Dilema Skripsi, Dicaci tapi Lupa Dinikmati

Jika skripsi tanpa revisi, pasti ada banyak yang senang. Ibarat menanam tanpa merawat, lantas apa gunanya sebuah sebuah proses tanpa perbaikan? Tentu hambar dan tak ada seninya! 

Mahasiswa semester akhir mau tidak mau, suka tidak suka memang harus berhadapan dengan Skripsi. Sebuah momok mengerikan, juga menantang bagi sebagian mahasiswa. Studi selama delapan semester atau lebih pada akhirnya akan diakhiri dengan sebuah karya penelitian yang tak lebih dari untaian kata. Lantas, seberapa bermaknakah sebuah skripsi sejatinya?

Ada pepatah mengatakan “Proses takkan mengkhianati akhir”, tapi permasalahnnya di dunia yang serba modern ini banyak orang lebih memilih sesuatu yang cepat alias instant. Proses yang panjang dianggap melelahkan dan membosankan. Mahasiswa berfokus kepada hasil ketimbang proses, lebih peduli pada kecepatan ketimbang ketepatan, dan cepat iri dengan pencapaian orang lain.

Suatu saat ketika berkunjung ke kampus, ada banyak sekali tipe teman-teman dalam mengerjakan skripsi. Bagiku, respon mereka terhadap sebuah skripsi itu unik dan menarik untuk dibahas. Bisa jadi, respon mereka terhadap skripsi adalah respon mereka juga terhadap hidup yang mereka jalani setiap harinya.

Skripsi? Masa Bodo! 

Ada seorang teman, di semesternya yang sudah menginjak angka delapan, dia masih belum menyentuh skripsi sama sekali. Lama? Bisa jadi! Bodoh? Tentu tidak ada manusia bodoh! Malas? mungkin sih. Setiap harinya dia hanya berkutat dengan makan, tidur, kuliah ala kadarnya dan hang out. Luar biasanya adalah dia memiliki rekan sepergaulan yang serupa, sama-sama tidak peduli akan kuliahnya selama hang out jalan terus.

Tidak ada yang bisa menjamin kesuksesan seseorang. Makhluk super rajin sekalipun belum jadi jaminan ketika lulus akan langsung dapat pekerjaan yang menggiurkan. Memang manusia punya nasib tersendiri, tapi berkaca pada tipe mahasiswa Masa Bodo ini, bisa dipastikan kalau mereka tidak disiplin terhadap diri mereka sendiri.

Ketika sebuah skripsi mereka abaikan demi persahabatan semu, bisa jadi mereka kehilangan esensi hidup mereka. Ketika zona nyaman menjadi pujaan, tentu mereka akan sakit ketika suatu ketika harus menghadapi tantangan yang di luar kendali.

Panik 

Duh, aduh, nanti gimana, ah entahlah, takut, stres, depresi, kata-kata itu menjadi kata yang menghiasi setiap kalimat yang terlontar. Mahasiswa dengan tipe ini merasa dirinya insecure dengan pekerjaan yang dia lakukan. Ada tendensi untuk selalu membandingkan proses dirinya dengan orang lain, sehingga yang didapat bukan rasa puas dan aman melainkan ketakutan berlebih.

Ketika orang lain prosesnya sudah melampaui jauh, dia akan merasa kecewa dengan dirinya sendiri, atau memacu dirinya terlalu keras. Apakah itu salah? Tentu tidak karena setiap orang punya pilihannya tersendiri. Tapi, tipe seperti ini melupakan kenikmatan sebuah proses, dimana hasil menjadi fokus utama. Padahal, dari proses yang terjadi, di situlah ada banyak hal terduga yang didapat.

Bahwasannya, Skripsi adalah Perjalanan

Setuju atau tidak, skripsi adalah perjalanan mahasiswa menuju gelar sarjana. Ketika kita pergi ke suatu tempat yang jauh, pilihannya ada dua, menikmatinya atau tidak. Ketika kita memilih tidak maka perjalanan akan sangat menyiksa. Tapi ketika kita memilih menikmatinya, tentu akan nyaman, sekalipun perjalanan itu dinikmati hanya dengan tidur.

Perjalanan ke tempat yang bagus tidak selalu berjalan mulus, ada kelokan, ada tanjakan bahkan bisa juga mogok kendaraannya. Skripsi pun serupa, tak selalu skripsi tanpa revisi, tak selalu judul langsung diterima, tak selalu dosen pembimbing menyenangkan, tak selalu ada teman yang mendukung. Tapi, siapa tahu dari dosen yang menyebalkan itu kita dilatih untuk telaten dan sabar, siapa tahu pula dari judul yang ditolak kita belajar mencari ide lebih kreatif. Bukankah dalam pekerjaan yang dicari adalah ide, karakter dan karya ketimbang nilai?

Ketika kita mengerjakan segala sesuatu dengan hati yang ikhlas, selalu ada hal tak terduga yang kita dapatkan. Sekalipun itu hal kecil, tapi hal itu pastilah bermakna bagi hidup kita. Terlalu banyak mencaci malah akan membuat kita kehilangan mood untuk bekerja, akhirnya skripsi terbengkalai dan kita hanya gigit jari melihat teman sudah mendahului pakai toga.

Lebih Lama bukan Berarti Lebih Buruk

Perjalanan yang baik bukanlah perjalanan yang cepat dan lancar, tapi perjalanan yang menumbuhkan semangat. Ketika proses kita lebih lambat dari orang lain tak perlu berkecil hati. Tetapkan timeline sendiri dan jangan ikut-ikutan orang lain. Sesekali memang bolehlah untuk membandingkan dengan orang lain untuk memacu diri, tapi jangan sampai underestimate pekerjaan kita sendiri.

Karya yang baik adalah karya yang buatan sendiri

Hasil terbaik adalah proses yang dinikmati

Skripsi yang asyik adalah skripsi yang direvisi

Hidup yang asyik adalah hidup yang dinikmati

so? Enjoy aja…… 🙂 

 

Iklan

2 thoughts on “Dilema Skripsi, Dicaci tapi Lupa Dinikmati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s