Java Journey

Watu Lumbung: Sensasi Baru Nikmati Wedangan

Duduk santai sembari menikmati jahe panas telah jadi aktivitas favorit selama saya berkuliah empat tahun di Jogja. Ritual wedangan ini selain dapat menghangatkan badan juga selalu memberi inspirasi. Biasanya, sambil menyeruput teh atau jahe yang panas, obrolan panjang ngalor-ngidul akan tercipta, dan dalam diskusi dengan lawan bicara. Itulah biasanya inspirasi tiba-tiba muncul.

Moment mengerjakan skripsi adalah momen krusial, sangat fatal ketika malas telah menjangkit. Untuk mengakalinya, setiap kali selesai berproses dengan skripsi, motor harus dipacu untuk berkeliling Jogja, setidaknya untuk menghirup angin segar. Perjalanan sore kali ini membawa saya jauh melesat ke selatan Yogya yang tersohor akan keanggunan Pantai Parangtritis lengkap dengan bumbu horornya. Tapi, perjalanan kali ini tidak sampai di bibir pantai, hanya sampai sebuah bukit yang memiliki panorama menyejukkan.

IMG_2764

Kedai Omah Singgah

Jogja memang tidak pernah ada habisnya untuk dijelajahi. Belum sampai beberapa bulan biasanya sudah muncul tempat-tempat baru yang layak untuk disinggahi. Salah satunya adalah bukit Watu Lumbung. Bukit yang terletak di kecamatan Kretek, Bantul ini menjadi terkenal lantaran kedai-kedai wedangannya yang menawarkan sensasi baru dalam menyeruput wedangan.

IMG_2757

Kedai Omah Singgah

Berkendara dari pusat kota Yogyakarta tidaklah sulit, cukup mengikuti arah panah menuju Pantai Parangtritis. Ikuti jalan hingga tiba di Jembatan Kretek, jembatan panjang yang melintasi Sungai Opak, kemudian berbeloklah ke kiri mengikuti arahan dari papan penunjuk. Jalan aspal kecil mulai menanjak dan beberapa kedai wedangan mulai nampak di pinggiran jalan.

Di Kampung Wisata Watu Lumbung sendiri terdapat banyak kedai yang menyediakan wedangan. Semakin ke atas maka panorama yang didapat semakin baik. Spot utama dari ketinggian adalah pemandangan jembatan Kretek yang terlihat gagah diantara hijaunya pepohonan dan sawah.

IMG_2801

Panorama dari atas Kedai Phinisi

Sambil memasang mata, pilihan pertama saya jatuh pada kedai pertama yang berlokasi tidak terlalu tinggi. Memang pemandangan di tempat ini tidak terlalu luas, namun kedai ini sepi pengunjung sehingga nikmat untuk menyepi. Selain itu, kafe ini menawarkan konsep bangunan kayu. Hampir seluruh atribut bangunan terbuat dari kayu, mulai dari kursi, meja hingga asbaknya. Menu yang ditawarkan berharga cukup terjangkau, sepiring Indomie plus telur dibanderol Rp 10.000,-, teh panas Rp 5.000,- dan kelapa murni seharga Rp 15.000,-.

IMG_2820

Wedang Uwuh dan Susu Panas

Tak cukup puas dengan pemandangan Jembatan Kretek yang terhalang pepohonan, motor kembali dipacu untuk pindah ke kedai yang lebih atas. Ada lebih dari lima kedai yang menawarkan pemandangan bagus, dan masing-masing memiliki keunikannya sendiri. Saya memilih Kedai Phinisi karena bentuk bangunan yang mirip perahu. Namun sayang sekali, spot perahu tersebut sudah diisi oleh orang lain yang sedang pacaran.

Kedai Phinisi menawarkan pemandangan yang tertuju langsung ke Jembatan Kretek. Semakin senja semakin indah. Ketika cahaya langit mulai meredup, lampu-lampu rumah dan kendaraan berpendar dari kejauhan menghasilkan kombinasi senja yang pas. Pendaran lampu, redupnya cahaya langit, taburan bintang yang bersinar malu, angin semilir serta segelas wedang uwuh panas menjadikan senja di Watu Lumbung terlalu indah untuk dilewatkan.

IMG_2822

Jembatan Kretek ketika cahaya mulai memudar

Ketika kita datang dan menikmati wedang di Watu Lumbung itu artinya kita turut menyejahterakan masyarakat lokal. Pada mulanya, kawasan Bukit Watu Lumbung hanyalah bukit biasa yang tak lebih dari lebatnya pepohonan. Berkat usaha dari seseorang bernama Boy Rifai, kampung ini disulap menjadi objek wisata dengan mendirikan kedai wedangan.

Hadirnya kedai wedangan ini menjamur cepat berkat perantara sosial media. Jika hadir pada hari Jumat, pengelola kampung wisata Watu Lumbung biasanya akan menggelar sajian musik akustik. Bisa dibayangkan betapa romantisnya melewatkan satu malam di Watu Lumbung, lengkap dengan semilir angin, panorama, jahe panas dan ditambah lantunan musik petikan gitar. Tak hanya sejoli pacaran, orang jomblo seperti saya pun betah menikmati kesendirian di Watu Lumbung, asalkan tetap ada wedangan yang menyertai.

 

Kretek, 18 Juli 2016

IMG_2797

Sendiri juga asyik….

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s