Sensasi Pertama Kali Naik Kereta Kelas Wahid!

argo1
Kereta api Gajayana tengah berhenti di Stasiun Tugu Yogyakarta (26/2/17)

Berburu tiket kereta api untuk berangkat di akhir pekan sekarang jadi aktivitas yang mengasyikkan sekaligus menantang. Mengasyikkan jika kursi kelas ekonomi masih tersedia, tapi menantang ketika tiket kelas ekonomi ludes dan harus mencari alternatif lain. Ketika tiket murah yang dicari ternyata ludes, hanya ada tiga pilihan yang kini tersedia—naik kelas ke bisnis atau eksekutif, cari alternatif lain dengan naik bis, atau gagal berangkat.

Beberapa minggu yang lalu aku menjatuhkan pilihanku ke nomor dua, yaitu berganti moda transportasi dengan naik bis. Hasilnya, perjalanan dari Jakarta ke Cilacap yang kalau naik kereta ekonomi Serayu bisa ditempuh 9 jam, menjadi 14 jam dengan naik bis. Itupun ditambah dengan bis yang mogok dan aku ditelantarkan di pinggiran tol Jagorawi hampir tiga jam tanpa kepastian.

Tidak ingin kejadian nestapa di jalanan itu berulang, akhirnya untuk keberangkatan pulang dari Yogyakarta ke Jakarta aku membeli tiket KA Argo Dwipangga seharga Rp 380.000,-. Harganya lumayan fantastis walau memang tidak semahal harga pesawat. Tapi, dengan harga setinggi itu aku bisa bepergian bolak-balik Jakarta- Jogja hingga tiga kali jika naik KA Ekonomi Bengawan yang harganya hanya Rp 74.000,- sekali jalan.

Kereta api yang berubah wajah

Sebetulnya, secara keseluruhan pelayanan kereta api di Indonesia, khususnya di Jawa saat ini sudah mengalami banyak sekali kemajuan. Tahun 2009 saat duduk di SMP kelas IX, kereta api selalu jadi transportasi andalanku untuk bepergian ke timur ataupun barat kota Bandung. Perjalanan puluhan kilometer dari Bandung ke Padalarang atau Cicalengka hanya dibandrol Rp 1.000,- saja. Jauh lebih murah dari tarif angkot pada masa itu.

Tapi, harga yang murah ternyata berbanding lurus dengan pelayanan. Dulu, hampir di setiap kereta ekonomi kenyamanan penumpang dianaktirikan. Tidak peduli seberapa penuh gerbong kereta, penumpang demi penumpang tetap merangsek masuk menjejali gerbong yang kian sesak. Tak hanya itu, copet-copet bergentayangan meraba-raba bawaan penumpang yang kala itu sedang apes. Semua itu masih ditambah dengan udara pengap, teriakan pedagang dan pengamen yang hilir mudik tiada henti.

Tapi, pemandangan itu kini sudah sirna ditelan badai! Kereta api jauh dan sangat manusiawi saat ini. Kereta ekonomi hingga eksekutif sudah dilengkapi dengan pendingin udara, stasiun disterilkan, setiap penumpang harus bertiket sehingga tidak ada lagi kereta kelebihan muatan, sistem reservasi telah online, dan jadwal keberangkatan kedatangan juga on time!

Pengalaman pertama kali naik Argo

Sekalipun hampir setiap bulan bepergian naik kereta api, tapi kereta dengan kelas eksekutif tidak pernah jadi pilihanku untuk bepergian. Dengan keterbatasan uang sebisa mungkin aku harus mendapatkan tiket semurah mungkin supaya agenda traveling bisa terus jalan setiap bulannya. Tapi berhubung di akhir Februari ada urusan penting di Yogyakarta yang tidak bisa ditunda, jadi mau tidak mau tiket semahal apapun harus dibeli.

argo2
Interior KA Argo Dwipangga (KA 9 Solo Balapan – Gambir)

Sekalipun harga tiket lumayan mahal, tapi ternyata fasilitas yang ditawarkan di kereta api Argo Dwipangga juga sebanding dengan harga. Minggu malam (26/2) kereta Argo Dwipangga datang membawa 11 rangkaian gerbong eksekutif keluaran terbaru. Kereta berangkat dari Solo Balapan pukul 20:00 dan tiba tepat waktu di Yogyakarta pukul 20:52.

argo3
Stasiun Tugu, stasiun penuh kenangan

Setelah sembilan menit menaikkan ratusan penumpang yang hendak beranjak ke Ibukota, kereta mulai melaju. Seketika aku berasa seperti orang udik, maklum karena jarang sekali naik kereta eksekutif dan pengalaman naik kereta api Argo Dwipangga ini adalah perjalanan pertamaku naik kereta dengan gerbong keluaran terbaru plus tiketnya dibeli dengan uang hasil keringat sendiri.

