Catatan Hidup / Jakarta Journey

Aku Tidak Pernah Memilih untuk Jadi Penulis, Tapi Inilah Pekerjaanku Sekarang

karier

Pandanganku terarah kepada sebuah layar gadget berukuran 5 inchi di depanku, sementara itu jari-jariku mengusap-usap layar itu bolak-balik seperti sebuah setrikaan. Sejujurnya aku tidak tahu hendak berbuat apa ketika teman-temanku mulai bercerita panjang lebar tentang masalah-masalah yang mereka hadapi di pekerjaan  masing-masing.

Aku dan teman-temanku menuntaskan studi di pendidikan tinggi pada tahun 2016 dan berganti status dari seorang mahasiswa menjadi “pengangguran sementara” sampai mendapatkan pekerjaan tetap. Usia pekerjaan kami barulah seumur jagung, jadi wajar ketika kami masih harus melakukan banyak penyesuaian diri dengan budaya yang baru—budaya kerja yang bukan lagi budaya mahasiswa.

Kebanyakan teman-temanku bekerja di perusahaan-perusahaan besar dengan deadline yang super padat. Ada yang mendapatkan gaji besar, ada pula yang mendapat pas-pasan. Ada yang begitu menikmati, tak jarang pula ada yang menderita dan ingin segera resign atau berharap dipecat saja. Kisah -kisah itulah yang selalu jadi bumbu pelengkap setiap kami bertemu di manapun.

Sekalipun aku dan teman-temanku sama-sama bekerja, tetapi aku memilih jalur yang agak melenceng. Aku tidak bekerja di sebuah perusahaan terkenal yang menawarkan presitise dan gaji mentereng walau sejujurnya aku pun ingin seperti itu. Tetapi, di suara hatiku yang terdalam, aku memilih untuk mengisi hidupku dengan sesuatu yang berbeda.

Awal mula perjalanan mencari karier

Setelah ujian pendadaran dan aku dinyatakan lulus, aku segera mencari kerja dengan mengikuti aneka macam Job Fair, dari yang virtual sampai datang ke kampus-kampus. Aku merasakan hidupku saat itu mirip seperti serial televisi yang berisi adegan seseorang tengah susah payah melamar kerja. Setumpuk CV bersama berkas lain kubawa.

Ada lima Job Fair yang kuikuti selama tiga bulan itu, tetapi aku tidak pernah sreg untuk mendaftarkan diriku di perusahaan-perusahaan yang terdaftar di sana. Kalaupun aku mendaftar, sebenarnya aku hanya coba-coba supaya bisa mengerti gambaran tentang psikotes dan wawancara kerja itu seperti apa. Satu, dua, tiga, empat hingga berkali-kali mendaftar dan aku pun gagal. Tapi aku tidak kecewa, toh karena aku juga tidak mau bekerja di perusahaan yang kulamar.

Sebetulnya sejak Agustus aku mengetahui ada sebuah lowongan kerja sebagai seorang editor dan penulis di sebuah lembaga pelayanan nirlaba. Aku sama sekali tidak tertarik untuk mengisi lowongan itu, mendengar kata “nirlaba” saja membuatku merinding. “Jika tidak mengejar laba, terus nanti aku digaji pakai apa?” pikirku. Jadi, kusingkirkan opsi untuk melamar ke organisasi itu.

Tapi, saat aku mengabaikan lowongan itu, pikiranku malah selalu membawaku ke situ. Saat aku naik motor, mandi, dan merenung, hati kecilku bicara kuat supaya aku melamar ke tempat itu. Aku masih bergeming dan tetap pada pendirianku untuk mencari perusahaan lain yang lebih bonafide.

Akhir Oktober aku memutuskan untuk pergi sejenak ke sebuah desa tempat temanku tinggal. Maksud hatiku adalah ingin melepaskan pikiran dari rasa stress mencari pekerjaan. Selama beberapa hari kuhabiskan dengan pergi ke pantai dan sawah. Tapi, ibarat nabi Yunus yang dipanggil-panggil oleh Tuhan, suara hatiku untuk mencoba melamar ke organisasi nirlaba itu semakin kuat hingga suatu malam akhirnya aku menyerah.

