Mengunduh Teduh di Curug Sadim

IMG_2850

Mataku belum terpejam sejak semalam, padahal pagi itu aku bersama kedua teman semasa SMA dulu sudah berjanji untuk melakukan hiking ke kawasan pegunungan di Bandung Utara. Kupikir perjalanan malam dari Jakarta ke Bandung paling hanya akan memakan waktu tiga hingga lima jam dan aku bisa tidur sejenak sebelum melanjutkan hiking. Tapi, dugaanku salah karena macet nan panjang itu menyita waktu hingga 10 jam.

Sebenarnya ada niat untuk membatalkan saja acara hiking itu karena badan terasa lelah, tapi setelah kupikir-kupikir, tak apalah lebih capek sedikit, toh jarang juga punya kesempatan yang pas untuk berkumpul dengan teman-teman SMA. Acara hiking ini sudah dikoordinasi sejak satu minggu sebelumnya. Lewat grup di media sosial, aku memberikan informasi tentang hiking ini. Mulanya respons teman-teman begitu antusias, tapi pada hari pelaksanaannya hanya tiga orang yang akhirnya siap untuk berangkat.

Lebih baik sedikit daripada batal, pikirku. Tapi dengan kondisi badan yang sangat kurang tidur, akhirnya kami bertiga menyetujui untuk mengganti agenda dari hiking menjadi piknik. Setelah berpikir sekitar setengah jam, kami tetap tidak menemukan lokasi mana yang nikmat untuk dijadikan tempat bersantai. “Ya udah, mending ke Lembang dulu aja, nanti sampai sana kita mikir lagi!” ucap temanku mengakhiri kebingungan kami.

Nampaknya apa yang diucapkan temanku itu benar adanya. Setibanya di Lembang, kami memutuskan untuk menepi sejenak ke Goa Maria Karmel, bukan untuk berdoa tapi untuk membeli makanan dan memikirkan tempat mana yang akan kami kunjungi selanjutnya. Perut yang terisi kenyang dengan cepat memberikan asupan ide kepada otak. “Gimana kalau ngadem di aer terjun aja?” tanyaku, dan dengan segera kedua temanku menjawab “Ya!”

Menikmati keteduhan curug sadim

Destinasi kami selanjutnya adalah Curug Sadim, sebuah air terjun kecil berair jernih yang terletak di lereng gunung Tangkuban Parahu. Ketika deretan pemukiman penduduk mulai berganti menjadi kebun teh yang menghampar luas, itu tandanya kami telah semakin dekat dengan lokasi air terjun.

Tak terlampau sulit untuk menemukan Curug Sadim. Jika berkendara dari Lembang, ikuti saja jalan utama menuju Ciater, Subang. Setelah melewati area perkebunan teh, terdapat sebuah tugu kecil di pinggir tikungan, ambil jalan kecil di sebelah tugu itu dan berkendaralah sekitar 200 meter sampai menemukan perempatan lalu beloklah ke kiri. Lurus saja ikuti jalan hingga menemukan sebuah papan kecil bertuliskan “Curug Sadim”. Curug Sadim secara administratif terletak di desa Sagalaherang, Panaruban, Subang, Jawa Barat.

Dari jalan utama, kita masih harus melewati jalanan berbatu sejauh 200 meter di tengah perkebunan teh. Tidak ada tanda-tanda suara air terjun, awalnya kami sempat sangsi jangan-jangan air terjunnya jelek. Sebelum memasuki jalanan berbatu, seorang bapak tua berkumis menghampiri kami dan menyodorkan tiket retribusi sebesar Rp 10.000,- per orang.

Setibanya di parkiran motor, barulah kami melihat sungai kecil yang mengalir jernih. Tak banyak orang yang mengunjungi Curug Sadim tampak dari sedikitnya kendaraan yang diparkir di sana, padahal hari itu adalah akhir pekan. Di tepi aliran sungai itu terdapat tanah lapang berumput yang cocok untuk menjadi lokasi berpiknik. Beberapa keluarga bahkan menggelar karpet sambil menyantap aneka makanan yang mereka bawa dari rumah.

IMG_2671
Curug Sadim nan Teduh

Dari parkiran motor kami berjalan kaki sejauh seratusan meter dan tibalah kami di depan Curug Sadim. Entah apa yang mendasari nama curug ini diberi nama “Sadim”. Ketika kutanyakan kepada seorang penjaga di sana, dia pun menjawabnya dengan tawa kecil. Ah, tapi lupakan sejenak soal asal usul nama Sadim, sekarang saatnya menikmati suasana.

Tatkala melihat air terjun di depannya, teman perempuanku segera mengeluarkan ponselnya. Dia mencari posisi terbaik, lalu membidik wajahnya dengan kamera depan ponselnya. Dia tersenyum puas melihat pemandangan yang alami dan menenangkan itu.

Sementara temanku berfoto-foto, aku duduk sejenak di kursi bambu. Kurebahkan sejenak badanku yang belum sempat tertidur ini. Suara gemericik air menyatu dengan udara pegunungan, dan dengan segera merasuk ke dalam tubuhku. Begitu damai. Aku mencoba tidak memikirkan apapun, kutarik nafas perlahan, dan membiarkan harmoni alam hari itu berbicara pada jiwaku.

Namun kenyamanan itu tidak bertahan lama. Serombongan anak sekolah datang dan mandi di sekitaran air terjun. Tak sampai 30 menit, mereka sudah menyingkir dari air karena kedinginan dan suasana kembali sepi.

IMG_2813
Curug Sadim, tak terlalu tinggi, namun tetap asyik dinikmati

Sebelum orang-orang kembali datang, aku berjalan mendekat ke hadapan air terjun dan membiarkan tubuh ini terhempas oleh butir-butir air. Melihat air terjun dari dekat adalah hal luar biasa buatku. Jika dulu semasa di Jogja, aku bisa tiap minggu pergi mengunjungi air terjun. Tapi, semenjak Jakarta telah memanggilku, maka air terjun adalah tempat langka yang hanya bisa kusinggahi di tanggalan merah saja.

Tak lebih dari dua jam kami menghabiskan waktu di Curug Sadim, namun itu sudah lebih dari cukup untuk mengenyahkan segala penat yang bersarang di pikiran. Memang, benar kata pepatah, alam selalu jadi obat terbaik. Obat bagi jiwa yang penat dan berbeban berat.

Iklan

5 thoughts on “Mengunduh Teduh di Curug Sadim

      1. Nah ini dia yang bikin sebel ya. Distribusi berlapis. Jika emang demi menjaga lokasi alam sekitar gakpapa, tapi mestinya resmi dengan karcis.

        Terlepas dari itu, air terjunnya indah 🙂

      2. Tapi, hampir di Indonesia sepertinya seperti ini 😦

        Di depan gerbang bayar tiket masuk
        sampai parkiran bayar parkir
        mau pakai wc bayar lagi

        kadang ini yg bkin tekor hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s