Terjerat Nuansa Senja di Pantai Kesirat

resize

Jalan aspal nan sempit mengiringi sepeda motor bebek kami membelah area perkebunan yang berbukit-bukit milik warga setempat. Tujuan kami sore itu adalah sebuah pantai sering disebut-sebut orang sebagai tempat yang romantis dan nyaman untuk menikmai senja. Sekalipun tujuan kami sore itu adalah tempat yang romantis, tapi kami bukanlah sepasang kekasih, melainkan dua orang anak kost yang sedang mencari wangsit.

Bermula dari foto-foto unggahan warganet di media sosial, kami berhasil dibuat penasaran. Dalam foto-foto itu, pantai Kesirat digambarkan sebagai pantai tak berpasir yang menghadap ke arah samudera. Sebuah pohon berdiri gagah menjulang ke lautan, tepat di bawahnya terdapat sebuah dingklik panjang yang sengaja diletakkan untuk pengunjung menikmati senja.

Perjalanan menuju pantai Kesirat kami tempuh selama sekitar dua jam menggunakan sepeda motor. Kami bertolak dari kota Yogyakarta pukul 14:30 dan tiba di pantai Kesirat pukul 16:30. Tak ada pengunjung pantai hari itu, hanya kami berdua, seolah pantai itu adalah pantai pribadi milik kami.

Tak sulit menemukan pantai Kesirat walaupun tak banyak papan penunjuk arah, tapi kita bisa menggunakan GPS, “Gunakan Penduduk Setempat” alias tanya saja kepada warga. Dengan bahasa Jawa krama pas-pasan, kami sempat tersesat dua kali dan memutar beberapa kilometer. Sebenarnya bukan warga yang salah memberi kami informasi, tapi kami tidak peka terhadap tikungan-tikungan yang seringkali membingungkan.

IMG_9675
Pantai Kesirat
IMG_5126
Buih samudera
IMG_5105
Menatap senja

Menjelang senja, pantai Kesirat laksana sebuah nirwana nan syahdu. Deburan ombak samudera menghempas tebing tinggi. Buihnya terhampar hingga ke atas bukit tempat kami berdiri. Menatap kejauhan, halimun-halimun tipis dari gugusan ombak mulai terbentuk laksana asap yang menjulang naik.

Nuansa senja telah menjerat kami. Sekalipun hari itu pantai sepi, tapi kami kurang beruntung karena mendung menutupi matahari yang seharusnya pamit ke peraduannya. Dalam keadaan mendung pun, senja di Kesirat sungguh nyaman dan syahdu, apalagi jika langi sedang cerah, tentu proses pamit sang surya ke peraduan akan menjadi lebih nyaman untuk dipandang.

Hari telah sepenuhnya menjadi gelap dan kami pun pamit kepada samudera tuk kembali ke habitat kami, di kota nan padat.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s