Melewatkan Tengah Malam Bersama Pak Gojek

Ojek1Hari itu jam sudah hampir menunjukkan tengah malam dan aku masih berkeliaran di jalanan Jakarta yang masih belum sepi juga. Macet parah sepanjang jalan Bandung ke Jakarta membuat badan ini lelah dan rasanya ingin segera tiba di kost. Supaya cepat, lebih baik naik Gojek saja deh, pikirku.

Setelah melakukan order di aplikasi, tak lama pengemudi gojek pun datang, lengkap dengan atributnya yang berwarna hijau. “Pak Aryanto yang ke Sumur Bor, ya?” tanya pengemudi Gojek itu. “Iya pak, saya naik ya,” sahutku sembari bersiap naik ke atas jok. Motor yang digunakan malam itu adalah bebek matic yang terlihat kusam karena kotor. Tapi aku tidak terlalu peduli karena yang ada dalam pikiran hanyalah ingin segera mendaratkan badan di kasur.

Jalanan berangsur-angsur sepi sehingga motor pun dipacu lumayan cepat. “Asli mana pak?” tanyaku memulai pembicaraan. “Saya asli Jakarta, kalau mas?” sahutnya kembali. Seiring kami mengobrol lebih larut, laju motor pun mulai melambat. Obrolan malam itu terasa hangat sekalipun angin dengan keras menerpa. Kami mengobrol banyak hal, soal pekerjaan, jalanan Jakarta yang macet, politik, hingga carut marut konflik antara angkutan online dengan konvensional.

Sebuah kejadian tengah malam

Setelah motor yang kami tumpangi melewati jalan layang, ada sesuatu yang aneh. Motor kami mulai bergoyang dan tidak stabil. “Wah, kayaknya harus berhenti sebentar nih mas,” ucap pengemudi Gojek itu. Akhirnya kami menepi, dan setelah aku turun ternyata ban belakang motor sudah bocor dan rata.

Bapak pengemudi Gojek itu pun panik, demikian juga dengan aku yang berharap ingin pulang cepat tapi malah mendapatkan peristiwa semacam ini. Ketika kulihat jam tanganku, waktu sudah menunjukkan pukul 00:10. Pikiranku mulai mengeluh, “Gile, mau sampai kost jam berapa ini. Mana pagi harus kerja juga,” gumamku dalam hati.

Sempat terpikir saat itu untuk mengikhlaskan saja biaya ojek yang sudah kubayar itu, lalu mencari taksi atau ojek lain supaya bisa cepat sampai ke kost. Tapi, hati kecilku berkata lain. “Coba bayangkan kalau kamu adalah si bapak Gojek. Kan ban bocor ini bukan maunya dia,” hati kecilku bicara.

Tapi pikiran lainnya segera muncul di benakku. Sejujurnya ada rasa takut waktu itu, bagaimana tidak, Jakarta itu rawan kriminalitas, apalagi ini sudah tengah malam dan di pinggir jalan raya. Beberapa detik aku berpikir, dan akhirnya aku menyerah kepada hati kecilku. Kulirik sekeliling apakah ada tempat tambal ban, ternyata tidak ada.

“Ya sudah pak, kita jalan aja sampai nemu tukang tambalnya ya pak,” ucapku. Akhirnya kami pun berjalan. Aku berjalan lebih dulu sementara si bapak Gojek menuntun motornya di belakangku.

Rasa khawatir kian menjadi karena sepanjang jalan tidak ada tukang tambal ban yang buka. Akhirnya aku melambatkan langkah dan berjalan di sebelah si Bapak. Sambil berjalan, kami pun mengobrol supaya rasa lelah sedikit terusir.

Sekitar 2 kilometer kami berjalan, barulah ada sebuah tukang tambal ban yang ternyata masih buka. Sementara motor diperbaiki, kami pun mengobrol ngalor-ngidul, dari A sampai Z. Nama pengemudi Gojek itu adalah Pak Kholiq. Di usianya yang tidak terlampau tua, beliau sudah dikaruniai seorang cucu.

Malam itu, rencananya pak Kholiq akan segera pulang setelah selesai mengantarku. Beliau sudah lelah karena sepanjang siang hingga malam berkeliling seantero Jakarta untuk menjemput dan mengantar penumpang. Tapi, harapannya untuk pulang cepat juga pupus karena ternyata ban motornya yang bocor.

“Mas, saya jadi gak enak nih, maaf ya jadi lama,” ucapnya. “Loh kok minta maaf pak, kan bocornya bukan bapak yang mau, hehe” jawabku sambil tertawa. Singkat cerita, setelah setengah jam diperbaiki, ban motor itu pun sembuh dan kami melanjutkan perjalanan.

Setibanya di depan gang kostku, aku menyelipkan beberapa rupiah tambahan sebagai apresiasiku atas si Bapak, juga untuk membayar biaya tambal ban tadi. Kemudian kami pun berpamitan.

