Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Dari Jakarta ke Sidareja—Perjalanan Singkat Bertemu Sahabat

IMG_3307Sidareja, mungkin tak banyak orang yang kenal dengan nama ini, sebuah kecamatan yang berjarak 350 kilometer dari Jakarta. Sidareja bukanlah nama tempat yang tersohor, tapi tempat inilah yang selalu jadi agenda wajibku tatkala akhir pekan atau tanggal merah datang menyapa.

Jauh-jauh hari sebelum libur Paskah mendekat, aku sudah bersiap di depan laptop untuk membeli tiket kereta api secara daring. Waktu itu masih satu setengah bulan sebelum hari Jumat Agung, tapi tiket kereta api Serayu Malam dari Jakarta Pasar Senen menuju Purwokerto telah ludes tak bersisa. Alhasil, aku hanya bisa gigit jari sambil berpikir keras mencari alternatif transportasi lain.

Akhirnya kuputuskan untuk kembali menggunakan bis malam menuju Sidareja. Sebenarnya, naik bis itu tidak buruk-buruk amat, malah lebih mudah daripada naik kereta karena lokasi terminal hanya satu kilometer dari kantor, jadi tentu lebih mudah mencapainya. Tapi, dua bulan lalu saat naik bis dari Jakarta ke Sidareja, bis yang kutumpangi malah mogok dan seluruh penumpangnya ditelantarkan di pinggiran tol Jagorawi sampai tengah malam. Tapi, apa boleh buat, daripada liburan hanya membusuk di kost, lebih baik bersusah sejenak di atas bus.

Ketika hari keberangkatan tiba, mimpi burukku ternyata tidak terjadi. Perjalanan dari Jakarta menuju Sidareja ditempuh selama 15 jam karena macet parah yang mengular dari Jakarta Barat hingga Bekasi Timur. Macet itu sungguh menyiksa! AC bis yang dingin menjadi pemicu tubuh untuk memproduksi urin, tapi tidak tersedia wc di dalam bus. Menahan pipis berjam-jam adalah hal yang paling menyebalkan dari bepergian menaiki bis malam.

Selamat datang di Sidareja

Pukul 07:30, bis yang kutumpangi tiba di terminal Sidareja. Baru saja bis menepi, puluhan tukang ojek dengan logat ngapak-nya segera merangsek ke dalam bis untuk mencari penumpang. Tapi, mereka sepertinya agak menyesal karena kebanyakan penumpang telah dijemput oleh kerabatnya masing-masing. Dengan lunglai, satu per satu tukang ojek itu turun ke luar bus.

Pagi itu masih sepi. Kehidupan di desa belum menunjukkan geliatnya sekalipun matahari telah benderang. Toko-toko di sekitar terminal masih tutup, juga jalanan begitu lengang. Tak lama sebuah sepeda motor tua menghampiriku. Pengemudinya bertubuh gempal dan matanya masih sembab karena baru bangun tidur. Dia tidak memakai helm, ataupun atribut keselamatan lainnya.

Senyumku tersungging, demikian juga senyumnya. Kami berjabat tangan erat, lalu saling menepuk pundak dan mengejek satu sama lain. “Gendut koe, mirip Kim Jong Un! Jam segini baru bangun piye toh,” ejekku. Memang candaan kami sesekali diselingi dengan ejekan, tapi inilah yang membuat kami akrab. Sekalipun jarak telah memisahkan, tapi kami berdua masih dan tetap berkawan erat. Sahabatku itu bernama Roland, yang sering kusebut Kim Jong Un dan masih bergulat dengan skripsinya yang belum kunjung tuntas.

IMG_0546
Jaga toko 

Rumah temanku, tempat aku tinggal adalah sebuah rumah yang sederhana. Rumah ini tidak punya pekarangan baik di depan ataupun belakangnya. Bagian depan rumah adalah toko kelontong yang sudah berdiri sejak puluhan tahun silam. Toko kelontong ini telah bertahan melewati rintangan zaman. Sekalipun di kanan dan kiri mini-market sudah menjamur, tapi toko ini tetap tidak kehilangan pesonanya.

Menemukan rumah kesekian di Sidareja

Sejatinya, tidak ada yang istimewa dari Sidareja. Layaknya desa-desa pada umumnya, di Sidareja menghampar sawah nan luas, sungai-sungai yang meliuk, dan senyuman hangat dari tiap penduduknya. Tapi, bagiku sendiri, Sidareja tidak hanya sebuah desa, tapi dia juga adalah rumahku yang kesekian.

