Petualanganku Menjadi Seorang Content Developer

Tidak terasa, tepat hari ini satu bulan telah berlalu sejak hari pertamaku kerja dimulai. Berpindah kota dari Jogja ke Jakarta bukanlah perkara yang mudah, aku butuh berminggu-minggu untuk melarutkan diriku bersama dengan ritme kota khas metropolitan. Aku memang pernah terpikir untuk kerja di Jakarta saat masih mahasiswa dulu, tapi tak pernah membayangkan juga kalau itu akan jadi kenyataan.

Baiklah, karena kenyataan memang harus dihadapi dan dinikmati, kini hidupku berlabuh di sebuah kantor dan bekerja sebagai seorang Content Developer untuk sebuah website pelayanan dengan target pembaca anak-anak muda. Ada rasa bangga sekaligus takut ketika tiba hari pertama kerja. Pertama, aku takut akan suasana kerja, kedua aku masih bingung dengan apa yang menjadi tanggung jawab utama sebagai seorang content-developer.

Satu minggu pertama dihabiskan dengan orientasi untuk mengenal setiap divisi yang ada di kantor. Minggu kedua dan seterusnya diisi dengan pengenalan mula-mula job description posisiku. Awalnya aku merasa pekerjaan sebagai content developer itu biasa saja, tidak istimewa sampai waktu mengajarkanku dan menunjukkan sisi manis dari pekerjaan ini.

Kegalauan Sehabis Lulus

Sebagai lulusan Jurnalistik nama posisi content developer masih agak asing buatku, yang kutahu adalah lulusan Jurnalistik itu bekerjanya di media sebagai wartawan, news anchor, dan lain-lainnya. Selepas lulus, aku masih bingung mau di bawa kemana hidupku selepas kuliah ini. Aku punya mimpi untuk berkeluarga, makanya harus menemukan pekerjaan. Tapi, aku takut jika ternyata aku bekerja di tempat yang salah, maka aku akan dongkol sepanjang hari dan masa depan menjadi kelabu.

Tiga hari setelah sidang pendadaran, aku pergi mengikuti Job Fair dengan membawa 30 lembar CV. Aku tahu mencari kerja itu sulit karena sekarang ada jutaan sarjana di Indonesia dan lapangan kerja juga terbatas. Sarjana yang banyak itu ibarat kacang goreng, tapi hanya kacang goreng yang renyah yang bisa masuk ke perusahaan besar, pikirku waktu itu.

Ada lima Jobfair yang aku ikuti dalam beberapa bulan. Pagi-pagi datang membawa lamaran, siang diwawancara, lalu psikotes berjam-jam, lalu ternyata gugur alias tidak lolos. Ada sih rasa kecewa waktu itu, tapi kok aku malah senang tidak diterima di perusahaan yang waktu itu kudaftar.

Setelah mengikuti pameran kerja di sana-sini, aku memutuskan menyepi sejenak. Waktu itu aku pergi ke pantai untuk merenungkan kemana langkah hidup selanjutnya harus kupilih. Dalam perenunganku, aku masih berharap untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan jurusan kuliahku, jurnalistik. Aku masih enggan kalau harus bekerja di perusahaan yang umumnya hanya buka lowongan bidang marketing, walaupun diberi gaji yang besar.

Aku berdoa singkat, “Tuhan, ke mana Engkau menuntun, ke situ aku kan menuju,” gumamku. Sebetulnya, sejak bulan Agustus 2016 aku sudah mengetahui ada lowongan kerja sebagai seorang content developer untuk sebuah website pelayanan Kristen yang memiliki kantor juga di Jakarta. Tapi, waktu itu aku takut dan tidak mau bekerja di tempat yang berbau “rohani” dan memutuskan mencari pekerjaan di tempat yang sekuler.

Tapi, dorongan untuk aku mencoba melamar sebagai content developer itu semakin kuat. Tiap kali aku makan, mandi, naik motor, itu selalu terngiang-ngiang hingga akhirnya aku memutuskan untuk coba mendaftar di sana.

