Sensasi Pertama Kali Naik Kereta Kelas Wahid!

Sekarang, berburu tiket kereta api untuk berangkat di akhir pekan adalah aktivitas yang mengasyikkan sekaligus menantang. Mengasyikkan jika kursi kelas ekonomi dengan harga murah masih tersedia. Tapi, menantang ketika tiket kelas ekonomi ludes dan harus mencari alternatif lain yang secara harga jauh lebih mahal.

Di bulan Desember 2016 saya sudah merencanakan untuk pergi ke Jogja di bulan Februari. Supaya tidak kehabisan tiket, maka saya pun berniat untuk begadang. Saat jam menyentuh angka 12, tiket akan langsung saya pesan. Begitulah ekspektasinya. Namun, pada hari H pembelian tiket, saya malah ketiduran dan saat terbangun keesokan paginya, seluruh tiket kereta ekonomi menuju Jogjakarta di tanggal 23 Februari sudah ludes. Alhasil, hanya ada tiga pilihan yang kini tersedia: naik kelas ke kelas bisnis atau eksekutif, berganti moda ke bus atau pesawat, atau gagal berangkat.

Pilihan ketiga jelas adalah pilihan terburuk. Jangan sampai gagal berangkat. Jika memilih pilihan kedua, rasa-rasanya tidak efektif juga. Naik pesawat memang cepat sampai, tapi di akhir pekan harga tiketnya pasti membengkak. Tapi, kalau naik bus yang harganya lebih murah pun tetap saja sulit. Perjalanan ke Jogja menggunakan bus dari Jakarta bisa lebih dari 12 jam, apalagi dengan keadaan tol Jakarta-Cikampek yang macet. Akhirnya, mau tidak mau, dan dengan segera harus diputuskan untuk pilih opsi pertama: naik kelas bisnis atau eksekutif.  

Saya membuka situs reservasi tiket kereta, dan untuk keberangkatan Minggu malam dari Jogja ke Jakarta masih tersedia rangkaian KA Taksaka, Argo Dwipangga, Gajayana, dan Bima. Setelah ditimbang-timbang sejenak, pilihan saya jatuh kepada Argo Dwipangga seharga 380 ribu per sekali jalan. Jika dibandingkan KA Bengawan yang tarifnya disubsidi (74 ribu), Argo Dwipangga rasanya mahal sekali. Tapi, kelak saya akan mengerti bahwa harga tersebut ternyata sepadan dengan fasilitas yang didapatkan.

Kereta api yang berubah wajah

Pelayanan kereta api saat ini telah mengalami kemajuan yang sangat signifikan. Saya masih ingat jelas bahwa pada tahun 2009, pelayanan kereta api tidaklah seprima sekarang. Kala itu, pengamen, pedagang, ataupun pengemis bisa masuk ke dalam kereta. Tentu suasana kereta menjadi riuh. Belum lagi kapasitas kereta yang sering over-load, apalagi kereta ekonomi. Walau kereta sudah penuh, penumpang terus berjejal. Satu kata yang paling tepat untuk menggambarkan kondisi perkereta-apian Indonesia pada kala itu dan sebelumnya adalah: suram.

Tapi, itu adalah cerita dulu. Sekarang, kereta api terus berbenah. Berbagai lini dibenahi satu-satu. Peraturan ditegakkan. Fasilitas ditingkatkan. Sistem diperbaiki. Akhirnya, penumpang sendirilah yang merasakan manfaatnya. Tak ada lagi asap rokok mengepul dalam kereta. Tak ada lagi pedagang di dalam kereta maupun di peron, stasiun telah menjadi steril. Tak ada lagi penumpang gelap tak bertiket. Tak ada lagi kereta ekonomi yang seperti oven berjalan, semua telah dilengkapi pendingin udara. Dan, tentunya sekarang memesan tiket bisa dilakukan secara online.

Layanan argo, layanan kelas wahid

Sekalipun sering bepergian naik kereta api, tapi saya hampir tidak pernah naik kereta kelas argo. Alasannya cuma satu: mahal. Karena frekuensi naik kelas argo yang sangat rendah inilah saya jadi begitu antusias untuk menyambut keberangkatan ke Jakarta di Minggu malam.

Jam delapan malam, saya tiba di Stasiun Tugu. Di boarding-pass tertera bahwa Argo Dwipangga akan berangkat menuju Gambir pada pukul 20:57. Sebelum Argo Dwipangga tiba di peron 5, kereta api Taksaka (YK-GMR), Lodaya (SLO-BD), Gajayana (ML-GMR) telah lebih dulu bertolak menuju barat. Setelah tiga kereta ini pergi, barulah Argo Dwipangga datang. Rangkaian yang terdiri dari 11 kereta ini meliuk elok memasuki peron utara Stasiun Tugu. Lokomotif yang digunakan malam itu adalah CC206, lokomotif andalan PT. KAI untuk menghela rangkaian kereta api kelas wahid.

