Kereta Api Serayu, 16 April 2017: Kenikmatan Perjalanan di Atas Gerbong Ekonomi

WhatsApp Image 2017-04-21 at 2.50.33 PM (1)Momen senja baru saja berlalu. Semburat keemasan di langit telah tertutup oleh gelapnya malam yang baru saja dimulai. Dari kejauhan, sebuah cahaya sorot yang terpancar dari lokomotif semakin mendekat. Tatkala kereta itu hampir tiba di stasiun, suara gesekan antara besi dengan besi pun semakin terdengar. Puluhan penumpang yang semula duduk santai bergegas untuk berdiri dan menanti di pinggiran peron.

Hari itu, kereta api Serayu Malam baru saja memulai perjalanan dinasnya yang lumayan panjang. Kereta diberangkatkan dari stasiun Purwokerto tepat pukul 17:00. Sebelum tiba di tujuan akhir, Jakarta Pasar Senen, kereta ini harus melibas malam sepanjang 12 jam, melewati jalur berkelok dan menanjak dari Banjar hingga Purwakarta.

Ketika kereta telah berhenti dengan sempurna di peron 2 stasiun Sidareja, aku bergegas mencari posisi gerbong nomor lima yang ada di bagian belakang. Berhubung hari itu adalah akhir dari libur Paskah, maka seluruh kursi kereta telah terisi penuh. Seharusnya aku duduk di kursi nomor 3E yang berada persis di sebelah jendela. Tapi, seorang perempuan telah terlebih dahulu duduk di tempat itu dan memohon supaya dia boleh duduk di situ sepanjang perjalanan dan aku memilih untuk mengalah.

WhatsApp Image 2017-04-21 at 2.50.33 PM (3)
Senja di stasiun Sidareja, Jawa Tengah

Setelah proses naik turun penumpang rampung, kereta kembali bertolak ke arah barat. Suara berisik dari bawah gerbong berpadu dengan tawa dan teriakan dari puluhan bapak-bapak yang sepertinya adalah satu rombongan. Dalam bahasa Jawa ngapak, mereka bercanda tentang banyak hal. Sesekali tawa mereka semakin meledak tatkala pramugari kereta datang menjajakan makanan. Pramugari itu hanya tersenyum kecut ketika bapak-bapak tadi melayangkan banyak rayuan kepadanya.

Dua jam berlalu, beberapa penumpang termasuk kelompok bapak-bapak itu memilih untuk tidur. Ketika keadaan gerbong sedikit lebih tenang, aku menyapa seorang penumpang yang duduk di sebelahku. Seperti biasa, setiap obrolan yang dilakukan di atas kereta selalu dimulai dengan pertayaan, “Turun di mana pak?” Kalimat itu adalah kalimat sakti. Apabila lawan bicara adalah orang yang ramah, buntut dari kalimat itu bisa menghasilkan obrolan nan panjang dan ngalor-ngidul. Tapi, apabila lawan bicara ternyata adalah orang yang irit ngomong, obrolan akan terasa kaku.

IMG_3334
Kereta Api Serayu relasi Purwokerto – Kiaracondong – Pasar Senen saat berhenti silang di stasiun Ciawi, Tasikmalaya, Jawa Barat

Penumpang sebelahku itu bernama Pak Supri

“Nanti dari Senen, rumahnya mana mas?” tanyanya kepadaku. “Saya di Kalideres pak, masih lumayan jauh dari Senen,” jawabku. Penumpang sebelahku itu bernama pak Supri. Dengan nada bicara bersemangat dia bercerita kalau dia bekerja sebagai cleaning service di sebuah gereja di kawasan Jakarta Utara selama lebih dari 15 tahun.

“Alhamdullilah mas, tapi saya Muslim kok,” tambahnya sambil terkekek. Bekerja di tempat yang secara jelas berbeda iman dari kepercayaan yang dianutnya, Pak Supri tidak merasa khawatir. “Saya betah di sana mas, sudah punya anak tiga, dan gak ada pikiran mau pindah kerjaan,” katanya lagi.

Sambil mengobrol, tangan Pak Supri tidak pernah lepas dari sebuah telepon pintar yang digenggamnya. Sembari telepon itu diisi daya, puluhan notifikasi saling bersahutan. Kelihatan olehku kalau nyaris setiap detik selalu ada pesan masuk di Whatsappnya. Tidak ketinggalan, Facebook dan Instagramnya juga memunculkan notifikasi yang bersahut-sahutan.

Menyadari kalau aku memperhatikannya, dia kemudian tertawa. “Saya sih gak bisa lepas dari hape mas. Selalu aja ada yang nyari. Tapi alhamdullilah jadi punya banyak teman,” katanya. Kemudian dia memamerkan beberapa orang yang dia kenal di Facebook, mulai dari bapak-bapak, ibu-ibu, hingga orang-orang luar negeri kenalannya diperlihatkan padaku.