Aku masih pesimis dan makin pesimis ketika aplikasi lamaranku diterima. Aku diminta melakukan wawancara online, dan aku langsung mencari warnet yang internetnya cepat di Jogja. Pesimisku tidak luntur, apalagi ketika wawancara ternyata dilakukan sepenuhnya dalam Bahasa Inggris. Seusai wawancara, aku diberi tugas untuk menulis dan menerjemahkan artikel dari dan ke Bahasa Inggris.

Aku pasrah, “kalau memang ini jalannya, aku terima,” gumamku. Tiga hari setelah wawancara, tidak ada kabar apapun. Dan di hari keempat, saat hari telah menjelang sore aku dikirmi email dari kantor tempatku melamar itu untuk hadir di Jakarta keesokan harinya pukul 10:00 untuk melakukan wawancara lanjutan.

Wow! Aku panik antara senang dan sedih, maksud hati mau segera ke stasiun untuk mencari tiket kereta, ternyata kantor membelikanku tiket pesawat untuk keesokan harinya. Tak selesai sampai di tiket, aku pun dijemput di bandara oleh orang yang kemudian menjadi managerku.
Hari itu, 1 November 2016 singkatnya aku diterima bekerja untuk menjadi seorang Content Developer untuk website warungsatekamu.org, sebuah wadah pelayanan kaum muda dari Our Daily Bread Ministries.

Hari-hariku sebagai Content Developer

Satu minggu setelah wisuda, aku mau tidak mau harus mengucapkan selamat tinggal dan terimakasih kepada Jogja, kota yang telah mengasuhku selama empat tahun. Aku hampir menangis setiap hari selama seminggu, kata “kangen jogja” selalu terselip di pikiranku.

Aku mulai berpikir, jika aku tidak bisa melepaskan Jogja, maka akan sulit bagiku untuk mneikmati pekerjaanku yang baru. Dua minggu pertama adalah masa transisi terberat karena ekspektasiku harus beradu dengan kenyataan. Pekerjaan sebagai content developer mengharuskanku harus selalu terhubung dengan internet setiap saat.

dsc_0134
Sudut kerjaku 

Aku harus menulis, mengedit, mengecek dan mengelola sebuah website dengan ribuan pengunjung aktif. Otomatis, aku merasa pusing karena sebelumnya di Jogja aku selalu jalan-jalan, entah ke sawah belakang kost, pantai, air terjun atau sekedar ngopi di angkringan. Perlahan aku mulai larut dalam keseharian yang ternyata sangat menyenangkan.

Aku ingat pesan dari Mbak Oneng (Mbak Kostku di Jogja) yang menyemangatiku dengan berkata, “Bertualang itu gak harus di jalan, temukanlah petualanganmu di kantor, lewat pekerjaanmu di dunia maya,” tulisnya. Sekalipun badanku tak lagi bebas untuk jalan-jalan, tapi aku tetap punya kesempatan untuk menciptakan perjalanan baruku sendiri.

Pekerjaan Tanpa Sekat Bangsa

Aku tak pernah menyangka jika ternyata rekan sekerjaku itu tersebar di beberapa negara. Aku berlokasi di Jakarta, sedangkan content developer lainnya berada di Singapura, Hong Kong, Malaysia dan Tiongkok. Setiap dua minggu sekali kami melakukan rapat virtual menggunakan Google Hangouts. Wow! Mau tidak mau aku harus belajar bahasa Inggris baik lisan dan tulisan.