IMG_3042
Senja di tepi persawahan Sidareja

Aku dan temanku itu baru saling mengenal empat tahun lalu karena kami sama-sama menempuh kuliah di Jogja. Karena pernah beberapa kali duduk dalam satu kelas yang sama, akhirnya kami menjadi teman dan akrab. Salah satu hal yang membuat pertemanan ini menjadi akrab adalah ejekan dan guyonan. Dulu, tiap kali bertemu selalu saja ada ejekan baru yang tercipta. Lalu, ketika aku sudah lulus duluan, ejekan-ejekan yang dulu pernah dibuat ternyata masih abadi. Itu tidak melukai hati kami masing-masing, tapi ternyata malah menjadi pupuk yang menyuburkan pertemanan.

Sekalipun aku adalah orang lain, tapi penghuni rumah kediaman temanku itu selalu menyambutku dengan hangat. Ada makanan yang special selalu tersaji di meja makan setiap kali aku datang. Aku bebas melakukan apapun di sana, seolah aku telah menjadi bagian dari rumah itu selama bertahun-tahun.

Ada sayur bening, gorengan, mie goreng, ayam goreng, dan kerupuk yang menjadi suguhan setiap kali makan digelar. Sang ibu pemilik rumah tahu betul kalau aku adalah anak kost yang merana di ibukota, jadi dengan semangat dia membuatkan makanan itu. Kalau nasi di piringku dilihatnya terlalu sedikit, dia akan memaksaku untuk mengambil lebih banyak lagi, lagi, dan lagi sampai aku menyerah.

Tiga hari yang kuhabiskan di Sidareja membuatku merasa amat bersyukur karena diberi anugerah dan kesempatan Tuhan untuk menikmati kebaikan-Nya lewat orang-orang yang hadir di sekitarku.

Tiga hari di Sidareja adalah hari-hari yang menyembuhkan penatku. Aku belajar dan menikmati kehidupan sebagai seorang warga desa, juga sebagai seorang pedagang Tionghoa. Setiap hari, aku ikut duduk menjaga toko dan sedikit-sedikit belajar tentang bahasa ngapak dan barang-barang yang dijual.

Ketika mini-market datang menyerbu Sidareja, toko temanku ini masih bertahan dan laris karena memiliki banyak kelebihan. Memang secara fasilitas tidak senyaman mini-market modern, tapi soal kelengkapan barang jangan ditanya. Barang-barang dari zaman super lawas hingga saat ini masih lengkap tersedia, dan itulah yang dicari oleh pembeli yang kebanyakan adalah petani.

Berbagai jenis tembakau, kertas rokok, kemenyan, pil-pil obat oplosan, jamu kuat lelaki, obat nyamuk cap king-kong hingga beragam kuliner dan perkakas kecantikan semua tersedia di toko ini. Hebatnya, pembeli desa adalah pembeli yang loyal. Untuk urusan obat nyamuk, warga desa di sini hanya mau membeli obat nyamuk cap king-kong, bukan yang lain. Sekalipun obat nyamuk sekarang telah tersedia dalam berbagai jenis, tapi obat nyamuk bakar cap king-kong ini tidak pernah susut pamornya. Memang luar biasa cap king-kong ini.

Bagiku yang tinggal di Jakarta, bahasa Jawa ngapak di Sidareja ini selalu unik untuk didengar. Jika dulu di Jogja orang-orang berbicara bahasa Jawa dengan halus, Sidareja jauh dari kata halus. “Aduh, wetenge inyong kencod!” adalah kalimat favoritku! Aduh, perutku lapar, begitulah arti kalimat itu. Bahasa Jawa ngapak dilantunkan dengan cepat dan intonasinya unik! Sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata.

Perjalanan tidak selalu tentang tempat

Setelah melewatkan tiga hari di Sidareja, tibalah saatnya untuk aku kembali bekerja ke Jakarta. Saat berpamitan untuk pulang, ibunda dari temanku itu berpesan, “Kamu jangan sombong ya. Jangan lupa sama rumah ini. Kalau ada libur harus ke sini, ini rumahmu juga loh. Ditunggu ya, ati-ati di jalan!” ucapnya sambil tersenyum lebar.

Kata-kata itu bukan hanya isapan jempol. Hingga detik itu, sudah lebih dari lima kali aku bolak-balik berkunjung ke Sidareja sejak tahun 2013 lalu. Sambutan rumah itu setiap kali aku datang tetaplah sama, bahkan lebih hangat setiap harinya.

Hari itu aku kembali menyadari bahwa perjalanan tidak selalu bicara soal tujuan yang eksotis, tapi seringkali perjalanan adalah tentang siapa yang kita temui. Perjalanan adalah sarana terbaik untuk membentuk kita. Orang bijak pada masa lampau pernah berkata, “Besi menajamkan besi, dan manusia menajamkan manusia.” Pertemuanku dengan rupa-rupa manusia dalam perjalanan, itulah yang membentuk diriku. Yap, membentuk diriku untuk senantiasa memahami perbedaan, rendah hati, dan bijaksana dalam berpikir maupun bertindak.

Terima kasih Sidareja untuk tiga hari yang singkat namun penuh cerita ini!
Sampai bertemu di lain kesempatan ya!