WhatsApp Image 2017-04-21 at 2.59.49 PM
Bersama pak Supri

Teknologi telah merambah semua orang, tak hanya anak muda, bahkan orangtua seperti Pak Supri pun tidak mau kalau update dibanding anak muda. Sesekali dia mengambil foto dengan kamera depannya, lalu mengirimkannya ke grup Whatsapp keluarganya yang terdiri dari dia, istri, dan anaknya yang pertama.

Anak Pak Supri yang pertama telah bekerja di Padang, Sumatra Barat sedangkan anak keduanya baru duduk di kelas 2 SD, dan anak ketiganya masih balita. “Loh kok beda umur anak pertama sama keduanya jauh amat pak?” tanyaku. “Iya mas, abis kerja di Jakarta toh, jadi jarang pulang, susah bikin!” jawabnya sambil tertawa.

Tidak ada opsi ‘tidur cantik’ di kereta ekonomi

Pukul 21:30 ketika kereta api telah melewati Stasiun Tasikmalaya, Pak Supri memutuskan untuk tidur. Karena tak lagi mengobrol, aku mulai mengeluarkan kamera handphone dan mengambil beberapa jepretan dari penumpang yang tertidur.

WhatsApp Image 2017-04-21 at 2.50.33 PM (2)
Penumpang di sebelah kiriku

Posisi kursi yang tegak membuat penumpang harus kreatif untuk bisa tidur. Ada yang membawa bantal, ada yang saling bersandar dengan pasangannya, ada pula yang tidur dengan mengangkat kaki dan mulutnya mangap. Bagi yang baru pertama kali menaiki kereta ekonomi, bisa jadi hal ini menjadi masalah. Tapi bagi kebanyakan warga, kursi yang tegak, perjalanan panjang, dan penuh sesak bukan masalah selama harga tiket murah bisa membawa mereka bertemu dengan orang tercinta.

Beberapa tahun lalu, sebelum pihak kereta api melakukan reformasi pelayanan, penumpang masih diperbolehkan untuk tidur bergeletakan di lantai kereta. Akibatnya, jika mau berjalan kaki ke WC harus ekstra hati-hati karena ada banyak tubuh manusia bertebaran di lantai. Jika salah langkah, bisa-bisa menginjak kepala atau kaki penumpang yang sedang tidur.

Karena tidur di lantai dirasa tidak baik untuk kenyamanan penumpang, akhirnya pihak kereta api secara resmi melarang penumpang untuk tidur di lantai dan merokok di bordes kereta.

Beberapa penumpang membawa penutup kepala. Ketika mereka sudah mulai mengantuk, mereka menutup seluruh kepalanya supaya lebih nyaman bagi mereka dan orang lain. Tapi, tak sedikit pula penumpang yang tidur apa adanya. Suara dengkuran dan mulut-mulut yang menganga jadi pemandangan yang sangat lumrah sepanjang perjalanan malam di atas gerbong kereta ekonomi.

IMG_3342
Tidur nyenyak berkat bantuan headset

Seharusnya kereta api Serayu Malam hari itu tiba di Pasar Senen pukul 04:02, tapi jadwal kedatangannya meleset jauh. Kereta harus terlambat selama satu jam, sehingga tepat di pukul 05:02, kereta baru merapat di stasiun Pasar Senen.

Aku berpamitan dengan pak Supri dan segera mencari ojek untuk melanjutkan perjalanan ke Kalideres. Pagi itu menjadi pagi yang melelahkan karena pukul 08:00, kantor sudah memanggil untuk kembali bekerja.

Jadi, nikmatnya di mana?

Kenikmatan dan sensasi dari bepergian naik kereta ekonomi bukanlah terdapat di fasilitasnya. Memang saat ini tiap gerbong kereta sudah jauh lebih baik karena dilengkapi dengan pendingin udara, tapi bukan di situ letak kenikmatannya.

Gerbong kereta ekonomi menyajikan aneka ragam manusia. Dari tua, muda, petani, backpacker, yang cantik, ganteng, hingga yang apa adanya. Tapi, semua itu bukan menjadi batasan. Pola tempat duduk yang berhadap-hadapan mau tidak mau membuat tiap penumpang kehilangan jarak proksemiknya, sehingga minimal akan tersenyum dengan penumpang sebelahnya (walaupun banyak juga kok yang cuek bebek).

DSC_0704
Kalau mau selonjor, harus koordinasi dengan penumpang di depan

Tempat duduk yang sempit juga mengharuskan tiap penumpang harus kooperatif. Karena antar lutut penumpang saling beradu, maka apabila hendak meluruskan kaki, harus berkoordinasi dengan penumpang yang ada di depannya. Jadi, secara tidak langsung, kereta ekonomi mengajarkan kita untuk tidak egois.

Iklan