Sebuah pelajaran untuk menjadi penumpang yang baik 

Jika malam itu aku mencari Gojek lain, tentu itu bukan tindakan yang salah, apalagi saat badan sudah lelah. Tapi, aku sendiri pun bertanya-tanya mengapa hari itu aku memilih untuk berjalan kaki sejauh 2 kilometer, di Jakarta yang konon katanya mengerikan, apalagi di tengah malam!

Seharusnya malam itu aku lebih takut pada kriminalitas Jakarta dan membiarkan pikiran buruk menguasaiku. Tapi, itu semua tidak terjadi. Kejadian malam itu membuktikan bahwa di kota yang dipenuhi imaji akan kekejaman tanpa bela rasa ini, kemanusiaan dan kebaikan masih ada.

Perjalananku berjalan kaki di tengah malam bersama Pak Kholiq pada akhirnya sama-sama menguatkan dan menghibur hati. Satu sisi aku dikuatkan kembali sekaligus ditegur tentang beratnya bekerja di ibukota, namun di satu sisi lain Pak Kholiq juga terhibur karena dia memiliki teman ngobrol sepanjang jalan itu sehingga baik aku dan dia tidak merasa lelah karena berjalan.

Malam itu aku kembali yakin dan percaya bahwa kebaikan tidak akan pernah dikalahkan oleh kejahatan. Rasa khawatir yang berlebihan itu tidak pernah baik, dan jangan pernah biarkan itu mematikan kebaikan yang ada dalam hati kita. Waspada memang perlu, tetapi tetap buka pintu hati dan selalulah berdoa. Aku percaya bahwa Tuhan ambil bagian dalam setiap niatan tulus yang kita perbuat.

Ketika aku merenungkan kembali peristiwa itu, aku teringat akan sebuah ayat yang dikatakan oleh Guru Agungku. “Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil.”

Malam itu aku belajar menjadi penumpang yang baik. Menjadi penumpang yang menemani sang Pak Gojek berjalan kaki di tengah gulita malam, juga penumpang yang melaksanakan teladan sang Guru Agungnya.

 

Daan Mogot, 2 Januari 2017

 

 

Apa Nikmatnya Seharian Bekerja Hanya di Depan Komputer?

Aku hampir tidak percaya kalau saat aku menuliskan cerita ini, ternyata sudah lebih dari empat bulan kulalui di Jakarta. Perlahan tetapi pasti aku pun larut dalam rutinitas khas ibukota—masuk pagi, duduk berjam-jam di hadapan layar komputer, pulang, dan itu berlanjut setiap harinya sembari berharap akhir pekan datang lebih cepat.

Awalnya aku sempat menolak untuk hidup seperti ini, hingga lambat-laun ada kejadian-kejadian kecil yang membuatku menyadari betapa istimewanya sebuah panggilan karier yang sedang kulakukan saat ini.

Ketika impian tidak selaras dengan kenyataan

Sebagai anak muda di usia 20an, semangatku masih sangat membara dan jiwaku ingin dipenuhi petualangan. Namun, perlahan impian-impian itu semakin melunak mengikuti dengan kenyataan yang memang terjadi. Aku tidak mendapatkan pekerjaan sebagai seorang wartawan yang harus turun langsung ke lapangan untuk meliput kejadian. Aku bekerja sebagai seorang penulis dan editor—sebuah pekerjaan yang awalnya aku sendiri pun tidak tahu.

Sebenarnya aku sempat melayangkan protes kepada Tuhan. “Kayaknya aku salah deh, aku seolah gak hidup kalau rutinitasku begini terus. Pergi pagi, pulang malam, begitu terus,” keluhku selama hampir dua bulan penuh. Lama-lama, keluhan-keluhan yang kunaikkan itu menjadi motivasiku. Aku jadi tidak bersemangat melakukan apapun, termasuk menulis. Sekalipun aku menulis dan mengedit, rohku tidak merasuk dalam setiap kata-katanya.

Aku tidak melihat ada keistimewaan di balik mengedit puluhan tulisan yang masuk setiap bulannya. Merapikan susunan kata, memperbaiki EYD, dan menuangkan ideku ke dalam tulisan kuanggap sebagai rutinitas yang menjemukan. Akhirnya, mau tidak mau, hidupku dikendalikan oleh mood yang selalu negatif. Belum lagi ketika kenangan masa lalu itu datang, dengan segera aku akan merasa sedih dan menyesali keadaan saat ini.

Bulan lewat bulan berlalu, aku berusaha menemukan diriku untuk larut dalam setiap aktivitas yang kulakukan. Aku tidak mungkin memberkati orang-orang lewat setiap kata yang kurangkai apabila aku sendiri tidak menemukan sukacita dalam pekerjaan itu. Berbagai upaya kulakukan, mulai dari membaca buku, bertemu teman, hingga pergi berdoa ke Katedral pun kulakoni demi menemukan jiwaku kembali.

