Catatan Hidup / Java Journey

14 Februari 2014: Ketika Abu Vulkanik Mengguyur Hari Valentine

Stasiun Lempuyangan

Tiga tahun lalu, tepatnya di malam sebelum hari Valentine, linimasa media sosial dipenuhi informasi terbaru tentang aktivitas gunung Kelud yang kala itu sedang batuk-batuk. Malam itu angkasa Jogja cerah seperti biasanya, tak ada tanda-tanda apapun bahwa besoknya seisi kota akan menjadi kelabu.

Tanggal 14 waktu itu adalah tanggal keberangkatanku ke Surabaya. Saat subuh menjelang, kukemas barang-barang dan bersiap untuk berangkat. Tak ada curiga apapun waktu itu, semua begitu tenang karena pukul 04:00 seluruh anak di kost masih tertidur pulas. Ketika tiba waktunya berangkat, kubuka pintu kost dan kemudian aku tercengang. Titik-titik abu turun dengan senyap, perlahan tetapi pasti seluruh jalanan dan atap rumah berubah menjadi abu.

Hujan abu hari itu turun sejak dini hari dan baru berhenti menjelang pukul 06:30. Seluruh aktivitas kota Jogja hari itu lumpuh total. Sekalipun hari sudah beranjak pagi, jarak pandang di jalanan sangat rendah. Buatku yang baru pertama kali merasakan hujan abu, tentu ini adalah sensasi yang luar biasa.

Berhubung tiket kereta api menuju Surabaya sudah kubeli, aku tetap nekat berangkat ke stasiun Lempuyangan. Mungkin kereta tetap berangkat,” pikirku waktu itu. Perjalanan dari kost ke stasiun yang berjarak sekitar tujuh kilometer jadi peristiwa yang mencekam. Di sepanjang jalan hanya tampak pendaran lampu kendaraan bermotor dan setiap pengemudi harus ekstra hati-hati karena jalanan menjadi licin.

Seharusnya aku tidak usah berangkat, toh teman-teman juga sudah mengingatkan supaya aku membatalkan saja perjalanan ke Surabaya itu. Tapi, karena nekat akhirnya perjalananku ke stasiun berujung sia-sia. Kereta menuju Surabaya hari itu belum diputuskan akan berangkat atau tidak karena masih menunggu perkembangan lebih lanjut. Lagipula hari itu hampir seluruh Jawa bagian tengah dan timur tertutup abu vulkanik dari gunung Kelud yang tengah murka.

Sekalipun gagal berangkat, tapi pemandangan di stasiun hari itu sungguh menarik. Sepanjang mata memandang hanya berwarna abu-abu, aku membayangkannya seperti sebuah musim dingin di negara subtropis. Semua orang yang bepergian hari itu harus merelakan semua busananya kotor terkena abu dan wajib mengenakan masker.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Bencana yang merekatkan

Singkat cerita, aku dijemput oleh temanku di stasiun kemudian kembali lagi ke kost. Hari itu tidak ada satupun warung makan pinggir jalan yang buka. Tentu ini adalah bencana jilid dua bagi anak kost yang setiap harinya tidak pernah memasak.

Dengan uang seadanya, beberapa anak kost patungan membeli bahan makanan ke supermarket yang mulai buka di siang hari. Beberapa anak kost lainnya yang berkantong tebal memilih pergi ke restoran cepat saji dan mall. Tapi, semua harus antre berjam-jam karena hanya tempat-tempat itulah yang tetap buka untuk melayani konsumen.

Kami membeli chicken nugget, indomie, beras, sayur dan kentang goreng untuk dimakan bersama-sama. Dengan persediaan inilah kami bisa bertahan hingga tiga hari sampai beberapa warung mulai buka kembali.

Hujan abu di Jogja waktu itu membuat seisi kota sengsara hampir satu bulan penuh. Pasalnya, tidak ada hujan yang terjadi selama beberapa minggu setelah bencana itu terjadi. Setiap hari, kemanapun, bahkan di dalam ruangan harus selalu memakai masker. Apabila sudah selesai bepergian, harus segera mengganti baju karena kotor. Tapi, sulit sekali untuk mencuci baju karena abu masih berterbangan di mana-mana.

Kondisi sengsara itu berangsur-angsur pulih. Ada satu hal yang menarik dari bencana hujan abu ini. Kadang bencana datang untuk membawa berkah. Karena hujan abu ini teman-teman kost yang sedianya selalu sibuk sendiri akhirnya bisa berkumpul, duduk bersama, memasak dan berbagi cerita. Lalu, warga masyarakat bergotong-royong keluar dari rumah, saling membersihkan jalanan di depan kediamannya, juga saling mengangkut tumpukan abu yang sudah dimasukkan ke dalam karung.

Dua, tiga bulan berlalu sejak abu itu mengguyur, Jogja mulai pulih kembali seiring dengan hujan yang menyapu bersih setiap titik-titik abu. Tidak terasa, kini tiga tahun sudah berlalu sejak abu itu mengguyur bumi. Semoga Kelud tak lagi murka, dan semoga pula manusia tetap bermawas diri dan sadar bahwa dia adalah ciptaan yang kecil, yang tidak selayaknya memegahkan diri.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s