Membelah malam dalam kenyamanan

Getaran di dalam gerbong tidak terlalu kentara sehingga penumpang bisa beristirahat dengan nyaman tanpa guncangan yang berarti. Lalu jarak antar kursi yang lega juga membuat penumpang lebih leluasa. Dua layar televisi besar terpasang di depan dan belakang gerbong, tapi karena di kereta malam, kebanyakan penumpang lebih memilih tidur daripada menonton tv.

Di atas tempat televisi berada, ada papan indikator yang menunjukkan posisi gerbong, kursi penumpang dan jam. Ada yang menarik karena di gerbong eksekutif baru ini, penumpang juga bisa tahu berapa kecepatan kereta api yang dinaikinya dan stasiun mana yang akan dilewati oleh kereta. Suhu udara di dalam gerbong juga pas, sekitar 22-24 derajat celcius.

Untuk menempuh jarak sekitar 500 kilometer, kereta api Argo Dwipangga hanya berhenti di stasiun Kutoarjo, Purwokerto, Cirebon, Jatinegara dan Gambir sehingga waktu tempuhnya bisa lebih cepat dari 8 jam perjalanan. Satu jam setelah kereta api meninggalkan Yogyakarta, lampu gerbong yang benderang mulai diredupkan untuk mempersilahkan penumpang beristirahat. 

Kursi reclining seat dalam gerbong juga lumayan nyaman diduduki walaupun terasa agak keras. Untuk menambah kenyamanan tidur juga telah disediakan selimut dan bantal. Tapi karena ACnya tidak terlalu dingin jadi selimut itu tidak kugunakan. Oh ya, kereta Argo Dwipangga ini adalah salah satu kereta api pertama di Indonesia yang menggunakan rangkaian eksekutif 2017. Selain Dwipangga, jika ingin menjajal gerbong baru ini penumpang bisa naik kereta api Gajayana, Bima relasi Malang-Gambir, Argo Lawu relasi Solo Balapan – Gambir, juga Sembrani relasi Gambir – Pasar Turi, dan kereta dengan kelas-kelas Argo lainnya.

Tujuh setengah jam membelah malam, akhirnya si ular besi Dwipangga mengakhiri dinas malamnya di Stasiun Gambir pada pukul 04:50, meleset beberapa menit dari jadwal seharusnya karena kereta harus antre mendapatkan tempat parkir.

Sekalipun gerbong sudah didesain sedemikian nyaman, tapi tetap saja punggungku sakit dan pegal. Tapi, di situlah kenikmatan sebuah perjalanan traveling. Badan pegal adalah bonus, dan hati senang adalah anugerah. Jika suatu saat mendapatkan rejeki lebih, tidak ada salahnya berpaling sebentar ke kereta kelas eksekutif. Jadi, kapan kita mau naik kereta bareng nih?

 

Jogjakarta – 26 Februari 2017

Iklan

Belajar Hidup di Ibukota dari Rumah Ibu Kost

sampul-blog
Bu Sri sudah lupa kapan terakhir kali dia berfoto. Jadi hari ini wajahnya tegang 😀

Konon katanya ibu tiri itu kejam, tapi ada pula yang bilang kalau ibu kota lebih kejam. Tapi, bagaimana dengan ibu kost? Apakah dia lebih kejam dari ibu tiri dan ibu kota? Jawabannya yaitu belum tentu, tergantung di kost mana kita tinggal dan sejauh mana rejeki beserta kita.

Sudah hampir tiga bulan berlalu sejak kali pertama aku menetap di Jakarta. Sewaktu di Jogja dulu aku sudah membayangkan hal-hal buruk yang akan terjadi ketika kost di Jakarta nanti. Pasti kostnya mahal, kamarnya sempit, tempatnya jorok, banyak maling, penghuni kostnya cuek, dan ibu kostnya menyebalkan—setidaknya itu yang ada di pikiranku dulu.