Saat panggilan itu semakin dekat

Aku meminjam komputer milik temanku dan mencoba menyiapkan aplikasi lamaran yang diperlukan. Tak butuh waktu lama, hanya sekitar sepuluh menit karena ternyata aku sudah membawa flashdisk yang berisikan data-data untuk melamar kerja. Setelah semua tulisan dan surat-surat terkumpul jadi satu dalam email, aku menghela nafas sejenak. “Aku manut deh, Tuhan,” ucapku dalam hati dan kutekan tombol send.

Satu hari tidak ada tanggapan, hari kedua aku menerima sebuah email yang berisikan undangan interview. Aku tidak tahu harus senang atau sedih saat itu, tapi aku mencoba tetap tenang dan mengikuti prosesnya. Waktu itu aku masih tinggal di Jogja jadi wawancara akan dilakukan via Google Hangouts dan menggunakan bahasa Inggris! Sekalipun aku sudah terbiasa bicara dengan bule-bule, tapi hari itu aku gugup, karena wawancara nanti bukan pembicaraan main-main.

Aku pergi mencari warnet dengan koneksi internet yang super cepat karena tidak ingin wawancara nanti terhambat. Saat wawancara dilakukan, aku bertambah gugup karena salah seorang pewawancaraku (yang kelak menjadi atasanku) adalah orang Singapura yang hanya bisa berbahasa Inggris. Enam puluh menit di bilik warnet itu adalah waktu yang paling menegangkan buatku. Setelah wawancara usai, aku merasa lega dan pasrah.

Waktu itu masih tersisa sekitar satu bulan sebelum aku resmi melepas status mahasiswa dan sejujurnya aku khawatir. Aku ingin sekali mendapatkan pekerjaan sebelum aku wisuda supaya tidak membebani orang tuaku yang sudah mengeluarkan biaya banyak sepanjang 22 tahun hidupku. Tapi hari itu belum ada jawaban dari organisasi tempatku melamar kerja.

Saat aku sedang menunggu jawaban itu, sebuah perusahaan media raksasa di Jakarta menelponku dan mengatakan kalau aku lolos psikotes dan harus melakukan wawancara lanjutan di kantornya di Jakarta. Sejujurnya pekerjaan inilah yang aku tunggu-tunggu, tapi entah mengapa hari itu aku tidak ingin bekerja di sana. Aku semakin bulat pada tekadku untuk bekerja di sebuah Non-Profit Organization yang memang sesuai dengan passionku.

Dipanggil menuju Ibukota

Aku ingat betul waktu itu adalah hari Senin ketika aku mengatur teleponku dalam mode silent, sehingga aku tidak tahu kalau ada lima panggilan telepon dari Jakarta. Jam 15:00 aku baru sadar kalau aku ditelpon, dengan panik segera aku menelpon balik dan aku kaget karena organisasi nonprofit tempatku melamar kerja itu memintaku untuk datang besok pagi ke Jakarta.

Dengan segera aku mengiyakan dan bergegas ke stasiun untuk naik kereta malam. Tapi, di luar dugaanku ternyata pihak kantor membelikanku sebuah tiket pesawat untuk ke Jakarta di hari Selasa pagi. Aku malah jadi bingung, antara harus terharu, sedih, atau bahagia. Malam itu aku berlatih wawancara dan menyiapkan portofolio yang perlu kubawa.

Singkatnya aku terbang ke Jakarta dan setibanya di bandara, aku dijemput oleh seorang dari kantor yang kelak menjadi managerku. Aku semakin bingung, kok aku yang pencari kerja malah difasilitasi seperti ini? Sepanjang jalan ke kantor pikiranku bergelora, aku bingung apakah jika diterima aku harus melepas tawaran wawancara di perusahaan besar yang beberapa hari menelponku?

Setelah bertemu dengan project manager dan melakukan wawancara selama beberapa jam, aku diminta untuk menunggu. Kemudian country director memanggilku ke ruangannya. Saat itu aku harus mantap menerima kenyataan. “Kalau diterima, berapapun gajinya akan kuambil”, gumamku dalam hati.

“Selamat ya! Kami memutuskan untuk menerimamu bergabung dengan kami, dan kami senang untuk menyambut anak muda yang memiliki passion kuat menjadi bagian dari pelayanan ini,” ucap sang Ibu direktur. Aku menjabat erat tangannya dan setelah mendengar pemaparannya tentang pekerjaan yang nantinya akan kupegang, aku semakin mantap.