Website yang kami kelola adalah bagian dari Our Daily Bread Ministries yang hingga saat ini telah melayani jutaan pembaca di seluruh dunia. Website yang kami kelola meliputi website berbahasa Inggris (YMI.today), Mandarin(Ya-mi.org), Thai (Mannasociety.org), dan bahasa Indonesia (warungsatekamu.org). Staff YMI beseta Manna Society berlokasi di Singapura, sedangkan staff berbahasa Mandarin berlokasi di Malaysia dan Hongkong, satu staff lainnya untuk bahasa mandarin tradisional berlokasi di Tiongkok, dan aku di Indonesia. Oh ya, untuk di Indonesia sendiri kami terdiri dari empat orang staff, satu orang sebagai project manager, satu orang sebagai IT, satu orang sebagai designer dan satu sebagai content developer.

big-group-google-chat2
Content Developer Weekly Meeting bersama rekan-rekan dari berbagai Negara

Tantangan bekerja dengan rekan-rekan berbeda negara adalah bahasa. Sekalipun Bahasa Inggris sering digunakan, tapi menulis dalam bahasa Inggris jauh lebih susah ketimbang mengucapkannya (menurutku loh yaaa). Aku bisa memakan waktu berhari-hari untuk menerjemahkan satu artikel, sedangkan deadline tetap berjalan. Bersyukur karena rekan-rekan sekerja tidak meninggalkanku, tetapi mereka menemani dan membimbing.

Sekalipun terpisah jarak, tetapi aku mengucap syukur kepada teknologi yang memampukan kami untuk berkomunikasi tanpa harus hadir secara fisik. Pekerjaan baru ini mengajariku untuk mengenal budaya kerja yang baru, sebuah budaya kerja yang profesional namun ramah. Sekalipun kami adalah lembaga pelayanan, tapi profesionalitas adalah hal yang paling diutamakan. Jika melayani manusia saja kita bisa berlomba menjadi yang terbaik, masakan untuk Tuhan kita bekerja setengah-setengah?

Dan inilah perjalananku, perjalanan sebagai seorang content developer. Entah sampai kapan aku berada di sini, tapi yang jelas adalah “ke mana Dia menuntut, ke situ aku kan menuju.” Tugasku sekarang adalah menikmati pekerjaanku seraya menikmati kota Jakarta.

Bicara soal gaji, itu sih rahasia hehehe. Tapi, yang jelas, sang Penciptaku selalu mencukupi dan paham betul setiap detail kebutuhanku, kebutuhan loh ya, bukan keinginan!

_20170102_002520
Berbagi cerita bersama Pak Holik, driver Gojek yang ban motornya bocor

Sekalipun ragaku tak lagi bebas menjelajah, tapi aku tetaplah si Bolang, si Bocah Ilang, yang suka menghilang. Setiap kali jam pulang kantor usai, aku berkeliling sendirian naik busway, menikmati macetnya Jakarta. Sesekali aku membeli cemilan dari pedagang asongan di pinggiran jalan, naik ojek, atau membeli tissue dari pedagang cilik di atas jembatan penyeberangan. Aku mungkin tidak bisa mengubah Jakarta menjadi lebih baik, tapi aku bisa mulai mencintai Jakarta dengan hidupku. Lewat setiap tindakan sederhana yang mungkin tak ada artinya itu, aku mau menebar cinta untuk Jakarta, untuk setiap orang yang luput dari ritme metropolitan.

Aku menemukan kenikmatan hidup dari hal-hal kecil yang kusyukuri. Kiranya doa dari St. Fransiskus Asisi ini boleh jadi penutup yang baik untuk curhatan panjangku.

Lord, make me an instrument of your peace;
Where there is hatred, let me sow love;
Where there is injury, pardon;
Where there is doubt, faith;
Where there is despair, hope;
Where there is darkness, light;
Where there is sadness, joy;
O divine master, grant that I may not so much seek
To be consoled as to console,
To be understood as to understand,
To be loved as to love,
For it is in giving that we receive,
It is in pardoning that we are pardoned,
And it is in dying that we are born to eternal life
AMEN.

 

Kalideres, 5 Januari 2017

#EnjoyTheJourney

Iklan

One thought on “Petualanganku Menjadi Seorang Content Developer

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s