Kejadian kecil yang menegurku

Di penghujung bulan Februari aku merasa kalau semangat hidupku berada di titik nadir. Aku berusaha mencari semangat itu kesana-kemari, tetapi tak juga kutemukan semangat itu. Akhirnya aku pun menyerah dan mulai pasrah dengan apa yang akan terjadi di depanku. Jika di hari-hari selanjutnya semangatku tak kunjung bangkit, maka aku pikir kesudahan karierku akan dekat.

Tapi, aku salah besar. Dia yang memulai pekerjaan baik di dalamku, Dia juga yang akan menuntunku ke dalam rencana-Nya.

Suatu ketika, ada sebuah artikel yang kutulis tentang masa lajang. Ya, aku adalah seorang lelaki single yang belum pernah sekalipun merasakan indahnya berpacaran seumur hidup.

Saat artikel itu selesai ditulis dan diterbitkan di website tempatku bekerja, ternyata artikel itu laris manis. Secara kuantitas memang tidak terlau banyak, tapi ada banyak sekali pembaca yang merespon tulisan itu. Ada yang meresponnya dengan meninggalkan komentar di akhir tulisan, bahkan ada pula yang mengirimiku pesan langsung lewat media sosial.

Kemudian, beberapa minggu setelahnya aku menerima sebuah tulisan yang berisikan kesaksian sederhana dari seorang perempuan. Tulisan itu berkisah tentang keluarganya yang tak punya uang untuk membeli kentang, padahal besoknya sang ibu harus berjualan donat yang terbuat dari kentang.

Penulis cerita itu tidak putus asa. Dia masuk ke dalam kamarnya dan berdoa, dan sekalipun ini zaman modern, ternyata mujizat masih terjadi. Ketika ayahnya pulang, mereka menemukan dua buah kentang lainnya di kolong tangga. Singkat cerita, dengan dua kentang itu sang ibu dapat membuat donat dan berjualan keesokan harinya.

Awalnya kupikir cerita itu terlalu sederhana dan tidak akan menarik banyak pembaca. Tapi, aku salah besar! Dalam beberapa jam setelah artikel itu ditayangkan, artikel itu dibaca oleh ribuan orang, dan dibagikan ulang oleh beratus-ratus orang. Aku tercengang, bukan semata-mata karena kuantitas pembaca yang banyak, tapi kepada kesederhanaan cerita itu yang membuat orang sadar kalau doa itu masih memiliki kuasa.

Hmmmm, kejadian-kejadian itu membuatku sadar diri. Selama ini aku terlalu berfokus kepada hal-hal yang besar hingga aku lupa kalau hal besar itu sendiri disusun dari hal-hal kecil. Terlalu berfokus pada hal besar membuatku kehilangan kenikmatan dalam bekerja. Aku kehilangan setiap detik berharga dan membiarkan rohku menguap, tak lagi bersama kata-kata yang kutulis.

Segera setelah aku menyadari itu, aku memohon ampun kepada sang Pencipta. Aku tahu kalau Dialah yang mengizinkanku hadir dalam pekerjaan ini. Ketika aku tidak menikmati pekerjaan ini, tentu aku tidak sedang menghormati Dia yang memberikan pekerjaan ini kepadaku.

Pola pikir adalah segalanya

Ketika kita berdoa, jarang sekali Tuhan mengubah keadaan kita dengan segera, atau mungkin juga Dia takkan pernah mau mengubah keadaan kita. Tapi, satu yang aku tahu adalah Dia mau kita yang berubah pertama kali.

Sampai detik ini, pekerjaanku tetap sama–duduk di depan layar komputer berjam-jam, tapi aku telah menemukan jiwaku hadir dalam pekerjaan ini. Dulu aku mencari semangatku yang hilang ke berbagai tempat hingga aku menyadari bahwa semangat itu tidak ditemukan di tempat lain, tapi di dalam diriku sendiri.

Sekalipun aku pergi jauh-jauh ke gunung dan pantai untuk mencari inspirasi, tetapi ketika aku tetap mengeraskan hati dan menutup mata akan hal-hal kecil, semuanya tidak ada artinya.

Pekerjaan adalah sebuah panggilan. Ya, panggilan untuk mengisi dompet dengan uang, dan mengisi jiwa dengan pengalaman. Aku menemukan petulanganku dari setiap kata yang kuketik, dari setiap tulisan yang kuedit, dari setiap cerita yang puluhan teman-teman kontributor kirimkan.

Petualangan itu tidak harus selalu tentang bagaimana aku pergi berpindah tempat, tapi tentang di mana aku dapat menaklukan tantangan yang menghadang. Ketika aku merasa bosan, maka petualangan yang harus kulakukan adalah mencari jalan untuk membunuh rasa bosan itu. Ketika aku merasa putus asa, maka petualanganku adalah mencari jalan kelegaan.

