Catatan Hidup

Yogyakarta, 30 April 2017: Perjalanan Rindu yang Tidak Berujung

resize

Meninggalkan Jakarta di akhir pekan panjang tidaklah senyaman yang kubayangkan. Sesuai dengan namanya, hari itu, Jumat malam, stasiun Pasar Senen tak ubahnya sebuah pasar yang berjubel dengan ribuan manusia. Tanggal merah di hari Senin telah memikat hati para perantau untuk pulang barang sejenak.

Tujuan utamaku sebenarnya adalah Yogyakarta, tapi dua bulan sebelum keberangkatan, seluruh tiket kereta api baik kelas ekonomi, bisnis, dan eksekutif telah ludes dipesan. Hanya satu rangkaian kereta yang masih tersisa tempat duduk, yaitu kereta api Tawang Jaya dengan jurusan Semarang Poncol. Awalnya sempat ragu untuk memilih kereta ini karena apabila turun di Semarang berarti harus menambah jam perjalanan jadi lebih panjang. Tapi, apa boleh buat, daripada rindu ditahan menjadi sakit, lebih baik bersusah sedikit supaya rindu itu bisa ditunaikan.

Pukul 23:00 kereta api yang terdiri dari 13 rangkaian gerbong bertolak meninggalkan Jakarta. Tiga orang penumpang di depanku adalah tiga pemuda asal Cilegon yang hendak liburan ke Semarang, sedangkan di sebelah kiriku adalah seorang ibu (mungkin lebih tepat juga disebut nenek) bersama keluarganya hendak pulang kampung juga ke Semarang.

Selepas tengah malam, si ibu di sebelahku itu tak kuasa menahan kantuknya. Kepalanya terhuyung ke kanan dan kiri mengikuti gerakan gerbong yang bergoyang-goyang hingga suatu ketika, kepalanya terjatuh dan menempel tepat di pundakku. Entah ini berkah atau kutukan, yang jelas perjalanan malam itu terasa semakin berat tatkala tubuh si ibu semakin condong ke arahku.

Posisi itu membuatku serba salah. Tekanan dari tubuh si ibu yang bersandar ke arahku itu membuatku mati gaya. Sah-sah saja jika saat itu aku membangunkan si ibu dan memintanya membetulkan posisi, tapi hati kecilku berkata tidak tega sehingga aku pun mengalah. Puji syukur karena penderitaan itu segera berakhir. Sekitar pukul 05:00 si ibu sudah terbangun dan kupikir sekarang giliranku untuk tidur sejenak, tapi berhubung langit sudah terang, kedua mata ini malah menolak untuk terpejam hingga kereta api tiba di stasiun Poncol pada pukul 06:15.

Dari Semarang ke Yogyakarta

Perjalanan belum usai, Yogyakarta masih 120 kilometer jauhnya dari tempatku berdiri padahal kepala sudah cenat-cenut, badan juga terasa lengket karena sedari pulang kerja belum sempat membersihkan diri. Sambil memboyong ransel, aku berkeliling Semarang sejenak, mengitari Lawang Sewu dan kantor walikota. Memang saat itu badan terasa lelah, tapi entah mengapa, ada perasaan bahagia karena badan ini telah meninggalkan Jakarta, setidaknya untuk beberapa hari ke depan.

Pukul 07:30 aku melanjutkan perjalanan kembali ke Yogyakarta, kali ini dengan bus AC yang jauh lebih nyaman dibandingkan dengan kereta ekonomi. Tapi, nyaman belum tentu idaman. Bus ini melaju bak siput di tengah sirkuit. Lambat bukan main. Saat bus melintasi jalan tol, sang sopir mengemudi dengan begitu santai, mungkin sekitar 60 kilometer per jam saja. Kecepatan itu seketika melorot ketika bus tiba di tanjakan. Sempat menyesal karena memilih bus itu, tapi setidaknya sang sopir patut diacungi jempol karena memprioritaskan keselamatan daripada kecepatan.

Lima jam berlalu di atas bus, dan tibalah aku di tanah istimewa yang kadar rinduku kepadanya tidak pernah habis, Yogyakarta! Senyum sumringah segera tersungging tatkala bus tiba di terminal. Yogyakarta bukanlah hal baru, bukan juga tempat yang spektakuler, tapi di tempat inilah ada kenangan yang belum mati. Di tempat inilah aku, yang dulu masih mahasiswa usia 18 tahun mengalami kelahiran kembali dan menemukan jati diriku sebenarnya.

