mister, mister!” Awalnya panggilan “Mister” itu sepertinya sebagai wujud keramahan mereka terhadap orang asing, tapi lama kelamaan itu jadi menganggu ketika mereka mulai bertanya yang aneh-aneh. Dan, entah mengapa, apakah waktu itu kami sedang sial atau tidak, setiap kali kami mengunjungi tempat makan, para penjualnya selalu menaikkan harga dengan tidak wajar. Kami membeli nasi goreng polos, hanya ditambahi telur dadar di atasnya dan dipatok tarif Rp 22.000,-!

Bahaya, pikir kami. Terlalu lama di Medan bisa membuat kami bangkrut, apalagi temanku yang sejatinya bertindak sebagai tour guide itu juga tidak terlalu cakap. Dia tidak mengerti bahwa kami bukanlah turis yang liburan ala koper, melainkan adalah traveler nekat yang pergi menjelajah dengan persediaan dana terbatas.

Saat kami tengah berjalan di pinggiran kota, seorang preman menghampiri kami dan memaksa meminta sejumlah uang. Temanku bergeming, aku panik berkeringat dingin, sementara itu Johannes tak paham apapun karena dia tak mengerti bahasa Indonesia. Aku tidak tahu bagaimana membela diri, yang kulakukan waktu itu adalah berkomat-kamit, berdoa, seraya memelas bahwa kami tidak punya uang. Entah mengapa, secara ajaib, si preman itu memperbolehkan kami pergi walaupun dia mengumpat kata-kata kasar.

Malam harinya, temanku itu tidak membawa kami ke tempat makan yang murah meriah, melainkan dia membawa kami ke rumah makan Chinese Food yang cukup besar. Awalnya kami ragu untuk makan di situ, tapi dia meyakinkan kami bahwa menu di sini sangat enak. Kami hanya berani memesan dua jenis menu untuk tiga orang, babi goreng dan fu yung hai. Memang makanannya amat lezat, tapi sebagai backpacker, kantong kami menjerit keras.

Seusai makan malam, kami memutuskan untuk segera pergi dari Medan keesokan paginya. Kami sepakat untuk melanjutkan perjalanan ke Bukit Lawang, pergi jauh-jauh dari keramaian Medan yang begitu aduhai. Ketika kami melihat-lihat kembali buku Lonely Planet, di sana tertulis bahwa Medan bisa dikatakan sebagai worst city untuk seorang backpacker. Aku pikir apa yang ditulis di situ hanyalah pandangan subjektif dari si penulis, tapi ternyata aku setelah aku mengalami apa itu Medan, aku pun berpandangan yang sama.

Dalam perjalananku selanjutnya, aku bertemu dengan sesama backpacker lainnya. Tanggapan mereka atas Medan itu beragam. Ada yang mengutuk, tapi ada juga yang menyanjung. Pengalaman tiga hari di Medan itu cukup membuatku bergidik, apalagi jika mengingat kerajaan kecoak yang pernah kudatangi.

Lonely Planet, buku ini sangat membantu kami dalam menyusun rencana perjalanan. Bahkan, buku ini juga menyediakan informasi untuk penginapan kelas backpacker yang harganya di bawah Rp 50.000,- per malam

Di balik semerawutnya Medan

Walaupun aku tidak betah, tapi Medan membukakan mataku akan sebuah realitas. Lahir dan dibesarkan di Jawa membuatku asing terhadap budaya-budaya yang lahir dan berkembang di Sumatra. Streotip-streotip yang berkembang di masyarakat seringkali mempersempit imajinasi dan pemahaman kita akan sesuatu.

Di Jawa, berbicara dengan nada keras kepada lawan bicara tidak terlalu lumrah, kecuali jika keduanya sudah saling mengenal erat. Tapi, lain Jawa, lain pula Medan. Seorang ibu di perempatan bisa berbicara begitu keras dan bertanya tentang janggutnya Johanes. Pertanyaan yang sesungguhnya tidak penting, tapi ibu itu ingin menunjukkan keramahannya lewat bertanya, walau menurutku dia melakukannya di tempat yang tidak tepat.

