Mangunan, Menyapa Fajar dari Kahyangan

Empat tahun lalu, nama Mangunan belum tersohor sebagai deretan spot terbaik menikmati lanskap Yogyakarta. Kini, sejak media sosial Instagram memuat foto spektakuler Mangunan, ia menjadi buah bibir bagi para calon wisatawan yang hendak berkunjung ke Jogja. Nama Mangunan tak lagi tertinggal, ia masuk menjadi agenda kunjungan wajib para wisatawan urban pemburu kemolekan alam.

Pagi itu jalanan masih gelap, namun ketika menengadah ke langit jutaan bintang berpendar cerah sebagai tanda hari akan cerah. Menembus gulita pagi hari, sepeda motor terus kupacu melibas liukan jalan yang menanjak curam. Sesekali motor harus berhenti untuk melihat arah panah jalan yang menuju ke Mangunan.

Tak sulit menemukan Mangunan, seiring dengan meningkatnya kunjungan wisatawan, turut dibangun pula beragam fasilitas pendukung. Salah satunya adalah papan penujuk jalan, jadi tak perlu kuatir tersesat apabila berkendara dari Jogja menuju Mangunan. Sejatinya, nama panjang dari Mangunan adalah “Kebun Buah Mangunan” yang terletak di kecamatan Dlingo, Bantul, Yogyakarta.

img_8914
Semburat fajar

Sebelum Instagram meramaikan jagad media sosial, Mangunan telah hadir dan dikenal oleh masyarakat lokal Yogyakarta. Berbagai kegiatan diselenggarakan di Mangunan, mulai dari camping, observasi burung dan berwisata. Spot terbaik yang dimiliki Mangunan bukanlah kebun buahnya, melainkan sebuah puncak yang dijadikan sebagai gardu pandang. Tepat di bawah gardu pandang meliuk aliran Sungai Oya yang diapit oleh hamparan perbukitan hijau. Jika musim kemarau, bukit hijau akan kehilangan kesegarannya dan berubah warna menjadi kecoklatan.

Negeri Kahyangan 

Foto-foto saat fajar di Mangunan yang diungguah ke Instagram perlahan mulai menarik minat wisatawan. Akun-akun traveling skala lokal Jogja dan nasional turut meramaikan peristiwa fajar spektakuler hingga jadilah Mangunan yang seperti sekarang ini.

img_8926
Negeri di Atas Awan

Sejatinya setiap orang tentu merasakan peristiwa fajar setiap harinya. Pagi-pagi ketika membuka mata, udara pagi masih terasa segar. Bedanya, bagi manusia urban, pagi hari tak selalu jadi awal yang penuh semangat, terkadang beban yang menumpuk membuat hari seketika runtuh dan momen fajar tak lagi berharga.

Berada di Mangunan membawa kita kembali ke sebuah masa di mana alam menawarkan ketenangan dan ritme yang teratur. Mentari hadir menyibak gulita, halimun merayap turun dari bukit-bukit kemudian sirna seiring dengan naiknya rembang tengah hari. Bagi manusia urban yang setiap hari hanya melihat deadline dan stress, halimun pagi Mangunan adalah sebuah misteri sekaligus perenungan.

Pukul lima pagi, semburat cahaya mentari mulai memecah kegelapan. Kelip bintang dan pendaran bulan mulai sirna tergantikan oleh cahaya surya yang lebih kuat. Namun ada yang tak turut sirna, yaitu kabut tipis atau halimun. Sungai Oya di bawah gardu pandang Mangunan tertutupi halimun seolah sungai tersebut bukanlah berisi air, tapi berisi awan yang mengalir lembut.

Kesunyian dan kesyahduan pagi di kahyangan Mangunan terkadang menjadi terusik oleh ulah pengunjung. Alih-alih berdiam diri dan menikmati udara pagi, ada yang sibuk dengan gadget dan berupaya mengambil gambar sebaik dan sebanyak mungkin. Tak ayal, pagi yang seharusnya tenang berubah menjadi berebut antrean mengambil gambar. Mungkin, bagi pengunjung yang hits tersebut moment ini sangat langka hingga harus diabadikan dengan segera walaupun menggunakan kamera handphone seadanya.

img_8955
Berpose ria selagi kabut mengalir

Abaikan sejenak tentang kepadatan pengunjung, kembali berfokus pada pemandangan Mangunan. Tanpa difoto pun kahyangan Mangunan sedap untuk dinikmati dan tersimpan abadi dalam memori otak. Ambillah foto namun tak perlu terlalu banyak. Duduklah manis, berbincanglah dengan rekanmu dan nikmati aroma pagi Mangunan.

Ketika pengunjung semakin banyak, pecah sudah kesunyian kahyangan Mangunan. Kurapikan ranselku  dan bergegas menuju warung milik warga untuk menyeruput teh panas. Ah, kawan, seandainya kita mengerti, halimun Mangunan mengajarkan kita satu hal. Ia hadir sejenak, mengalir bersama angin lalu sirna entah ke mana. Demikian juga dengan hidup kita sebagai manusia, hari ini ada dan esok entah ke mana akan berlabuh dan sirna.

Yogyakarta, 29 September 2016 –

************

Rute menuju Mangunan dari Yogyakarta

Kota Yogyakarta – ambil jalan menuju terminal Giwangan, bisa melewati Ring Road Selatan – Dari perempatan Giwangan, menuju selatan ke Jalan Imogiri Timur – Ikuti jalan hingga pasar Imogiri – ikuti arah panah menuju Dlingo / Kebuh Buah Mangunan

HTM: Rp 5.000,- per orang

Jam Buka: pk 04:30 WIB

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s