Bicara soal Jogja tidak pernah ada habisnya. Setiap hari, di Jakarta, kenangan akan masa-masa kuliah dulu tidak pernah terlepas dari ingatan. Sekalipun mereka yang pernah tinggal di Jogja tahu betapa sulitnya melepaskan memori tentang Jogja, beberapa orang menyebutku sebagai si lebay yang tidak bisa move-on dari Jogja.

Jogja, sebuah rumah yang sebenarnya bukan rumah

18 tahun hidupku dihabiskan di Bandung, 4, 6 tahun dihabiskan di Yogya, dan kini sudah 6 bulan berlangsung di Jakarta. Bandung adalah kota kelahiran, rumah, dan seluruh keluarga berada di sini. Jakarta adalah kotaku bekerja, penghasilanku berasal dari kota ini. Tapi, rinduku hanya tersedia untuk Jogja, bukan tempat lain.

Rumah kost tempatku dulu tinggal sampai sekarang masih membuka pintunya lebar-lebar untukku dan teman-teman lain yang sudah alumni. Jika kita pernah menonton iklan sebuah brand ternama “Bukalapak” tentang ibu kost, apa yang kualami itu hampir serupa.

Rumah kost yang kutinggali di Jogja bukan sekadar kost, melainkan ia adalah rumah bagi 19 penghuninya. Orang-orang dari berbagai latar belakang, agama, daerah, bahasa, dan tabiat, semua berkumpul jadi satu dan tinggal di bawah atap yang sama. Dari sejak bangun tidur hingga tidur lagi, kami melihat orang yang sama. Kami makan di ruang makan yang sama, buang air pun di wc yang sama, nonton tv pun di layar yang sama. Memang ada saja orang-orang yang menyebalkan, tapi toh akhirnya kami tetap berteman.

Dari enam orang angkatan 2012 yang dahulu tinggal bersama di kost itu, semuanya sudah lulus dan merantau ke berbagai daerah. Kepulanganku ke kost hari itu membuatku terharu, kami berenam cukup beruntung karena sehabis lulus tidak sempat menganggur, semua dengan cepat mendapatkan pekerjaannya masing-masing.

Rumah kost inilah yang mengajarkanku arti membuka diri untuk orang lain. Aku tahu ada temanku yang menyebalkan, tapi aku juga tahu bahwa di balik sisi menyebalkannya dia, pasti ada sisi kebaikannya. Dari sini jugalah aku belajar untuk saling memaafkan dan mengampuni bukan hanya di mulut, tapi juga di hati. Berkali-kali kami pernah saling ribut dan marah, tapi tak berselang beberapa waktu, kami sudah damai kembali, bercanda kembali seperti sedia kala.

Kostku ini juga unik karena diapit oleh dua bangunan di kiri-kanannya yang adalah kost putri. Biasanya setiap malam aku akan naik ke balkon dan berbincang dengan teman perempuan di kost sebelah. Kadang kami berbincang hanya lima menit, kadang juga berjam-jam. Berbicara tentang banyak hal, kadang juga saling tersenyum tanpa berkata, dan memandang langit berbintang. Pembicaraan ala kadarnya itu terasa begitu hangat, pertemuan demi pertemuanku di atas balkon itu memberiku semangat untuk suatu saat bisa bersama dengannya.

Saat pikiranku tengah bernostalgia, Mbak Oneng, seorang perempuan yang bertugas merawat rumah kost memanggilku. Segera kusalami tangannya dan kudekatkan tangannya ke pelipisku sebagai tanda hormat. Kemudian dia membuatkan segelas teh panas untukku dan kami menikmatinya di atas loteng.

Minum teh memang bisa dilakukan di mana saja, tapi inilah yang membuat kostku istimewa. Sajian teh yang baru saja dibuat itu menjadi begitu manis seperti madu, membuat aku begitu bersyukur karena pernah menjadi bagian dari Yogyakarta yang kini tak lagi jadi keseharianku. Aku tahu kalau aku harus move-on, tapi aku juga sadar bahwa rindu ini terlalu kuat. Alih-alih mengusir rinduku dan menggantikannya dengan cinta terhadap Jakarta, aku mau tetap menghidupi Jogja dalam hidupku. Lewat segelas teh panas atau wedang uwuh, lewat hening ataupun alunan musik keroncong, lewat sawah ataupun gedung bertingkat, semangat dan hasil bentukanku selama empat tahun di Jogja takkan pernah kubiarkan luntur.  

IMG_3547

Bersama Mbak Oneng dan Aa Lukman, panutanku selama di kost. 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s