Ada petualangan dari setiap untaian kata yang dikirimkan oleh kontributor. Dari kata-kata mereka, aku seolah dibawa masuk menyelami kehidupan dan pergumulan mereka. Percaya atau tidak, itulah yang membuatku kaya! Ya, kaya akan cerita kehidupan. Ada sukacita dari merangkai kata. Ibarat sebuah permadani yang indah, kata-kata ini adalah benang-benang kecil yang menjadikan permadani itu sebagai suatu kesatuan yang indah.

Menutup tulisan ini, ada sebuah kutipan yang ingin kuambil dari tulisan Stephie Kleden-Beetz dalam bukunya yang berjudul Cerita Kecil Saja:

“Bila pena sudah berbuah, ada yang senang karena disanjung, tak sedikit yang khawatir merasa disindir. Majunya sebuah negeri tidak hanya diukur oleh alat-alat elektronik yang canggih atau komputer yang super. Maju atau “dalam”-nya sebuah negeri justru diukur oleh kesusastrannya. Inilah kekayaan rohani negeri mana pun. Teknik boleh terus maju, tetapi roh harus tetap hidup dan jaya. Roh semacam ini tersembunyi di dalam sastra, perbendaharaan negeri yang harus dipupuk.”

Ada kuasa dalam berkata-kata

Ada sukacita dalam menyunting setiap kata

Jika aku merasa lelah dan hidupku seolah rata

Aku harus ingat kalau Tuhanku tetap beserta….
Jakarta Barat, 30 Maret 2017

Mengapa Harus Membeli kalau Tidak Butuh?

Beli1Hari itu Minggu sore. Seorang bocah lelaki menghampiriku dengan baju sedikit basah karena kehujanan. Di tangan kanannya ada dua buah kemasan tissue, sedangkan di tangan kirinya ada sebuah kantong plastik besar berisikan puluhan kemasan tissue.

“Kak, dibeli tissuenya, 5 ribu satu,” ucapnya kepadaku dengan nada lesu. Menanggapi penawarannya, pertama-tama aku membalasnya dengan tersenyum. “Kok hujan-hujanan dek?” tanyaku padanya. Dia tidak menjawab, hanya tersenyum tipis kemudian menunduk.

Kuambil dua buah tissue dari tangan kanannya. Alih-alih langsung membayar, kuajaknya duduk sejenak di kursi kosong sebelahku seraya menunggu hujan. Bukan sebuah kebetulan, saat itu aku membawa serta aneka camilan yang sedianya akan kubawa ke kantor di Jakarta. Melihat anak itu duduk di sampingku, kusodorkan kantong plastik berisi aneka camilan itu padanya.

“Kamu mau yang mana, nih ambil yang kamu mau,” kataku. Tanpa bertanya lebih lanjut, bocah itu mengulurkan tangannya ke dalam kantong dan mulai memilih makanan mana yang hendak dia ambil. Pilihannya jatuh pada sebungkus astor cokelat. Kemudian dia memasukkan astor itu ke dalam kantong plastik hitam yang dibawanya.

“Ambil satu lagi gih, tadi kan yang manis, sekarang ambil yang asin,” kataku lagi. Kembali dia memasukkan tangannya ke dalam kantong makanan itu dan diambilnya seplastik kerupuk pedas. Ekspresinya pun berubah, kemudian ada senyum lebar tersungging dari wajahnya hingga akhirnya kami menjadi akrab dan mengobrol.  

Ditemani hujan yang rintik, bocah tadi bercerita tentang keluarganya. Ia adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Setiap sore dia berjualan tissue di sepanjang jalan Cihampelas. Tak peduli terik maupun hujan, yang dia tahu hanyalah berjualan tissue untuk membantu orangtua dan adik-adiknya. Ketika ada orang yang membeli jualannya, ia akan berterima kasih, namun apabila ada orang-orang yang menolak jualannya, ia akan berlalu dan pergi kepada orang yang lain, demikian seterusnya.

Ketika aku melihat senyum lebar di wajah bocah kecil itu, hatiku yang semula hambar berubah menjadi penuh rasa. Sejenak aku lupa tentang cicilan dan uang kost yang harus kubayar di awal bulan nanti. Senyum sumringah anak tadi begitu polos dan menegurku. Bocah ini mampu tersenyum penuh syukur ketika tangannya menggenggam dua plastik camilan yang harganya tidak seberapa.

Ketika hujan akhirnya reda, kusodorkan selembar uang dua puluh ribuan kepadanya. “Ambil kembaliannya buat kamu, dek,” kataku lagi kepadanya. Dia pun mengangguk, mengucapkan terima kasih dan kembali melanjutkan pekerjaannya sebagai penjaja tissue keliling.

Pertemuan sore itu membuatku merenung sepanjang jalan menuju Jakarta. Di tengah kemacetan jalan tol yang seolah tak berujung, wajah anak tadi terus terbayang. Aku membayangkan bagaimana keluarganya, juga masa depannya kelak. Dari bocah kecil itu kembali disadarkan kalau semua di dunia ini relatif. Kekayaan seringkali tidak bisa diukur dari deretan angka di rekening, tapi dari seberapa puas diri kita dengan apa yang ada.

