Bantul, 1 Mei 2017: Ketika Pilihan Karier Kami Jatuh Bukan di Tempat Profit

resiz

Hari itu adalah hari buruh internasional. Ketika jagad media berisik membahas demo di Jakarta yang berujung bakar-bakaran bunga, kami bertemu di sebuah gang sempit, tepatnya di warung mangut lele yang paling terkenal se-antero Yogyakarta. Sambil mencicip ikan lele bertabur cabe, keringat bercucuran membasahi wajah, tapi pembicaraan kami hari itu bukan tentang lezatnya ikan lele, melainkan tentang sebuah topik yang cukup berat, yaitu idealisme.

Dulu semasa kuliah kami adalah teman satu perjuangan yang secara kebetulan berada di satu jurusan dan rumah kost yang sama. Latar belakang yang berbeda di antara kami ternyata bukan jadi jurang pemisah, melainkan jadi sesuatu yang menarik untuk kami pelajari lebih dalam. Aku lahir dan besar di Bandung, sedangkan temanku yang bernama Aloysius Dinora alias Dino ini lahir dan besar di Buntok, Kalimantan Tengah. Dari sekian banyak perbedaan itu, Yogyakartalah yang akhirnya mempertemukan kami.

Awal mula pergumulan di pikiran

Pada tahun 2015 kami sama-sama memilih magang di Jakarta. Aku di lembaga riset politik, sedangkan dia di lembaga public relations. Setiap kali bertemu waktu itu, pertanyaan yang selalu saling kami tanyakan adalah, “Jadi, nanti habis lulus mau kerja di Jakarta?” Aku selalu menjawab entahlah karena sebagai mahasiswa Jurnalistik, aku sendiri masih belum yakin dengan pilihan karier yang kelak harus kuambil. “Yang penting skripsi dulu deh, kerjaan nanti nyusul,” pikirku.

Pertanyaan itu semakin menguat ketika masa-masa skripsi kami semakin mendekati final. Aku yang lulus terlebih dahulu harus menerima kenyataan bahwa Jakarta adalah segalanya itu hampir menjadi kenyataan. Aku mencari pekerjaan ke sana-sini dengan harapan bukan Jakarta yang menjadi tempatku berlabuh. Tapi, kenyataan memang bicara lain. Harapanku terbentur dengan realita. Akhirnya, karena satu dan lain hal aku terpaut di Jakarta dan berkarier sebagai seorang editor untuk sebuah situs rohani yang dikelola oleh lembaga nirlaba.

Setelah lulus dan hijrah ke Jakarta, belakangan aku mendengar kabar bahwa Dino telah diterima bekerja di sebuah yayasan yang bergerak di bidang pendidikan. Dino tidak memilih untuk pergi melanjutkan kariernya di Jakarta. Pilihannya jatuh ke sebuah kabupaten di selatan Yogyakarta yang katanya memiliki upah minimum regional yang benar-benar minimum.

Esensi bekerja bukan pada gengsi

Pertemuan kami siang bolong di kedai mangut lele itu memberikan kami pandangan baru akan tantangan pekerjaan masing-masing. Dino belajar tentang tantangan yang kuhadapi di Jakarta, demikian juga aku belajar darinya tantangan maupun hambatan yang harus dia hadapi di Bantul. Sekalipun berbeda kota, tapi ada satu kesamaan dari kami berdua: kami sama-sama bekerja bukan untuk perusahaan profit, melainkan untuk lembaga non-profit.

Saat kami mengobrol, secara jujur aku bercerita bahwa memang sering ada perasaan minder ketika melihat teman-teman lain yang kariernya melejit dengan cepat. Kami tahu bahwa sekalipun dari luar karier mereka tampak cemerlang, tetap ada tantangan tersendiri yang mungkin juga berat yang harus dihadapi oleh mereka.

Menjawab pergumulanku itu, aku belajar dari sesosok Dino. Sebenarnya, dia pun mengalami pergumulan serupa denganku. Bicara soal gaji, kami sebagai lelaki di usia 20-an tentu berharap bisa memiliki karier yang menjamin penghasilan. Kelak kami akan menikah dan menafkahi keluarga, sehingga kami pikir perihal uang adalah hal yang sangat serius. Gaji dia di Bantul tidaklah besar, demikian juga dengan gajiku di Jakarta.

Tapi, seringkali permasalahan datang dan terjadi bukan karena uang itu sendiri, melainkan karena gengsi, begitulah Dino memberitahuku. Lalu, aku termenung sejenak. “Iya juga sih,” pikirku.

Hidup di zaman sekarang ini mau tidak mau kita sering terlibat dalam adu gengsi. Setiap hari kita dapat dengan mudah melihat apa yang menjadi pencapaian teman-teman kita lewat fitur-fitur di media sosial. Ketika kita sedang dikejar deadline dan melihat postingan teman yang sedang liburan, bisa-bisa kita langsung sambat (mengeluh) dan menghakimi. Bisa jadi kita menghakimi diri kita sendiri karena pekerjaan yang kita lakukan, atau bisa jadi kita menghakimi orang itu atas postingan liburan yang dia lakukan.

Alih-alih menemukan kedamaian dalam bekerja, gengsi membuat pekerjaan menjadi sebuah kompetisi yang menguras tenaga. Pekerjaan yang sejatinya berguna tuk mengisi dompet dan pengalaman malah berubah menjadi perlombaan tuk menunjukkan kesuksesan. Rasa-rasanya aku pernah terjebak dalam pemikiran seperti itu, dan untung saja aku dapat dengan segera bertobat.

Tak terasa, obrolan seputar gengsi siang itu segera berakhir tatkala ikan lele yang tersaji di atas piring tinggal tersisa tulang saja. Ada kepuasan hari itu, bukan saja karena perut yang berbahagia, melainkan pikiran yang tercerahkan. Sungguh, aku begitu bersyukur karena Tuhan boleh memberiku kesempatan hari itu berada di Bantul. Sulit bertemu teman berpikir di Jakarta, kalaupun ada teman seperti itu, tentu sulit ditemui karena kesibukan masing-masing.

Kami berdua menyadari bahwa keputusan kami bekerja di ladang non-profit secara sekilas memang tidak terkesan membanggakan. Tapi, inilah kehidupan yang kami pilih. Kami ingin mewarnai dunia dengan tekad dan semangat yang kami miliki. Kami percaya, ketika kami berbahagia dengan melihat orang lain berbahagia, niscaya Tuhanlah yang akan mencukupkan segalanya lewat cara-cara yang tidak pernah kami duga sebelumnya.

 

Iklan

4 thoughts on “Bantul, 1 Mei 2017: Ketika Pilihan Karier Kami Jatuh Bukan di Tempat Profit

  1. Keluhan-keluhan itu akan muncul dan terus muncul ketika kita membandingkan apa yang kita miliki dengan apa yang orang lain miliki. Try to take a look into differrent perspective and realize that someone else got the same felling. Selalu merasa kurang, kurang, dan kurang jika kita melihat kelebihan orang lain dan berfokus pada kekurangan pada diri kita.
    From: Your ex-classmate

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s