Lalu, ketika kami duduk makan bersama di pasar Petisah, kami melihat ada begitu banyak budaya yang hadir dan bercampur. Ada orang Tionghoa, Melayu, Arab, juga India. Layaknya kawasan pecinan di Indonesia, toko-toko besar di kawasan Petisah itu dimiliki oleh orang-orang Tionghoa dengan pembeli yang berbagai macam orang. Orang-orang Tionghoa Medan nampaknya jauh berbeda dari Tionghoa di Jawa. Sekalipun aku sendiri masih memiliki darah keturunan Tionghoa, tapi lidahku telah mati terhadap bahasa Mandarin. Satu-satunya yang menandai aku orang Tionghoa hanyalah mata yang lumayan sipit, sudah itu saja!

Di kamar tempat kami menginap, tergantung kertas berwarna-warni berisikan mantra-mantra doa.

Orangtuaku tidak memberiku nama Tionghoa sama sekali, pun tidak mengajariku atau memaksaku untuk belajar bahasa Mandarin. Satu-satunya kebudayaan Tionghoa yang masih kulakukan dan kusenangi hanyalah ritual bagi-bagi angpao saat Imlek. Selebihnya, aku tidak tahu sama sekali. Menyalakan dupa, berpakaian serba merah, semua telah lenyap dari kamus kehidupanku.

Berada di Petisah membuatku merasa jadi orang Tionghoa yang tidak Tionghoa. Ketika aku membeli bubur babi, baik itu penjual maupun pembeli berbicara dalam bahasa Mandarin tradisional, atau bahasa Khek. Aku hanya melongo, sekalipun mereka mengenali wajahku sebagai orang keturunan, tapi aku tak berkutik apabila mereka mulai bertanya menggunakan bahasa yang begitu asing buatku.

Perbedaan etnis sejatinya adalah sentimen yang paling sensitif. Kerukunan yang telah dibangun bertahun-tahun bisa saja sirna tatkala ada kesalahan kecil yang dibesar-besarkan. Dari kacamataku, aku tidak melihat orang-orang Medan itu cukup membaur, setidaknya itu yang aku lihat di Petisah. Temanku itu adalah seorang Tionghoa yang cukup protektif. Dia memandang dunia luar itu sebagai sesuatu yang menyeramkan dan rapuh. Belakangan, aku mengerti mengapa dia selalu membawa kami ke restoran mahal. Rupanya, dia ingin makan di tempat yang aman, karena menurutnya orang Tionghoa tidak aman apabila bepergian dan makan di tempat pinggiran.

Tapi, menurutku itu sama sekali tidak masuk akal! Pergaulanku dengan berbagai jenis manusia sudah melunturkan segala jenis antipati. Tapi, apa yang dilakukan oleh temanku itu sejatinya adalah cerminan dari kenyataan. Di masyarakat yang konon katanya telah modern ini, masih saja ada orang yang membiarkan pikirannya dikuasai sekat-sekat pemisah dan ketakutan. Aku mengerti bahwa itu tidak sepenuhnya salah mereka, terkadang lingkungan pun memaksa orang-orang menjadi protektif. Akan tetapi, mau sampai kapan kita terus membatasi diri?

Aku tidak tahu bagaimana keadaannya di bagian lain kota Medan, tapi apa yang kulihat hari itu membuatku termenung. Apakah memang kita lebih nyaman hidup secara terkotak-kotak?

Selamat tinggal Medan

Sabtu pagi, 27 Juni 2015. Selama tiga hari di Medan, kami mengeluarkan uang cukup besar, nyaris Rp 1 juta karena temanku itu membawa kami masuk ke restoran-restoran yang mahal. Setelah berpamit, berpelukan, dan berfoto, kami pergi menuju ke terminal Pinang Baris menggunakan bentor.

Sebelum kami pamit dan bertolak menyingkir dari Medan, kami berfoto dan menghaturkan terima kasih kepada Suryadi, yang telah menyediakan rumahnya untuk kami menginap selama dua malam.

Tiga hari di Medan mampu membuatku berbicara dengan nada sedikit berani. Setibanya di terminal, puluhan calo bagaikan laron segera mengerubungi kami. Mereka memaksa bahkan sempat menarik-narik ransel yang kami panggul. Tapi, kami acuh tak acuh, kami terus berjalan mencari bus warna oranye seperti yang dituliskan di buku Lonely Planet.

