Jalan Dago: Kembalinya Nuansa Romantis Kota Bandung

Udara dingin kota Bandung masih terasa ketika angin semilir berhembus meniup pepohonan di jalan Dago. Malam itu Bandung terasa begitu syahdu ditemani lampu-lampu jalan yang berbentuk bulat berpendar memancarkan warna kekuningan. Tampak satu dua orang berjalan santai di atas trotoar baru nan lebar sambil sesekali mengambil swafoto. Inilah secuplik adegan ketika Bandung sedang berbenah untuk mengembalikan jati dirinya sebagai “Parijs van Java.” 

Jalan Dago bukanlah sesuatu yang baru di kota Bandung. Sejak dulu jalan Dago terkenal dengan deretan kaki lima penjual jagung bakar yang selalu laris setiap malam datang, apalagi saat malam minggu tiba. Sampai hari ini pun keberadaan penjaja jagung bakar ini masih eksis walaupun berbagai gerai makanan dan factory outlet sudah bertebaran di sepanjang jalan Dago.

Jalan Dago di masa lampau

Jika kita menilik kembali ke tahun-tahun yang silam, pada masa kolonial jalan Dago masih berupa hutan dan masih sepi dari manusia. Penduduk yang kala itu hendak bertolak ke kota Bandung tidak berani melewati kawasan ini sendirian, jadi mereka selalu jalan secara berkelompok. Sebelum orang-orang yang sama-sama mau melintas itu terkumpul, mereka pun saling menunggu, dan kata menunggu dalam bahasa Sunda adalah “dagoan”.

Ketika kota Bandung semakin berkembang, pemerintah kolonial mulai membuka jalan menuju area utara Bandung melewati daerah jalan Dago. Sisa-sisa pembangunan itu masih bisa kita lihat hingga saat ini, yaitu ada SMAK Dago yang sekarang telah tutup, dan ada pula Institut Teknologi Bandung, juga rumah sakit St. Borromeus yang berlokasi persis di pinggir jalan Dago.

Kini, berpuluh-puluh tahun sejak era kolonial berlalu, jalan Dago telah berubah muka. Jalan Dago semakin terkenal. Kawasan yang dulunya merupakan hutan nan sepi ini kemudian dibidik oleh pelaku usaha. Mereka mendirikan factory outlet, hotel, restoran dan gerai-gerai lainnya di sepanjang jalan Dago yang menanjak ini.

Setiap akhir pekan dan libur panjang tiba, jalan Dago akan berubah menjadi antrian parkir yang mengular panjang. Ratusan, bahkan juga ribuan kendaraan yang didominasi plat “B” akan tumpah ruah memadati jalan Dago. Namun, di tahun 2017 ini berkat usaha dari pemerintah kota Bandung yang giat memperbaiki estetika kota, jalan Dago tampak berbeda.

Wajah baru trotoar jalan Dago

Duduk santai di fasilitas publik yang disediakan pemerintah kota

Trotoar yang dahulu tidak begitu dianggap kini digarap begitu serius. Trotoar sepanjang jalan Dago mulai diperlebar dan diperbaiki. Lalu diletakkan kursi-kursi dan meja di setiap beberapa ratus meter. Ditambah lagi dengan lampu-lampu jalan berbentuk bulat yang berpendar kekuningan. Semuanya bersatu padu membuat jalan Dago menjadi lebih nikmat dipandang dan dinikmati.

Trotoar yang bersih

Memang belum seluruh kota Bandung menjadi cantik seperti jalan Dago karena tentu membutuhkan usaha dan biaya yang tidak sedikit untuk mengatur kota yang sudah semrawut ini. Tapi, setidaknya jalan Dago telah menjadi tanda positif bahwa pemerintah kota mulai peduli akan keindahan lingkungan dan mendorong warga kota untuk lebih giat berjalan kaki.

Jika berkunjung ke Bandung, cobalah untuk memarkirkan kendaraanmu sejenak di salah satu factory outlet atau mini market lalu berjalan kakilah di sepanjang trotoar. Rasakan sejuknya udara malam kota Bandung dan pandanglah sekeliling. Jika bersama pasangan, bisa pula sambil berpegangan tangan. Jika sendiri, bisa sambil memotret suasana.

Di bawah pendaran cahaya kekuningan, slogan “Parijs van Java” yang sempat terkikis oleh kesemerawutan ini seolah hidup kembali. Mungkin hari ini baru sedikit bagian kota Bandung yang mulai berbenah, tapi kita percaya kelak kota Bandung akan menjadi kota yang semakin layak dan ramah untuk dihuni.

Romantisme Dago

Semua fasilitas di jalan Dago bisa dinikmati siapa saja tanpa dipungut biaya sedikitpun. Jadi, siapkah kamu untuk mampir ke Bandung di akhir pekan ini?

Iklan

One thought on “Jalan Dago: Kembalinya Nuansa Romantis Kota Bandung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s