Aku mungkin tidak membutuhkan dua kemasan tissue itu, tapi aku butuh untuk belajar memberi. Dari memberi, aku pun diberi. Selembar uang yang kuberikan kepada bocah itu bisa jadi memberi sukacita bagi dia dan seisi rumahnya.

Aku teringat akan perkataan sang Guru Agung yang menjadi panutanku. “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, apa saja yang telah kamu lakukan kepada seseorang yang terkecil dari saudara-saudara-Ku ini, kamu telah melakukannya kepada-Ku.”

Jika saat itu sang Guru Agung ditawari tissue oleh bocah kecil tadi, mungkin dia akan melakukan hal serupa sepertiku. Atau, bisa jadi juga dia akan melakukan lebih dari sekadar yang kulakukan, yaitu memberi kelegaan dan sukacita yang abadi.

Bandung, 26 Maret 2017

beli2

Jalan Dago: Kembalinya Nuansa Romantis Kota Bandung

Udara dingin kota Bandung masih terasa ketika angin semilir berhembus meniup pepohonan di jalan Dago. Malam itu Bandung terasa begitu syahdu ditemani lampu-lampu jalan yang berbentuk bulat berpendar memancarkan warna kekuningan. Tampak satu dua orang berjalan santai di atas trotoar baru nan lebar sambil sesekali mengambil swafoto. Inilah secuplik adegan ketika Bandung sedang berbenah untuk mengembalikan jati dirinya sebagai “Parijs van Java.” 

Jalan Dago bukanlah sesuatu yang baru di kota Bandung. Sejak dulu jalan Dago terkenal dengan deretan kaki lima penjual jagung bakar yang selalu laris setiap malam datang, apalagi saat malam minggu tiba. Sampai hari ini pun keberadaan penjaja jagung bakar ini masih eksis walaupun berbagai gerai makanan dan factory outlet sudah bertebaran di sepanjang jalan Dago.

Jalan Dago di masa lampau

Jika kita menilik kembali ke tahun-tahun yang silam, pada masa kolonial jalan Dago masih berupa hutan dan masih sepi dari manusia. Penduduk yang kala itu hendak bertolak ke kota Bandung tidak berani melewati kawasan ini sendirian, jadi mereka selalu jalan secara berkelompok. Sebelum orang-orang yang sama-sama mau melintas itu terkumpul, mereka pun saling menunggu, dan kata menunggu dalam bahasa Sunda adalah “dagoan”.

Ketika kota Bandung semakin berkembang, pemerintah kolonial mulai membuka jalan menuju area utara Bandung melewati daerah jalan Dago. Sisa-sisa pembangunan itu masih bisa kita lihat hingga saat ini, yaitu ada SMAK Dago yang sekarang telah tutup, dan ada pula Institut Teknologi Bandung, juga rumah sakit St. Borromeus yang berlokasi persis di pinggir jalan Dago.

Kini, berpuluh-puluh tahun sejak era kolonial berlalu, jalan Dago telah berubah muka. Jalan Dago semakin terkenal. Kawasan yang dulunya merupakan hutan nan sepi ini kemudian dibidik oleh pelaku usaha. Mereka mendirikan factory outlet, hotel, restoran dan gerai-gerai lainnya di sepanjang jalan Dago yang menanjak ini.

Setiap akhir pekan dan libur panjang tiba, jalan Dago akan berubah menjadi antrian parkir yang mengular panjang. Ratusan, bahkan juga ribuan kendaraan yang didominasi plat “B” akan tumpah ruah memadati jalan Dago. Namun, di tahun 2017 ini berkat usaha dari pemerintah kota Bandung yang giat memperbaiki estetika kota, jalan Dago tampak berbeda.

Wajah baru trotoar jalan Dago

Duduk santai di fasilitas publik yang disediakan pemerintah kota

Trotoar yang dahulu tidak begitu dianggap kini digarap begitu serius. Trotoar sepanjang jalan Dago mulai diperlebar dan diperbaiki. Lalu diletakkan kursi-kursi dan meja di setiap beberapa ratus meter. Ditambah lagi dengan lampu-lampu jalan berbentuk bulat yang berpendar kekuningan. Semuanya bersatu padu membuat jalan Dago menjadi lebih nikmat dipandang dan dinikmati.

Trotoar yang bersih

Memang belum seluruh kota Bandung menjadi cantik seperti jalan Dago karena tentu membutuhkan usaha dan biaya yang tidak sedikit untuk mengatur kota yang sudah semrawut ini. Tapi, setidaknya jalan Dago telah menjadi tanda positif bahwa pemerintah kota mulai peduli akan keindahan lingkungan dan mendorong warga kota untuk lebih giat berjalan kaki.

Jika berkunjung ke Bandung, cobalah untuk memarkirkan kendaraanmu sejenak di salah satu factory outlet atau mini market lalu berjalan kakilah di sepanjang trotoar. Rasakan sejuknya udara malam kota Bandung dan pandanglah sekeliling. Jika bersama pasangan, bisa pula sambil berpegangan tangan. Jika sendiri, bisa sambil memotret suasana.

