Mangunan: Menyapa Fajar dari Kayangan

Lima tahun lalu, nama Mangunan belum banyak didengar publik, khususnya wisatawan sebagai destinasi populer di Yogyakarta. Namun, sejak potret Mangunan dengan sungai awannya yang mengalir lembut tersebar di jagad maya, perlahan namanya merangkak naik dan berhasil menarik hati banyak pengunjung untuk menyambanginya. 

Pagi itu jalanan masih gelap, namun ketika saya menengadah ke langit, ada jutaan bintang berpendar  pertanda hari akan cerah. Berbekal rasa penasaran akan suasana fajar di Mangunan yang katanya begitu indah, saya mengendarai sepeda motor dari kawasan Babarsari, Sleman menuju Mangunan pada jam 3 dini hari. Secara geografis, Mangunan atau nama lebih lengkapnya “Kebun Buah Mangunan” terletak di Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Jika berkendara dari pusat kota, jaraknya sekitar 30 kilometer ke arah selatan.

Kunjungan pagi itu adalah kunjungan kedua kali setelah sebelumnya di tahun 2012 saya pernah singgah di Mangunan untuk pertama kalinya. Waktu itu, seiring dengan belum populernya media Instagram, keindahan Mangunan belum banyak terekspose. Jalanan dari pintu masuk menuju gardu pandang masih berbatu dan belum ada parkiran di puncak, beda sekali dengan sekarang di mana jalanan sudah beraspal mulus dan pengunjung bisa memarkirkan kendaraanya dekat gardu pandang.

Mangunan di tahun 2012.

Menyandang nama lengkap sebagai Kebun Buah Mangunan, sebenarnya saya jadi bertanya-tanya. “Di mana buahnya?” Sepanjang saya berjalan kaki dari parkiran hingga ke gardu pandang, tak ada buah-buahan ranum yang saya jumpai. Dari puncak gardu pandang pun saya hanya melihat bukit-bukit yang hijau membentang, juga sungai di dasar tebing yang airnya berwarna kecoklatan. Saya tidak puas dengan kunjungan yang pertama karena waktu itu kesalahan terbesar yang saya lakukan adalah datang di musim kemarau dan saat siang bolong. Alih-alih menyakiskan aliran sungai awan yang mengalir lembut, saya malah terbakar teriknya matahari.

Di kunjungan yang kedua, tepatnya di September 2016 yang lalu, saya mencoba untuk tidak mengandalkan Googlemaps. Saya sengaja berangkat sejak pagi-pagi buta dengan alasan supaya apabila saya lupa jalan dan tersesat, saya tidak akan terlambat menyaksikan sunrise. Tapi, rupaya tak sulit menemukan Mangunan karena setelah namanya semakin dikenal,  ada banyak papan penunjuk arah yang sudah dibangun untuk memudahkan pengunjung.

img_8914
Semburat fajar

Jam empat subuh, saya sudah tiba di depan gerbang masuk Mangunan, namun belum diperkenankan masuk karena jam buka resminya adalah pukul 04:30. Saya tidak sendiri, ada tiga mobil dan empat sepeda motor lainnya yang juga ingin menyaksikan keindahan matahari terbit dari Mangunan.

Mangunan sebenarnya bukanlah objek wisata yang baru. Saya mengenalnya dari laman yang mempromosikan pariwisata Yogyakarta di Facebook. Mangunan dikenal sebagai tempat terbuka untuk menyelenggarakan aktivitas outdoor mulai dari camping, observasi burung dan objek fotografi. Spot terbaik yang dimiliki Mangunan bukanlah kebun buahnya (konon katanya), melainkan sebuah puncak berketinggian 200 meter di atas permukaan laut yang dijadikan sebagai gardu pandang. Tepat di bawah gardu pandang, meliuk aliran Sungai Oya yang diapit oleh hamparan perbukitan hijau. Jika musim kemarau, bukit hijau akan kehilangan kesegarannya dan berubah warna menjadi kecoklatan, serta air di sungai Oya pun akan mengering.

