Curhat, Bertukar Persepsi dalam Cerita

Maaf, kali ini aku tersinggung,” ucap temanku yang tengah chatting di tengah malam. Perasaan tersinggung bisa jadi adalah perasaan yang wajar ketika ada pernyataan yang tak sejalan dengan ekspektasi. Tapi, berawal curhat yang kemudian tersinggung, bisa jadi itu adalah proses pendewasaan karena curhat tidak sekedar cerita, tapi bertukar persepsi dengan lawan bicara.

Manusia di abad ini mengalami kompleksitas masalah yang semakin kompleks, khususnya manusia urban. Di usia dua puluhan, seorang manusia urban harus menyandang status sebagai mahasiswa atau pekerja yang dijejali segudang persoalan kampus, pekerjaan, organisasi dan masalah bawaan dari keluarga, mungkin juga hadir kekecewaan dan penolakan. Komplikasi ini menjadi badai hebat ketika berpadu dengan raga yang lelah dan stress yang tinggi.

Badai dalam pikiran tersebut mau tidak mau harus dikeluarkan. Setiap orang punya caranya tersendiri untuk memanajemen stress. Ada yang cukup dengan tidur, makan banyak, pergi berkeliling, menyendiri, juga ada yang memilih dengan bercerita. Terlepas dari apapun pelariannya, manusia memerlukan suatu sarana untuk menuangkan isi hatinya, oleh karenanya curhat menjadi hal yang digemari, terlebih ketika beban seolah tak terbendung.

Curhat alias curahan hati, sesuai dengan namanya adalah aktivitas dimana seseorang mengeluarkan seluruh uneg-unegnya kepada lawan bicara. Namun, sejatinya curhat bukan sekedar menuangkan cerita. Ada komunikasi dua arah yang terjadi di dalamnya. Ketika satu pihak bercerita, itu artinya dia membiarkan pendengarnya untuk mencerna cerita berdasarkan pengalaman sang pendengar. Intinya, ketika kamu curhat, artinya ada upaya memperkaya persepsi.

Suatu ketika aku merasa putus asa karena harus keteteran membagi waktu antara kerja dan kuliah, belum lagi ditambah masalah lainnya. Dunia serasa gelap dan tak berujung rasanya. Kemudian, aku memilih untuk curhat dengan seorang kawan yang bisa dibilang hidupnya selow, tak ada kegiatan apapun selain kupu-kupu alias kuliah-pulang-kuliah-pulang. Bisa ditebak kan jawabannya? Bisa jadi temanku akan menganggapku tidak menikmati hidup, karena seharusnya tugas utama mahasiswa ya cukup belajar, tak perlulah ikut bekerja, toh orang tua masih mampu.

Keunikan disini adalah bukan di titik perdebatan, jika memang debat itu terjadi ya sudah, memang namanya juga proses komunikasi. Titik beratnya adalah di pengalaman. Bisa jadi, dari ke-selow-an temanku itu, ia menginspirasiku untuk lebih santai menghadapi hidup, mengambil cuti sejenak dan tidak melupakan me time untuk diri sendiri.

Jika ada perbedaan pendapat lalu diakhiri dengan benci dan kehilangan kepercayaan, lantas untuk apakah curhat? Menceritakan masalah pribadi maupun menjadi kawan pendengar sama-sama punya keuntungan. Yang mendengar belajar untuk memahami dan yang menceritakan belajar untuk menerima masukan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s