Kost yang kutempati di Jakarta bukanlah kost yang benar-benar rumah kost, tapi lebih kepada sebuah rumah tinggal biasa yang dihuni oleh seorang nenek (aku lebih senang memanggilnya ibu).  Ibu Sri, sang nenek yang empunya kost ini sudah menjanda dan dikaruniai enam orang anak, tapi dia tinggal seorang diri. Berhubung rumahnya ada banyak kamar, maka tiga kamar di lantai atas yang tidak terpakai disewakan untuk menambah penghasilan hari tuanya (mungkin juga supaya rumahnya tidak sepi).

Ada semacam jet lag atau cultural shock yang kualami saat tinggal di minggu-minggu pertama. Semasa kost di Jogja dulu, semua serba mudah. Mau mencuci ada tempat cucian, menjemur ada loteng, mau memasak ada dapur, kulkas, TV dan lainnya yang sudah disediakan oleh Ibu kost. Tapi, lain Jogja, lain pula Jakarta. Ibukota punya ceritanya sendiri.

Sekarang setiap kali mandi harus berhemat air, pasalnya air tidak langsung diambil dari sumur melainkan dari PAM, sehingga air hanya ngocor di jam-jam tertentu. Lalu jika mau mencuci tak ada lagi tempat yang lapang, aku harus mencuci di garasi, itupun baru bisa mencuci malam-malam saat air PAM ngocor. Ditambah lagi WC di lantai atas rusak, sehingga aku harus melakukan aktivitas MCK di WC bawah yang artinya aku harus antre dengan banyak orang (biasanya anak dan mantu si nenek datang pagi-pagi dan mandi juga).

Terlambat pulang, dikunci deh..

Salah satu kerepotan selama kost di sini adalah soal jam pulang. Ibu kost yang sudah berusia senja itu biasanya tidur sebelum jam 23:00 dan menjadi masalah kalau-kalau aku harus pulang di atas jam sebelas malam. Ibu Sri tidak memberikan kunci ke penghuni kost, jadi kalau mau pulang malam harus izin terlebih dulu supaya pintunya tidak dikunci.

Setiap kembali ke Jakarta dari Bandung biasanya aku akan tiba di kost di atas jam 00:00, supaya tidak dikunci aku selalu mengabari si ibu supaya setiap minggu malam pintunya jangan dikunci. Tapi, namanya juga orang tua kadang-kadang suka lupa atau berhalusinasi.

Suatu hari aku izin kalau akan pulang jam 22:30 karena harus pergi menemui teman di daerah Slipi. Saat tiba di kost jam 22:20 ternyata pintu sudah dikunci. Pintu kugedor-gedor sambil aku coba menelpon nomor rumah si ibu, tapi selama 30 menit hasilnya nihil, malahan tetangga sebelah jadi sewot karena suara gedoran pintuku membuat berisik. Akhirnya aku menyerah dan pergi kembali ke Slipi untuk menginap di tempat teman dan kembali lagi ke kost subuh-subuh.

heri
Hanya kami berdua yang kost. Sama-sama dari Jogja, yang satu jadi guru, dan aku jadi penulis plus editor.

Lucunya, saat pagi hari aku menemui ibu kost, tanpa rasa bersalah dia menyapaku. “Bu, piye toh, kan aku sudah bilang pulang jam sebelas, lha belum jam setengah sebelas mosok sudah dikunci?” keluhku padanya. “Masa iya? Bukannya jam sepuluh mas nya sudah pulang dan masukin motor ke garasi toh?” jawab si ibu. FIX! Malam itu si ibu berhalusinasi atau memang ada makhluk halus menyerupaiku yang datang ke kost. Awalnya ingin marah, tapi aku malah ngekek sendiri.

Jadi, supaya aman, sebelum jam 22:00 aku akan kembali ke kost. Lagipula tidak aman keluyuran malam-malam di Jakarta seorang diri. Ya, kan? 

Oase Batin di balik Kekelaman Ibu Kota

Terlepas dari segala kekurangannya, rumah kost ini menorehkan kesan mendalam untukku. Dari tempat ini aku mendapati bahwa ibukota tak sekejam yang ada di pikiranku, juga tak sekejam ibu tiri (tak semua ibu tiri juga kejam sih). Sudah selayaknya manusia itu hidup berdampingan walau ada begitu banyak perbedaan, bisa jadi beda usia, beda kelamin (tentu!), beda agama, ataupun beda cara hidup.

