Teluk Penyu: Paduan Antara Samudera dan Masa Lalu

Siang bolong nan panas tidak menyurutkan niatku untuk berjalan-jalan di tepi pantai. Hempasan ombak dan aroma pantai adalah obat yang manjur untuk memanjakan mata yang sehari-harinya berkutat di depan laptop. Destinasi yang kutuju hari itu adalah pantai Teluk Penyu, sebuah pantai berpasir hitam yang konon katanya menyimpan cerita-cerita misteri.

Saat motor yang kami tumpangi melintas di tepian pantai, beberapa petugas parkir mengarahkan kami untuk segera memarkirkan motor. Tapi kami tidak menghiraukan mereka, motor tetap kami pacu hingga menemukan bagian pantai yang sepi dari pengunjung. Setelah mendapatkan tempat yang kami kira nyaman, kami menepikan motor dan memesan sebuah degan utuh. Sambil meneguk segarnya air kelapa, kami memandang lautan nan luas yang menghampar di depan pandangan kami.

Panas bukan alasan untuk tidak bermain air

Jam menunjukkan pukul sebelas dan matahari bersinar dengan begitu terik. Bocah-bocah kecil tak peduli dengan panasnya matahari, mereka berlari menghambur ke arah ombak yang datang. Sementara itu, beberapa perempuan tampak ragu untuk berjalan lebih lanjut karena panas yang menyengat.

Bangunan yang menjorok ke tengah laut
Keseharian di Teluk Penyu, memancing

Di pantai Teluk Penyu, ada bangunan menyerupai jembatan yang menjorok ke tengah laut. Bangunan panjang itu bukanlah jembatan karena tengah-tengahnya bolong, tapi pengunjung masih bisa berjalan melewati tepiannya. Sekolompok bapak-bapak memanfaatkan bangungan itu untuk memancing. Mereka duduk begitu teduh, tak peduli seberapa teriknya matahari. Fokus mereka hanyalah satu, menanti umpan digigit oleh ikan-ikan.

Aku coba untuk duduk di dekat bapak-bapak itu sambil sesekali bertegur sapa dengan mereka. Karena lupa membawa tabir surya, hanya satu jam berselang, kulitku terbakar seketika. Matahari pantai tidak begitu bersahabat buat orang yang sehari-harinya duduk di dalam kantor.

Benteng Pendem, sebuah lorong waktu 

Masih di kawasan pantai Teluk Penyu, terdapat sebuah benteng nan luas yang merupakan peninggalan Belanda. Konon katanya benteng tersebut angker dan menyimpan cerita misteri. Bahkan ada juga yang berkata kalau dari benteng itu ada terowongan khusus yang terhubung ke pulau Nusakambangan.

Supaya rasa penasaran ini terpuaskan, kusambangilah benteng ini. Setelah membayar retribusi sebesar Rp 5.000,- per orang, langkah kakiku berjalan masuk ke beberapa bagian utama benteng. Benteng Pendem umurnya telah melebihi satu abad, maka tak heran jika benteng ini memiliki begitu banyak kisah-kisahnya.

Benteng Pendem mulai dibangun pada abad ke-19 dan selesai pengerjaannya pada pertengahan tahun 1879. Dulu, nama Benteng Pendem adalah Kusbatterij op de Landtong te Tjilacap yang artinya adalah “benteng yang ada di atas tanah, menjorok  ke laut, dan menyerupai lidah.”

Benteng Pendem adalah garis pertahanan Belanda di pesisir selatan Jawa. Tapi, pada tahun 1942, Belanda tidak mampu menahan serangan dari serdadu Jepang. Alhasil, sejak saat itu Benteng Pendem jatuh ke tangan Jepang. Tiga tahun setelahnya, Benteng Pendem jatuh kembali ke tangan Belanda.

Berdasarkan referensi tertulis, dikatakan kalau hingga tahun 1952, Benteng Pendem sempat dijadikan lokasi untuk melatih tentara oleh pemerintah Indonesia. Barulah belakangan ini Benteng Pendem mulai dipugar dan menjadi objek wisata.