Di bawah pendaran cahaya kekuningan, slogan “Parijs van Java” yang sempat terkikis oleh kesemerawutan ini seolah hidup kembali. Mungkin hari ini baru sedikit bagian kota Bandung yang mulai berbenah, tapi kita percaya kelak kota Bandung akan menjadi kota yang semakin layak dan ramah untuk dihuni.

Romantisme Dago

Semua fasilitas di jalan Dago bisa dinikmati siapa saja tanpa dipungut biaya sedikitpun. Jadi, siapkah kamu untuk mampir ke Bandung di akhir pekan ini?

Menemukan Roh Perjalanan di antara Tegal dan Jakarta

TegalCoverBepergian naik kereta ekonomi memang tidak senyaman pergi dengan kereta eksekutif, mobil pribadi, ataupun juga pesawat. Namun, di balik harga tiketnya yang murah dan tempat duduknya yang sempit, gerbong-gerbong kereta ekonomi menyajikan nuansa lain suatu perjalanan, yaitu kebersamaan. Berawal dari sebuah senyuman dan tegur sapa, perjalanan nan panjang menjadi lebih asyik diselingi obrolan hangat.

Ratusan penumpang mulai berbaris tatkala petugas stasiun mengumumkan kalau kereta api Tegal Ekspress telah tersedia di peron 3 Stasiun Pasar Senen. Hari itu, di Sabtu pagi tidak terlalu banyak kereta api yang berangkat jika dibandingkan dengan Jumat malam. Setelah kereta api Bogowonto dengan tujuan Yogyakarta diberangkatkan, kini tibalah kereta api Tegal Ekspress menunggu giliran untuk berangkat.

Tidak sampai 15 menit setelah pengumuman boarding disiarkan, seluruh gerbong kereta api Tegal Ekspress sudah dipenuhi oleh penumpang.  Ketika kulayangkan pandangan ke seluruh penjuru gerbong, tidak ada kursi kosong yang tersisa untuk keberangkatan hari itu. “Sungguh beruntung!” gumamku dalam hati karena masih bisa mendapatkan tiket walaupun membelinya secara mendadak.

Sebetulnya ada perasaan menyesal karena kursi yang kududuki hari itu bukanlah kursi di samping jendela. Aku harus duduk di kursi nomor 16B, kursi yang sangat kuhindari karena bisa mengakibatkan mati gaya! Duduk selama berjam-jam diapit dua orang itu memang tidak nyaman. Kepala tidak bisa bersandar kemana-mana, belum lagi posisi bokong yang terasa sempit. Tapi, akhirnya aku harus menerima kenyataan dengan ikhlas dan kecewa itu perlahan pudar seiring dengan kereta yang beranjak pergi.

tegal6
KA Tegal Ekspress tunggu bersilang di Stasiun Haurgeulis, Subang

Tiga orang yang duduk di depanku adalah sebuah keluarga yang terdiri dari suami, isteri, dan anak. Mereka bertiga hendak bertolak ke Cirebon. Sang suami tampak sudah cukup berumur dengan kerutan-kerutan tebal di wajahnya, demikian juga dengan istrinya. Mereka juga membawa serta dua karung ukuran besar dan sebuah kardus televisi. “Buat oleh-oleh di kampung mas,” ujar mereka kepadaku sambil diselingi tawa kecil.

Penumpang di sebelah kiriku adalah seorang pemuda yang sedari naik gerbong sudah memakai headset dan langsung menyandarkan kepalanya di jendela. Sedangkan penumpang di sebelah kananku ini cukup unik. Dia memakai topi dan masker biru, juga tidak membawa apapun selain tiga buah handphone yang digenggamnya.

Dua jam berlalu dan lama kelamaan kaki mulai terasa pegal. Duduk di kereta ekonomi memang harus pandai berkoordinasi dengan penumpang di depan, kalau tidak kita akan sulit untuk meluruskan kaki. Bapak yang duduk persis di depanku telah tertidur pulas dan posisi kakinya menyulitkanku untuk mengerakkan kaki. Daripada duduk membeku akhirnya kuputuskan untuk jalan-jalan saja ke ruang restorasi.

tegal7
Menikmati pemandangan sambil menulis buku harian. Terbaik!

Ruang restorasi berada di posisi tengah rangkaian kereta, jadi aku harus berjalan sejauh empat gerbong ke depan untuk mencapainya. Puji syukur karena walaupun kereta hari itu penuh, gerbong restorasi kosong melompong. Sambil menikmati makanan berupa ayam kecap seharga Rp 22.000,- aku menikmati hamparan sawah yang terbentang dari balik jendela kereta.

Tapi, kenyamanan ini tidak berlangsung lama karena ada penumpang lain yang juga datang ke restorasi. Berhubung meja di gerbong ini terbatas maka aku pun mengalah dan kembali ke gerbong ekor tempatku duduk.