Setiap hari sepulang kerja, aku selalu disuguhi senyum hangat dari sang ibu kost, plus alunan musik dangdut koplo yang selalu diputarnya. Aku tidak terganggu dengan musik dangdut karena itu asyik didengar. Ibu kost sangat senang mengobrol, jika bertemu dengannya, minimal lima menit harus kuluangkan untuk mendengar curhatannya. Kadang aku harus memotong ucapannya dan pamit pergi, kalau tidak aku terlambat masuk kerja.

Dari ocehan ibu kost aku belajar untuk menjadi pendengar yang baik sekalipun apa yang didengar tidak selalu enak. Aku tahu bahwa ketika zaman semakin maju, orang lebih tidak peduli. Banyak anak muda seusiaku yang sudah bekerja lebih menginginkan rumah kost yang menjamin privasi, yang tak ada orang peduli satu sama lain. Tapi, aku tidak ingin itu terjadi dalam hidupku. Suka tidak suka, aku tetap harus menjadi manusia yang humanis, dan satu-satunya cara menjadi humanis adalah dengan tetap bergaul dengan siapapun tanpa memandang sekat perbedaan.

Suatu ketika, sehabis aku mencuci baju dan menjemurnya di depan kost, hujan besar turun. Waktu itu aku sedang berada di kantor dan baru pulang malam hari. Setibanya di kost, seluruh jemuranku sudah diangkat dan diletakkan di atas kursi. Waw, aku terharu. Padahal, waktu itu hanya ada jemuranku saja di atas, tak ada jemuran lain, dan ibu kost yang bawel itu ternyata memperhatikan baju-bajuku. Dia naik ke lantai atas dan mengambil baju itu satu per satu.

“Mas, itu bajunya sudah saya angkat, kasian mas nya kalau basah bajunya, nanti harus cuci lagi,” ucap ibu kost.

Hari demi hari, aku makin menikmati tinggal di rumah kost ini, layaknya aku sedang tinggal di rumah nenek. Memang tidak 100% nyaman tinggal di sini. Sulit sekali mengeluarkan motor dari garasi, lalu saat akhir pekan biasanya keluarga si Ibu kost yang jumlahnya hampir satu RT akan datang dan memenuhi kost. Kadang aku merasa awkward berada di antara kerumunan keluarga itu.

Tapi, aku mau berusaha menikmati apa yang Tuhan sudah berikan padaku, termasuk ketika Ia menunjuk rumah ini sebagai tempat tinggal sementaraku di Jakarta. Aku bisa mempraktekkan kasihku kepada ibu kost. Saat pagi aku menyapanya, kadang mengajarinya menggunakan smartphone, membantunya mengangkat perkakas berat, menjadi teman curhatnya, dan menjadi pendengar setia musik dangdut koplo yang diputarnya setiap hari.

Akhir kata, tidak pernah ada yang sempurna di dunia ini, selalu ada buruk di antara baik, dan ada baik di antara buruk. Terlepas dari potret kelamnya kehidupan Ibukota, aku menemukan sebuah oasis yang memperkaya batinku. Aku tak pernah tahu ke mana Tuhan akan membawa kelak,tapi aku tahu kalau Dia akan kembali membawaku pergi entah ke mana, dan Dia mau aku belajar sesuatu dari tiap fase hidup yang kulalui.

Di Jakarta inilah aku dididik untuk tetap menjadi pribadi yang mempunyai empati. Ketika kriminalitas merajelela, tentu mudah bagiku untuk meredupkan empatiku dan menaruh curiga akan setiap apapun. Tapi, satu yang kuyakini adalah imanku pada Tuhan telah mengalahkan segala kecurigaan itu.

“Tuhan yang maha kuasa tidak pernah terlelap menjagamu”

—-
Jakarta, 24 Februari 2017

Dari BolangJogja yang sudah tidak di Jogja

 

Aku Tidak Pernah Memilih untuk Jadi Penulis, Tapi Inilah Pekerjaanku Sekarang

karier

Pandanganku terarah kepada sebuah layar gadget berukuran 5 inchi di depanku, sementara itu jari-jariku mengusap-usap layar itu bolak-balik seperti sebuah setrikaan. Sejujurnya aku tidak tahu hendak berbuat apa ketika teman-temanku mulai bercerita panjang lebar tentang masalah-masalah yang mereka hadapi di pekerjaan  masing-masing.