Lokomotif CC 206 di Stasiun Gambir

Sedikit informasi, kereta api Argo Dwipangga pada mulanya hanya menyandang nama “Dwipangga”. Diresmikan pada 21 April 1998, kereta api eksekutif Dwipangga melayani rute Jakarta-Solo yang sebelumnya juga telah dilayani oleh Argo Lawu. Dwipangga sendiri adalah nama yang diambil dari bahasa Sansekerta yang artinya kendaraan tunggangan Dewa Indra, yang menyerupai seekor gajah.

Pada 5 Oktober 1998, KA Dwipangga dinaikkan kelasnya menjadi Argo Dwipangga. Apa sih bedanya layanan Argo dengan kelas eksekutif lainnya? Kereta api kelas “argo” bisa dikatakan adalah kelas unggulan yang ditawarkan oleh PT. KAI kepada penumpangnya. Kereta kelas argo menawarkan durasi perjalanan yang lebih singkat karena kereta hanya berhenti di stasiun tertentu dan selalu diprioritaskan saat bersilang di jalur tunggal. Selain itu, pada masa itu, kereta kelas argo juga menyediakan fasilitas berupa kabin kereta yang ber-ac, reclining-seat, dan makanan (layanan makanan gratis ini saat ini telah ditiadakan).

Ketika PT. KAI meluncurkan inovasi berupa kereta eksekutif rangkaian baru, KA Bima, Argo Lawu, Gajayana, dan Argo Dwipangga mendapatkan kesempatan untuk menggunakannya.

Kereta api yang menggunakan rangkaian eksekutif 2016
Nama KA Rute dan tarif* 
Argo Lawu Gambir-Purwokerto-Yogyakarta-Solobalapan (Rp 380.000,-)
Argo Dwipangga Gambir-Purwokerto-Yogyakarta-Solobalapan (Rp 380.000,-)
Gajayana Gambir-Yogyakarta-Malang via Kediri (Rp 535.000)
Bima Gambir-Yogyakarta-Surabaya-Malang (Rp 495.000)
Sembrani Gambir-Semarang Tawang-Surabaya Ps.Turi (Rp 485.000)
Argo Muria Gambir-Cirebon-Semarang Tawang (Rp 485.000)

*Harga dapat berubah tergantung dari kebijakan PT. KAI 

Membelah malam dalam kenyamanan

Harga memang tidak berbohong. Bagi punggung saya yang terbiasa duduk di kelas ekonomi, duduk di kursi kelas argo rasanya nyaman sekali. Kursinya empuk, bisa dimundurkan sandarannya, suhu kabinnya nyaman (22 derajat), plus ada ruang kaki yang lapang untuk selonjoran.

Kondisi kursi eksekutif 2016 (foto di rangkaian KA Argo Parahyangan Tambahan)

Tepat pukul 20:57, Argo Dwipangga bertolak meninggalkan Stasiun Tugu menuju Gambir. Getaran di dalam gerbong tidak terlalu kentara sehingga penumpang bisa beristirahat dengan nyaman. Di bagian ujung kereta terdapat dua layar televisi ukuran besar, dan di atas televisi ini juga tersaji informasi mengenai perjalanan kereta: nama kereta, jam, hingga kecepatan kereta saat itu.

Setelah kereta api melewati Kutoarjo, lampu kabin yang semua benderang diredupkan. Tujuannya supaya penumpang bisa beristirahat dengan lebih nyaman. Karena merasa terlena oleh kenyamanan kelas argo, akhirnya saya pun tertidur. Nyenyak sekali. Saat bangun, rupanya kereta telah tiba di Bekasi. Pukul 04:45, kereta pun berhenti sempurna di Stasiun Gambir.

Sensasi pertama kali naik Argo Dwipangga ini sangat baik. Kelak, jika ada rejeki berlebih, tentu saya akan menaiki kereta ini lagi.

Jadwal Perjalanan KA Argo Dwipangga

SOLO-GAMBIR GAMBIR-SOLO
Stasiun Kedatangan Keberangkatan Stasiun Kedatangan Keberangkatan
Solobalapan 20.00 Gambir 08.00
Klaten 20.25 20.27 Cirebon 10.50 10.58
Yogyakarta 20.52 20.57 Purwokerto 12.56 13.12
Kutoarjo 21.49 21.55 Kutoarjo 14.43 14.47
Purwokerto 23.28 23.40 Yogyakarta 15.39 15.44
Cirebon 01.35 01.44 Klaten 16.08 16.10
Jatinegara 04.19 04.21 Solobalapan 16.35
Gambir 04.37
Tarif:

285.000 s/d 450.000

Tarif sangat bergantung pada hari keberangkatan. Weekend/libur panjang akan lebih mahal

 

 

 

6 respons untuk ‘Sensasi Pertama Kali Naik Kereta Kelas Wahid!

  1. Kalau sya, cuma pernah naik kereta eksekutif yg rangkaian baru, pas naik Bima dan Sembrani..

    Oh ya sist, ralat kereta jurusan gambir-surabaya pasar turi yg pakai rangkaian baru adalah Sembrani, bukan Argo Bromo Anggrek..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s