Ketika kami menemukan bus itu, waktu keberangkatan hampir tiba dan bus tepat hanya tersisa dua kursi. Sebelum naik, aku bertanya dulu mengenai harga. Si kenek mematok tarif Rp 100.000,- sekali jalan. “Mana ada bang harga segitu, mahal kali, terakhir aku naik sini Cuma 25!” ucapku. Aku terpaksa berbohong, padahal aku belum pernah sekalipun ke Sumatra. Tapi, ternyata itu cukup ampuh, akhirnya kami diberikan harga Rp 40.000,- per orang untuk tiba di Bukit Lawang.

Perjalanan hari itu ditutup dengan duduk di atas bus oranye tua selama enam jam. Meninggalkan hiruk-pikuk Medan menuju kanopi hijau Sumatra, Taman Nasional Gunung Leuser!.

Di atas bentor, kami beranjak menuju terminal Pinang Baris. Betapa senangnya kami hari itu, selamat tinggal, Medan!

 

Berlanjut……………..

 

 

Iklan

15 thoughts on “Sumatra Overland Journey (1) | Medan: Kota Terburuk untuk Backpacker?

  1. Aku suka banget baca tulisan ini. Cara kamu bertutur asik 🙂 aku, kalo di posisi itu *kena palak preman* juga paling bengong dan pucat haha. Keras ya Sumatra, tapi sebetulnya tidak terlalu menyeramkan seperti yang banyak orang kira.

    Hayo, kapan ke Palembang? kontak aku ya 🙂

    1. Hai, mas. Makasih ya sudah mampir 😀
      Hehehe, waktu itu aku cuma bisa memelas. Soalnya preman itu jelas tahu kalau aku bukan oran Medan.

      Belum tahu nih kapan ke Palembang lagi. Tapi, pengen ke sana lagi buat makan pempek 😀

  2. Wow 30 hari? Keren kamu mas. Seloo tenan😀
    Baka menarik nih, kutunggu kelanjutannya.
    Seburuk2nya pengalaman di Medan ini, baka menjadi pengalaman dan pembelajaran yg tak terlupakan bukan? 😉

  3. Sebagai org Medan asli, miris sih bacanya haha tapi emang bener. Pemerintah perlu berbenah nih utk mempercantik Medan. Kota Medan sendiri sih lebih ke kota kuliner, Ri. Byk menu yg enak2 dan murah sebenernya. Sementara utk wisata, justru daerah2 penopangnya yang bagus, semisal Tapanuli yg ada Danau Toba dan Pulau Samosirnya, Berastagi dan Tanah Karo dgn Bukit Gundaling dan rumah2 adatnya, Sibolangit yg kaya puncak. Sayang sih ga ke situ haha.

    1. Hei, Ruth 😀

      Iya, waktu di Medan aku udah keburu kena mimpi buruk kecoak haha.

      Eits, ceritaku belum selesai. Medan baru etape pertama, masih ada puluhan lain yang aku kunjungin, termasuk Berastagi, Samosir, Tanah Karo. Aku 2 minggu di Samosir, di Tuk-tuk Siadong tepatnya 😀

      1. Waaah belum selesai toh? Hahaha oke dehhh ditunggu tulisan selanjutnya. Semoga rekomendasinya nda failed 😂

  4. sedih dan miris bacanya, walaupun artikel ini 2 tahun yang lalu tapi memang Medan kenyataannya sangat tidak ramah untuk traveller dari luar kota/negeri, Apalagi abang sama bule pastilah semua mikir punya uang banyak, di Medan semua harus ditawar biar murah karna mereka ngasih harga tinggi sama pendatang (bahkan sesama orang Medan aja kadang ditipuin)

      1. oke bang, semoga kedepannya kesampaian ke Medan lagi dengan cerita yang lebih unik dan seru

  5. Kalau mentalnya masih mental tempe ya jangan ke medan..kalau ke medan harus mental baja haha
    Mungkin pengalaman ke sumatera yg paling sulit km lupakan tapi jangan lupa dengan begitu mentalmu sudah ditempa disana selama 1 bulan Setidaknya begitu.
    Intinya mental sih kalau mentalmu udah baja apapun bentuknya pasti bisa dilewati.sesuai lagunya INI MEDAN BUNG!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s