Aku dan teman-temanku menuntaskan studi di pendidikan tinggi pada tahun 2016 dan berganti status dari seorang mahasiswa menjadi “pengangguran sementara” sampai mendapatkan pekerjaan tetap. Usia pekerjaan kami barulah seumur jagung, jadi wajar ketika kami masih harus melakukan banyak penyesuaian diri dengan budaya yang baru—budaya kerja yang bukan lagi budaya mahasiswa.

Kebanyakan teman-temanku bekerja di perusahaan-perusahaan besar dengan deadline yang super padat. Ada yang mendapatkan gaji besar, ada pula yang mendapat pas-pasan. Ada yang begitu menikmati, tak jarang pula ada yang menderita dan ingin segera resign atau berharap dipecat saja. Kisah -kisah itulah yang selalu jadi bumbu pelengkap setiap kami bertemu di manapun.

Sekalipun aku dan teman-temanku sama-sama bekerja, tetapi aku memilih jalur yang agak melenceng. Aku tidak bekerja di sebuah perusahaan terkenal yang menawarkan presitise dan gaji mentereng walau sejujurnya aku pun ingin seperti itu. Tetapi, di suara hatiku yang terdalam, aku memilih untuk mengisi hidupku dengan sesuatu yang berbeda.

Awal mula perjalanan mencari karier

Setelah ujian pendadaran dan aku dinyatakan lulus, aku segera mencari kerja dengan mengikuti aneka macam Job Fair, dari yang virtual sampai datang ke kampus-kampus. Aku merasakan hidupku saat itu mirip seperti serial televisi yang berisi adegan seseorang tengah susah payah melamar kerja. Setumpuk CV bersama berkas lain kubawa.

Ada lima Job Fair yang kuikuti selama tiga bulan itu, tetapi aku tidak pernah sreg untuk mendaftarkan diriku di perusahaan-perusahaan yang terdaftar di sana. Kalaupun aku mendaftar, sebenarnya aku hanya coba-coba supaya bisa mengerti gambaran tentang psikotes dan wawancara kerja itu seperti apa. Satu, dua, tiga, empat hingga berkali-kali mendaftar dan aku pun gagal. Tapi aku tidak kecewa, toh karena aku juga tidak mau bekerja di perusahaan yang kulamar.

Sebetulnya sejak Agustus aku mengetahui ada sebuah lowongan kerja sebagai seorang editor dan penulis di sebuah lembaga pelayanan nirlaba. Aku sama sekali tidak tertarik untuk mengisi lowongan itu, mendengar kata “nirlaba” saja membuatku merinding. “Jika tidak mengejar laba, terus nanti aku digaji pakai apa?” pikirku. Jadi, kusingkirkan opsi untuk melamar ke organisasi itu.

Tapi, saat aku mengabaikan lowongan itu, pikiranku malah selalu membawaku ke situ. Saat aku naik motor, mandi, dan merenung, hati kecilku bicara kuat supaya aku melamar ke tempat itu. Aku masih bergeming dan tetap pada pendirianku untuk mencari perusahaan lain yang lebih bonafide.

Akhir Oktober aku memutuskan untuk pergi sejenak ke sebuah desa tempat temanku tinggal. Maksud hatiku adalah ingin melepaskan pikiran dari rasa stress mencari pekerjaan. Selama beberapa hari kuhabiskan dengan pergi ke pantai dan sawah. Tapi, ibarat nabi Yunus yang dipanggil-panggil oleh Tuhan, suara hatiku untuk mencoba melamar ke organisasi nirlaba itu semakin kuat hingga suatu malam akhirnya aku menyerah.

Saat panggilan itu semakin dekat

Aku meminjam komputer milik temanku dan mencoba menyiapkan aplikasi lamaran yang diperlukan. Tak butuh waktu lama, hanya sekitar sepuluh menit karena ternyata aku sudah membawa flashdisk yang berisikan data-data untuk melamar kerja. Setelah semua tulisan dan surat-surat terkumpul jadi satu dalam email, aku menghela nafas sejenak. “Aku manut deh, Tuhan,” ucapku dalam hati dan kutekan tombol send.