Pertemuan dengan kawan baru: Mbak Dewi

Setelah kereta api melintasi Cirebon dan keluarga di depanku turun, masih tersisa sekitar satu setengah jam sebelum kereta ini tiba di stasiun Tegal sebagai tujuan akhir. Penumpang yang duduk di sebelah kananku membuka maskernya dan mengajakku mengobrol.

“Tegalne ndi mas?” tanyanya dalam logat Ngapak. “Ndak di mana-mana mbak, Cuma nang stasiun wae. Abis itu aku balik lagi Jakarta kok,” jawabku. Mendengar jawaban itu, si mbak mengernyit dan penasaran. Kemudian dia menatapku dari ujung rambut hingga ujung kaki. Mungkin dia pikir kalau aku itu kurang kerjaan karena jauh-jauh naik kereta ke Tegal, lalu sampai di stasiun sana langsung pulang lagi ke Jakarta.

“Lah, mas nya aneh, apa gak cape ya, hahaha. Ngomong-ngomong kerjaannya apa mas?” Tanya mbak Dewi sambil tertawa. “Aku sih kerjaannya berhubungan sama tulisan mbak, kadang nulis, kadang ngedit. Makanya jalan-jalan supaya ada ide,” jawabku padanya. Merasa tak terlalu puas dengan jawaban itu, dia memandangiku sekali lagi dan kembali bertanya. “Mas nya sipit, orang mana sih mas? Bukan muslim ya?” tanyanya. Aku menjawabnya dengan tertawa kecil, “Orang Indonesia kok mbak, asli Bandung, aku Kristen.”

Perawakanku yang kurus, berambut kriting, dan bermata lumayan sipit (menurutku begitu) memang menjadi perhatian tersendiri ketika aku bepergian naik kereta ekonomi. Sambil memanggul ransel besar dan kamera di samping, orang seringkali bertanya ke mana tujuanku. Tak berhenti sampai di situ, biasanya mereka juga akan menanyakan hingga ke identitas pribadi, termasuk ras dan keyakinan.

Tapi, buatku itu tidak masalah. Toh, mereka bertanya itu kan murni atas dasar kepo alias ingin tahu. Lagipula sebagai sarjana Komunikasi, aku tentu mengerti kalau orang Indonesia adalah tipe orang yang sangat suka berbasa-basi.

tegal 6
Mbak Dewi 

Obrolan aku dan mbak Dewi pun berlanjut hingga akhirnya aku mengetahui kalau umurku dengannya itu tidak terpaut jauh—hanya berbeda dua tahun saja. “Gue pikir kamu orangya sombong mas, tapi taunya ramah haha,” katanya sedikit memujiku. Awalnya memang aku tidak mau berbicara dengan dia karena sejak awal masuk ke gerbong, si mbak Dewi ini hanya memegang handphone dan sesekali menelpon rekannya dengan kata-kata kasar.

Kami pun semakin larut dalam obrolan. Setelah aku menceritakan maksudku datang ke Tegal hanya untuk pulang lagi, kini giliran dia untuk bercerita tentang dirinya. Awalnya obrolan kami hanya sekadar basa basi, tapi lama-lama mbak Dewi menganggap kalau aku orang yang tepat untuknya mencurahkan segala beban hidup.

Aku pikir dia adalah perempuan yang sangat tegar. Bagaimana tidak, di usianya yang hampir sepantar denganku ternyata dia sudah berstatus sebagai janda. Beberapa tahun lalu dia menikah dengan suaminya yang berasal dari Cilacap. Setelah pernikahan mereka dikaruniai seorang putri, suaminya pergi entah kemana tanpa pernah memberi kabar hingga hari ini.

Akhirnya, mbak Dewi harus membesarkan sendiri anaknya yang tahun ini sudah harus masuk ke bangku sekolah. Perjuangannya tidak berhenti sampai di situ, setiap harinya mbak Dewi bekerja sebagai penjaga kantin di kawasan Bundaran HI Jakarta. Sejak subuh dia sudah harus memasak dan menyiapkan kantin dan baru kembali saat hari sudah malam. Untuk pekerjaan beratnya itu, upah maksimum yang bisa dia dapatkan adalah Rp 50.000,-.

“Sedih mas saya. Paling sebulan saya dapet duit sejuta, lima ratusnya saya kirim ke kampung buat anak. Lima ratusnya buat saya, buat makan, bayar kost, beli ini itu,” tuturnya lirih. Aku pun hanya bisa mengangguk-angguk tanpa tahu solusi apa yang bisa kuberikan padanya. “Terus, apa nggak rencana cari kerja di Tegal aja biar deket sama anak?” tanyaku. “Gak bisa mas, mau kerja apa saya di kampung? Sulit mas cari kerja di kampung!” jawabnya.