Aura misteri abad lampau 

Barak

Meskipun hari itu matahari sedang cerah-cerahnya, tapi cahayanya tidak mampu menembus beberapa bagian dari Benteng Pendem. Benteng nan luas ini terbagi menjadi beberapa bagian, ada barak, tempat persenjataan, tempat meriam, kolam , juga penjara. Karena waktu yang terbatas, aku hanya sempat berkunjung ke bagian barak dan penjara. Dua bagian yang kukunjungi membuat bulu kuduk sedikit bergidik seraya membayangkan apa yang sejatinya terjadi di benteng ini di abad yang lampau.

Papan penunjuk arah yang telah usang

Bagian barak adalah bangunan yang pertama kali kita jumpai jika berjalan kaki mengikuti papan penunjuk arah. Bangunan dengan arsitektur khas Eropa ini berdiri memanjang. Pintu masuknya berbentuk setengah lingkaran, mirip seperti terowongan kereta api. Di bagian dalamnya hanyalah ada ruangan yang lebar dan berdinding batu bata. Bagian barak ini tidak terlalu menarik menurutku, jadi kulanjutkan untuk maju ke bagian penjara.

Penjara, mendengar namanya saja otakku mulai berpikir secara liar. Aku membayangkan seperti apa kondisi orang-orang yang dulu dijebloskan dalam penjara itu. Apakah ada dari mereka yang meninggal lalu arwahnya gentayangan? Pikirku dalam hati.

salah satu ruangan penjara

Bagian penjara ini merupakan bangunan yang terbuat dari bata merah dan cukup tinggi. Ada beberapa pintu utama, dan lorong-lorong kecil di dalamnya. Awalnya aku berniat menjelajah ke seluruh lorong di dalamnya, tapi harus kuakui nyaliku tiba-tiba menciut. Ketika aku memasuki bagian dalam, suasana begitu lembab dan gelap gulita, lalu tanah yang kupijak ternyata lumpur. Karena tidak menyewa pemandu, aku pikir perjalanan merangsek ke lorong lebih jauh lagi bukanlah ide yang baik.

Jadi, aku memutuskan untuk berjalan-jalan di depan bangunan penjara ini. Seingatku, dulu aku pernah melihat tayangan televisi yang menjadikan Benteng Pendem sebagai tempat untuk melakukan uji nyali. Hari itu aku memang tidak melakukan uji nyali, tapi perasaanku seolah seperti akulah yang menjadi peserta dari tayangan uji nyali itu.

Mas, koin mas!
Salah satu sudut benteng yang terletak di pinggir kolam

Sekitar dua jam kuhabiskan untuk mengelilingi Benteng Pendem yang luas ini. Setelah rasa penasaran dipuaskan, aku berjalan-jalan ke bagian kolam yang airnya ternyata bening. Ada sekitar lima bocah yang dengan segera menceburkan diri ke dalam air. Lalu mereka berteriak, “Mas, uang koinnya, lempar aja ke sini,” pinta mereka. Kurogoh tasku, lalu sesuai permintaan mereka, kulemparkan lima buah koin lima ratusan ke arah kolam. Dengan cekatan mereka segera menyelam, dan tak sampai satu menit, koin-koin itu sudah ada di genggaman mereka.

Menutup perjalanan hari itu, aku duduk-duduk sejenak di pinggiran benteng. Pikiranku membayangkan, jika aku bisa memiliki mesin waktu, aku ingin pergi ke abad 20, ke masa ketika Benteng Pendem masih berfungsi sebagai benteng pertahanan Belanda. Apakah hal-hal seram yang aku bayangkan itu memang nyata? Entahlah, aku tidak tahu jawabannya. Tapi, yang jelas, terkadang sejarah memang ditakdirkan untuk selalu menjadi misteri.

 

Cilacap, 15 April 2017

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s