Satu hari tidak ada tanggapan, hari kedua aku menerima sebuah email yang berisikan undangan interview. Aku tidak tahu harus senang atau sedih saat itu, tapi aku mencoba tetap tenang dan mengikuti prosesnya. Waktu itu aku masih tinggal di Jogja jadi wawancara akan dilakukan via Google Hangouts dan menggunakan bahasa Inggris! Sekalipun aku sudah terbiasa bicara dengan bule-bule, tapi hari itu aku gugup, karena wawancara nanti bukan pembicaraan main-main.

Aku pergi mencari warnet dengan koneksi internet yang super cepat karena tidak ingin wawancara nanti terhambat. Saat wawancara dilakukan, aku bertambah gugup karena salah seorang pewawancaraku (yang kelak menjadi atasanku) adalah orang Singapura yang hanya bisa berbahasa Inggris. Enam puluh menit di bilik warnet itu adalah waktu yang paling menegangkan buatku. Setelah wawancara usai, aku merasa lega dan pasrah.

Waktu itu masih tersisa sekitar satu bulan sebelum aku resmi melepas status mahasiswa dan sejujurnya aku khawatir. Aku ingin sekali mendapatkan pekerjaan sebelum aku wisuda supaya tidak membebani orang tuaku yang sudah mengeluarkan biaya banyak sepanjang 22 tahun hidupku. Tapi hari itu belum ada jawaban dari organisasi tempatku melamar kerja.

Saat aku sedang menunggu jawaban itu, sebuah perusahaan media raksasa di Jakarta menelponku dan mengatakan kalau aku lolos psikotes dan harus melakukan wawancara lanjutan di kantornya di Jakarta. Sejujurnya pekerjaan inilah yang aku tunggu-tunggu, tapi entah mengapa hari itu aku tidak ingin bekerja di sana. Aku semakin bulat pada tekadku untuk bekerja di sebuah Non-Profit Organization yang memang sesuai dengan passionku.

Dipanggil menuju Ibukota

Aku ingat betul waktu itu adalah hari Senin ketika aku mengatur teleponku dalam mode silent, sehingga aku tidak tahu kalau ada lima panggilan telepon dari Jakarta. Jam 15:00 aku baru sadar kalau aku ditelpon, dengan panik segera aku menelpon balik dan aku kaget karena organisasi nonprofit tempatku melamar kerja itu memintaku untuk datang besok pagi ke Jakarta.

Dengan segera aku mengiyakan dan bergegas ke stasiun untuk naik kereta malam. Tapi, di luar dugaanku ternyata pihak kantor membelikanku sebuah tiket pesawat untuk ke Jakarta di hari Selasa pagi. Aku malah jadi bingung, antara harus terharu, sedih, atau bahagia. Malam itu aku berlatih wawancara dan menyiapkan portofolio yang perlu kubawa.

Singkatnya aku terbang ke Jakarta dan setibanya di bandara, aku dijemput oleh seorang dari kantor yang kelak menjadi managerku. Aku semakin bingung, kok aku yang pencari kerja malah difasilitasi seperti ini? Sepanjang jalan ke kantor pikiranku bergelora, aku bingung apakah jika diterima aku harus melepas tawaran wawancara di perusahaan besar yang beberapa hari menelponku?

Setelah bertemu dengan project manager dan melakukan wawancara selama beberapa jam, aku diminta untuk menunggu. Kemudian country director memanggilku ke ruangannya. Saat itu aku harus mantap menerima kenyataan. “Kalau diterima, berapapun gajinya akan kuambil”, gumamku dalam hati.

“Selamat ya! Kami memutuskan untuk menerimamu bergabung dengan kami, dan kami senang untuk menyambut anak muda yang memiliki passion kuat menjadi bagian dari pelayanan ini,” ucap sang Ibu direktur. Aku menjabat erat tangannya dan setelah mendengar pemaparannya tentang pekerjaan yang nantinya akan kupegang, aku semakin mantap.

Kububuhkan tanda tanganku di atas surat perjanjian bahwa mulai 1 Desember 2016 aku akan menjadi staff pelayanan dari Our Daily Bread Ministries, sebuah lembaga pelayanan global yang telah berdiri sejak tahun 1938 dan melayani jutaan orang di seluruh dunia dengan berbagai materi yang mengantarkan setiap orang Kristen untuk lebih dekat dengan Tuhan.

