Catatan Hidup

Mengapa Harus Membeli kalau Tidak Butuh?

Beli1Hari itu Minggu sore. Seorang bocah lelaki menghampiriku dengan baju sedikit basah karena kehujanan. Di tangan kanannya ada dua buah kemasan tissue, sedangkan di tangan kirinya ada sebuah kantong plastik besar berisikan puluhan kemasan tissue.

“Kak, dibeli tissuenya, 5 ribu satu,” ucapnya kepadaku dengan nada lesu. Menanggapi penawarannya, pertama-tama aku membalasnya dengan tersenyum. “Kok hujan-hujanan dek?” tanyaku padanya. Dia tidak menjawab, hanya tersenyum tipis kemudian menunduk.

Kuambil dua buah tissue dari tangan kanannya. Alih-alih langsung membayar, kuajaknya duduk sejenak di kursi kosong sebelahku seraya menunggu hujan. Bukan sebuah kebetulan, saat itu aku membawa serta aneka camilan yang sedianya akan kubawa ke kantor di Jakarta. Melihat anak itu duduk di sampingku, kusodorkan kantong plastik berisi aneka camilan itu padanya.

“Kamu mau yang mana, nih ambil yang kamu mau,” kataku. Tanpa bertanya lebih lanjut, bocah itu mengulurkan tangannya ke dalam kantong dan mulai memilih makanan mana yang hendak dia ambil. Pilihannya jatuh pada sebungkus astor cokelat. Kemudian dia memasukkan astor itu ke dalam kantong plastik hitam yang dibawanya.

“Ambil satu lagi gih, tadi kan yang manis, sekarang ambil yang asin,” kataku lagi. Kembali dia memasukkan tangannya ke dalam kantong makanan itu dan diambilnya seplastik kerupuk pedas. Ekspresinya pun berubah, kemudian ada senyum lebar tersungging dari wajahnya hingga akhirnya kami menjadi akrab dan mengobrol.  

Ditemani hujan yang rintik, bocah tadi bercerita tentang keluarganya. Ia adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Setiap sore dia berjualan tissue di sepanjang jalan Cihampelas. Tak peduli terik maupun hujan, yang dia tahu hanyalah berjualan tissue untuk membantu orangtua dan adik-adiknya. Ketika ada orang yang membeli jualannya, ia akan berterima kasih, namun apabila ada orang-orang yang menolak jualannya, ia akan berlalu dan pergi kepada orang yang lain, demikian seterusnya.

Ketika aku melihat senyum lebar di wajah bocah kecil itu, hatiku yang semula hambar berubah menjadi penuh rasa. Sejenak aku lupa tentang cicilan dan uang kost yang harus kubayar di awal bulan nanti. Senyum sumringah anak tadi begitu polos dan menegurku. Bocah ini mampu tersenyum penuh syukur ketika tangannya menggenggam dua plastik camilan yang harganya tidak seberapa.

Ketika hujan akhirnya reda, kusodorkan selembar uang dua puluh ribuan kepadanya. “Ambil kembaliannya buat kamu, dek,” kataku lagi kepadanya. Dia pun mengangguk, mengucapkan terima kasih dan kembali melanjutkan pekerjaannya sebagai penjaja tissue keliling.

Pertemuan sore itu membuatku merenung sepanjang jalan menuju Jakarta. Di tengah kemacetan jalan tol yang seolah tak berujung, wajah anak tadi terus terbayang. Aku membayangkan bagaimana keluarganya, juga masa depannya kelak. Dari bocah kecil itu kembali disadarkan kalau semua di dunia ini relatif. Kekayaan seringkali tidak bisa diukur dari deretan angka di rekening, tapi dari seberapa puas diri kita dengan apa yang ada.

Aku mungkin tidak membutuhkan dua kemasan tissue itu, tapi aku butuh untuk belajar memberi. Dari memberi, aku pun diberi. Selembar uang yang kuberikan kepada bocah itu bisa jadi memberi sukacita bagi dia dan seisi rumahnya.

Aku teringat akan perkataan sang Guru Agung yang menjadi panutanku. “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, apa saja yang telah kamu lakukan kepada seseorang yang terkecil dari saudara-saudara-Ku ini, kamu telah melakukannya kepada-Ku.”

Jika saat itu sang Guru Agung ditawari tissue oleh bocah kecil tadi, mungkin dia akan melakukan hal serupa sepertiku. Atau, bisa jadi juga dia akan melakukan lebih dari sekadar yang kulakukan, yaitu memberi kelegaan dan sukacita yang abadi.

Bandung, 26 Maret 2017

beli2

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s