Kububuhkan tanda tanganku di atas surat perjanjian bahwa mulai 1 Desember 2016 aku akan menjadi staff pelayanan dari Our Daily Bread Ministries, sebuah lembaga pelayanan global yang telah berdiri sejak tahun 1938 dan melayani jutaan orang di seluruh dunia dengan berbagai materi yang mengantarkan setiap orang Kristen untuk lebih dekat dengan Tuhan.

Satu bulan setelah itu petualanganku berganti. Dulu aku bertualang dengan menjelajah pulau-pulau, melihat laut dan gunung, tapi kini petualanganku menjadi sebuah penjelajahan dalam dunia maya. Aku bekerja sebagai seorang content developer yang bertugas menulis, mengedit, dan mengisi situs website dengan konten-konten yang menarik. Petualanganku telah berganti, tetapi visi dan misi hidupku tetaplah sama.

Setelah tiga bulan bekerja…..

Tiga bulan telah kulalui dan kini aku menjadi bagian dari jutaan warga Jakarta. Tentu ada suka duka yang kualami, ada proses adaptasi yang harus kulakukan, dan hingga kini pun aku masih belajar banyak hal-hal baru.

Tim kerjaku terdiri dari beberapa orang content-developer yang berlokasi di Tiongkok, Singapura, dan Malaysia. Jadi setiap dua minggu sekali kami melakukan rapat online. Sebagai content-developer Indonesia, aku bertanggung jawab untuk mengisi konten-konten artikel dalam bahasa Indonesia, menerjemahkannya ke bahasa Inggris atau juga sebaliknya.

Satu hal paling berharga yang aku pelajari adalah tentang kecukupan hidup. Ketika dunia mengajarkanku untuk mengejar kelimpahan, Tuhan mengajariku untuk mengejar kecukupan. Sebab, di dalam kecukupanlah aku bisa merasa puas dan bersyukur.

Pekerjaan yang kulakukan ini bukanlah persoalanku menyambung hidup dan membahagiakan orang tua lewat gaji yang kuterima semata. Tetapi,lebih dari itu, pekerjaan ini mengajariku untuk hidup dengan tulus. Ketika aku melihat ke atas, ke orang yang lebih “sukses” tentu aku akan minder, tetapi ketika aku mampu mengucap syukur atas keadaanku sekarang, di situlah aku sedang belajar untuk hidup dalam kedamaian.

Aku percaya bahwa tanggung jawab demi tanggung jawab akan Tuhan berikan tepat pada waktu-Nya. Dan hari ini, ketika Dia memintaku untuk melayani-Nya sebagai seorang penulis, itu bukan tawaran sembarangan. Kelak, kemana Dia menuntunku pergi, ke sana pulalah aku kan menuju.

*aku masih tetap jadi bolang, alias si bocah ilang yang selalu keluyuran setiap akhir pekan 

Banyak Jalan, Banyak Cerita – Jalancerita.com

Aryanto Wijaya
Aryanto Wijaya

Baca Juga:

Petualanganku Menjadi Seorang Content Developer

Tidak terasa, tepat hari ini satu bulan telah berlalu sejak hari pertamaku kerja dimulai. Berpindah kota dari Jogja ke Jakarta bukanlah perkara yang mudah, aku butuh berminggu-minggu untuk melarutkan diriku bersama dengan ritme kota khas metropolitan. Aku memang pernah terpikir untuk kerja di Jakarta saat masih mahasiswa dulu, tapi tak pernah membayangkan juga kalau itu akan jadi kenyataan.

Iklan

3 thoughts on “Aku Tidak Pernah Memilih untuk Jadi Penulis, Tapi Inilah Pekerjaanku Sekarang

    • hehehe, iya mas. Tapi, tempatku ini bukan perusahaan sih tepatnya, lebih ke Non-Profit Organization…jadi iklim kerjanya lebih hangat ketimbang perusahaan biasa yang mengejar profit

  1. Ping-balik: Apa Nikmatnya Seharian Bekerja Hanya di Depan Komputer? | Jalancerita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s