Satu bulan setelah itu petualanganku berganti. Dulu aku bertualang dengan menjelajah pulau-pulau, melihat laut dan gunung, tapi kini petualanganku menjadi sebuah penjelajahan dalam dunia maya. Aku bekerja sebagai seorang content developer yang bertugas menulis, mengedit, dan mengisi situs website dengan konten-konten yang menarik. Petualanganku telah berganti, tetapi visi dan misi hidupku tetaplah sama.

Setelah tiga bulan bekerja…..

Tiga bulan telah kulalui dan kini aku menjadi bagian dari jutaan warga Jakarta. Tentu ada suka duka yang kualami, ada proses adaptasi yang harus kulakukan, dan hingga kini pun aku masih belajar banyak hal-hal baru.

Tim kerjaku terdiri dari beberapa orang content-developer yang berlokasi di Tiongkok, Singapura, dan Malaysia. Jadi setiap dua minggu sekali kami melakukan rapat online. Sebagai content-developer Indonesia, aku bertanggung jawab untuk mengisi konten-konten artikel dalam bahasa Indonesia, menerjemahkannya ke bahasa Inggris atau juga sebaliknya.

Satu hal paling berharga yang aku pelajari adalah tentang kecukupan hidup. Ketika dunia mengajarkanku untuk mengejar kelimpahan, Tuhan mengajariku untuk mengejar kecukupan. Sebab, di dalam kecukupanlah aku bisa merasa puas dan bersyukur.

Pekerjaan yang kulakukan ini bukanlah persoalanku menyambung hidup dan membahagiakan orang tua lewat gaji yang kuterima semata. Tetapi,lebih dari itu, pekerjaan ini mengajariku untuk hidup dengan tulus. Ketika aku melihat ke atas, ke orang yang lebih “sukses” tentu aku akan minder, tetapi ketika aku mampu mengucap syukur atas keadaanku sekarang, di situlah aku sedang belajar untuk hidup dalam kedamaian.

Aku percaya bahwa tanggung jawab demi tanggung jawab akan Tuhan berikan tepat pada waktu-Nya. Dan hari ini, ketika Dia memintaku untuk melayani-Nya sebagai seorang penulis, itu bukan tawaran sembarangan. Kelak, kemana Dia menuntunku pergi, ke sana pulalah aku kan menuju.

*aku masih tetap jadi bolang, alias si bocah ilang yang selalu keluyuran setiap akhir pekan 

Banyak Jalan, Banyak Cerita – Jalancerita.com

Aryanto Wijaya
Aryanto Wijaya

Baca Juga:

Petualanganku Menjadi Seorang Content Developer

Tidak terasa, tepat hari ini satu bulan telah berlalu sejak hari pertamaku kerja dimulai. Berpindah kota dari Jogja ke Jakarta bukanlah perkara yang mudah, aku butuh berminggu-minggu untuk melarutkan diriku bersama dengan ritme kota khas metropolitan. Aku memang pernah terpikir untuk kerja di Jakarta saat masih mahasiswa dulu, tapi tak pernah membayangkan juga kalau itu akan jadi kenyataan.

Nikmatnya Hidup (Masih) Sendiri

sendiri1

Di suatu siang menjelang sore yang agak kelabu, pikiranku melayang-layang entah kemana. Waktu itu aku baru selesai menuntaskan skripsi setelah bergulat lima bulan dengannya. Setelah melamun cukup lama, terbersit ide dalam pikiranku untuk melanjutkan sesi melamun tadi di tempat berbeda, ke pantai tepatnya. Tanpa pikir panjang segera kukemas ransel, mengecek peta sebentar, dan segera berangkat.

Setibanya di bibir pantai pandanganku terarah kepada lautan nan luas dan seolah tak berujung. Sebagai seorang lelaki yang usianya beranjak menuju 23 tahun tentu sedikit banyak topik tentang pasangan hidup itu mampir di pikiran. Dalam perenungan itu aku sendiri pun bertanya kepada diriku, “kok belum kelihatan toh jodohmu?” 

Pertanyaan itu hanya bisa kujawab, “tunggu.” Selebihnya kuserahkan kepada deburan ombak dan matahari yang menggantung di angkasa.

