Ketika Pilihan Karier Kami Jatuh Bukan di Tempat Profit

Hari itu adalah Hari Buruh Internasional. Ketika jagad media berisik membahas demo di Jakarta yang berujung bakar-bakaran bunga, kami bertemu di sebuah gang sempit, di warung mangut lele yang paling terkenal di seantero Yogyakarta. Sambil mencicip ikan lele bertabur cabe, keringat bercucuran membasahi wajah, tapi pembicaraan kami hari itu bukan tentang lezatnya ikan lele, melainkan tentang sebuah topik yang cukup berat: idealisme.

Dulu semasa kuliah, aku dan Aloy adalah teman satu perjuangan yang berada di satu jurusan dan rumah kos yang sama. Latar belakang yang berbeda di antara kami ternyata bukan jadi jurang pemisah, melainkan jadi sesuatu yang menarik untuk kami pelajari lebih dalam. Aku lahir dan besar di Bandung, sedangkan Aloysius Dinora alias Dino atau Aloy ini lahir dan besar di Buntok, Kalimantan Tengah. Dari sekian banyak perbedaan itu, Yogyakartalah yang akhirnya mempertemukan kami.

Awal mula pergumulan di pikiran

Pada tahun 2015 kami sama-sama memilih magang di Jakarta. Aku di lembaga riset politik, sedangkan Aloy di lembaga Public Relations. Setiap kali bertemu waktu itu, pertanyaan yang selalu saling kami tanyakan adalah: “Jadi, nanti habis lulus mau kerja di Jakarta?” Aku selalu menjawab entahlah, karena sebagai mahasiswa Jurnalistik, aku sendiri masih belum yakin dengan pilihan karier yang kelak harus kuambil. “Yang penting skripsi dulu deh, kerjaan nanti nyusul.”

Ketika masa-masa skripsi kami mendekati final, pertanyaan itu makin bergaung. Aku yang lulus terlebih dahulu harus menerima kenyataan bahwa ungkapan Jakarta adalah segalanya itu hampir menjadi kenyataan. Aku mencari pekerjaan ke sana-sini dengan harapan bukan Jakarta yang menjadi tempatku berlabuh. Tapi, kenyataan memang bicara lain. Harapanku terbentur dengan realita karena di republik seluas ini, kemajuan paling pesat dan arus uang paling besar terjadi di Jakarta. Akhirnya, aku pun hijrah ke Jakarta.

Belakangan ini aku mendengar kabar bahwa Aloy telah diterima bekerja di sebuah yayasan yang bergerak di bidang pendidikan. Aloy tidak memilih untuk pergi melanjutkan kariernya di Jakarta. Pilihannya jatuh ke sebuah kabupaten di selatan Yogyakarta yang katanya memiliki upah minimum regional yang benar-benar minimum.

Esensi bekerja bukan pada gengsi

Pertemuan kami siang bolong di kedai mangut lele itu memberikan kami pandangan baru akan tantangan pekerjaan masing-masing. Aloy belajar tentang tantangan yang kuhadapi di Jakarta, demikian juga aku belajar darinya tantangan maupun hambatan yang harus dia hadapi di Bantul. Sekalipun berbeda kota, tapi ada satu kesamaan dari kami berdua: kami sama-sama bekerja di lembaga non-profit.

Saat kami mengobrol, secara jujur aku bercerita bahwa memang sering ada perasaan minder ketika melihat teman-teman lain yang kariernya melejit dengan cepat. Kami tahu bahwa sekali pun karier mereka tampak begitu gilang gemilang, tetap ada tantangan tersendiri yang mungkin juga berat yang harus dihadapi oleh mereka.

Aku belajar dari Aloy. Sebenarnya, dia pun mengalami pergumulan serupa denganku. Bicara soal gaji, kami sebagai lelaki di usia 20-an tentu berharap bisa memiliki karier yang menjamin penghasilan supaya mimpi-mimpi yang kami tanam sejak masa kuliah itu bisa terwujud, minimal satu dua biji lah. Kelak kami akan menikah dan menafkahi keluarga, sehingga perihal uang adalah hal yang sangat serius. Gaji Aloy di Bantul tidaklah besar, demikian juga dengan gajiku di Jakarta yang sekian persennya ludes hanya untuk membayar kos.

Tapi, gaji tidak selalu jadi faktor utama pekerjaan, kata Aloy. “Iya juga sih,” pikirku.

Hidup di zaman sekarang ini mau tidak mau kita sering terlibat dalam adu gengsi. Setiap hari kita dapat dengan mudah melihat apa yang menjadi pencapaian teman-teman kita lewat fitur-fitur di media sosial. Ketika kita sedang dikejar deadline dan melihat postingan teman yang sedang liburan, bisa-bisa kita langsung sambat (mengeluh) dan menghakimi. Bisa jadi kita menghakimi diri kita sendiri karena pekerjaan yang kita lakukan, atau bisa jadi kita menghakimi orang itu atas postingan liburan yang dia lakukan.

Alih-alih menemukan kedamaian dalam bekerja, gengsi membuat pekerjaan menjadi sebuah kompetisi yang menguras tenaga. Pekerjaan yang sejatinya berguna tuk mengisi dompet dan pengalaman malah berubah menjadi perlombaan tuk menunjukkan kesuksesan.

Tak terasa, obrolan seputar gengsi siang itu segera berakhir tatkala ikan lele yang tersaji di atas piring tinggal tersisa tulang saja. Ada kepuasan hari itu, bukan saja karena perut yang berbahagia, melainkan pikiran yang tercerahkan. Sungguh, aku begitu bersyukur karena Tuhan boleh memberiku kesempatan hari itu berada di Bantul. Sulit bertemu teman berpikir di Jakarta, kalaupun ada teman seperti itu, tentu sulit ditemui karena kesibukan masing-masing.

Kami berdua menyadari bahwa keputusan kami bekerja di ladang non-profit secara sekilas memang tidak terkesan membanggakan. Tapi, inilah kehidupan yang kami pilih. Kami ingin mewarnai dunia dengan tekad dan semangat yang kami miliki. Kami percaya, ketika kami berbahagia dengan melihat orang lain berbahagia, niscaya Tuhanlah yang akan mencukupkan segalanya lewat cara-cara yang tidak pernah kami duga sebelumnya.

 

*Aloysius Dinora adalah rekan diskusi yang dulu pernah jadi kawan seatap selama di Yogyakarta dulu. Sekarang dia telah meniti jalan karier yang baru, namun dia tidak berhenti berkarya. Dia sudah menghasilkan satu buah buku yang teman-teman bisa beli di toko buku terdekat.

4 respons untuk ‘Ketika Pilihan Karier Kami Jatuh Bukan di Tempat Profit

  1. Keluhan-keluhan itu akan muncul dan terus muncul ketika kita membandingkan apa yang kita miliki dengan apa yang orang lain miliki. Try to take a look into differrent perspective and realize that someone else got the same felling. Selalu merasa kurang, kurang, dan kurang jika kita melihat kelebihan orang lain dan berfokus pada kekurangan pada diri kita.
    From: Your ex-classmate

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s