Jawaban itu membuatku merenung sejenak. Mbak dewi, termasuk juga diriku sama-sama bertarung dari daerah untuk memperebutkan rupiah di Ibukota. Mungkin aku lebih beruntung daripada mbak Dewi karena pekerjaanku terlihat lebih baik. Tapi, hati kecilku bertanya-tanya, mengapa di negeri yang begitu luas dan kaya akan sumber daya alam ini, semua perhatian orang-orang hanya terpusat kepada Jakarta?

Jakarta memang ibukota, dia menyediakan janji tentang hidup sukses. Apapun pekerjaannya, yang penting di Jakarta! Setidaknya prinsip itulah yang masih tertanam dalam benak beberapa orang, termasuk juga dalam benak mbak Dewi. Sekalipun pekerjaan di Jakarta hanya sebagai pekerja kasar, tapi ada rasa bangga sedikit ketika orang-orang di desanya mengetahui kalau dia telah bekerja di Jakarta.

Bagi sebagian orang, Jakarta masih menjadi segalanya—tempat mereka menggantungkan mimpi dan harapan. Sekalipun upah yang dia dapatkan di Jakarta itu sedikit, tapi mbak Dewi belum mau menyerah dengan hidupnya. “Saya gak mau anak saya nanti susah, mas” tuturnya bersemangat. Jerih keringatnya setiap hari seolah bukan menjadi beban yang berarti ketika dia mengingat kembali tanggung jawabnya sebagai seorang ibu.

Tak terasa obrolan kami yang serius dan panjang itu harus berhenti ketika kereta mulai melambat. “Wah, udah mau nyampe. Udah mas, mampir aja ke rumah saya nanti naek ojek!” ajak mbak Dewi. “Nggak bisa mbak, kan jam setengah tiga saya harus balik lagi ke Jakarta,” jawabku. Sebelum kami berpisah, kami sempat bertukar kontak dan mengakhiri pertemuan kami dengan jabatan tangan.

Tiba di Tegal, saatnya pulang ke Jakarta

Hanya kurang dari satu jam aku habiskan untuk berkeliling Tegal. Dari stasiun aku berjalan kaki menuju Taman Poci, lalu pindah lagi menuju alun-alun. Sambil berteduh sejenak, aku juga membeli seporsi tahu gejrot. Puas mengisi perut dan memotret beberapa sudut kota Tegal, aku bersiap untuk pulang kembali ke Jakarta.

Pukul 14:30, kereta Tegal Ekspress kembali membawaku ke Jakarta. Kali ini tempat dudukku adalah hotseat karena persis di samping kaca. Perjalanan kembali ke Jakarta ini tidak terlalu menyenangkan dan tak ada cerita unik untuk dibagikan. Setelah lima jam menembus pantura Jawa Barat, kereta pun tiba di Stasiun Jatinegara dan aku melanjutkan pulang ke Kalideres.

tegal3
Kereta api Tegal Ekspress tersedia di peron 3 Stasiun Tegal

Roh Perjalanan adalah Kawan 

Aku tahu dan sadar kalau perjalanan seperti ini membuatku capek dan sebagian orang menganggap ini sebagai sesuatu yang aneh. “Lu masih muda, cari duit tambahan kek!” atau “Mending lu tidur, istirahat.” Dan banyak komentar-komentar lainnya.

Komentar itu semua benar, tidak ada yang salah. Namun, aku memiliki pilihan tersendiri atas hidupku. Berhubung hidupku hanya satu kali, aku mau memaksimalkannya untuk menikmati apa yang aku suka. Karena kesukaanku adalah naik kereta api, maka selama aku punya anggaran, tidak ada salahnya aku jalan-jalan.

Dalam setiap perjalananku naik kereta ekonomi, selalu ada cerita-cerita yang kubagikan. Dari tiket kereta seharga Rp 40.000,- yang kubeli itu, aku bisa bertemu dengan mbak Dewi dan menjadi teman curhatnya selama satu jam lebih. Aku percaya bahwa tidak ada yang kebetulan. Jika hari itu aku duduk di gerbong dan bertemu dengan mbak Dewi, mungkin aku sedang dikirim oleh Tuhan untuk menjadi corong pendengar segala keluh kesahnya.

Ada satu quote yang selalu aku ingat dari Couchsurfing: “A journey is best measured in friends, not miles.” Perjalanan itu diukur dari teman, bukan jarak. Dalam perjalanan, tujuan dan jarak hanyalah bonus, tapi cara kita menikmati perjalanan itulah yang memang utama. Itulah yang menjadi spirit dari traveling. 

Sepuluh jam lebih duduk di atas kereta api, aku menemukan kembali roh perjalanan itu. Ketika dunia, khususnya kelas menengah ibukota mulai menjadi sibuk dengan urusan diri sendiri, aku mau tetap belajar untuk memberikan apa yang ada padaku kepada orang lain. Bukan cuma uang, tapi juga waktu. Sekecil apapun perhatian dan niatan tulus yang disebar kepada dunia, niscaya itu tidak akan kembali dengan sia-sia.

tegal2
Doraemon, kawan kecil seperjalanan yang selalu kubawa kemanapun