Tapi, kawan, aku memang sendiri dan seringkali merasakan kesepian. Hidup di kota perantauan seorang diri memang kadang terasa miris. Namanya juga manusia, ada rasa rindu yang terkadang muncul, tetapi kadang juga tidak tahu ke mana rasa rindu itu harus diungkapkan. Syukurlah karena Tuhan juga hadir lewat alam, maka seringkali kuungkapkan rasa rinduku itu kepada semilir angin, deburan ombak, juga kepada matahari senja.

Sendiri bukan alasan menyendiri

Terlepas dari statusku yang masih sendiri, itu bukan alasanku untuk menyendiri dari dunia. Sepanjang waktuku di Jogja dulu, aku menyadari bahwa ada point yang sangat istimewa dari kesendirian ini, yaitu teman-teman. Status sendiri membawaku untuk berteman dengan lebih banyak orang, dan pertemanan inilah yang akhirnya memberiku wawasan dan pengalaman.

Aku bebas berteman dengan siapa saja, pergi ke manapun, kapanpun dan dengan siapapun tanpa harus melapor terlebih dahulu. Aku tahu kebebasan ini bersifat sementara, segera, setelah pasangan hidup kutemukan tentu aku tak bisa lagi seenaknya seperti itu.

Aku tidak punya belahan jiwa

Aku memiliki prinsip bahwa aku tidak punya belahan jiwa karena Tuhan menciptakan jiwaku utuh. Jadi ketika Tuhan berkata bahwa sudah saatnya aku melepas masa single ku, maka di situ jugalah Dia sudah menyiapkan seseorang yang juga jiwanya utuh, tidak terbelah. Kelak, dua jiwa yang utuh inilah akan dilebur oleh Tuhan untuk menjadi satu, bukan ditempel karena sama-sama terbelah.

Kelengkapan hidup seseorang bukan ditentukan dari apakah dia memiliki pasangan atau tidak. Jadi, punya pacar ataupun tidak, sejatinya Tuhan menciptakan jiwa kita utuh, tidak kurang setengah hanya karena kita belum memiliki pasangan. Punya pacar ataupun tidak, Tuhan tetap memiliki rencana yang baik untuk kita, dan Dia mau supaya lewat hidup kita rencana itu bisa dinyatakan.

Sendiri adalah proses pemurnian 

Aku tahu bahwa selama masa sendiri ini, aku harus banyak memperbaiki diri, supaya kelak perempuan yang menjadi pasangan hidupku itu mendapatkan diriku dalam bentuk karakter yang terbaik. Aku belajar untuk mensyukuri apa yang ada padaku, bukan apa yang tidak ada. Jika sampai hari ini masih sendiri, itu artinya aku masih harus berkarya lagi dan lagi.

Lalu jika sampai nanti tidak dapat pasangan hidup karena keasyikan sendiri, bagaimana?

Jawabannya, sendiri ataupun berpasangan, Tuhan menciptakanku tetap spesial. Dan, alam semesta punya waktu dan ritmenya tersendiri. Sama seperti matahari yang selalu terbit di timur dan tenggelam di barat, demikian juga Semesta memiliki rancangan yang baik untukku.

*******

 

Aku berbahagia dengan masa-masa single yang kujalani saat ini. Ketika kesepian itu hadir, aku bisa mengalihkannya dengan karya-karya positif. Aku pergi traveling lalu menulis untuk situs jalan-jalan milikku, dan aku bisa memanfaatkan waktu yang ada untuk mencintai keluarga dan teman-temanku terlebih dahulu. Aku percaya, ketika aku bisa mencintai dan merasa cukup dengan apa yang Tuhan berikan saat ini, kelak pada waktu-Nya, Dia akan memberikanku tanggung jawab baru.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

14 Februari 2014: Ketika Abu Vulkanik Mengguyur Hari Valentine

Stasiun Lempuyangan

Tiga tahun lalu, tepatnya di malam sebelum hari Valentine, linimasa media sosial dipenuhi informasi terbaru tentang aktivitas gunung Kelud yang kala itu sedang batuk-batuk. Malam itu angkasa Jogja cerah seperti biasanya, tak ada tanda-tanda apapun bahwa besoknya seisi kota akan menjadi kelabu.

Continue reading “14 Februari 2014: Ketika Abu Vulkanik Mengguyur Hari Valentine”