Sebuah Negeri di Kayangan 

Jam lima kurang, saya sudah berdiri di puncak gardu pandang. Berbeda dengan kunjungan pertama kali di mana Mangunan masih amat sepi, kali ini saya disambut oleh deretan warung-warung yang rapi berjajar. Tingginya jumlah wisatawan memberi dampak ekonomis pada beberapa masyrakat di desa sekitar. Mereka mendirikan warung sederhana dan menjajakan aneka makanan berat maupun ringan.

img_8926
Negeri di Atas Awan

Pukul lima, langit yang semula gulita mulai menampakkan secercah sinar. Lama-kelamaan sinar itu membesar dan menorehkan semburat jingga di langit, mengusir kerlap-kerlip bintang yang sudah semalaman menemani bumi. Saya mengambil kamera dan beberapa kali mengambil gambar. Setelahnya, saya masukkan kembali kamera itu dan coba menatap jurang di depan gardu pandang yang mulai terlihat cerah.

Dari seberang gardu pandang, di atas sungai Oya, kabut pagi mengalir lembut, mendekap bukit-bukit hijau, dan membentuk aliran sungai yang meliuk-liuk. Kabut inilah yang paling dicari oleh para pengunjung. Kata mereka di media sosial, pagi di Mangunan itu laksana berada di kayangan, surga, di mana kita berada di atas awan.

Pagi yang seharusnya syahdu itu menjadi kurang syahdu ketika serombongan besar pengunjung datang dengan riuh. Alih-alih memandangi kabut dengan takjub, mereka sibuk dengan ponsel dan pose berfoto. Satu, dua, tiga, cekrek. Mereka berswafoto ratusan kali, berpindah-pindah tempat, dan terus menerus seperti ini selama hampir satu jam. Saya menggeleng, rupanya kehadiran teknologi zaman sekarang membuat sebuah perjalanan menjadi lebih banyak dokumentasinya ketimbang kebersamaan ataupun menikmati suasana.

Sunset alias matahari terbit sejatinya bukanlah peristiwa baru. Setiap manusia di muka bumi ini pasti melewati momen sunrise maupun sunset sepanjang hidupnya. Mangunan mengajari saya bahwa detik-detik kala fajar menyingsing adalah momen yang sempurna, indah tak terkatakan. Fajar pagi adalah sebuah pertanda bahwa rahmat yang baru dicurahkan bagi dunia. Ada udara yang sejuk dan segar, burung-burung berkicau, halimun tipis, dan sinar mentari yang hangat. Di hari-hari biasanya, momen fajar pagi selalu terlewati begitu saja. Baru bangun tidur, alih-alih mengungkapkan syukur karena bisa mendapati hari yang baru, yang terpikir malah segala beban, pekerjaan, dan masalah yang seolah begitu berat, pagi hari telah kehilangan pesonanya.

Berada di Mangunan membawa saya kembali ke sebuah masa di mana alam menawarkan ketenangan dan ritme yang teratur. Mentari hadir menyibak gulita, halimun merayap turun dari bukit-bukit kemudian sirna seiring dengan naiknya rembang tengah hari. Bagi manusia urban yang setiap hari hanya melihat deadline dan stress, halimun pagi Mangunan adalah sebuah misteri sekaligus perenungan.

img_8955
Berpose ria selagi kabut mengalir

Saya mengalihkan pandangan dari para pengunjung yang riuh, mencoba berfokus pada sungai awan yang terhampar di depan. Tanpa difoto pun, Mangunan begitu sedap untuk dinikmati dan memorinya tersimpan abadi di otak. Untuk memaksimalkan kesyahduan pagi itu, saya menyeruput segelas teh panas dan berbincang-bincang dengan dua teman.

Kala langit makin cerah, semakin banyak pengunjung yang datang. Pecah sudah kesunyian kayangan Mangunan dan ini adalah alarm untuk saya segera beringsut.

Ketika hari ini saya menuliskan tulisan ini di Jakarta, saya teringat bahwa halimun yang mengalir di Mangunan mengajarkan saya sesuatu. Ia hadir sejenak, mengalir bersama angin lalu sirna entah ke mana. Demikian juga dengan hidup ini, begitu singkat, dan bisa sirna hanya dalam sekejap.

***

Rute menuju Mangunan dari Yogyakarta

Kota Yogyakarta – ambil jalan menuju terminal Giwangan, bisa melewati Ring Road Selatan – Dari perempatan Giwangan, menuju selatan ke Jalan Imogiri Timur – Ikuti jalan hingga pasar Imogiri – ikuti arah panah menuju Dlingo / Kebuh Buah Mangunan

HTM: Rp 5.000,- per orang

Jam Buka: pk 04:30 WIB

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s